
Tiga hari sudah berlalu, tiga hari pula Geva berbaring di rumah sakit dengan jarum infus masih menancap di tangan kirinya.
Dan tiga hari pula seorang Bhumi Bramantya tidak menampakkan batang hidungnya didepan sang istri yang sudah dia celakai.
Seorang Geva pun tidak mau ambil pusing akan hal itu, dia sama sekali tidak penasaran dan tidak mau tahu dimana keberadaan suaminya.
Tiga hari yang cukup membahagiakan untuk Geva karena dia bisa bermanja-manjaan kembali dengan sang Mama, Papa juga kakak kesayangannya Gedeon. Ditambah lagi dengan hadirnya Naomi yang setiap pulang sekolah langsung ke rumah sakit dan menginap disana.
Menurut Geva, ngapain buang-buang waktu mikirin suami yang tidak peduli dengannya. Sedangkan disampingnya ada banyak orang yang menyayangi dan memperhatikannya.
Bahkan Theo juga setiap hari datang menjenguknya bunga untuk Geva.
Dan hari ini juga Geva sudah diizinkan oleh dokter untuk pulang. Keputusan Geva sudah bulat. Dia ingin pulang ke rumah orang tuanya. Dia ingin hidup seperti sediakala sebelum titisan dari Son Goku yang belum bisa mempraktekkan jurus Kamehame itu hadir di hidupnya.
Keputusan Geva yang memilih pulang ke rumah orang tuanya bukan karena Geva tidak mau menjadi istri yang baik untuk Bhumi, namun dia sudah lelah berjuang sendirian. Padahal keduanya juga sama-sama belum cinta.
Jangan harap ya Geva jatuh cinta duluan dengan Bhumi, apalagi setelah kejadian ini. Geva benar-benar membentengi hatinya dengan benteng yang sangat kokoh.
Dan dia juga sudah meyakinkan bahwa perasaannya pada Bhumi tidak lebih dari sekedar kekaguman.
Kekaguman karena paras tampan Bhumi dan postur tubuh Bhumi yang menurut Geva itu pelukable banget. Geva bukanlah gadis munafik, dia juga pengagum lelaki lelaki tampan yang macho. Dan semua itu ada di Bhumi, memang Geva sangat mengakui jika ketampanan dan kemachoan Bhumi diatas seorang Theo maupun seorang Fabian.
"Gep.." Panggil Naomi yang baru saja duduk disamping brankar Geva. Saat ini Geva hanya ditemani Deon karena Mama Rachel ada urusan dan Papa Arsa ada meeting di kantor.
"Hmmm."
"Seneng deh.. wajah elu udah bener-bener seger tau.. lega gue lihat elu sehat lagi.. kemarin gue bener-bener takut saat dikasih tahu kak Deon kalau elu masuk rumah sakit gata-gara keju." Kata Naomi tulus.
"Pikiran gue udah kemana-mana mengingat pertemuan pertama kita 5 tahun lalu dimana elu sesak nafas gara-gara makan keju." Naomi terlihat sedih mengingat kejadian itu.
"Thank ya Nom, elu selalu ada buat gue." Geva menatap sahabatnya dengan penuh sayang.
"Gue pikir kemarin adalah hari gue terkahir di dunia.. sesek banget nafas gue bener-bener gak bisa nafas. Dan gue udah bener-bener pasrah jika kemarin Tuhan beneran panggil gue."
"Jangan ngomong gitu Gev.. kakak gak suka dengernya. elu harus baik-baik saja." Ucap kak Deon mengusap rambut adiknya.
"Jangan nyeremin deh Gep!"
"Sebenarnya kalau disuruh milih mah tetep aja gue milih hidup lebih lama kak.. kan gue belom kawin." Jawab Geva yang merubah suasana sendu menjadi suasana absurd.
Sebuah tonyoran dari Deon mendarat di kepala adiknya membuat sang adik mencebikkan bibirnya karena kesal.
"Harusnya kamu bersyukur Bhumi belum kawinin elu.. " Kesal Deon.
"Bukannya elu udah kawin Gep?" Tanya Naomi.
"Gue udah nikah tapi belum kawin nom." Jawabnya santai.
"Ha? gimana ceritanya? kan nikah sama kawin itu sama aja."
"Beda nom, orang kawin belum tentu nikah tapi orang nikah pasti kawin." jawab Deon.
__ADS_1
"Nggak! siapa bilang! aku udah nikah tapi belum kawin-kawin!" Geva tidak terima dengan penjelasan kakaknya yang dirasa salah besar.
"Gimana sih aku gak mudeng." Naomi semakin bingung.
"Gini nom nom sayang... nikah itu didepan penghulu, disaksikan banyak orang. Sedangkan kalau kawin itu didalam kamar tanpa pakai baju terus enaa enaa.." Jelas Geva.
Geva yang melihat wajah bingung sahabatnya hanya bisa menghela nafasnya,
"Udah udah belum saatnya itu bocil tahu Gev." Kata Deon terkekeh.
"Ajarin kawin tuh kak di Naomi."
"Enak aja!" Kata Deon yang tidak habis pikir dengan ucapan adiknya yang tanpa filter. Sedangkan yang di bahas masih saja nampak bingung.
"Nom.. nom.. namanya kawin bin ena enaaa itu making love Nom making love alias ML."
"Elu belum ML sama suami elu Gep? serius? berarti elu masih perawan dong!" Emang kadang-kadang kelemotan otak Naomi menguji tingkat kesabaran Geva.
"Bukannya elu udah tanya itu ke gue beberapa hari lalu?" Kesal Geva. Naomi hanya menganggukkan kepalanya seakan sudah mengerti.
"Sebenarnya gue penasaran sih rasanya kawin kayak gimana. Enak kali ya.. gue padahal pengen loh di enaa enaain sama dia, tubuhnya Peluk able banget Nom.. aduh serius deh." Gumam Geva membayangkan tubuh Bhumi.
"Gevania!" Kata Deon yang tidak suka mendengar itu.
"Apa sih kak! mengganggu imajinasi aku aja!"
"Gev.. kakak gak mau kamu sampai berharap lebih sama Bhumi."
"Tetap saja kakak gak suka!"
"Itu kemarin kak.. kemarin bukan sekarang. Kalau sekarang, nggak ah.. dia aja masih terpaku pada mantan." Ucap Geva sambil tersenyum manis menunjukkan deretan gigi putih nan rapinya.
"Kakak hanya takut aja jika kamu mudah luluh sama dia. Kakak gak mau kamu kecewa Gev."
"Aku paham kak."
"Tapi bagus deh Gev suami elu belum apa-apain elu. Sebab akan sakit jika elu sampai hamil tapi dia masih mikirin mantannya. Rasanya gue pengen uleg uleg itu suami elu sambil geprek-geprek sama ayam." Naomi meremas-remass tangannya sebagai ungkapan kekesalannya pada Bhumi.
Deg!
benar juga apa yang Naomi katakan, bagaimana jika dia sampai hamil dan Bhumi masih belum bisa move on? Geva tidak pernah berpikir sampai situ sebelumnya.
"Iya ya.. gimana nanti kalau gue hamil terus dia masih saja seperti itu?" Gumam Geva dalam hati.
"Ge.. kakak tinggal dulu ya." Deon menatap jam di pergelangan tangannya.
"Kakak mau kemana? Ketemu Renata?" Selidik Geva karena dari kemarin dia sempat lihat chatting kakaknya dengan Renata yang terkesan cukup dekat dengan sedikit perhatian-perhatian kecil.
Deon hanya tersenyum sambil menaik-naikkan alisnya,
"Nanti sore kakak jemput kan kamu pulangnya nunggu itu infus habis dulu." Kata Deon.
__ADS_1
"Nom, nitip Geva ya..." Kata Deon menepuk pundak Naomi membuat Naomi mematung. Ditepuk Deon begitu saja membuat jantung Naomi terpompa lebih cepat hingga membuatnya salah tingkah.
"Nom!" Teriak Geva melempar bantal sofa yang tadi dai pangku sambil duduk di brankar rumah sakit.
"Kak Deon cinta banget ya sama Renata."
"Mungkin. Tapi gue gak suka... gue gak Sudi punya kakak ipar beraura suram seperti wanita itu. Gue dukung elu buat jadi kakak ipar gue nom."
"Tapi siapa gue.. gue hanya anak panti Gep."
"Kita gak pernah pandang orang dari status sosialnya Nom.. bahkan jika kak Deon sampai pacaran hingga menikah sama Renata, gue dukung elu buat jadi pelakor!" Kata Geva membuat Naomi terkekeh.
"Sahabat laknat elu, mana ada sahabat nyuruh sahabatnya jadi pelakor!"
"Haha.. tapi lucu juga loh Nom.. pelakor Solehah gitu.. kan tampang elu tampang tampang polos nan lugu, gak ada yang ngira loh kamu jadi pelakor." Geva pun tertawa dengan riang.
Ceklek.
Tawa mereka terhenti kala ada sesosok lelaki tampan memasuki ruang rawat inap Geva.
"Gev.. gimana keadaan kamu?" Tanya Bhumi mendekati Geva.
Geva menghela nafasnya, mencoba tenang dan mengingat pesan mamanya bahwa dia tidak boleh kurang ajar dengan suami, tapi dia harus menghadapi suami yang kadang nyakitin dengan elegan.
"Kak... duduk kak." Kata Geva. Bhumi duduk disamping ranjang Geva berhadapan dengan Naomi yang melihat Bhumi dengan sinis.
"Gimana keadaan kamu?" Tanya Bhumi lagi yang sekedar basa basi, padahal setiap haru Bhumi sudah menghubungi dokter yang menangani Geva untuk mengetahui perkembangan kondisi Geva.
"Jelas keadaannya sudah membaik karena anda tidak muncul dihadapannya selama tiga hari. Gak tahu sekarang deh karena kemunculan anda... "
"Nom..." Geva meminta sahabatnya untuk tenang.
"Hai.. perkenalkan nama saya Bhumi." Bhumi bersikap ramah pada Naomi membuat Geva bengong.
"Saya sudah tahu jika anda suami yang tidak bertanggung jawab pada istri Anda. Sehingga anda membuat istri Anda hampir mati gara-gara suaminya kangen sang mantan." Naomi langsung beranjak dari duduknya.
Deg!
"Dari mana sahabat Geva tahu hal itu?" Batin Bhumi.
"Nom.. mau kemana?" Panggil Geva.
"Males gue disini! panas!" Naomi langsung membanting pintu rawat inap Geva.
"Gev.. aku minta maaf.." Ucap Bhumi meraih jemari tangan Geva.
BERSAMBUNG...
APAKAH GEVA AKAN MEMAAFKAN BHUMI?
APAKAH GEVA AKAN LULUH PADA BHUMI?
__ADS_1