
HAPPY READING..
"Terus siapa Dewa? kenapa kamu senyum-senyum sendiri chatting sama dia?" Tanya Deon lagi penuh selidik.
"Oh itu temen aku kak.. temen sekelas aku sama Geva juga." Jawab Naomi.
"Kamu suka sama yang namanya Dewa?" Tanya Deon.
"Nom.. aku gak suka ya kamu berhubungan dengan cowok lain.. please hargai usaha aku.. aku juga sama Nom, aku gak komunikasi sama perempuan lain kecuali masalah pekerjaan. Aku mau serius sama kamu Nom.. aku udah buka hati aku buat kamu.. jangan kecewain aku!" Kata Deon.
"Kakak gak sedang cemburu kan?" Tanya Naomi tersenyum.
"Ng.. nggak!" Jawab Deon menjadi salah tingkah layaknya ABG yang baru pertama merasakan jatuh cinta.
"Ciiee .. calon suami aku salting." Kata Naomi tanpa filter. Sekarang paham kan kenapa Naomi dan Geva bisa menjadi sahabat yang benar-benar sangat tulus dan saling menyayangi.
Melihat Naomi yang menertawakan dirinya, seolah ada sesuatu yang bergejolak di dada Deon, Mata Deon terfokus pada bibir Naomi yang terus meledeknya.
Dengan dan tanpa permisi, Deon langsung menarik tengkuk Naomi dan mendaratkan bibirnya tepat di bibir tipis Naomi yang berwarna merah muda. Jarak mereka yang sangat dekat tentu tidak sulit untuk Deon melakukan hal tersebut.
Naomi mematung, dia teramat shock dengan apa yang terjadi, ini adalah ciuman pertama untuknya. Matanya mengerjap-ngerjapkan mencari tahu apa ini hanya mimpi. Ciuman pertamanya dia berikan pada lelaki yang teramat dia cintai.
"Mamvuss jantung gue mau copot! ini beneran kayak di drakor-drakor yang gue tonton gitu kan? terus gue harus gimana?" Gumam Naomi dalam hati yang seolah ingin berteriak-teriak.
Deon meluumat bibir tipis berwarna merah muda itu dengan lembut, otak Noami mendadak waras. Naomi mengingat pesan Gevania, melakukan semuanya setelah SAH! gak boleh jadi wanita murahan karena nanti pasti akan rugi sendiri.
Naomi berusaha mendorong dada Deon supaya Deon melepas tautan bibirnya, tapi gagal karena Deon justru semakin menahan tengkuk Naomi dan menikmati bibir Naomi yang selalu bawel setiap mereka bertemu dan kencan.
Bukannya melepas tautan bibirnya, Deon justru menggigit kecil bibir Naomi hingga gadis cantik yang sebenarnya polos itu tanpa sadar membuka mulutnya. Dan tidak ingin kehilangan kesempatan, Deon mengabsen setiap inci milik Naomi.
Kali ini Naomi hanya pasrah, permainan Deon benar-benar memabukkan dan membuatnya melayang tinggi. Naomi hanya mereemas kaos yang Deon kenakan untuk mengurangi rasa gugup yang mengguncang hatinya saat ini.
Sadar jika gadis polos itu mulai kehabisan nafas, Deon melepas tautan bibirnya. Naomi langsung menghirup udara dalam-dalam, mengisi rongga-ronggo kosong di paru-parunya dengan nafas terengah-engah.
"Oh ship.. menciumnya saja si ucrit udah tegang." Batin Deon.
Kening mereka masih menempel satu sama lain demi saling menetralkan debaran jantung masing-masing.
"Makasih ya.." Kata Deon lirih yang tahu jika tadi adalah ciuman pertama Naomi.
Blush.
Wajah Naomi memerah bagaikan kepiting rebus yang berwarna merah. Hal itu membuat Deon gemas.
"Kakak udah mencuri ciuman pertama aku!" Decak Naomi kesal meskipun terlihat jelas hatinya berbunga-bunga. Naomi tidak menyangka bisa sedekat dan se-intim ini dengan seorang Gedeon Aiden Wijaya, lelaki yang dicintainya sejak pandangan pertama beberapa tahun silam.
"Maafkan aku Nom.. kamu begitu menggemaskan.. bagaimana kalau aku balikkan ciuman itu." Kata Deon dengan senyum nakalnya.
"Bagaimana caranya?" Tanya Naomi yang benar-benar tidak paham maksud Deon.
"Begini caranya.."
__ADS_1
Deon kembali melakukannya lagi dengan Noami. Oh sungguh meskipun udah kedua kalinya namun jantung Naomi seakan terjun bebas dari puncak Monas dengan membawa sebongkah emas.
Berlahan tapi pasti, Deon memanjakan bibir Naomi hingga akhirnya Naomi secara alami membalas apa yang Deon lakukan padanya meskipun terbilang sangat-sangat kaku.
"Cepet banget sih belajarnya." Kata Deon terkekeh dengan kedua tangannya menangkup pipi Naomi gemas.
Wajah Naomi memerah, dia hanya bisa menunduk karena malu sudah membalas ciuman Deon. Sejak kapan memang Naomi punya malu ya?
"Gimana rasanya? Enak gak?" Tanya Deon yang dijawab dengan anggukan spontan dari Naomi.
"Eh nggak.. nggak!" Dusta Naomi membuat Deon semakin terkekeh.
Kepolosan Naomi inilah yang membuat Deon begitu mudah menghapus seorang Renata yang tubuhnya saja sudah tidak perawan karena dulu beberapa bulan lalu sering di jamah sahabatnya sendiri, Alex.
"Mau lagi?" Goda Deon.
"kakak ih.. aku malu." Rengek Naomi, Deon langsung menarik Naomi kedalam pelukannya yang super nyaman.
BRAK..
"Astaagaaa... kalian udah berani main peluk-pelukan di kamar ya!" Teriak Geva membuat dua manusia yang sedang bermesraan di sofa itu terperanjat kaget.
"Bukan cuma peluk-pelukan Gep.. tapi udah cium-cium an." Batin Naomi.
"Biasakan ketuk pintu dulu sebelum masuk kamar orang." Kata Deon datar. Berbeda dengan Naomi yang menunduk kala sahabatnya menatapnya penuh selidik.
Geva tidak peduli lelaki itu Deon kakak kandungnya sendiri atau lelaki lain, yang dia mau adalah sahabatnya, tetap utuh sampai kata sah terucap dan disaksikan oleh penghulu.
"Gue bilangin ke papa, biar kalian dinikahkan deh; kalau habis nikah serah deh mau apa!" Kata Geva.
"Setelah kelulusan, emang mama mau nikahin kita!" Kata Deon santai.
"Tapi kan gak boleh nyicil dulu kak! jangan bandel naapa."
"Iya.. iya gue gak nyicil dulu..orang cuma pelukan doang kok.. iya kan Nom?" Tanya Deon sambil mengedipkan matanya tanpa Geva tahu.
"I.. iya kok.. cuma pelukan doang." Kata Naomi yang paham kode dari Deon.
"Gue pegang kata-kata kalian ya.. Yaudah.. buruan ke bawah.. ditunggu noh sama orang butik buat ukur baju kalian." Kata Geva.
"Elu kapan nyampe Ge?" Tanya Noami melihat sahabatnya hendak menutup pintu kamar kakaknya.
"Udah 30 menit lalu, kirain kak Deon lagi tidur dan gak ada elu disini Nom.. makanya gue gak naik karena udah di tunggu orang butik. Eh taunya mama telfon katanya kamu disini.. sue emang kalian!" Kata Geva keluar kamar.
" Nom.. rahasia berdua ya.. dari pada nanti diomelin sama itu spesies ngeselin yang udah kayak ibu-ibu komplek."
"I. iya kak."
"Yaudah . turun yuk."
🍁🍁
__ADS_1
Geva dan Bhumi sudah kembali ke apartemen,
Geva benar-benar belajar dengan semangat 45. Ujian sudah didepan mata, dia ingin membuat orang tuanya dan mertuanya bangga. Dia juga ingin menjadi istri yang pantas untuk seorang Bhumi Bramantya, ibu yang cerdas untuk anak-anaknya kelak. Dan perjuangannya dimulai dari nilai-nilai kelulusan SMA nya. Meskipun bagi Geva, nilai-nilai itu gak penting-penting banget toh dia juga masih bisa hidup dengan mewah asal Tuhan gak ambil hartanya dengan cara dadakan saja.
"Sayang.. makan dulu nih... aku suapin" Kata Bhumi menaruh rendang yang Geva bawa tadi diatas piring dengan nasi dan lauk double.
"Iya kak.. bentar." Geva fokus pada buku matematika. Kekurangannya hanya di matematika dan pelajaran bahasa Indonesia yang baik dan benar.
" Aaa.. aku suapin." Kata Bhumi menyodorkan sendok yang berisi nasi dan rendang.
Geva membuka mulut nya menerima suapan sang suami.
"Kok gak ada sambelnya?" Tanya Geva dengan mulut penuh dengan makanan.
"Nggak.. besok kamu ujian.. aku gak mau kamu makan sambal yang bisa membuat perutmu sakit." Kata Bhumi. Geva hanya mengangguk sambil melirik suaminya yang memasukkan makanan ke dalam mulutnya sendiri.
"Gimana rasanya?" Tanya Geva menatap Bhumi.
"Enak banget sayang... hasil masakan.. Bianca memang tidak diragukan lagi." Kata Bhumi yang hampir keceplosan menyebut nama Flower.
"Ini masakannya kak Flower bukan kak Bianca kak." Kata Geva membuat Bhumi hampir tersedak.
"Oh.. mungkin itu sayang.. Flower diajarin Bianca, ini mah resep Bianca.. Soalnya Bianca sering masak rendang begini sayang." Alibi Bhumi cukup masuk akal. Geva nampak berpikir. Bukannya tadi Bianca hanya membantu-membantu sama halnya dengan dirinya?
"Oh ya sayang.. tadi kamu belajar apa aja di dapur?" Tanya Bhumi mengalihkan pembicaraan.
"Tadi baru mengenal bumbu-bumbu dapur kak. Terus belajar mengupas bawang merah sampai nangis. aku gak tahan." Kata Geva membuat Bhumi merasa bersalah.
apalagi tadi Bhumi ditegur mami Naya sebelum berangkat. Dimana Mami Naya meminta Bhumi untuk tidak memaksa Geva untuk memasak, karena bukan passion Geva disana.
"Sayang maafkan aku ya.. aku tadi meminta kamu belajar masak. Lain kali gak usah.. biar aku yang masak, kalau gak sempat kita beli saja." Kata Bhumi lembut.
"Kakak kok ngomong gitu.."
"Aku cuma mau kamu fokus ujian dan urusin aku aja.. jangan dapur."
"Heheh.. kan mengurus kakak didalamnya ada menyiapkan makanan untuk kakak. aku ingin belajar kak.. aku ingin nanti bisa masak buat suami dan anak aku ." Kata Geva.
"Tapi kamu fokus pendidikan dulu ya. ini aak lagi" Bhumi menyuapi Geva lagi.
"Siap Bosque." Jawab Geva semangat.
"Sayang..rencana kamu akan bagaimana setelah lulus?" tanya Bhumi. Geva menghela nafasnya.
" aku ingin kuliah disini kak.. tapi belum tahu mau ngambil jurusan apa." jawab Geva.
BERSAMBUNG....
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR
__ADS_1
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE