
MAKASIH YA...YANG UDAH KASIH VOTE, LIKE JUGA KOMENTARNYA. HANYA TUHAN YANG BISA MEMBALAS KEBAIKAN KALIAN SEMUA.
HAPPY READING GAES ,🖤
🍁🍁
Gevania, wanita yang sudah menyandang status nya sebagai istri di mata publik itu diantar supir sang suami untuk ke rumah sang mertua yang ditempati kakak iparnya, setelah sang suami pergi dadakan ke kantor hingga membatalkan acara honeymoon mereka selama sepekan ke depan.
Dalam hati Geva juga jengkel, katanya Bhumi ingin memberikan dia kejutan dengan mengajaknya ke suatu tempat yang menjadi tempat honeymoon mereka. Namun Geva sadar, dia tidak boleh egois. Perusahaan lebih membutuhkan suaminya saat ini dibanding dirinya yang sudah digempur habis semalaman.
Mendengar Bang Kee yang ngos-ngosan saat telfon, Geva yakin masalah yang dihadapi perusahaan adalah masalah serius. Geva hanya bisa mendoakan suaminya semoga masalahnya segera selesai dan Bramantya tetap jaya karena dia tidak mau hidup miskin. Geva benar-benar realistis.
Dari pada di rumah sendirian dan gabut, mending bertemu kakak ipar sekaligus mantan sang suami, Flower.
Tidak ada ganjalan lagi dihati Gevania pada Flower, semua sudah selesai dan entah mengapa hati Geva pun lebih bahagia bersama Bhumi meskipun mengingat masa lalu Bhumi dengan Flower yang awalnya membuatnya semakin jijik.
Cinta adalah ketika kita mau menerima seseorang itu sepaket, kebaikan dan keburukannya juga segala masa lalunya. Dan Geva sudah benar-benar mencintai Bhumi.
Toh itu sebelum mereka menikah, kalau sekarang Bhumi masih berani macam-macam, jangan tanya Geva akan potong si Gohan hingga pangkal.
Memasuki rumah mewah yang terlihat sangat asri juga memberi kenyamanan, Geva disapa beberapa pelayan.
"Kenapa jalan kamu begitu Ge? Habis berapa ronde?" Tanya Flower terkekeh menatap Geva yang berjalan ke arahnya.
"Kakak sengaja ya ngerjain aku?" Tanya Geva langsung duduk disamping Flower lalu mengambil rujak yang sedang Flower makan di gazebo taman.
"Apaan aku?"
"Kakak tuh yang ngajak aku ke salon dan nyuruh aku senam ini itu.. dan tau gak Rasanya kayak di jebol keperawanan lagi... sakit banget kak.. mana kak Bhumi gak lepasin aku sedikitpun gara-gara aku remehin si Gohan." Cerita Geva tanpa filter dan tanpa malu.
"Ge.." Panggil Flower.
"HM..."
"Kalau boleh kakak kasih saran, kalau urusan ranjang lebih baik menjadi privasi kamu sama Bhumi aja ya.. boleh sih cerita, tapi jangan semuanya, jangan sampai detail gitu ah."
"Emang kenapa? kakak keinget sama si Gohan? asal kakak tahu ya, dan aku pastiin.. Gohan yang dulu dan sekarang pasti beda." Tanya Geva dengan polosnya dan santainya. Sedangkan Flower wajahnya sudah bersemu merah.
"Emang kenapa sih kak gak boleh gitu?" Tanya Geva lagi.
"Yang memang baiknya gitu Ge.. kalau kamu cerita bagaimana perkasanya suami kamu, kamu gak takut ada wanita yang tiba-tiba berniat jadi pelakor karena ingin dibawah Bhumi?" Tanya Flower membuat Geva melotot.
"Kakak gak niat jadi pelakornya kan dengan balikan sama mantan?" Tanya Geva.
"Nggaklah! ngaco kamu! aku gak hamil aja gak mau.. apalagi sekarang ada baby girl disini, tobat aku Ge.. tobat.. mau jadi ibu pula.." jawab Flower sambil mengusap perutnya yang sudah membuncit.
"Hah.. syukurlah!" Kata Geva bernafas lega hingga Flower terkekeh.
"Btw, kok kamu kesini kenapa? Bhumi mana? Bukannya harusnya kalian pergi honeymoon? kalian gak bertengkar kan? muka kamu kusut banget!"
"Kakak nanyanya satu persatu Napa, Intinya tadi kak Keen telfon ada meeting dadakan karena perusahaan ada masalah besar. Alhasil buat dedeknya di tunda!"
"Kan semalam udah buat dedeknya sampai puas kan... apalagi bau lilin aromaterapi itu.. duh mantab banget pasti.. karena mas Bhima suka banget pakai itu, bener-bener membuat rileks saat melakukan penyatuan." Kata Flower.
"Lilin?" Geva mengernyit mencoba mengingat ingat.
"Kenapa Ge?"
"Astaga, lilinnya di hotel! semalam aku pulang ke rumah baru yang kak Bhumi berikan untuk ku sebagai Hadiah pernikahan." Kata Geva menepuk keningnya.
"Serius Ge? tapi kamar pengantin aman kan? soalnya aku beliin kamunya lilin yang dengan efek paling luar biasa.."
"Aman kak.. pasti kosong kamar itu. baru tahu aku kak, kalau ada lilin kek gitu.. kirain cuma ada obat perangsang saja. ternyata ada lilin perangsang."
"Adalah.. tapi gak dijual bebas, aku dapetin nya dari temen DJ aku yang di HK. dan gak ada di negara kita. Bahaya."
__ADS_1
"Kakak masih ada gak? mau coba dong nanti malam."
"Nanti ya.. ada dikamar soalnya."
"Wih.. stok.. rajin dong senam ranjang nya?"
"Pake nanya segala, kayak kamu enggak!" Ucap Flower terkekeh.
"Eh Ca.." Panggil Flower pada Bianca yang baru pulang membawa koper.
"Eh kak.. Ge.." Sapa Bianca mencoba tersenyum.
Bianca berjalan mendekat kakak-kakak iparnya dan meninggalkan kopernya di dekat pintu menuju taman.
"Lagi apa kak?" Tanya Bianca.
"Lagi ghibah! sini ikut." Kata Geva.
"Kalian pasti ngomongin nya hal hal dewasa yang gak aku pahami." Gerutu Bianca cemberut.
"Buat edukasi dulu kakak Caca sayang." Kata Geva terkekeh. Adik iparnya yang lebih tua darinya itu emang terlewat polosnya, pacaran saja Baru sekali dan itupun sama lelaki brengssek bernama Reno. Dan Geva pastikan, seorang Bianca pasti tidak mau dicium sedikit saja sama Reno.
Mendadak Geva pengen menertawakan Reno, kenapa gak pacaran sama tiang listrik aja coba.
"Eh.. kamu kenapa bawa koper?" Tanya Flower mengalihkan pembicaraan, bisa bahaya kalau Geva ngobrolin soal ranjang depan Bianca yang polos.
"Aku mau tinggal di rumah ini saja kak.. mau nemenin kak Flo. kasian kan Kak Flow tinggal dirumah sendirian kalau kak Bhima ngantor." Kata Bianca tanpa berani menatap kakak iparnya karena bukan itu alasan Bianca yang sesungguhnya.
"Kak Ca.. mata kamu sembab, kamu habis nangis? jangan bilang berantem sama kak Keen?" Selidik Geva tanpa filter. Dugaan Geva emang selalu tepat kalau sama Bianca.
"Sudahlah jangan dibahas." Kata Bianca malas. Geva pun mengerti,
"Sorry... " Ucapnya. Bianca tersenyum dan mengangguk. Demi menghibur Bianca dan dirinya sendiri yang gagal honeymoon, Geva memiliki ide bagus,
"Gimana kalau kita ke Mall aja yuk... shopping habiskan duit suami." Ajak Geva.
"Kalau buat shopping mah langsung sembuh kak. ayo!"
"kamu sakit?" Tanya Bianca.
"Sedikit ada kesalahan teknis saja kak Ca.. aman." Ucap Geva.
"Ayo! aku siap-siap dulu dan telfon mas Bhima dulu buat izin."
"Aku cuci muka dulu ya.."
"Oke.. Let's go!"
🍁🍁🍁
Visi Misi Geva saat ini ingin menghabiskan duitnya sang suami, namun gagal. Karena baru saja keluar Gerbang kediaman Bramantya Papa Genta telfon meminta Geva datang secepatnya ke kantor karena Bhumi sedang tidak baik-baik saja setelah menerima teror.
Geva sebagai istri idaman itupun panik. Kenapa suaminya? ada apa?
Akhirnya supir menurunkan Geva ke Bramantya Corp. Flower mengajak Bianca untuk turun dulu melihat kondisi Bhumi sang adik ipar karena hubungan semuanya sudah murni persaudaraan bukan rasa yang tertinggal dimasa lalu lagi. Namun dengan tegas Bianca menolak dengan berbagai alasan. Padahal alasannya adalah malas bertemu Keenan setelah kejadian pagi tadi.
⏳ FLASHBACK ON
Bianca menggeliat,
Semalam dia menangis dan sangat rapuh mendengar desahan Alona yang dia duga sedang bermain dengan Keenan. Sepolos-polosnya Bianca, tetap saja Bianca tidak bodoh mengartikan suara itu.
Ingat Bianca polos tapi tidak bodoh!
Namun Bianca tidak mau terlihat lemah, dia harus bangkit dan dia yakin bahwa dia pasti bisa melupakan perasaannya pada Keenan Bramantya.
__ADS_1
Setelah mandi dan membersihkan diri, Bianca keluar kamar. Seperti biasa dia akan membuat sarapan untuknya dan Keenan.
Ruangan tengah apartemen itu tampak kosong dan sepi, Bianca yakin kak Keen-nya itu masih tidur nyenyak dengan wanita bernama Alona.
Bodoh amat lah,
Bianca mengalihkan perhatiannya tentang pikiran-pikiran buruk itu dengan masak. Nanti dia akan kuliah siang. Jadi pagi ini dia bisa bersantai saja setelah masak. Ah nonton drakor sepertinya pilihan yang tepat setelah perut terisi. Nanti kalau malas ke kampus juga tinggal nitip absen toh dosennya hari ini bukan dosen killer.
Tidak perlu waktu lama, dua porsi omelette keju dengan taburan mushroom parut diatasnya benar-benar menggunggah selera ditambah dua smoothies pisang tak kalah istimewa. Bianca tersenyum menatap hasil karyanya yang tidak pernah mengecewakan dan tentunya Keenan sukai.
Setiap pagi, Keenan selalu memuji masakan Bianca.
Bianca duduk di bar yang ada didekat dapur, dia nampak bingung harus membangunkan Keenan seperti biasa, atau biarkan saja karena di kamar Keenan ada wanita lain. Ah lagi-lagi Bianca berusaha bodoh amat, dia memotong omelette nya itu lalu memasukkan nya ke mulut.
"Eh rajin banget kamu udah buat sarapan!" Kata Alona yang baru keluar dari kamar lalu menghampiri Bianca. Bianca tidak menjawab, dia fokus dengan layar ponselnya karena malas menatap wajah Alona.
"Enak juga masakan kamu!" Kata Alona membuat Geva melotot.
"Eh siapa yang buatin kamu! enak aja asal makan tanpa izin.. aku itu buatin kak Keen ya bukan buatin perempuan murahan kayak kamu!" Teriak Bianca yang sudah mencoba meredam emosinya dari semalam akhirnya meledak juga.
"Kamu apa-apaan sih ca, bisa-bisa nya ngomong sekasar itu sama yang lebih tua!" Kata seseorang yang baru masuk apartemen menggunakan Hoodie juga celana training dan topi serba hitam.
Alona tersenyum tanpa mau membuka mulutnya lagi,
Keenan baru kembali dari joging pagi, terbukti keringatnya bercucuran deras.
"Nggak bisa gitu dong kak! dia makan makanan yang aku masak tanpa izin! aku buatin Kakak, bukan buatin dia!" Nada bicara Bianca semakin tinggi.
" Kalau soal makanan, gak apa-apa dimakan Alona Ca.. tapi kamu gak pantas bilang dia perempuan murahan. Lagi pula kakak bisa sarapan di luar! kenapa masalah kecil kamu besar-besarkan sih Ca! jangan kayak anak kecil deh berantem gara-gara makanan!" Kata Keenan menatap Bianca dengan kecewa.
"Aku? anak kecil?" Kata Bianca terkekeh namun ada luka dari sorot matanya.
"Kalau aku anak kecil, dia apa? perempuan kelewat dewasa yang murahan!"
"JAGA UCAPAN KAMU BIANCA!" Bentak Keenan. Pertama kalinya Keenan membentak seorang Bianca, adik yang teramat ia sayangi.
"Ck! terus aja bela! terus! salah kalau aku sebut dia wanita murahan kalau dia tidak tahu malunya tidur dengan kak Reno?"
"Ca!"
"Jaga mulut kamu Ca!" Bentak Alona tidak terima dengan fakta yang Bianca katakan.
"Salah aku bilang dia murahan setelah semalam tidak tahu malunya kalian mesum di ruang tengah padahal ada aku didalam kamar! otak kalian dimana?" Bentak Bianca lagi membuat Keenan mematung,
"Kak Keen selalu larang aku ini itu menganggap aku masih seperti anak SD. Kak Keen membatasi pergaulanku, tapi apa yang kak Keen lakukan! Ck bisa ngasih tahu orang tapi menjijikkan!"
"Ca.." Keenan memegang pergelangan tangan adiknya.
"Lepas! kak Keen jahat!" Teriak Bianca langsung lari ke dalam kamar dan menguncinya dengan kunci ganda supaya Keenan tidak bisa masuk.
"Ca.. buka Ca!" Teriak Keenan menggedor-gedor kamar Bianca namun Bianca tidak ada niat membukanya.
"Udahlah Kee, kalau kamu sibuk dengan adik kamu yang manja itu, aku balik aja! adikmu benar-benar keterlaluan!"
Keenan menghela nafasnya, tidak lama ponselnya berdering ada telfon dari kantor dimana memberi kabar bahwa ada kebocoran dana yang sangat besar.
"Aku akan mengantar kan mu pulan Al, sekalian aku mau ke kantor! tunggu sebentar aku mandi dulu." Ucap Keenan yang masih bisa didengar Bianca dari dalam kamar.
"Memang lebih baik aku pergi dan menjauh dari kak Keen, jika terus tinggal satu atap begini, aku gak akan bisa move on.. apalagi sudah jelas kak Keen lebih mementingkan tunangannya dari pada aku. Jika terus disini dan dengan segala sikap manis juga perhatiannya sama saja aku semakin menenggelamkan diriku ke dalam laut lepas!" Kata Bianca lirih sambil menghapus air matanya.
⏳ FLASHBACK OFF
BERSAMBUNG
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
__ADS_1
KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE