
WARNING!!
JANGAN DIBACA SAAT PUASA.. KARENA TAKUTNYA MEMBUAT AMAL IBADAH PUASA KALIAN RUSAK KARENA MEMBACA NOVEL INI YANG TIDAK ADA MANFAATNYA SAMA SEKALI.
BACANYA MALAM AJA YA... HEHEHE...
"Kak... A.. aku belum siap punya anak kak..." Kata Geva tanpa berani menatap pada Bhumi.
"Kamu tidak mau mengandung anakku? darah daging ku?" Tanya Bhumi.
"Bu.. bukan begitu kak.. a.. aku hanya belum siap." Kata Geva.
"Kenapa?"
"Aku masih ingin mengejar mimpi-mimpi ku kak. Biarkan aku mengejar impianku lebih dulu." Kata Geva.
Mimpi-mimpi?
Mimpi kuliah di luar negeri?
Mimpi jadi dokter ?
Lalu bagaimana dengan dirinya?
Bhumi tersenyum kecut.
"Jadi kamu lebih pilih mimpi-mimpi kamu yang gak penting itu dari apa aku?" Tanya Bhumi.
Gak penting?
"Mimpi aku itu penting kak! Mimpi aku itu hidup aku!" Bentak Geva tidak terima. Bhumi seperti sedang menyepelekannya dengan berkata mimpinya tidak penting.
Ck.
"Lalu bagaimana dengan aku?" Tanya Bhumi. Geva terdiam tampak berpikir keras.
Belum juga Geva selesai merangkai kata-kata yang tepat,
"Jawab aku Ge! apa kamu lebih memilih mengejar impian kamu dan melepaskan aku?" Bentak Bhumi membuat Geva benar-benar terkejut. Benarkah ini Bhumi yang beberapa menit lalu berkata dan bersikap manis?
Geva nampak Gugup sambil memeras jemari tangannya. Geva tidak berani menatap wajah Bhumi yang emosi, dia hanya menunduk.
"Kak.. a.. aku... a.. aku gak bisa..." Lirih Geva lalu menarik nafasnya.
"Kejarlah impian kamu, aku gak akan menghalanginya!" Ucap Bhumi dengan suara yang sangat lirih lalu Bhumi meninggalkan Geva yang masih berdiri mematung. Bhumi masuk ke dalam kamar lalu membanting pintu kamar mandi hotel.
Geva melotot, kan bukan itu maksud Geva.
"Aku gak bisa jauh dari kamu kak." Cicit Geva pelan melanjutkan kalimatnya yang belum selesai. Namun percuma karena Bhumi sudah berlalu dari hadapannya dan Bhumi tidak mendengar ucapannya.
__ADS_1
Bukan ini yang Geva mau, Geva sudah bertekad gak akan melepaskan Bhumi atau jauh dari Bhumi. Sepekan tanpa kabar dari Bhumi sudah membuatnya kelimpungan karena sejujurnya hati Geva sudah dari dulu terpaku pada Bhumi. namun Geva sedikit bimbang, ucapan-ucapan Fabian masih terngiang-ngiang di telinganya. Apalagi tiap les privat Fabian selalu membicarakan tentang kuliah kedokteran di luar negeri dengan segala kelebihan-kelebihan nya.
Iya, Geva bermimpi menempuh pendidikan keluar negeri, namun Geva juga sadar posisinya apalagi sebelumnya Mama Rachel sudah mengarahkan sang anak untuk tetap mengejar impiannya dan tetap disamping Bhumi.
"Aku harus bagaimana Tuhan?" Gumam Geva pelan menghapus air matanya menatap pemandangan yang sangat indah dimana Tokyo tower atau Tokyo sky tree berdiri kokoh dihadapannya.
Harusnya Bhumi kan bisa berbicara baik-baik. Bukan membentak seperti tadi. Harusnya kan seperti itu.
Sedangkan di kamar mandi,
Bhumi mengguyur tubuhnya dengan shower air dingin padahal cuaca malam ini begitu dingin. Bhumi meruntuki kebodohannya sendiri yang tidak bisa menahan emosi bahkan sampai membentak Gevania. Gadis cantik yang sudah Bhumi yakini menjadi wanita satu-satunya yang bertahta di hatinya dari dulu hingga saat ini bahkan nanti.
Bhumi sadar, harusnya dia lebih sabar menghadapi Geva. Wajah Geva ingin mengejar impiannya apalagi Geva pernah mengutarakan alasannya yaitu ingin dianggap pantas berdiri disamping Bhumi. Dan satu lagi... usia Geva masih sangat muda. Bhumi harusnya peka akan hal itu dan lebih memilih mengajak ngobrol Geva dari hati ke hati bukan justru langsung membentak Geva.
Bhumi spontan melakukan itu karena dari dalam lubuk hati Bhumi, Bhumi takut Geva akan meninggalkan dirinya lagi seperti dudu, iya seperti Geva kecil yang dibawa orang tuanya ke Jerman untuk melakukan tetapi pada alergi keju yang akut. Namun setelah itu, memori Bhumi hilang sebagian. Bhumi tidak mau mengulang hal buruk itu lagi.
Dua pekan tanpa kabar dari Geva membuat Bhumi benar-benar kalut, bagaimana jika Geva kuliah di luar negeri dan sibuk sendiri disana lalu bertemu dengan lelaki lain?
Bukan Bhumi tidak percaya sama Geva tapi Bhumi sadar, siapa yang bisa menjamin sebuah hati akan tetap pertahan? tidak ada kan?
Cukup lama Bhumi mengguyur tubuhnya demi mendinginkan emosi yang mendidih di dalam raganya. Bhumi membersihkan dirinya dengan berkali-kali menghela nafasnya. Setelah membilas tubuhnya, Bhumi menatap dirinya sendiri dari pantulan kaca dengan mata yang berkaca-kaca penuh penyesalan.
Diraihnya bathrobes lalu mengenakannya dan keluar kamar mandi. Bhumi tidak menemukan Geva di kamar. Jantung Bhumi berdegup kencang. Bagaimana jika Geva meninggalkannya?
Bagaimana jika pergi dan keluar hotel.
Bhumi segera berlari menuju balkon, dibukanya pintu kaca itu dengan kasar. Oh betapa leganya seorang Bhumi Bramantya menemukan Geva berdiri disana mematung dengan tangan mengelus punggungnya sendiri untuk menghalau udara dingin. Geva tidak menyadari kehadiran Bhumi karena Geva sibuk dengan lamunannya.
"Maafkan aku." Lirih Bhumi memeluk Geva dari belakang lalu menyembunyikan wajahnya di pundak sang istri.
Geva masih diam. Otaknya mencerna benarkah seorang Bhumi Bramantya bisa dengan mudahnya meminta maaf? Apa ini halu? Lelaki kaku itu merendahkan dirinya untuk meminta maaf? ah rasanya tidak mungkin.
"Maafkan aku Bee.. aku salah.. maaf sudah membentak kamu.. maaf karena aku sudah egois.. maaf karena aku tidak bisa mengontrol emosiku.. maafkan aku Bee.." Lirih Bhumi mengeluarkan segala isi hatinha. Geva masih diam mematung setelah sadar ini bukan hanya sekedar halu karena ternyata Bhumi yang mengalah lebih dulu darinya. Manusia kaku seperti besi itu bisa lembek juga?
Geva merasakan pundaknya basah karena dia sudah melepas mantelnya dan hanya menyisakan atasan tanpa lengan. Bhumi menangis?
"Kak.." Geva menggenggam tangan Bhumi yang melingkar di perut ratanya.
"Aku takut kehilangan kamu.. aku gak mau kehilangan kamu lagi Ge.. jangan tinggalkan aku dengan menempuh pendidikan di luar negeri. aku gak bisa jauh dari kamu." Kata Bhumi mengeratkan pelukannya. Geva tersenyum tanpa sepengatahuan sang suami.
"Tapi aku ingin mewujudkan impianku kak." Kata Geva lirih.
"Apapun aku akan mendukung kamu.. asal jangan jauh dariku. Please aku mohon." Suara Bhumi terdengar sangat pilu dan menyayat hati.
"Kak..."
"Apapun Ge.. tapi jangan pernah meminta untuk LDR.. aku gak bisa." Pundak Geva semakin basah.
"Aku gak bisa kak.." Lirih Geva melepas genggaman tangannya dari tangan Bhumi yang melingkar. Bhumi memejamkan matanya. Hatinya bergemuruh hebat.
__ADS_1
"Kalau kamu mau aku berlutut dihadapan kamu, aku akan berlutut Ge." Kata Bhumi semakin pilu dengan air mata yang terus terjun. Entah mengapa hatinya terasa sangat sakit membayangkan jauh dari Geva.
"Ciie udah bucin ya." Ledek Geva terkekah dengan sikap suaminya yang benar-benar diluar dugaan nya selama ini. Geva mengira Bhumi masih hidup dalam bayang-bayang Flower meskipun sedikit.
"Bee.." Kata Bhumi membalikkan tubuh Geva hingga mereka sekarang saling berhadapan dan mata mereka bertemu.
Geva tidak tega melihat seorang Bhumi Bramantya yang selalu di segani dan dihormati orang karena memiliki wibawa yang tinggi kini menitihkan air mata dihadapannya.
Geva mengusap lembut pipi sang suami...
"Kakak pikir, aku bisa jauh dari kakak? nggak kak! kakak salah paham.. aku tetap akan mengejar impianku dan aku akan tetap berdiri disamping kakak.. aku gak mau ya memberikan kesempatan pada para pelakor!" Ucap Geva tersenyum lalu mengecup bibir suaminya sekilas.
"Ge.." Panggil Bhumi semakin menyembunyikan wajahnya di cengkuk leher sang istri.
"Tadi aku itu mau bilang aku gak bisa jauh dari kakak, eh kakak udah ninggalin aku sendiri. Takut banget ya aku tinggal pergi jauh?" Celoteh Geva sambil tersenyum. Bhumi yang mendengar itu merasa sangat bahagia meskipun juga sedikit malu karena sikapnya tadi yang sudah ke kanal-kanakan.
"Aku gak nyangka, ternyata membuat seorang Bhumi Bramantya bucin itu tidak susah ya?" Geva terkekeh.
"Berani kamu ya meledek suami." Kata Bhumi menarik pinggang ramping Geva hingga tubuh Geva bertabrakan dengan tubuhnya.
"Apa?" Tanya Geva menantang.
"Kamu berani sama aku?" Tanya Bhumi.
"Siapa takut!" Jawab Geva.
"Baiklah.. aku akan memberikan hukuman padamu dengan membuatmu mendesah sepanjang malam." Kata Bhumi tersenyum licik.
"Kak.. " Panggil Geva menggenggam tangan suaminya dengan tatapan yang serius.
"Bhumi menghentikan gerakannya yang hendak membawa sang istri ke atas ranjang empuk yang bertaburan bunga mawar merah memberikan kesan romantis.
"Aku belum siap memiliki baby." Cicit Geva takut. Jantung Geva berdegup kencang lagi takut-takut Bhumi membentaknya lagi.
"Aku mengerti... se dikasih-nya Tuhan saja ya... asal kamu gak pergi dariku." Kata Bhumi tersenyum mengusap wajah sang istri.
Bhumi membuang egonya yang sebenarnya ingin segera memiliki anak. Karena bagaimanapun Bhumi paham, anak akan menguat kan hubungan dua manusia yang disebut suami istri. Namun Bhumi juga paham posisi Geva. Geva masih terlalu muda. Wajar dia masih ingin bebas meskipun bebasnya masih dalam tanda kutip karena statusnya sebagai istri.
"Makasih kak... "Kata Geva tersenyum. Bhumi mengangguk lemah.
"Yuk." Ajak Geva.
"Kemana?" Tanya Bhumi mengernyit.
"Main Kamehame." Ucap Geva sambil mengusap dada bidang sang suami. Lah bukannya tadi wajah Geva sudah memberikan kode tidak ingin main panas-panas an? kok malah yang ngajak? Bhumi gak mau kehilangan kesempatan emas dong.
BERSAMBUNG...
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
__ADS_1
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR