
"Iya gue jahat! gue jahat karena ibunya dia, ibu kandung dia yang telah merebut semua kebahagiaan gue! Ibunya dia yang sudah buat nyokap gue masuk rumah sakit jiwa sampai sekarang! semua Gara-gara ibunya dia PELAKOR! Menghancurkan rumah tangga orang tua gue! masih untung kan kakek dan nenek gue naruh dia di panti gak buang dia kelaut! GUE BENCI DIA YON! GUE BENCI ANAK PELAKOR ITU! " Bentak Ayumi.
"GUE GAK MASALAH ELU DENGAN WANITA LAIN YON! KECUALI RENATA JAHAT ITU DAN DIA, ANAK PELAKOR! DIA TIDAK PANTAS UNTUK ELU YON"
Deg!
Naomi terbengong mendengar kalimat yang terucap dari bibir Ayumi.
Ibu kandungnya?
bahkan Naomi sendiri tidak tahu dia anak siapa.
PLAK!
Satu tamparan dari deon mendarat di pipi mulus Ayumi hingga pemilik tubuh itu pun terhuyung hendak jatuh jika tidak segera menyeimbangkan tubuhnya.
Sedangkan Naomi masih mematung mencoba mencerna apa yang terjadi dia masih sangat shock.
"Yon!" Kata Ayumi lirih dengan air mata yang sudah mengalir deras. Ayumi tidak menyangka Deon yang ia kenal bisa bersikap kasar pada wanita,
"Kamu pikir selama ini hidup Naomi bahagia ha? gue gak peduli siapa orang tua Noami, tapi asal elu tahu... gara-gara siapa tadi yang membuang Naomi saat bayi ke panti asuhan, dia diadopsi orang dan dibawa ke Jerman. Tiap hari dia disiksa dan dipukuli disana, dia bahkan hampir dilecehkan orang dan hampir di dijual ke Club malam disana! kamu tahu gak bagaimana perasannya yang tidak pernah tahu orang tuanya!" Bentak Deon.
"Kalau memang wanita yang elu bilang sebagai ibunya Naomi sudah menghancurkan hidup lu dan keluarga lu, urusan lu sama wanita itu! bukan sama Naomi. Naomi tahu orang tuanya saja tidak. Kamu terus berusaha menyakiti dia? otak elu dimana? Hati elu dimana? ha? Gue gak nyangka elu bisa berbuat sekotor ini tanpa pakai logika dan gue jijik sama elu YUMI!" Bentak Deon membuat hati Ayumi tersentil. Air mata Ayumi semakin deras mengalir dari mata indahnya yang memang sangat mirip dengan Naomi. mengapa Deon baru sadar?
"Si.. siapa orang tuaku?" Tanya Naomi perlahan bahkan hampir tidak terdengar. Tubuh Naomi terasa sangat lemas dan bergetar hebat menahan sesak di dadanya mendengar penuturan Ayumi yang secara tidak langsung mengaku sebagai kakak tirinya.
Ayumi tidak menjawab dia langsung berlari keluar untuk pergi dengan pikiran Kalut. Deon jijik dengannya? entah mengapa ucapan Deon membuat hati Ayumi sakit.
"Kak.. apa maksud dari semua ini?" Tanya Naomi menatap Deon dengan sendu.
"Kamu jangan memikirkan apapun yang belum pasti, besok aku akan selidiki semuanya.. " Kata Deon mengusap pipi Noami yang basah antara air mata bercampur dengan air kolam renang.
"Jangan menangis lagi." Kata Deon mengecup kening Naomi.
Deon melihat Naomi sudah mulai menggigil, tanpa aba-aba Deon langsung mengangkat tubuh Naomi yang basah kuyup sama seperti dirinya. Tidak ada perlawanan karena Naomi merasa tidak punya tenaga lagi.
Deon tersenyum, memandang Naomi dalam gendongannya ala bridal style, Naomi memejamkan matanya, mungkin dia terlalu lelah dan menahan dingin.
Dengan tubuh keduanya yang basah kuyup, Deon menyusuri lorong hotel mewah milik keluarga Bramantya, sekarang dia ada dilantai 25. Pulang rasanya tidak mungkin, wajah Naomi sudah pucat karena kedinginan.
Turun ke lantai bawah untuk meminta kunci pada Resepsionis? terlalu ribet, ah Deon pusing memikirkan langkah apa yang harus dia ambil.
Masih dengan pikirannya dan terus berjalan menyusuri lorong hingga berhenti di depan lift. Tidak ada pilihan lain, harus ke resepsionis.
Ting.
Pintu lift terbuka,
"Bang Deon! Abis nyebur ke got mana bang?" Panggil seseorang pada Deon, Deon yang sedang menatap wajah pucat Naomi pun mendongak, begitu juga Naomi yang reflek berusaha membuka matanya namun susah.
"Eh?" Lelaki itu sedikit terkejut melihat wanita dalam gendongan Deon. Teman Geva yang sempat di gombalin.
"Untung ada elu kai.. tolong mintain kunci kamar pada resepsionis." Pinta Deon.
"elu ngapa bang sampe basah kuyup gitu berdua? main enak enak di kolam,?" Tanya Lelaki itu lagi yang tidak lain adalah Kaisar, seorang playboy tengil yang merupakan adik tiri dari Keenan. Mata Kaisar tidak beralih sedikitpun pada sosok cantik dalam gendongan Deon, apalagi baju Naomi cukup terbuka hingga belahan dadanya dan paha mulusnya terlibat begitu jelas.
__ADS_1
Kaisar menelan salivanya. Pikiran kotor mulai memasuki otak yang selalu dia bilang suci.
"KAI.. Jaga mata elu dari CALON ISTRI GUE" Bentak Deon yang tahu arah tatapan Kaisar.
"Yaelah bang.. sedekah bang sedekah."
"Bangsy...." Kaisar memotong ucapan Deon yang hendak mengumpatnya,
"Nih kunci kamar, pakai aja.. ada di lantai ini nomor 7.. tadinya gue mau tidur disana karena yang pesan kamar ini ngilang ditelan Bumi, yaudah elu pakai aja bang! gue ke resepsionis buat buka room lagi. " Kaisar menyodorkan kartu sebagai kunci kamar hotel pada Deon.
"Oke thanks." Ucap Deon langsung berbalik setelah menerima kartu seperti ATM dari Kaisar. Kaisar memandang punggung Deon yang menjauh.
Playboy itu menghela nafasnya,
"Anjiirr gue kalah start!" Umpatnya.
Tidak mau mengusik Naomi yang terus mengeratkan pelukannya pada Deon akibat kedinginan, Deon berusaha membuka pintu dengan menempelkan card yang Kaisar kasih tadi.
Tit!
Pintu hotel terbuka bersamaan dengan Naomi membuka matanya.
"Uhukkk.. uhukkk.." Naomi tersedak tiba-tiba melihat pemandangan kamar hotel. Dan mata Naomi bertemu dengan mata Deon saling pandang..
"Ke.. kenapa kita ke kamar pengantin Geva kak?" Tanya Naomi.
"Sialan kenapa Kaisar kasih kamar buat Geva dan Bhumi.. dia gak tahu apa dari tadi gue udah nahan diri!" Batin Deon.
🍁
Geva sudah membersihkan diri dan berendam air hangat yang dia berikan aroma terapi. Dari pagi dia sudah melakukan beberapa perawatan supaya kulitnya terlihat lebih segar dan halus, dia ingin membuat suaminya senang malam ini.
"Ah untung koper gue gak ketinggalan!" Kata Geva membuka kopernya yang berisi banyak lingerie sexy. Dia sudah mempersiapkan dirinya malam ini dengan sangat maksimal.
Geva sangat bersyukur, ternyata Bhumi juga menghias kamar mereka layaknya kamar pengantin baru. Jadi tidak masalah tidak jadi menginap di hotel kan... kamar ini lebih mewah dari kamar hotel.
"Ck.. gaya gue udah kayak anak perawan aja mau malam pertama. Padahal udah gak perawan." Kata Geva menertawakan dirinya sendiri karena merasa jantungnya berdegup dengan sangat kencang saat menatap dirinya yang mengenakan lingerie berwarna hitam dari pantulan cermin.
"Meskipun udah gak perawan, tapi gue pastikan nanti gak kalah sama perawan deh.. tapi buat suami kesel dulu gak apa-apa kali ya.." Ucap Geva lagi penuh keyakinan. Dia ingat betul saat Bhumi membobol gawangnya dia masih sangat malu-malu tapi mau. Ah sangat itu benar-benar sakit dan nikmat yang menyatu..
Sedangkan Bhumi,
Sembari menunggu istrinya membersihkan diri dan akan memberikan dia kejutan,
Bhumi memilih menghubungi Satria membicarakan masalah perusahaan yang akan dia tinggal selama sepekan untuk honeymoon bersama Geva.
Bhumi juga menghubungi Keenan yang sedang di minimarket membelikan makanan untuk Bianca, hingga akhirnya Keenan harus duduk dulu di depan minimarket demi ngobrol dengan Bhumi membahas pekerjaan dan salah satu proyek yang tertunda karena ada pihak yang bermain curang hingga mengakibatkan kerugian yang besar.
Setelah selesai membahas pekerjaan, Bhumi melihat jam tangan yang melingkar ditangannya, ternyata sudah satu jam lebih dia menunggu Geva tapi Geva tidak menunjukkan batang hidungnya. Bahkan tidak memanggilnya,
Bhumi menghela nafas, jangan-jangan istrinya ketiduran lagi saat berendam di bathtub. Dengan langkah lebar, Bhumi segera menaiki tangga menuju lantai dua.
Cklek.
Antara bernafas lega atau kesal, Bhumi memejamkan matanya sejenak demi mengontrol emosinya, ternyata sang istri justru sudah terlelap dibalik selimut tebal yang menyisakan kepalanya saja. Gak jadi nih acara ala-ala malam pertama yang sudah telat?
__ADS_1
Bhumi nampak gusar, namun dia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri meskipun sangat kecewa karena Geva sudah tertidur dengan lelapnya.
"Punya istri benar-benar menyebalkan, udah aku siapkan dekorasi ala-ala malam pertama, eh.. malah dia terlelap dulu.. gak menghargai apa perjuangan suaminya.. kurang puas apa menyiksa suaminya setelah sekian lama menunggu!" Gerutu Bhumi memasuki kamar mandi.
Mendengar gerutu sang suami, Geva mencoba menahan tawanya karena membayangkan ekspresi Bhumi yang sedang kesal, pasti menggemaskan. Geva gak sabar deh menciumi wajah menggemaskan itu,
Tidak perlu waktu lama, hanya 15 menit Bhumi keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan boxer berwarna hitam ketat. Bhumi langsung membaringkan tubuhnya membelakangi sang istri,
"Kejutan-kejutan apaan! kejutan tidur duluan? oh sungguh aku benar-benar terkejut! Sabar han Gohan! " Gerutu Bhumi. Bisa saja sih Bhumi membangun kan Geva untuk meminta haknya, namun dia juga tidak tega melihat wajah Geva yang nyenyak. Bhumi yakin Geva pasti kelelahan setelah berdiri lama demi menyambut tamu di pesta resepsi.
Bhumi mulai memejamkan matanya, namun...
Mendadak si Gohan bangun karena ada tangan yang mengusap Gohan lembut dari balik pelapis hitam yang Bhumi kenalkan.
Bhumi langsung memegang tangan yang menggoda Gohan dan membalikkan tubuhnya,
Matanya bertemu dengan mata indah yang selalu bisa menghipnotis Bhumi sekaligus menenangkan Bhumi. Senyum terukir dari wajah pemilik tangan dengan kulit yang sangat lembut itu,
"Tadinya aku udah bobok, tapi ada yang menggerutu, jadinya kebangun deh." Kata Geva manja seolah mengerti arti tatapan sang suami.
"Sudahlah.. tidur kamu pasti capek!" Kata Bhumi melihat mata Geva sudah agak memerah. Geva melihat sorot Bhumi yang tertuju padanya itu adalah sorot mata kecewa.
" Kamu gak kuat buat muasin aku malam ini Gara-gara kelelahan habis resepsi?" Tanya Geva membuat Bhumi melotot, beraninya wanita didepannya itu menghina keperkasaan, padahal wanita didepannya itu selama ini selalu menjerit puas berada dibawah kendalinya.
Tanpa ba-bi-bu, Bhumi langsung menarik tengkuk Geva dan menyambar Bibir Geva yang kalau ngomong selalu menjengkelkan itu,
Dengan senang hati, Geva menerimanya dan langsung memberi lummaatan pada bibir suaminya yang selalu membayang-bayangi hari-harinya itu. Bahkan melihat soal ujian kemarin saja Geva berimajinasi seperti melihat adegan panasnya dengan Bhumi.
Geva nampak sangat agresif, bahkan dia sendiri yang menyibakkan selimut tebal yang tadi membungkus tubuhnya. Lalu Geva menggenggam tangan Bhumi untuk menyentuh dadanya.
Bhumi melepaskan tautan bibirnya,
Menatap Geva penuh kagum, tubuh yang sangat indah dengan lingerie yang kontras dengan warna kulitnya,
"Kamu begitu menggoda, cantik dan sexy, aku menyukainya." Bisik Bhumi.
"Aku milikmu.. lakukan apa yang ingin kamu lakukan.. tapi, jangan sampai kamu menyerah duluan saat aku belum puas!" Kata Geva menantang Bhumi.
"Oke.. kita lihat nanti sayang.. siapa yang KO duluan." Jawab Bhumi menyambar Bibir Geva lagi dengan tangan terus bergerilya kesana kemari.
BERSAMBUNG...
PENGEN LANJUTIN ADEGAN SELANJUTNYA,
TAPI TAKUT DAPAT SURAT CINTA DARI NT LAGI DIMINTA UNTUK REVISI.
MENURUT KALIAN,
LANJUT NGGAK.. LANJUT NGGAK!
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
__ADS_1