Menikahi Gadis Menyebalkan!

Menikahi Gadis Menyebalkan!
Gadis Menyebalkan~


__ADS_3

"Jika suatu hari kakak melepaskan aku.. atau aku yang sudah tidak sanggup berada disamping kakak, maka sudah ada seseorang yang mau menerima aku dan mencintai aku kak...


Gak mungkin kan kita hidup seperti ini terus, aku udah nikah.. dan aku juga penasaran gimana rasanya making love, gimana rasanya diperlakukan secara istimewa. Dan itu semua gak aku dapat dari kakak. karena semandiri-mandirinya wanita dia juga butuh kasih sayang dari pasangannya."


Kalimat panjang lebar Geva membuat Bhumi tertegun.


"Kayaknya rencana Naomi berhasil.. bersikap baik pada Bhumi.. menjadi istri yang baik tapi dekat dengan Pak Fabian." Gumam Geva dalam hati.


"Gev.." Panggil Bhumi.


"Iya kak." Jawabnya dengan nada sangat manis, tidak ada lagi nada permusuhan seperti sebelum-sebelumnya.


"Duduklah sini, mendekatlah." Ucap Bhumi menepuk space sofa yang kosong diantara mereka.


Meskipun sedikit ragu, Geva pun mendekat kearah Bhumi mengikis jarak diantara mereka.


Geva masih memasang wajah datar tanpa dosa.


"Kenapa?" Tanya Geva.


"Kamu yakin siap melayani aku sebagai suami kamu lahir dan batin? Termasuk memenuhi kebutuhanku diatas ranjang?" Tanya Bhumi serius.


"Ha?" Geva terkejut dengan pertanyaan Bhumi pasalnya selama ini Bhumi selalu menolaknya. Dan sekarang Bhumi lah yang membahas soal itu.


"A.. aku.."


"Aku tahu kok kamu belum siap, kami hanya di suruh mami kan melakukan semua itu?" Tanya Bhumi.


Geva menunduk dengan tangan yang merasa rok pendek seragam sekolahnya.


Bagaimanapun Geva masih anak ABG, dan Bhumi paham jika Geva saat ini sedang gugup membahas tentang kewajibannya diatas ranjang.


Senyum terlukis di bibir Bhumi, sikap Geva yang dari kemarin memamerkan tubuhnya kini menjadi gadis yang pemalu dengan wajahnya yang merona seperti tomat yang siap petik.


"Kita lakukan perlahan ya.. aku gak mau nyakitin kamu, tapi perlahan ketika kita sudah bisa saling menerima, aku akan melakukannya " Ucap Bhumi, Geva auto mengangguk.


"aduh Gep kenapa elu mengangguk sih?" Geva mengerutuki dirinya sendiri.


"Ge?"


"I.. iya kak.."

__ADS_1


"Sekali lagi maafkan segala kesalahanku ya.. aku belum bisa menjadi suami yang baik.. tapi mulai sekarang aku akan belajar untuk menerima kamu menjadi suami yang baik buat kamu meskipun aku tidak bisa menjanjikan apa-apa untuk kamu."


"Cih! masih saja sombong! seberapa istimewanya sih mantan kamu. sampai kamu sePD itu, jangan panggil aku Gevania jika aku tidak bisa membuat kamu bucin Bhumi Bramantya.. sabar dulu Gep.. sabar." Batin Geva.


"Maafin aku juga kak. Jika aku selalu buat kakak kesel." Ucapnya.


"Ternyata bener kata kak Keen, ketika kita bersikap lembut dengan wanita, maka wanita itupun akan mudah menurut dengan kita, tidak sulit menaklukan si rubah kecil ini dari pada aku harus dibuat pusing setiap hari." Batin Bhumi.


"Kita mulai semua dari awal ya.." Ucap Bhumi.


"Baiklah.. tapi ada syaratnya kak.."


"Syarat?"


"Iya.. syaratnya kita rahasiakan dulu pernikahan kita, minimal sampai aku lulus sekolah. Aku ingin sekolah dengan tenang.. jadi selama aku belum lulus, diluar kakak harus mengakui aku sebagai adik sepupu kakak bukan istri kakak.." Pinta Geva.


"Ck. itu alasan kamu saja kan supaya bisa dekat dengan guru kamu yang sok tampan itu?" Bhumi menatap istrinya dengan tajam.


"Yee ngaco.. kakak cemburu ya? Emang guru aku satu itu tampannya maksimal kak." Goda Geva. Tatapan Bhumi makin tajam,


"Ciie kakak cemburu ciie ciee." Tawa Geva meledek Bhumi.


"Cemburu? aku?" Bhumi menunjuk dirinya sendiri.


"Jangan ngaco kamu anak kecil!" Ucap Bhumi mengacak-ngacak rambut Geva dengan gemas seperti yang sering Bhumi lakukan pada Bianca.


"Ah.. kakak rambut aku rusak!" Pekik Geva membuat Bhumi tertawa karena bibir Geva yang mengerucut. Tawa kedua yang pernah Geva dengar dari Bhumi.


"Ge.. boleh tanya gak?"


"Tanya apa kak?" Jawabnya dengan masih sibuk merapikan rambutnya.


"Kamu belum pernah ciuman ya sebelumnya?" Tanya Bhumi membuat wajah Geva seketika memerah.


"Kok.. kakak tau?"


"Kelihatan, masih kaku banget.. gak bisa membalas!" Jawab Bhumi membantu Geva merapikan rambutnya. Namun fokus Bhumi kini pada bibir Geva.


"Aku ajarin mau?" Tanya Bhumi menatap Geva. Geva yang ditatap dengan sorot mata tajam bagaikan elang itupun langsung mengangguk.


Bhumi tersenyum, diraih lah tengkuk Geva. Dengan berlahan dia mendekatkan bibirnya ke bibir Geva. sontak Geva langsung memejamkan matanya.

__ADS_1


"Elu lakukan ini karena kewajiban sebagai istri Gev. Elu harus bisa bentengin diri elu supaya gak cinta duluan sama besi berkarat ini!" Batin Geva berdebar.


Bibir Bhumi mendarat sempurna di bibir Geva. Bhumi memberikan jeda sejenak untuk Geva merasakan bibir yang saling bertemu.


Berlahan tapi pasti, Bhumi mulai meluumat bibir bagian bawah Geva sedikit demi sedikit.


Geva terlihat sangat kaku..dengan jemari mereemas kemeja Bhumi. Bhumi menjauhkan wajahnya, memberikan sedikit jarak diantara mereka. Bhumi menempelkan keningnya ke kening Geva, Geva terlihat cukup bingung.


"Jangan gugup Gev.. tenang dan nikmati.. gunakan naluri kamu untuk membalas segala yang aku lakukan.. intinya lakukan hal yang sama seperti apa yang aku lakukan. Mengerti?"


"I.. iya kak."


Bhumi kembali menempelkan bibirnya ke bibir Geva, namun kali ini tidak memberikan jeda pada Geva untuk beradaptasi, dia langsung meluumat bibir Geva dengan lembut. Lumaatan demi luumatan Bhumi berikan pada Geva, Dan perlahan mulai membalas apa yang Bhumi lakukan padanya.


Geva merasa, rasa dari ciuman kali ini sangatlah berbeda dari sebelumnya. Karena sebelumnya dia terlalu terkejut dengan serangan dadakan yang dilakukan oleh Bhumi. Sedangkan kini, secara lahir dan batin dia sudah siap.


Bhumi lelaki normal, dalam situasi seperti yang ini dan Geva sudah membalas ciumannya, tentunya dia akan menuntut lebih.


Bhima menuntun Geva untuk berbaring di atas sofa, satu persatu kancing seragam Geva Bhumi buka.


Namun sayang setalah Kancing berhasil Bhumi buka sempurna, ternyata Geva menggunakan tangtop. Bhumi memerass dada Geva dari luar.. dada besar yang masih terbungkus tangtop dan bra.


Nafas Geva tersengal, Bhumi menghentikan ciumannya. Geva baru tersadar jika seragamnya sudah terkoyak.


"Kak..."


"Kita lakukan perlahan ya Gev.." Pinta Bhumi memohon.


"Tapi kak.. aku gak bisa.." Kata Geva mendadak berubah saat melihat mata Bhumi sudah menatapnya layaknya singa kelaparan yang melihat mangsanya.


"Kenapa?" Tanya Bhumi.


"Ya.. kan kakak yang sudah beberapa kali menolak aku ketika aku mengajak kakak melakukannya. Aku belum siap buat kakak tinggalin lagi seperti kemarin. Harga diriku sebagai seorang wanita sudah kakak jatuhkan." Ucap Geva.


"Ge..aku..."


"Maaf kak.. kasih aku waktu ya.." Ucapnya langsung segera berdiri dan berlari ke lantai dua apartemen mereka.


"Oh shiit! kenapa gue harus menikahi gadis menyebalkan sepertinya yang selalu bisa membalikkan ucapanku! " Umpat Bhumi langsung menuju kamar mandi.


Di lantai dua Geva yang sedang mengintip Bhumi masuk kamar mandi menahan tawanya karena berhasil mengerjai suaminya.

__ADS_1


"Maafkan aku suamiku.. aku harus melakukan ini supaya kamu mengejar aku.. biar kamu juga merasakan apa yang aku rasakan ketika sedang pengen eh ditolak." Ucap Geva.


BERSAMBUNG....


__ADS_2