Menikahi Gadis Menyebalkan!

Menikahi Gadis Menyebalkan!
Pesan dari Theo~


__ADS_3

Geva masuk lift bersama Bhumi. Geva mengerucutkan bibirnya dan enggan berbicara pada Bhumi. Hingga lift yang mereka naikin melewati lobby dan berhenti.


Pintu lift terbuka di lobby,


"Bhumi.." Gumam Renata yang terkejut melihat gadis SMA berada disamping Bhumi.


Gadis berseragam SMA yang terlihat sibuk sendiri dengan ponselnya dan tidak peduli dengan sekitarnya. Sedangkan Bhumi hanya berdiri tegap dengan menenteng satu box Pizza ditambah wajah tampan nan datarnya.


Renata masuk dalam lift dengan perasaan yang berkecamuk. Rasa cemburu menyeruak di lubuk hatinya yang terdalam. Ternyata anak kecil yang Bhumi nikahi itu terlihat sangat cantik dan bodynya juga oke. Tinggi badannya juga hampir sama dengan tinggi badan Renata.


"Maaf." Kata Renata menyenggol Geva yang dari tadi tidak sadar akan keberadaan Renata. Huh, pasangan yang cocok emang neng Gepa sama aa Bhumi.


Geva tersadar bahwa ada orang lain di dalam lift tersebut, "Gak masalah." Jawab Geva sedikit melirik ke arah Renata dan...


Mata Geva terbelalak melihat siapa orang yang menyenggolnya itu, wanita dengan baju formal cukup ketat berdiri tepat diantara dirinya dan Bhumi yang memang tadi menyisakan sedikit jarak diantara mereka.


Otak gesrek Geva mencoba berpikir dan mengingat-ingat siapa wanita tersebut dan...


"Bu.. bukannya dia Renata... wanita yang fotonya ada di kamar kak Deon, yang kata kak Deon dia mencintai lelaki lain yang tidak lain sahabatnya sendiri hingga tidak mau melihat kak Deon sedikit pun?" Batin Geva.


"Bhum.. kenapa kamu bawa anak SMA kemari?" Tanya Renata bersamaan lift yang sudah melaju ke lantai tertinggi Gedung Bramantya Corp. Renata melirik Geva dengan sinis, dan Geva dapat merasakan aura-aura dedemit.


"Bukannya kamu sudah tahu siapa dia!" Jawab Bhumi membuat Geva melotot, bagaimana bisa ada orang lain yang tahu hubungan mereka selain keluarganya? Kenapa Bhumi dengan entengnya bilang seperti itu?


Berarti Renata bukanlah karyawan biasa karena dia bisa memanggil Bhumi hanya dengan nama tanpa ada rasa hormat.


"Aku gak yakin gadis kecil seperti dia bisa membuat kamu move on dari..."


"Jangan melewati batas kamu Renata!" Bhumi memotong ucapan Renata sebelum Renata menyebut nama Flower, akan makin runyam urusannya nanti.


"Apa jangan-jangan yang di sukai wanita ini adalah suami gue?" Batin Geva.


"Haii mba.. kenalkan aku Gevania, istri Bhumi Bramantya." Geva mengulurkan tangannya dia ingin melihat bagaimana reaksi wanita ini.


"Renata." Wanita yang disebut Geva memiliki aura dedemit itupun membalas uluran tangan Geva.


"Saya tahu kamu istri Bhumi yang dinikahi Bhumi hanya sebagai pelampiasan." Ucap Renata tersenyum membuat Geva mengepal.


"Jaga ucapan kamu Ta." Bhumi memberi peringatan.


Geva hanya diam, hatinya terasa nyeri mendengar ucapan Renata saking shock nya mendadak lidahnya terasa kelu dan tidak mampu membalas ucapan Renata. Apalagi Bhumi tidak sedikitpun membelanya.

__ADS_1


"Tenang Ge. elu gak perlu baper. Elu pasti bisa Ge.. santai." Batin Geva menguatkan hatinya.


Geva tersenyum miris.


"Sepertinya aku punya ide menarik." Batin Renata yang bisa mengambil kesimpulan pada sesuatu hal.


Ting.


Pintu lift terbuka, Bhumi segera keluar dan Geva hanya mengekor di belakang sambil matanya berkeliling menatap lingkungan yang terasa asing untuknya itu.


Semakin kesini Geva semakin malas saja untuk berbicara dengan Bhumi. Fix, Bhumi tidak ada niatan sedikitpun untuk menjadi suami yang menjalankan perannya dengan baik dan benar. Semua hanya omong kosong semata saat Bhumi berkata akan bertanggungjawab dan menjaga dirinya.


Ceklek.


Pintu ruangan Bhumi dibuka,


"Masuk!" Tanpa menjawab perintah Bhumi, Geva melenggang masuk mengeksplore isi ruangan Bhumi yang ditata dengan elegan.


Geva cukup takjub melihat ruangan yang bernuansa maskulin seperti seleranya.


Tanpa di suruh Geva langsung merebahkan dirinya di sofa dan menaikkan kakinya untuk ber-selonjoran setelah melepas sepatunya.


"Makan dulu Ge."Bhumi menaruh box pizza di meja sofa.


🍂


Bhumi kembali berkutat dengan pekerjaannya sudah satu jam berlalu namun Geva masih belum ada tanda-tanda bangun.


Dari kursi kebesarannya Bhumi menatap Geva yang meringkuk.


"Aku gak tahu harus gimana bersikap Ge.. aku gak bisa membohongi perasaanku jika aku belum bisa melupakan Flo sedikitpun. Tapi aku tidak mau membuatmu kecewa. Aku takut kamu jatuh cinta lebih dulu sama aku sedangkan aku gak bisa membalas perasaan kamu." Gumam Bhumi lirih.


Suasana sendu Bhumi mendadak berubah melihat paha mulus yang terekspose karena terangkatnya rok pendek khas anak SMA. Bhumi menghela nafasnya, Geva benar-benar menyiksa jiwa kelaki-lakiannya.


Bhumi beranjak dengan membawa jas yang sebelumnya di sandaran kursi kebesarannya. Ditutupinya paha Geva dengan jasnya, jika tidak bisa-bisa dia habisin sabun mandi di kamar mandi ruangannya.


Namun, sebelum Bhumi kembali ke kursi kebesarannya ponsel Geva yang di taruh di meja itu bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Awalnya Bhumi hanya melirik, tapi setelah membaca siapa pengirim pesan tersebut Bhumi mulai kepo dengan isi pesannya.


"Ternyata kamu sengaja menghindari ku, tadi ponselmu saja tidak aktif aku hubungi." Bagi. Bhumi.


📩 Theo 💙

__ADS_1


"Gevania.. Terima kasih sudah hadir di hatiku, mengisi hari-hariku dengan penuh kebahagiaan. Terima kasih sudah mau menerima segala kekuranganku selama ini. Hari ini... adalah hari yang paling menyakitkan untukku karena kamu memilih mengakhiri hubungan kita, seandainya kamu mau memberikan aku kesempatan untuk memperjuangkan kamu..aku pasti akan lakukan apapun untuk kamu supaya orang tua kamu merestui kita dan membatalkan perjodohanmu dengan lelaki tua tadi.


Jangan menangis Ge.. kamu yang memutuskan hubungan kita kenapa kamu yang terus terlihat sedih. Jangan menyiksa aku seperti ini Ge."


Bhumi lancang ya.. buka ponsel Geva tanpa seizin si pemilik, huh!


Tapi justru dari situ Bhumi menemukan jawaban kenapa wajah Geva sembab dan terlibat sangat bersedih.


Gevania, gadis menyebalkan yang datang tiba-tiba di hidupnya dan menjungkirbalikkan hari-hatinya mampu bersikap tegas dan mengorbankan perasaannya. Sedangkan Bhumi?


Bhumi berjongkok menatap wajah Geva dengan lekat. dirapikannya anak rambut Geva yang berantakan ke belakang telinganya.


"Kenapa aku berada di situasi sesulit ini Tuhan?" Gumam Bhumi yang merasa sangat bersalah pada Geva karena dia sudah menyeret Geva masuk ke dalam kehidupannya, sedangkan dia tidak bisa bersikap baik pada Geva.


"Aku akan belajar Gev.." Gumam Bhumi disertai helaan nafas yang berat.


Geva mulai terusik dan membuka matanya, Cukup terkejut karena wajah Bhumi ada di dekat wajahnya, namun Geva berusaha datar dan langsung duduk.


"Ada apa?" Tanya Geva menatap Bhumi dengan dingin.


"Makan dulu.. kamu belum makan."


"Gak lapar." Jawab Geva.


kruukk.. krukk krukkk..


"Oh Shitt.." Umpat Geva dalam hati pada perutnya yang tidak bisa diajak kompromi.


"Jangan gengsi .. cepat makan."


Pikir Geva ngapain juga jaim-jaiman.. toh percuma, Geva lapar dan perut Geva sudah menerjunkan harga dirinya ke dasar samudera.


Tanpa membaca dan berpikir panjang, Geva langsung membuka box pizza dan mengambil nya sepotong lalu melahapnya dengan rakus.


"Gak mau diangetin dulu?" Tanya Bhumi.


"Kelamaan!" Jawab Geva.


baru beberapa suap saja, mendadak nafas Geva menjadi sesak dan Geva memegang dadanya.


"Ge.. kamu kenapa!" Teriak Bhumi yang khawatir melihat Geva mendadak kesusahan bernafas.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


neng Gepa kenapa sih? mau ngerjain AA Bhumi ya?


__ADS_2