
Perjalanan dari sekolah menuju Apartemen tidak begitu jauh, Bhumi hanya mengantarkan Geva sampai lobby apartemen saja karena dia harus segera kembali ke kantor untuk lanjutan meeting dan menentukan kapan Bhumi dan Satria harus berangkat ke Jepang menyelesaikan semua masalah yang ada.
Geva langsung menodong duit pada suaminya yang ada di dompet karena dia sangat kelaparan. Dan diluar dugaan, Bhumi yang hanya memberikan 5 lembar uang kertas bergambar Soekarno hatta itupun disertai dengan keluarnya kartu saktinya yaitu Black Card yang unlimited.
"Kamu boleh membeli apapun.. asalkan tidak buat mentraktir cowok." Ucap Bhumi sebelum Geva turun dari mobil. Bhumi percaya pada Geva, karena selama menikah dengan Geva, Geva bukan tipe wanita yang suka belanja-belanja gak penting. Dia belanja juga untuk orang lain. Jadi, Bhumi mendukung Geva untuk berbagi.
Namanya juga cewe, meskipun tadi mood nya benar-benar hancur, kesel, sebel, sakit perut, nunggu lama... eh dikasih Balck card ya auto tersenyum bahagia.
Karena Geva bukan gadis munafik yang hanya mengandalkan cinta, hidup itu perlu uang..
So, yang bilang kebahagiaan gak bisa diukur dengan uang.. mungkin hidupnya juga kurang uang. Karena dengan uang kita bukan bahagia sendiri tapi juga bisa membahagiakan orang banyak.
Dengan Black Card, Geva bisa membahagiakan sebanyak-banyaknya orang.
"Makasih kakakku sayang!" Ucap Geva mengecup pipi Bhumi dan langsung berlari keluar dari mobil.
Bhumi yang mendapat kecupan singkat dari Geva itu mendadak mematung seperti anak ABG yang baru merasakan pipinya di cium anak gadis. Wajah Bhumi memanas dan senyum terbit di bibirnya. Pipi bekas kecupan Geva tadi dia pegang...
"Astaga kenapa gue jadi kayak anak SMP begini." Gumamnya menertawakan dirinya sendiri.
"Gadis menyebalkan itu benar-benar membuat hidupku jungkir balik kayak naik roller coaster." Ucapnya lagi.
Detik berikutnya, ponsel Bhumi berdering.. sebuah pesan masuk...
"Maaf ya kak kalau jok mobilnya kena noda darah menstruasi aku... soalnya aku emang sengaja! salah siapa ngeselin! "
"Astaga... Gevania!" Teriak Bhumi membaca pesan dari istri menyebalkannya tersebut. Ya, ini adalah pembalasan Gevania yang sudah dibuat menunggu hingga satu jam lima belas menit oleh Bhumi Bramantya.
"Bener-bener gadis menyebalkan.. habis buat baper karena mencium pipi eh tau tau kok jok mobil mewahku jadi kotor begini... darah lagi.. hiii... " Decak Bhumi yang langsung menutup jok mobilnya dengan jas yang ada di bangku belakang. Bhumi melakukan mobilnya ke arah kantor.
Geva yang masuk apartemen Bianca di buat kaget karena disana duduk dua wanita paruh baya yang selalu nampak cantik. Siapa lagi kalau bukan Mami Naya dan Mama Rachel yang duduk manis sambil minum teh di sofa.
Geva izin membersihkan diri dulu karena memang sedang haid dan tembus. Dia juga sudah memesan makanan di bawah tadi yang sebentar lagi akan diantar ke unit apartemen nya.
Dan disinilah saat ini, Geva sudah selesai makan dan duduk dihadapan kedua wanita paruh baya yang dia panggil Mama dan Mami. Geva layaknya terdakwa sebuah kasus yang berat.
Dimulai dengan sebuah tausyiah panjang lebar dari Mama Rachel yang meminta putrinya belajar menjadi istri Sholehah. Mulai dari masak hingga memanjakan suami di atas ranjang.
Ditambah juga dengan sikap Geva pada Bhumi yang sudah keterlaluan. Bhumi memang salah, tapi jika Geva terus-terusan bersikap seperti itu pada Bhumi takutnya Bhumi justru gagal move on dari Flower. Dan membuat hubungan keduanya semakin jauh.
Akhirnya Mami Naya memberi ide pada sang menantu untuk menarik ulur Bhumi. Apalagi dilihat-lihat Bhumi sudah mulai sungguh-sungguh dengan Geva. Mami Naya juga meminta Geva untuk tidak menunda kehamilan, karena adanya anak akan memperkuat hubungan rumah tangga. Geva hanya bisa mengangguk meskipun hatinya menolak.
Selain itu juga Mami Naya juga berpamitan pada menantunya untuk kembali ke Macanpura melanjutkan pengobatan kanker yang dideritanya secara herbal. Tak lupa Mami Naya juga berpesan pada Geva untuk tetap bersikap biasa saja pada Flower. Bagaimana pun Flower sudah move on dengan Bhumi, Mami Naya hanya ingin anak-anak dan menantunya akur dan hidup bahagia.
Hanya saja Geva meminta waktu untuk itu, hubungan Bhumi dan Flower dimasa lalu cukup menganggu kenyamanan Gevania. Geva masih terbayang-bayang dengan kata making out yang Bhumi ucapkan.
Biarkan waktu yang menjawab~
Geva ingin fokus pada ujian nasional dan ujian sekolah yang sudah ada didepan matanya. Dan semuanya tergantung bagaimana dengan Bhumi. Intinya Geva mau fokus pada sekolahnya dulu.
🍁
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, apartemen nampak sepi, untung Geva bukan gadis penakut pada hal hal horor.
Geva masih diam termenung di depan layar televisi yang menyala tapi Geva tidak memperhatikan sama sekali film yang ia tonton. Geva gundah.. Bhumi sama sekali tidak datang ke apartemennya. Apa Bhumi memang belum menganggap dirinya penting? hingga tidak ada satu pesan pun yang Bhumi kirim padanya?
Bhumi Bramantya emang ngeselin.. gak.ada gitu kabar-kabar ke istrinya karena pulang telat atau tidur di apartemennya sendiri. nanya istrinya udah makan atau belum.. perhatian gitu kayak dulu waktu pacaran sama Theo dimana Theo sangat perhatian dengannya.
Ingin rasanya Geva bertanya pada Bhumi lebih dulu, mengirimkan pesan lebih dulu. Sudahkah Bhumi pulang kantor? sedang dimana Bhumi, sedang ngapain Bhumi, sama siapa Bhumi. Tapi semua itu Geva urungkan, dia gak mau secepat ini luluh dengan Bhumi.
Argh.. Geva rasanya frustasi sekali. Pikiran-pikiran negatif mulai masuk. Jangan-jangan Bhumi saat ini sedang berduaan sama Renata. Kan Bhumi gak dia izinkan untuk menyentuhnya, bagaimana kalau Bhumi sampai menyentuh Renata?
Astaga... Geva membayangkannya saja udah pengen buat Renata seperti rujak uleg.
"Gue gak cemburu.. gak.. gue gak boleh mikirin dia! gue gak boleh jatuh cinta duluan.. gak gak.. gue mikirin dia cuma karena doktrin mama dan mami mengenai tugas dan kewajiban istri." Gumam Geva memukul-mukul kepalanya sendiri. Argh Renata.. kenapa dia harus bekerja sebagai sekertaris Bhumi sih.
Tidak lama pintu apartemen terbuka dari luar,
Ceklek.
Geva langsung menengok ke arah sumber suara. Lelaki tampan yang memakai kemeja berwarna maroon seperti pagi tadi namun sekarang sudah sedikit berantakan dengan lengan yang di gulung hingga siku. Bhumi yang berpenampilan seperti ini justru terlihat sangat tampan di mata Gevania.
Mirip oppa oppa Korea~
"Belum tidur Ge?" Tanya Bhumi yang berharap Geva sudah tidur terlelap jadi dia bisa tidur seranjang dengan Gevania. Namun harapannya sia-sia.
"Kakak udah buta? kakak lihat kan aku udah tidur apa belum." Ketus Geva teringat soal Renata.
"Jawab yang baik Ge.. yang sopan.. aku suami kamu. Belajarlah lemah lembut didepan suami." Ucap Bhumi dengan nada lembut duduk di sofa setelah mengambil air mineral dingin di dalam kulkas.
"Kok ada cheese cake?" Tanya Bhumi kan Geva gak makan cheese. Sepotong Cheese cake tersedia di meja depan Geva.
"Mami tadi yang bawain.. buat kakak."
"Mami kesini?" Tanya Bhumi.
"HM. ternyata kakak suka Cheese cake ya.. sama seperti kak Flow. Cocok." Ucap Geva dengan pandangan lurus.
Bhumi mengernyit, ingin rasanya Bhumi ketawa . Tapi dia tahan.. sebab spesies di sampingnya itu sedang tidak bisa diajak bercanda. Maklum efek PMS moodnya jadi menyeramkan, begitulah kata Keenan tadi.
"Ge.."
"HM..."
"Boleh ya malam ini aku tidur disini sama kamu." Pinta Bhumi.
"Nggak! aku gak mau kakak macam-macam!"
"Emang gimana aku mau macam-macam? kamu aja sedang haid." Ucap Bhumi. Geva hanya mengangguk.. dia mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri yang sudah berpikir macam-macam..
padahal dimacam-macamin Bhumi juga dia menikmati loh~
"Malam ini aja Ge..please." Mohon Bhumi.
__ADS_1
"Ke.. kenapa hanya malam ini? Malam berikutnya kakak mau tidur sama siapa?" Tanya Geva dengan polosnya.
"Tidur sendiri lah.. Sebab, besok malam aku harus terbang ke Jepang Ge karena ada masalah serius yang harus aku selesaikan... dan aku minta kamu tinggal di rumah Mama dan Papa dulu ya selama aku pergi." Ucap Bhumi.
"Be.. berapa lama kak?" Tanya Geva.
"Sekitar sebulanan.. " Jawab Bhumi dengan nada yang sangat berat. Setelah dia pulang, waktu dari Geva hanya tinggal sebulan.
Itu aja jika beneran sebulan, karena menurut prediksi Satria Bhumi bahkan bisa sampai dua bulan disana. Lalu bagaimana dengan hubungan dia dan Geva? bagaimana rumah tangganya setelah ini?
"Why?" Tanya Geva.
"Mungkin inilah cara Tuhan Ge, kehadiranku disamping kamu hanya membuat kamu marah, kesel, jengkel. Aku hanya penghalang impian kamu. Aku hanya bisa menyakiti kamu. Makanya Tuhan mengirimkan masalah yang cukup serius di perusahaan hingga aku harus ke Jepang dalam waktu cukup lama. Aku sudah pasrah Ge, apapun keputusan kamu nanti setelah dua bulan terhitung dari hari ini." Kata Bhumi.
"Bahkan kamu juga gak merasa kehilangan Ge saat aku mau pergi lama ..
Kehadiranku memang tidak begitu penting di hidup kamu Ge .. "Batin Bhumi.
"Bagus deh kalau kakak sadar kalau kakak udah menjadi penghalang segala impianku! Kakak pergi sama siapa?" Tanya Geva berusaha biasa saja.
"Sama Satria dan Renata."
"Re.. Renata?" Tanya Geva.
"Kenapa harus Renata?" Tanya Geva lagi.
"Memang kenapa dengan Renata? aku gak peduli dia anak siapa.. asalkan dia bekerja bisa profesional dan kerjaannya bagus.. aku akan tetap memakai dia sebagai sekertaris." Kata Bhumi.
"Kakak bisa kan pergi sama yang lain. Karyawan kakak banyak!" Ucap Geva kesal.
"Tapi tidak ada yang bisa menandingi Renata."
Bhumi sebenarnya juga cukup hati-hati dengan Renata mengingat kejadian apartemen saat dia mabuk. Tapi inilah kesempatan Bhumi untuk membalas apa yang sudah Sisil lakukan pada keluarga Bramantya melalui Renata.
"Tapi kak.. aku gak suka sama kak Renata!" Ucap Geva.
"Kamu cemburu?" Tanya Bhumi.
"Aku ? cemburu? sama kamu? Ngaco deh.. kakak kalau pergi mah pergi aja.. mau lama juga malah bagus, biar hidup aku tenang tanpa kakak!" Ucap Geva langsung beranjak dan berjalan menuju kamar.
"Kenapa harus pergi sama Renata sih kak Kenapa? Bagaimana jika nanti Renata macam-macam?" Batin Geva.
"Meskipun aku pergi sama Renata, aku hanya ingin memanfaatkan kapasitas otaknya juga memanfaatkan Renata yang akan jauh dari Deon Ge.. selama ini Deon selalu melindungi Renata. Aku sudah menyusun semuanya Ge.. ada Satria disampingku.. dan Renata tidak akan berani macam-macam." Gumam Bhumi menatap punggung Geva yang sudah menghilang di balik pintu.
Bhumi segera membersihkan dirinya dan menyusul istri kecilnya nan menyebalkan itu di atas ranjang dengan hanya menggunakan boxer. Geva sudah terlelap dengan damainya karena hari ini benar-benar melelahkan untuknya.
"Selamat tidur istriku... mimpi indah.." Gumam Bhumi memeluk Geva dan menciumi wajah cantik Geva.
BERSAMBUNG...
HUAA AA BHUMI MAU KE JEPANG SAMA RENATA JUGA
__ADS_1
KIRA-KIRA APA RENCANA AA BHUMI DI JEPANG BERSAMA RENATA?