
Namanya juga Bhumi Bramantya, lelaki yang dijuluki istrinya sebagai besi karatan itu pun selalu melakukan apa yang dia mau. Termasuk saat ini, dia meminta orang untuk mengambil motor Geva di sekolahan entah bagaimana caranya karena kunci motor tersebut hanya satu dan di bawa Geva.
Masalah ijin pihak sekolah, tentu dengan mudah Bhumi mendapatnya setelah meminta tolong kepada Papa mertuanya.
Iya, Papa Arsa menelfon pihak sekolah untuk mengambil motor Geva tanpa sepengetahuan anaknya dengan alasan supaya anaknya tidak keluyuran. Ah alasan macam apa itu, emang keluarga drama ya~
Bhumi terpaksa mengambil motor Geva karena sejak pagi Geva sudah mengganggu pikirannya hingga membuat kerjaannya tidak fokus.
Bagi Bhumi, jika memang ada masalah maka harus segera diselesaikan karena itu akan mengganggu mood dan segala kerjaannya.
Waktu menunjukkan pukul 1 siang.. satu jam lagi waktunya Geva pulang karena hari ini tidak ada jadwal tambahan. Bhumi tidak mau Geva keluyuran setelah pulang sekolah. Jadi, dia harus menjemput Geva.
"Sat.." Panggil Bhumi saat Satria hendak meninggalkan ruangnya setelah menyerahkan beberapa berkas.
"Iya boss."
"Kamu handle meeting dengan bagian SDM ya... saya mau keluar sebentar." Ucap Bhumi.
"Ha? mau kemana?" Tanya Satria yang tidak percaya jika Bhumi bolos meeting. Padahal bagi Bhumi pekerjaan adalah yang nomor satu.
"Jemput Geva." Jawab Bhumi.
"Elu udah jatuh cinta sama dia?" Tanya Satria yang udah gak ada sopan-sopannya sebagai bawahan.
"Nggaklah.. nggak semudah itu buat gue jatuh cinta sama orang. Gue hanya tanggung jawab sama dia." Jawab Bhumi membuat Satria ber oh oh ria.
🍂
Di SMA Tunas Bangsa, waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Dan ini adalah saat para siswa siswi berseragam abu-abu itu keluar.
Semua riang gembira karena lepas dari pelajaran yang cukup membosankan. Tapi tidak ada raut bahagia sedikitpun dari wajah Geva.
"Gep.. elu yakin baik-baik saja?" Tanya Naomi.
"HM." Jawab Geva tak ada semangat sedikitpun.
"Elu sepertinya bener-bener patah hati Gep."
"Gimana gue gak patah hati Nom.. Theo ini satu-satunya cowok yang berhasil mencuri perhatian gue setelah gue menerima dia sebagai kekasih dan gue melupakan sosok pangeran dimasa kecil gue."
"Tapi setahu gue, elu terima Theo karena iseng dan penasaran gimana rasanya punya pacar."
"Elu bener Nom.. tapi semua berubah bersamaan dengan waktu yang terus berjalan. Semua orang bilang Theo breengsek. Theo itu pemain wanita dan sebagainya. Tapi sama gue, Theo bahkan tak pernah sekalipun mencium gue. Mentok-mentoknya juga kita bergandengan tangan dan berpelukan. Hal itulah yang membuat gue luluh sama Theo.
Dan gue baru sadar perasaan gue ke Theo disaat gue harus mengakhiri hubungan gue dengan dia." Lagi-lagi air mata Geva menetes begitu saja.
"Sini peluk!" Geva langsung berhambur memeluk Naomi, sahabat perempuan satu-satunya.
Dari pojok ruang kelas, Theo pun memandang sendu pada Geva yang terlihat sangat sedih. Meskipun Theo tidak bisa mendengar pembicaraan Geva pada Naomi tapi Theo sudah bisa menebak jika Geva bener-bener sedih karena kandasnya hubungan mereka yang tidak direstui oleh semesta.
"Aku bisa apa Gev kalau kamu sendiri tidak memberikan aku kesempatan untuk memperjuangkan cinta aku ke kamu dan buktikan kepada orang tua kamu?" Gumam Theo yang hanya bisa dia dengar sendiri. Ingin rasanya air mata Theo menetes, namun masih banyak anak yang mengobrol di kelas setelah jam sekolah usai.
__ADS_1
Theo beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekat untuk menghampiri Geva dan Naomi.
"Ge.." Panggil Theo lirih.
Geva mendongak, lagi-lagi mata penuh keputusasaan dan kesedihan itu saling bertemu.
"Jangan nangis terus ya.. nanti mata kamu bengkak terus cantik kamu berkurang." Ucap Theo mencoba tersenyum.
"Hiks.. hiks.. hiks.." Geva melepas pelukan Naomi dan kini berhambur memeluk Theo.
"Kita masih bisa bersahabat Ge.. aku akan menjadi sahabat yang paling setia buat kamu. Aku mau kamu bahagia.. " Bisik Theo.
"Tapi kamu janji ya.. kamu gak boleh nakal lagi.. gak boleh main-main sama cewek di hotel lagi."
"Kenapa? kamu cemburu?" Goda Theo.
"Aku mau kamu itu dapat gadis baik-baik. Dan aku mau kamu juga bahagia. Bukankah pasangan kita adalah cerminan diri kita. Makanya kamu yang baik jadi didepan cermin juga terlihat baik!" Ucap Geva.
"Iya.. iya.. ayok kita pulang.. udah sepi ini." ajak Theo.
"Hmm.."
"Kan kan ya.. gue dicuekin ya.. udah kayak obat nyamuk ini." Omel Naomi.
"Apa sih Nom.. bawel banget jadi cewek elu." Kata Theo pada Naomi.
"Cih.. bucin." Decak Naomi pada mantan kekasih tersebut yang sekarang ngakunya sahabat.
Ponsel Geva berdering.
📩 Besi Berkarat
"Motor kamu sudah diambil oleh orang suruhan ku, aku akan jemput kamu. 10 menit lagi Aku sampai di depan gerbang sekolah, tunggu diluar ya."
Geva menghela nafasnya dengan berat lalu menonaktifkan ponselnya.
"Kenapa Gep?" Tanya Naomi.
"Are you oke Bep?" Tanya Theo yang memang sudah terbiasa memanggil Geva dengan Baby atau Bep.
"Dia jemput aku." Jawab Geva.
"Dia?" Theo dan Naomi mengernyit bersamaan.
"Besi karatan orang yang Papa jodohin sama aku." Jawab Geva yang sudah cerita pada Naomi alasan apa yang dia gunakan untuk mengakhiri hubungannya dengan Theo.
Raut wajah Theo mendadak berubah.
"Motor kamu gimana?" Tanya Naomi.
"orang suruhan manusia itu mengambil motor gue tadi."
__ADS_1
"Selalu begitu, emang uang berkuasa." Decak Naomi yang tidak tega dengan sahabatnya.
"Ya udah.. aku antar kamu ke depan ya.. aku juga nanti di jemput supir ku. Kita nunggunya barengan aja." Ajak Theo.
"Kalau gitu gue cabut duluan ya.. kalian nikmati deh waktu berdua. Gue mau nikmati waktu berdua gue sama si Kopet (motor skuter matic miliknya)" Pamit Naomi.
"Dasar jomblo abadi!" Ucap Theo.
"Enak aja.. gue calon kakak ipar Geva ya.. tjatet!" Ucap Naomi berlalu pergi.
"Mimpi!" Teriak Theo.
"Aku bantu yuk jalannya." Geva meraih lengan Theo sebelah kanan yang tidak menggunakan Walker.
"Makasih ya.. aku sayang kamu Gev." Geva hanya membalas dengan senyum manisnya.
🍂
"Kita duduk disana aja yuk Yo.. " Geva menunjukkan bangku yang berjajar rapi di depan pagar panjang sekolahan yang memang biasanya digunakan anak-anak untuk menunggu jemputan.
"Yuk.."
Kini Geva dan Theo duduk berdampingan. Theo melihat wajah Geva tetap sendu meskipun berusaha untuk tersenyum dan baik-baik saja.
"Kalau kamu sedih, kenapa kamu gak mau kasih kesempatan aku sih Gev.. keluarga aku memang tidak sekaya keluarga Bramantya, tapi aku yakin aku bisa bahagiakan kamu." Kata Theo.
"Ini bukan soal harta Yo,, ini soal sebuah janji. perjanjian perjodohan. Mama aku berusaha keras supaya bisa hamil lagi setelah lahirnya kak Deon yang ternyata cowok. Dan sekitar sembilan tahun kemudian mama hamil dan semua orang berharap jenis kelaminnya perempuan untuk dijodohkan dengan keluarga Bramantya, dan ternyata akulah yang lahir Yo."
Theo hanya bisa menghela nafasnya, sepertinya jalannya untuk Geva memang sudah tertutup rapat. Theo juga tidak ingin menyakiti banyak orang,
"Kita sama-sama terluka, aku ingin protes sama Semesta yang tidak mau merestui kisah cinta kita. Tapi aku jalan aja masih susah." Ucap Theo tersenyum penuh kepedihan.
"Jangan nangis ya.. aku mohon.. " Theo menghapus air mata Geva lalu tangannya menggenggam tangan Geva.
"Meskipun semesta tidak mengizinkan kita bersama tapi kita harus bisa menjadi sahabat.
kata orang, jika persahabatan menjadi sebuah hubungan kisah cinta itu adalah ketulusan.
Dan jika hubungan kisah cinta itu berakhir dan menjadi persahabatan itulah kedewasaan."
"Kamu benar Yo.. mungkin ini cara Tuhan mendewasakan kita." Jawab Geva tersenyum.
Dari jarak yang cukup dekat rahang Bhumi mengeras melihat interaksi Geva dengan teman lelakinya. Kali ini Bhumi tidak salah tebak, pasti itu kekasih Geva yang bernama Theo.
Karena lelaki itu cidera kakinya setelah kecelakaan beberapa waktu lalu.
Bhumi segera turun dari mobil karena mengirim pesan dan menghubungi Geva pun percuma, nomor Geva tidak aktif.
"Gevania, pulang sekarang!" Ucap Bhumi dengan aura dingin.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Noh udah satu ya.. hehe