
"Oke.. pertama.. apa yang ingin kakak Katakan sama aku." Bhumi berpikir sejenak dan menghela nafasnya.
"Pertama aku mau minta maaf sama kamu Ge.. aku gak tahu dan saat itu aku belum mengingat kamu.. hanya saja.. ada sebuah boneka Teddy bear kecil yang besarnya segenggaman tangan orang dewasa, nah disana tertulis "bee" dan itu ternyata nama panggilan kita dulu. dan aku.."
"Bukan nama panggilan kita, tapi aku yang merengek meminta kakak memanggil aku itu." Kata Geva memotong ucapan Bhumi.
"Iya iya.. dan aku minta maaf.. karena aku suka aja dengan panggilan itu.. makanya aku pakai untuk memanggil Flower." Ucap Bhumi sambil memejamkan matanya seperti terdakwa yang tengah di vonis hukuman penjara.
jantung Bhumi berdegup kencang, pasti
setelah ini akan ada drama lagi yang menguras emosi, jiwa dan raga. Dalam hati, Bhumi meruntuki dirinya sendiri sudah berkata jujur pada Geva. Iya benar-benar jujur tanpa mikir panjang bagaimana murkanya Geva sedangkan waktu untuk kembali ke Jepang tinggal beberapa jam saja.
Bukankah Bhumi selama ini menjadi orang yang selalu penuh pertimbangan. Kenapa dihadapan Geva nggak?
"Ge.. aku minta maaf." Kata Bhumi lagi karena Geva hanya diam menatap sang suami.
Geva masih saja terdiam.
"I.. itu panggilan jaman dulu Ge.. saat pacaran.. aku masih labil saat itu Ge.. Nggak lagi kok.. nggak." Kata Bhumi ketakutan. Sekarang Bhumi paham mengapa Papi Gema bisa benar-benar stress dan kalut saat Mami Naya hanya diam saja.
"Ge... maaf.. aku udah lancang pakai nama panggilan kita.. aku gak tahu Ge kalau aku punya kenangan dengan nama panggilan itu. aku hanya merasa nyaman saja memangil dengan nama itu.. rasanya ada yang menelusup dada aku.. sehingga secara spontan aku memakai itu untuk panggil Flower. " Kata Bhumi lagi yang semakin takut.
Iya, sekeren kerennya singa jantan sang raja hutan ternyata tetap saja takut dengan singa betina. Bhumi beberapa kali menghela nafasnya dan siap memohon pada Geva supaya gak marah. Bhumi gak mau kembali ke Jepang dengan hati yang masih mengganjal dan ini ujung-ujungnya LDRnya bukan cuma raga mereka tapi juga hati mereka.
CUP!
Satu kecupan mendarat di bibir Bhumi membuat sang empu terbelalak tidak percaya.
Bhumi menatap bingung wajah Geva yang tersenyum kepadanya dengan manis. Bukankah harusnya Geva marah karena Bhumi menggunakan panggilan kesayangan nya untuk Flower.
"Ciiee.. berarti dulu udah bucin dong sama aku. Ciiee kakak.." Ledek Geva langsung memeluk Bhumi. Bhumi masih bingung.
Rasa sesak di dada Geva yang tadi karena teringat Flower mendadak hilang mendengar pengakuan Bhumi yang ingatannya hilang tentang masa kecilnya namun panggilan untuk Geva itu masih terukir dihatinya. Yah meskipun harus berbagi pad Flower dulu.
"Kamu gak marah Ge?" Tanya Bhumi dengan polosnya.
"Kenapa aku harus marah kak. aku malah seneng ternyata kakak menyimpan itu di lubuk hati yang paling dalam." Geva mengecup bibir Bhumi lagi.
"Ge.. jangan menggoda ku terus atau nanti aku meminta bantuan kamu lagi untuk meminta bobokan si Tongkat Baseball ini." Ucap Bhumi sambil memejamkan matanya karena jari-jari lentik Geva sengaja bermain di Dada bidangnya hingga perut berototnya.
__ADS_1
"Aku mau bermain sama tongkat baseball lagi." Bisik Geva di telinga Bhumi.
Tentu Bhumi menerima dengan sangat bahagia dong kemauan Geva.
"Tapi.." Ucap Geva membuat Bhumi yang tadi udah terbang melayang mendadak berhenti ditempat.
"Aku mau kakak jujur lagi soal masa lalu kakak bersama kak Flo. aku mau denger dari kakak sendiri sebelum aku denger dari orang lain.* Ucap Geva.
Bhumi menghela nafasnya.
"Udah lah Ge.. gak usah dibahas lagi."
"Baru satu kak.. ayo lagi.. ceritain gimana kakak bisa jadian sama kak Flo.. siapa yang menembak duluan." Geva penasaran. Bhumi hanya diam memandang sang istri.
"Ayo lah kak.. aku gak akan cemburu buta kok.. aku janji habis ini aku akan buat kakak berteriak ke enakan lagi."Rayu Geva.
"Flow yang menembak aku dulu karena dukungan dari Bhima." Jawab Bhumi.
"Dari kak Bhima?" Geva tidak percaya akan hal itu.
"Iya Bhima yang memang mendekatkan aku dan dia. Padahal dia Cinta mati sama Flo.." Bhumi tersenyum mengingat masa-masa itu.
"Bukan... hanya saja.. aku teringat keegoisanku. Iya keegoisanku yang melihat Flower pertama kali, gadis jutek galak ngomong ceplas-ceplos dan bar-bar namun manja. Entahlah aku dulu gak tahu kenapa selalu tertarik dengan gadis seperti itu." Ucap Bhumi. Geva menyimak dengan baik meskipun masih ada nyeri setiap Bhumi menyebut nama Flower, tapi itukan permintaan Geva sendiri alih-alih hubungan kan harus saling terbuka satu sama lain.
"singkat cerita, setelah jadian justru aku merasa gak nyaman dengan sikap Flower. Ucapan ceplas-ceplos Flower membuatku pusing, seperti ingin mengingat seseorang tapi tidak bisa. Akhirnya aku minta Flower untuk belajar jadi wanita yang lembut. Aku benar-benar melarang Flower untuk ini itu." Kata Bhumi.
"Dan kak Flower mau?" Bhumi mengangguk dan tersenyum.
"Kalau aku mah ogah.. mau cinta aku yang seperti ini ya silahkan..Nggak juga gak apa-apa. Nggak maksa juga masih banyak yang cinta." Ucap Geva.
"Siapa aja yang cinta?" Bhumi mendadak melotot dengan mode galak. Dia udah waspada jika nanti ada yang berani menikung dirinya.
"Ih kakak.. giliran aku cerita kan nanti.. kakak cerita dulu sama kak Flo." Ucap Geva.
"Tapi kamu janji, kamu juga harus cerita semua sama aku."
"iya... iya.." Kata Geva malas.
" Ya intinya itu tadi... Flower benar-benar berubah menjadi yang aku mau.. dan untungnya sikap kalemnya kebawa sampai sekarang dan dia cocok menjadi pasangan Bhima yang kalem dan sabar. Soalnya kalau Flow masih bar-bar kasian Bhima nya." Ucap Bhumi tersenyum.
__ADS_1
"Jadi sekarang kasian kak Bhumi gitu karena punya istri bar bar kayak aku?" Tanya Geva.
"Lah.. tadi kan bahas Bhima sama Flower kok jadi kita sih."
"Lah kakak bilangnya gitu.. kalau kak Flo masih bar-bar kasian kak Bhima nya.
"Ya itu kan Bhima.. kamu gak nanya gitu, alasan aku suka sama cewek-cewek model bar-bar gitu?" Tanya Bhumi.
"Nggak pengen!" Kata Geva judes.
" Karena kamu." Bhumi menjawab pertanyaan nya sendiri meskipun Geva tidak mau tahu lagi.
"Ke.. kenapa aku?" Tanya Geva lagi.
"Iya karena.. kamu benar-benar masuk dalam hati aku meskipun ingatanku hilang sebagian. Apalagi Mami terus menceritakan tentang Anak perempuan Tante Rachel dan om Arsa saat itu. Segala tingkahnya mami cerita in ke aku sambil menemaniku belajar atau membaca. Cuma aku yang dulu gak berminat bertanya sama sekali tentang kamu.. eh.. ternyata cerita mami benar-benar membuat ku kagum dan jatuh cinta meski kita gak pernah bertemu lagi."
"Lalu setelah kakak bertemu aku pertama kali dan tahu kalau aku anak papa dan mama?" Tanya Geva.
"Saat menikahi kamu pun aku belum tahu karena aku lupa cerita-cerita mama yang aku anggap gak penting Ge.. tapi makin kesini aku seperti merangkai kepingan-kepingan puzzle. Dan semua itu begitu penting untuk diriku. Maafkan aku yang pernah melupakan kamu." Ucap Bhumi memeluk Geva.
Mereka terus ngobrol dari hati ke hati, tidak ada lagi ego yang tinggi lagi. Hanya ada ciuman dan pelukan menikmati waktu-waktu bersama sebelum terpisah lagi.
"Oke.. sekarang apa permintaan kedua kamu Ge?" Tanya Bhumi mengusap lembut rambut panjang Geva.
Geva terdiam dan tampak ragu mengutarakan keinginannya yang ia pendam sudah sejak lama.
"Katakanlah Ge." Ucap Bhumi.
"Izinkan aku kuliah di luar negeri kak.. izinkan aku meraih impian aku." Kata Geva menunduk.
Deg!
Apa-apaan ini?
BERSAMBUNG DULU AH YA...
BUAT BHIMA FLOWER BESOK DIUSAHAKAN UPDATE YA..
SELAMAT ISTIRAHAT..
__ADS_1
TERIMA KASIH YANG MAU MENINGGALKAN LIKE NYA.