
Sudah memakai seragam putih abu-abu lengkap dengan bedak tipis dan lip balm dan parfum limited edition yang begitu lembutnya di indera penciumannya, Geva keluar dari kamar dengan semangat setelah berhari-hari bolos sekolah.
Geva berpikir, setelah menikah dia jadi banyak bolos sekolah. Apalagi nanti kalau dia sampai hamil dan punya anak. Bagaimana mau kuliah? apakah bisa?
Menjadi mahasiswa dengan banyak circle pertemanan dan menikmati masa-masa jauh dari jangkauan orang tua adalah impian Geva sejak lama.
Maklum, karena Anafilatik yang dideritanya, Geva berkali-kali hampir merenggang nyawa nya dan itu membuat semua orang terdekatnya menjadi overprotektif dan tidak membiarkan Geva melakukan apa-apa sendiri.
Geva diperlakukan layaknya seorang tuan Puteri. Apalagi kak Deon dan Papa Arsa, mereka selalu menuruti semua permintaan Geva.
Semangat Geva mendadak luntur kala melihat punggung kokoh yang selalu minta di peluk itu membelakanginya. Gevadia menghela nafasnya, demi apapun, Geva malas berdebat dengan pemilik punggung kokoh itu pagi-pagi gini. Percuma dong usahanya menghindari Bhumi jika Bhumi juga selalu ada disini. Oke, Geva berusaha bersikap biasa saja. Tenang dan datar.
"Kakak ngapain masih disini? Gak ada kerjaan lain?" Tanya Geva duduk di sofa mengenakan sepatu nya.
"Aku akan mengantarkan mu!" Jawab Bhumi tanpa melirik ke arah Geva karena Bhumi masih fokus dengan ponselnya menghubungi Satria untuk meeting pagi ini.
"Aku bisa berangkat sendiri!" Ucap Geva.
"Sejak kapan orang tua kamu mengajari anaknya membangkang pada suami?" Tanya Bhumi menatap Geva dengan tajam.
Mendengar kata suami, membuat Geva teringat posisinya. Istri? ck. istri yang masih pakai seragam sekolah sehingga segala ruang geraknya harus terpaksa dibatasi. Geva jadi tidak bebas bergaul lagi, tidak bebas melakukan apa yang dia mau dan dia sukai.
"Kakak gak usah ya bawa-bawa orang tuaku! Dan udah aku bilang dari kemarin, aku gak mau kakak ikut campur urusanku! kakak urusin aja mantan kakak itu! " Ucap Geva, jiwa kelabilan Geva mulai nampak lagi. Maklum faktor usia dan pengalaman dalam percintaan yang minus.
"Kamu cemburu?" Ucap Bhumi santai. Bhumi mulai beranjak dari kursi makan dan berdiri dihadapan Geva yang masih duduk di sofa. Bhumi dengan aura dingin itu bertambah dingin dengan gayanya yang memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.
"Ck cemburu? jangan mimpi! aku cuma gak mau kakak repot-repot ngurusin hidup aku!"
"Selagi status kamu adalah istri aku, suka tidak suka, mau tidak mau.. aku berhak mencampuri segala urusan kamu Gevania Azkia Bramantya!"
"Yaudah ceraikan aku sekarang juga!" Geva beranjak dari duduknya.
"GEVANIA!" bentak Bhumi terbawa emosi hingga membuat Geva terperanjat karena suara Bhumi memang benar-benar memenuhi gendang telinga Geva.
Jika Bhima yang emosi menampar Flower, berbeda dengan Bhumi saat ini yang langsung menarik Geva dalam pelukannya. Bhumi yang tempramental dan juga tidak bisa mengontrol emosi ternyata tidak melakukan kekerasan pada istrinya yang menyebalkan ini dan yang selalu menguji kesabarannya.
" Sampai Tuhan mengambil nyawaku, aku tidak akan menceraikan kamu Gevania... ingat itu baik-baik." Kata Bhumi penuh penekanan dan mengeratkan pelukannya pada Geva.
"Kamu tega kak." cicit Geva menghirup dalam-dalam aroma lelaki yang selalu membuatnya berpikiran mesum.
"Maafkan aku Ge.. kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku janji aku akan belajar mencintai kamu." Ucap Bhumi.
__ADS_1
"Kamu tega menyiksa aku dengan hubungan yang tidak jelas ini... hiks.. hiks.." Bhumi merenggangkan pelukannya ditatapnya wajah cantik Geva yang sudah mengeluarkan air mata.
Mata Geva yang sendu dan basah inilah yang menjadi titik terlemah Bhumi dari dulu. Dan mata inilah yang mampu membuat seorang Bhumi Bramantya rela melakukan apapun supaya gadis kecil nan menyebalkan ini tidak nangis.
"Hubungan kita jelas Ge.. kamu istri aku satu-satunya.." Ucap Bhumi menghapus air mata Geva.
"Tapi hati kakak yang tidak jelas."
"Kasih aku waktu.. aku sedang berusaha memperjelas semua." Ucap Bhumi lirih.
"Aku belum tahu.." Jawab Geva.
"Why?" Bhumi mengernyitkan keningnya.
"Sebuah hubungan bisa berjalan dengan baik karena adanya cinta. sedangkan diantara kita tidak ada cinta kak... aku tidak yakin hubungan ini akan berjalan lama." Ucap Geva.
"Kita akan bersama-sama menumbuhkan cinta itu Ge.. Kita sama-sama berjuang.. "
"Kakak pernah mengucapkan itu, tapi nyatanya apa? setelah Kakak merasakan tubuhku, kakak bilang cinta kan sama kak Flower. Itu aku udah kasih seluruhnya buat kakak. Dan hal itu pula yang membuatku tidak yakin dengan hubungan ini." Kata Geva tegas.
"Pertanyaanku, Mau sampai kapan waktu yang kakak minta? Aku udah relakan hal yang selalu aku jaga selama ini, bibirku dan semua tubuhku, kakak lelaki pertama dan satu-satunya yang menyentuh ku.. tapi apa? telingaku gak budeg kak mendengar semua yang akan ucapkan pada kak Flower.. kak udah menghancurkan impian aku dan masa depan aku! " Bhumi terdiam, biarkan Geva mengungkapkan segala perasaannya pagi ini.
"Kapan kakak cinta sama aku?" Tanya Geva lagi, tentu Bhumi tidak mampu menjawab karena dia sendiri tidak tahu kapan Tuhan menghadirkan cinta yang seutuhnya untuk Gevania.
"Dan kenapa kakak mau belajar mencintaiku karena kakak udah nyerah kan sama kak Flower, sebab kebahagiaan kak Bhima bersama kak Flower begitu pula sebaliknya. Iya kan? kakak gak mau nyakitin kak Bhima kan?"
"Ge.."
"Aku gak butuh penjelasan panjang lebar lagi dari kakak... semua sudah jelas menurut aku!Dan aku berikan waktu selama dua bulan ke depan... jika diantara kita memang tidak ada cinta. Atau hanya salah satu saja yang jatuh cinta, aku mau kakak ceraikan aku!" Ucap Geva.
"Aku tidak akan menceritakan kamu Gevania!" Bhumi tidak percaya dengan apa yang Geva ucapkan.
"Kalau terus seperti ini, kakak justru hanya menyiksa aku!"
"Ge.."
"Udah siang.. aku pergi dulu kak." Pamit Geva tiba-tiba menghindari Bhumi.
"Makan dulu sandwich nya Ge.." Ucap Bhumi.
"Aku gak laper!" Jawab Geva.
__ADS_1
"Kamu tahu kan bagaimana rasanya usaha yang tidak dihargai sama sekali? Apa semua ini kamu lakukan karena mau membalas ku?" Tanya Bhumi langsung bisa menghentikan langkah Geva.
"Aku tahu, apa yang aku lakukan selama ini salah. Tapi apa aku tidak pantas mendapatkan maaf dan kesempatan padahal aku udah mau bersungguh-sungguh berusaha?" Tanya Bhumi. Geva masih mematung dengan posisi membelakangi Bhumi.
Geva berbalik arah, dia sangat tahu sakitnya kecewa karena usaha yang tidak dihargai. Sehingga dia memilih duduk di meja makan dan matanya menangkap sandwich dengan saus berbentuk daun waru atau simbol love.
Rasanya Geva ingin tertawa saat ini juga, darimana orang se-kaku Bhumi bisa memiliki ide se-konyol ini?
Oh astaga....
"Kenapa gak dimakan?"
"Kakak yang buat ini?" Tanya Geva menatap Bhumi tidak percaya. Bhumi mengangguk.
"Tidak ada kejunya.. dan itu juga susu almond jadi aman buat kamu." Ucap Bhumi. Demi apapun rasanya hati Geva dipenuhi kupu-kupu yang berterbangan.
"Gue gak boleh luluh.. gue gak boleh jatuh cinta duluan karena gue gak mau sakit hati karena patah hati.. gue gak boleh berharap lebih pada ketidakjelasan tentang hati seseorang." Batin Geva.
"Makanlah.. setelah ini aku akan mengantar kan kamu." Kata Bhumi.
"Aku.."
"Tidak menerima bantahan.. mau aku antar apa aku tungguin kamu di dalam kelas?" Tanya Bhumi membuat Geva melotot.
Geva saat ini hatinya dipenuhi dengan kebimbangan apalagi dia yang beranggapan dengan status seorang istri itu mampu menghalangi impiannya dan mimpinya.
Mungkin jika Bhumi tidak mengatakan cinta pada Flower kemarin, Geva akan memilih mengorbankan impiannya.
Tapi bagaimana jika suatu saat Bhumi meninggalkannya demi alasan tidak cinta? Geva tidak memiliki apapun yang bisa dia banggakan, ya kecuali kecantikan dan kemolekan tubuhnya.
Bhumi yang berjanji akan melupakan mantannya dan belajar mencintai nya saat sebelum menyatukan tubuh mereka untuk pertama kali saja bisa dia ingkari,
apalagi janji-janji lainnya?
Ya inilah Geva, jika dia sudah dikecewakan maka dia akan sangat sulit sekali percaya. Makanya itulah mahalnya sebuah kepercayaan~
Udah kesel sama Geva belum?
BERSAMBUNG dulu...
Gimana nanti Geva di sekolah dan Bagaimana Bhumi di kantor ketemu sama Renata?
__ADS_1
Nunggu like banyakan dulu ah.. biar semangat nulisnya hehehe...
makasih semuanya ya...