
Pagi sudah datang, sampai saat ini tidak ada kabar sedikit pun tentang keberadaan Deon yang pergi dengan Renata. Alex dan papa Arsa sudah mencari-cari dimana Deon berada, mulai dari apartemen Deon sendiri, hingga apartemen Renata juga tempat-tempat yang sering mereka kunjungi. Semuanya nihil.
Papa Arsa terlihat sangat kelelahan ketika memasuki rumahnya. Selain ngantuk papa Arsa juga belum istirahat sedikit pun. Baik Mama Rachel juga Geva dan Naomi pun tidak bisa tidur tenang. Mereka hanya tidur kurang dari dua jam menunggu kabar keberadaan Deon.
Begitu pula Naomi yang belum keluarbdair kamar Gevania , sejak semalam dia terus menangis membayangkan Deon berbuat hal-hal yang tidak senonoh dengan Renata mengingat bagaimana Alex semalam yang bercerita jika Renata bisa nekat melakukan apapun yang dia mau. Persis seperti Sisil.
Ternyata memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Meskipun tidak dibesarkan oleh Sisil, namun sifatnya ternyata tidak jauh beda.
"Pa.. papa istirahat ya.. papa kelihatan ngantuk banget tuh.. sampai kek mata panda.. aku gak mau loh punya papa jelek." Ucap Geva bercanda karena dia ingin meringankan beban pikiran papa Arsa yang duduk di sofa dengan memijat keningnya.
"Mau bagaimanapun papa tetap tampan Ge.. gak kalah sama Bhumi." Kata Papa Arsa langsung terkekeh.
"Cakepan suami aku kemana-mana lah!" Kata Geva tidak terima.
"Jadi suami kamu cakep?" Tanya papa Arsa. Geva mengangguk dan tersenyum.
"Tapi sayang, belum saling cinta." Ucap Geva sambil terkekeh. Mengingat Bhumi, hati Gev nyeri karena Bhumi yang ternyata cuek padanya, alhasil semalam sebenarnya saat keluar dari Club dan perjalanan pulang, Geva memblokir nomor Bhumi.
Ngapain nyimpen nomor kalau orangnya lupa menghubungi kan? Maklum Abegeh.
"Semoga sebentar lagi.. Ge. kenapa kamu gak sekolah?" Tanya Papa Arsa pada putrinya karena ini bukanlah hari libur.
"Hehehe.. Naomi matanya bengkak pa, Gara-gara semalaman nangisin anak papa yang menyebalkan itu, sampai sampai dia malu keluar kamar." Jawab Geva.
"Bilang aja kalau kamu juga malas sekolah." Sahut Mama Rachel yang datang membawakan secangkir madu dan jahe hangat untuk papa Arsa supaya tidak masuk angin.
"Mama ih tau aja.. ngantuk ma.. sekolah juga percuma, aku gak akan paham juga. " Ucap Geva. Papa Arsa hanya bisa geleng-geleng kepala, papa Arsa memang tidak mau memaksa apapun yang Geva mau, mengingat beberapa kali Geva hampir kehilangan nyawanya. Baginya setiap hari bisa mendengar suara dan tawa Geva itu udah nikmat yang luar biasa.
"Yaudah tidur lagi sana.. jangan lupa sarapan dulu. Ajak Naomi sarapan, karena galau itu butuh energi." Kata Papa Arsa.
"Papa emang terbaik deh." Geva mengecup pipi sang papa penuh cinta.
"Pa.. Geva udah kebanyakan bolos." Ucap Mama Rachel yang lebih disiplin pada anak-anaknya.
"Gak apa-apa yang penting kalau ujian nanti kan lulus." Ucap Papa Arsa santai.
"Selalu aja dimanja." Decak mama Rachel membuat Geva tersenyum penuh kemenangan.
"Pa.. udah ada kabar tentang keberadaan Deon?" Tanya Mama Rachel. Papa Arsa menggeleng lemah membuat Geva menghela nafasnya. Pasti kakaknya sudah hokya hokya sama Renata mengingat bagaimana mereka berciuman semalam.
"Udahlah ma.. tenang aja.. dia anak laki. biarkan aja dia.. kalau lagi begini susah untuk di nasihati. Biar waktu yang membuka mata, hati dan otaknya sendiri. Nanti juga dia nyesel. Yang penting kita udah kasih tahu ma." Kata Papa Arsa.
"Tapi pa.."
"Udahlah ma.. tenang aja.."
"kalau udah cinta itu taii kucing pun rasa coklat ma. Ya kan pa?" Sambung Geva dan dijawab anggukan kepala papa Arsa. Geva sudah mulai memakai logika nya. Jika dia terus jengkel dan emosi, maka dia tidak akan menemukan ide untuk memisahkan kakaknya dengan Renata.
"Anak sama bapak kok sama aja! dulu aja bapaknya juga ogeb saat cinta sama si mantan itu siapa namanya sevia sevia si kekasih gelap itu kayak lagunya Sheila on seven." Omel Mama Rachel.
"Mama masih cemburu aja sama masa lalu." Ucap Papa Arsa merangkul pinggang sang istri dengan posesif.
"Hilih.. masa lalu.. kemarin gak sengaja ketemu di butik juga senyum-senyum saling tanya kabar!" Ucap Mama Rachel mencoba melepaskan tangan suaminya.
"Kan itu juga teman SMA ma.. yang lalu biarlah berlalu.." Ucap Papa Arsa mencium pipi sang istri dengan mesra.
"Pamer terus.. pamer kemesraan terusss.. teruskan aja pamernya!" Kata Geva ketus.
"Heii. derita LDR sirik aja." Ucap Mama Rachel membalas pelukan sang suami..
"Mbak Sum.. tolong antarkan sarapan aku dan Nom Nom ke kamar ya." Teriak Geva.
"Siap Non." Jawab mba sum entah dari mana.
"Ge.. gak baik ah minta tolong teriak-teriak gitu.. gak sopan." Kata Mama Rachel.
__ADS_1
"Mba sum kan teman aku ma."
"Iya sayang.. tapi tetap saja usia mba sum dua kali lipat lebih dari usia kamu. Dan meskipun mba sum asisten rumah tangga tapi kamu harus sopan dan menghargainya tanpa dia dan team-nya yang solid emang kamu mau bersih-bersih rumah dan masak?" Tanya papa Arsa.
"Ogah. Iya iya pa. maaf." Kata Geva.
"Nanti minta maaf sama mba sum ya."
"Siap pa. Aku naik dulu ya." Kata Geva.
🍁
Memasuki kamarnya, ternyata Naomi sudah mandi dan rapi. Geva mengernyit, ada apa dengan sahabatnya satu ini. Biasanya malas mandi?
"elu mau kemana Nom?" Tanya Geva.
"Gue mau balik ke panti Ge." Jawab Naomi.
"Why?"
"Gue butuh waktu sendiri Ge.. dan kalau gue tetap disini gue akan ketemu sama kak deon." Ucap Naomi.
"Nom.. maafin gue ya.. Gara-gara gue, elu jadi kenal sama manusia Menyebalkan itu yang bernama Gedeon." Geva memeluk Naomi.
"Aku gak pernah menyesal mencintai kakak kamu Ge." Naomi tersenyum.
"Nom.. aku sayang kamu.." Ucap Geva mengeratkan pelukannya.
"Aku juga sayang kamu Ge.. tapi kasih aku waktu sendiri dulu ya." Geva mengangguk. Dia sudah cukup kenal bagaimana Naomi saat sedih. Waktu sendiri hingga merasa hatinya baik-baik saja.
"Tapi kita sarapan dulu ya." Ucap Geva dan Naomi mengangguk.
Akhirnya Geva dan Naomi menikmati makanan yang diantar mba Sumi ke kamar Geva. Meskipun susah menelan makanan karena sesak di dadanya, Naomi mencoba untuk tetap memakannya apalagi mendengar candaan candaan absurd Geva membuat Naomi bisa tersenyum.
Naomi pulang ke panti di antar oleh supir keluarga Wijaya. Sebenarnya Geva ingin mengantarkan Naomi tapi dilarang papa Arsa karena mata Geva terlihat sangat mengantuk. Papa Arsa dan Mama Rachel sangat menyayangi Naomi mereka menyemangati Naomi untuk tidak berlarut dalam kesedihan hanya karena anak mereka yang bandel.
"Tapi aku hanya anak panti yang tidak jelas asal usulnya." Ucap Naomi lirih meneteskan air mata.
"Papa tidak pernah memandang hal itu Nom.. papa tahu kamu anak baik. Berbeda dengan Renata meskipun siapa orang tuanya jelas.. tapi kelakuannya gak jelas." Kata Papa Arsa yang selalu meminta Naomi juga memanggilnya papa dari dulu, tapi Naomi lebih sering memanggilnya Om.
"Jika memang Tuhan mentakdirkan aku sama kak Deon, biarkan Tuhan aja yang menentukan kapan waktunya Ma.. tapi aku gak mau berhadap lagi sama manusia." ucap Naomi lirih.
"Iya sayang.. kamu jangan banyak pikiran dulu ya.." Ucap Mama Rachel.
"iya ma.. aku pulang dulu ya.. ma.. om.. Gep.."
"Papa Nom.. papa.." Kata papa Arsa.
"Iya calon papa mertua." Kata Naomi sambil tersenyum.
"Kamu cantik kalau senyum Nom." Ucap Geva.
"Ck. berusaha menyenangkan aku yang payah ya?" tanya Naomi tersenyum sinis pada sahabatnya.
"Ih nom nom.. aku manis-manisin kenapa gak tersentuh sih.. Menyebalkan banget dah!" Kata Geva membuat semuanya terkekeh.
🍁
Geva merebahkan tubuhnya di kasur, hatinya kembali gundah jika sedang sendirian seperti ini. Pasti deh ingat Bhumi. Geva terus memandang ponselnya yang menampilkan wajah tampan Bhumi.
"Apa benar aku udah jatuh hati sama kamu,m tapi aku takut patah.. aku gak mau kayak Naomi yang menangisi kak Deon." Lirih Geva.
Geva ingin sekali membuka blokir kontak Bhumi, namun dia urungkan. dia takut kecewa ketika membuka blokir dan ternyata Bhumi tidak mencarinya atau mengkhawatirkan dirinya. Kan malu bin kesel.
Misal Bhumi khawatir pasti kan menghubungi dirinya dengan menggunakan ponsel Bang Sat. atau meminta bang Sat untuk menanyakan kabarnya kalau misal Bhumi gengsi. Tapi ini, diam-diam aja si Bhumi.
__ADS_1
Geva menghela nafasnya berat, dia sadar ada getaran yang berbeda dihatinya kala mengingat Bhumi, namun dia tidak membiarkan rasa itu semakin besar. Hati Bhjmi masih sulit digapai meskipun Geva sudah memberikan semuanya.
Geva mulai membayangkan lagi masa depannya. Jadi dokter,? apa bisa?
Bukan masalah kapasitas otaknya, dari hasil tes IQ, IQ Geva diatas rata. Dan tes psikologi lainnya hasilnya sangat bagus. Cuma ya itu, Geva akan melakukan apa aja itu semaunya makanya nilai sekolahnya segitu-gitu aja. Apalagi matematika, gara-gara dulu pernah punya guru matematika yang gak bisa menerangkan, kerjaannya cuma minta muridnya maju ke depan untuk mengerjakan soal, jika tidak bisa maka akan dihukum. sejak itulah Geva benci matematika.
Tapi jadi dokter dia bisa atau tidak itu mengingat statusnya, apa Bhumi akan mendukung nya? secara di keluarga Bramantya semua wanita fokus mengurus suami dan anak baru karier meskipun tidak ada larangan untuk berkarir juga.
Ah pusing memikirkan itu semua. Intinya sih semua ada baik buruknya. Jika Bhumi bisa mencintai nya, itu artinya dia harus mengubur impiannya menempuh pendidikan di luar negeri.
Namun jika Bhumi tidak mencintainya, dia akan melepaskan Bhumi dan dia bisa mengejar impiannya dari kecil itu.
Lelah berpikir, akhirnya Geva yang mengantuk itu terlelap begitu saja.
🍁
3 jam sudah Geva terlelap dengan nyenyak nya di kamar pribadinya tanpa ada yang berani menganggu. Hingga dia bermimpi bahwa Bhumi datang merengkuh tubuhnya, Bhumi memeluknya dengan posesif.
Sebegitu kah rindunya pada sosok Bhumi Bramantya lelaki yang benar-benar terbuat dari besi karatan?
Geva menghela nafasnya dan membuka matanya. Lagi-lagi dia mendesah kesal karena bayangan Bhumi muncul lagi disamping nya. Bahkan aroma parfum Bhumi begitu hafal di indera penciumannya.
"Sadar Ge sadar.." Gumamnya pelan.
"Astaga Ge.." Pekik Geva memukul-mukul kepalanya sendiri berharap bayangan Bhumi itu hilang dari benaknya.
"Astaga! kenapa kamu benar-benar menyebalkan sih Bhumi Bramantya! kamu gak puas apa PHPin aku terus sekarang muncul terus dalam dunia kehaluanku." Teriak Geva mengucek-ngucek matanya.
"Tidur lagi aja Ge.. jangan berisik. aku ngantuk." Ucap seseorang yang membuat Geva benar-benar terkejut. Geva melirik jam di dinding kamarnya sudah pukul 11 siang, gak mungkinkan dia mengigau di siang bolong begini?
"Kenapa? gak percaya suami kamu pulang?" Tanya Bhumi tersenyum sambil menopang kepalanya dengan sayu tangannya sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk merengkuh pinggang ramping Gevania. Bhumi tersenyum menatap wajah gadis yang semalaman membuatnya uring-uring an itu.
"Gue mimpi." Gumam Geva lirih masih terdengar Bhumi.
Cup!
Bhumi mengecup bibir Geva sekilas.
Geva semakin melongo, dipegangnya bibirnya dan bergumam,
"Gila.. rasanya seperti nyata". Bhumi tidak bisa lagi berpura-pura.
PLETAK!
"Awww!" Pekik Geva mengusap keningnya yang disentil Bhumi.
"Kamu?" Ucap Geva terkejut untuk kesekian kalinya.
"Kenapa? udah sadar kalau ini suami kamu di dunia nyata? bukan mimpi?" Tanya Bhumi.
"Kakak... kakak kenapa pulang? Kakak ngeprank aku kan kemarin!" Ucap Geva tidak terima. Masak iya Jepang Indonesia yang naik pesawatnya aja delapan jam bisa pulang pergi begini.
"Emang kamu pikir aku kurang kerjaan sampai ngeprank ngeprank segala. Aku pulang karena ada orang yang memblokir nomor aku, terus dia kemarin di Club malam di dorong kakaknya teh ditangkap mantannya." Ucap Bhumi dengan nada kesal.
"Kakak.. kakak beneran ini? kakak beneran pulang?" Tanya Geva langsung memeluk Bhumi.
Geva berharap dengan dia memblokir nomor Bhumi membuat Bhumi kelimpungan dan menelfon dia terus tapi bukan Bhumi menelfon justru Bhumi langsung mendatangi nya.
"Kakak.. menyebalkan!" Ucap Geva melepas pelukan nya.
Lah?
****BERSAMBUNG****...
BERSAMBUNG.....
__ADS_1
BIAR BANYAK YANG LIKE,
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE