
Setelah masuk ke dalam lift, Geva sudah mode mengerucutkan bibirnya tanda jika moodnya sedang tidak baik. Bhumi masih setia merengkuh tubuh Geva sambil menghela nafasnya melihat penampilan Geva. Ingin rasanya langsung mengomeli Geva karena berpakaian seperti ini, tapi nyali Bhumi menciut melihat wajah Geva yang ditekuk.
"Kamu udah makan belum?" Tanya Bhumi lembut.
Geva melirik Bhumi dengan tajam membuat Bhumi menelan salivanya.
"Ge.. udah makan belum?" tanya Bhumi.
"Ck. panggil sayang cuma didepan umum.. kirain sayang beneran." Gerutu Geva lirih namun masih terdengar jelas oleh Bhumi. Bhumi tersenyum, emosi Geva naik turun. Untung Bhumi udah searching soal wanita PMS yang gampang emosian jadi Bhumi tinggal menaikkan tingkat kesabarannya.
"Percuma aku panggil sayang jika sayangku saja bertepuk sebelah tangan." Jawab Bhumi datar.
"Ah tau ah! aku kesel sama kakak! Selalu aja jawab! " Ucap Geva meninggalkan Bhumi karena bertepatan dengan terbukanya lift di lantai ruangan Bhumi berada.
Geva berjalan sambil menghentakkan kakinya beberapa kali untuk meluapkan emosinya lalu membuka ruangan Bhumi dan membanting pintunya begitu saja.
Bhumi hanya tersenyum melihat tingkah mantan gadis yang memiliki sifat dan sikap absurd bin ajaib itu.
"Kenapa kamu ke sini gak bilang-bilang?" Bhumi memasuki ruangan dan mendekat ke arah Geva yang duduk di kursi kebesarannya. Geva benar-benar memonopoli ruangan Bhumi. Sebelumnya tidak ada yang berani loh duduk di kursi Bhumi.
" Jangan banyak nanya dulu deh kak. aku lagi kesel " Kata Gevania menyembunyikan wajahnya di atas meja Bhumi. Bhumi berdiri dengan bersandar ke meja disamping Geva.
Bhumi mengusap lembut rambut Geva,
"Kenapa kamu tidak balas Renata tadi? kamu bukan gadis lemah Ge." Ucap Bhumi.
"Aku hanya ingin lihat kakak pecat dia. Tapi gak kakak lakukan. Aku kesel sama dia. Ketemu Renata kesel ku bertambah-tambah.Apalagi inget kak Deon yang selalu menutup kuping dan matanya jika aku kasih tahu dan kasih bukti soal Renata."
"Aku udah ngomong sama Deon, dan dia justru emosi.. dia tidak terima ada orang lain yang ngomongin jeleknya Renata." Ucap Bhumi.
"Cinta hanya pembodohan! makanya aku gak mau jatuh cinta." Ucap Geva.
"Termasuk sama aku?" Tanya Bhumi. Geva mendongak menatap Bhumi sambil menghela nafasnya.
"Aku gak tahu kak... "Lirih Geva yang memang bingung dengan perasaannya sendiri. Bhumi membuang mukanya ke samping.
"Kakak kenapa menghindari aku?" Tanya Geva.
"Aku gak menghindari kamu Ge." Ucap Bhumi.
"Kalau kakak gak suka aku manggil kak Fabian dengan sebutan 'kakak', aku bisa kok tetap panggil di 'bapak'."
"Ge..." Bhumi memegang pundak Geva dan memutar kursi kebesarannya hingga mereka saling berhadapan dan mata mereka juga saling bertemu.
Diam hingga 5 detik... 10 detik.. 15 detik...
mendefinisikan perasaan masing-masing...
"Aku memang belum yakin dengan perasaan aku sama kamu jika soal cinta Ge.. tapi satu hal yang sudah aku yakini, aku sayang sama kamu Ge, aku gak mau lihat kamu sedih.. aku nyaman ada disamping kamu meskipun kamu benar-benar menguji ke sabaran ku." Ucap Bhumi mengungkapkan isi hatinya.
"Aku gak menghindari kamu... aku hanya takut jika perasaan sayang aku ke kamu akan menjadi cinta yang sangat besar sedangkan kamu enggan membuka hati kamu untuk aku." Ungkap Bhumi. Bukan hal mudah memang Bhumi mengutarakan perasaannya tapi dia tidak mau hubungannya dengan Geva terus menerus seperti ini.
"Jika memang belum ada cinta, itu wajar Ge.. karena hubungan kita terjalin juga belum lama. Namun jika kamu kekeh dengan pendirian kamu untuk berpisah demi impian-impian kamu.. aku bisa apa Ge? aku tidak mudah jatuh cinta Ge, dan aku pernah merasakan bagaimana sakitnya ditinggalkan. Aku tidak mau merasakan itu lagi." Ucap Bhumi dengan mata berkaca-kaca.
"Kakak..." Geva langsung memeluk tubuh Bhumi. keduanya sama-sama terisak.
"Keputusan sepenuhnya ada di tangan kamu Ge.. aku gak mau menjadi penghalang impian kamu.. kamu cantik, kamu baik, kamu sempurna.. kamu berhak mendapatkan lelaki lain yang lebih baik dari aku karena ternyata aku hanya bisa menyakiti dan membuat kamu menangis. Aku hanya ingin kamu bahagia." Ucap Bhumi.
"Kak.. aku mau buka hati aku buat kakak.. aku mau... ta.. tapi.."
__ADS_1
"Tapi apa Ge..."
"Yakinkan aku jika kakak memang benar-benar bisa move on dari kak Flo. aku gak mau hidup dalam bayang-bayang kak Flo. Aku gak mau saat aku yang ada disamping kakak, tapi kakak terus menghadap ke kak Flo." Pinta Geva.
"Aku akan lakukan itu Ge.. jika memang itu membuat kamu mau belajar membuka hati kamu."
"Yakinkan aku kak.. karena sejujurnya aku sangat ragu sama perasaan aku sendiri, aku ragu dengan perasaan Kakak setelah semuanya terjadi."
"Aku memang belum mencintai kamu Ge.. tapi aku mohon bantu aku untuk mencintai kamu. Dan jangan pernah tinggalkan aku." Ucap Bhumi.
"Asal kakak bisa menjaga apa yang aku percayakan sama kakak, aku tidak akan meninggalkan kakak." Ucap Geva mengeratkan pelukannya pada sang suami pelukable nya.
Keduanya pun larut dalam pelukan yang begitu mengharukan. Pelukan dalam waktu yang lama dan saling melepaskan beban perasaan masing-masing.
"Kak.."
"HM.."
"Kakak gak capek berdiri meluk aku terus gini?" Tanya Geva dengan polosnya hingga membuat seorang lelaki yang kaku dan dingin layaknya besi berkarat itu terkekeh.
"Capek banget sih.." Ucap Bhumi langsung mengangkat tubuh Geva. Bhumi mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya dan memangku Gevania.
"Aku sayang sama kamu Ge." Ucap Bhumi mengecup pipi Geva.
"Sepertinya aku juga udah mulai sayang sama pelukan kakak."
"Kenapa sama pelukan? sama orangnya gak?"
"Kalau sama orangnya aku belum tahu.. tapi kalau sama pelukan sih yes.. karena kakak pelukable banget!" Jawab Geva jujur sambil tersenyum.
Bhumi begitu gemas dibuatnya, tingkah Geva yang kekanak-kanakan dan kadang ada dewasanya itu benar-benar menjungkirbalikkan perasaan Bhumi.
"Aku pasti akan selalu merindukan ini Ge." Ucap Bhumi lirih sambil mempertemukan kening Geva dan keningnya.
Geva mengalungkan lengannya ke leher kokoh sang suami pelukable.
"Aku pasti juga akan selalu merindukan pelukan ini kak." Ucap Geva menyembunyikan wajahnya di leher Bhumi menghirup aroma lelaki yang sudah sah menjadi suaminya ini.
"Ge.. kenapa kamu berpakaian seperti ini? Aku tidak suka."
"Kenapa?"
"Kamu gak lihat tadi, banyak lelaki menatap kaki kamu.. menatap dada kamu.. aku gak suka milikmu di lihatin lelaki lain." Ucap Bhumi sudah mode protes dengan nada kesal.
"Yaudah besok aku pakai sarung aja kalau kesini. ketutup kan kaki aku." Ucap Geva cuek dan langsung mencium leher Bhumi membuat tanda Kissmark disana.
"Ge.. jangan menggoda ku.." Lirih Bhumi mulai terangsang. Geva tidak menghiraukan Bhumi, dia masih menikmati leher lelakinya itu.
Tangan Bhumi akhirnya tidak bisa diam, dia mengusap paha Geva yang putih mulus itu menikmati lembutnya kulit yang selalu membawanya terbang.
"Kak.. aku lagi PMS." Ucap Geva kala tangan Bhumi sudah menjalar ke mana-mana.
"Aku menginginkanmu Ge.." Ucap Bhumi dengan mata yang menatap Geva dengan sayu.
"Tapi kak.."
"Aku akan mengajari kamu sesuatu.. masih cukup waktu sebelum berangkat ke Bandara. Bolehkah?" Kata Bhumi.
Geva mengangguk malu namun sepersekian detik berikutnya Geva langsung mencium bibir Bhumi dengan sensual. Bhumi membalas ciuman Geva dengan lembut, dia mencoba menafsirkan perasaannya pada Geva.
__ADS_1
CEKLEK!
"Bhumi kenapa kamu..." Renata menghentikan ucapannya saat melihat Bhumi berciuman dengan Geva yang duduk di pangkuannya.
Ciuman dua manusia yang dimabuk asrama itupun terlepas begitu saja.
"Ketuk pintu dulu sebelum masuk ruangan orang Renata! pakai adab kamu!" Pekik Bhumi emosi.
Geva terlihat cuek dan tidak ada niatan turun dari pangkuan Bhumi.
Mata Renata berkaca-kaca melihat adegan panas Bhumi dan Geva.
"Apa yang ingin kamu ucapkan?" Tanya Bhumi.
" Kenapa kamu mendadak membatalkan penerbangan aku ke Jepang? kenapa Bhum? padahal aku udah minta asisten di rumahku untuk mengirim barang-barang ku ke kantor." Tanya Renata.
"Aku gak ingin membuat wanitaku berpikir macam-macam nona Renata mengingat bagaimana anda mencoba menjebak saya." Kata Bhumi.
"Bhum.. ini soal pekerjaan dan aku akan profesional Bhum.." Pinta Renata.
"Satria sudah bisa menghandle semuanya." Ucap Bhumi.
"Kak.. ayo kita lanjutkan.. nanggung nih." Rengek Geva dengan manja sambil melirik Renata.
Wajah Renata merah padam.
"Iya sayang.. kita lanjutkan di kamar saja ya, masih ada waktu 30 menit." Kata Bhumi.
"Nona Renata, Sekarang keluarlah dari sini." Ucap Bhumi. Dengan air mata yang sudah menetes, Renata pun keluar dari ruangannya.
"Ini baru permulaan Renata.. aku akan menghancurkan mu dengan perasaan kamu sendiri karena kamu sudah bermain-main dengan Bhumi Bramantya." Batin Bhumi tersenyum sinis.
Bhumi langsung menggendong tubuh Geva dan hendak menuju ke kamar ruang istirahat Bhumi.
Ceklek.
Pintu terbuka lagi, Bhumi menghela nafasnya.
"Bhum.." Panggil Keenan.
"Ck. mesum di kantor." Ucap Keenan.
"Kak turunin.." Rengek Geva yang malu dilihat Kenaan.
"Lima menit lagi kita harus berangkat Bhum.. karena ada kecelakaan di jalan tol arah bandara jadi jalanan macet. " Kata Keenan.
"Ha? jadi kakak gak jadi ngajarin aku dong!" Ucap Geva kesal.
"Ge.."
"Siap-siap sekarang BHUMI BRAMANTYA!" Perintah Keenan.
"Ge.. ikut ke Bandara ya?" Pinta Bhumi.
"Males!" Jawab Geva kesel.
BERSAMBUNG...
KALI INI.. TEMBUS 1000 LIKE AKU LANGSUNG UPDATE KARENA DAPAT KIRIMAN KOPI BANYAK DAN VOTE HEHE..
__ADS_1
THANK YOU SEMUANYA 🥰