
WARNING!!
JANGAN DIBACA SAAT PUASA.. KARENA TAKUTNYA MEMBUAT AMAL IBADAH PUASA KALIAN RUSAK KARENA MEMBACA NOVEL INI YANG TIDAK ADA MANFAATNYA SAMA SEKALI.
BACANYA MALAM AJA YA... HEHEHE...
Tidak ada istilah mandi bersama yang benar-benar mandi bersama apalagi setelah Geva mengakui perasaannya pada Bhumi. Hal itu tentu membuat hati seorang Bhumi Bramantya yang dingin dan kaku mendadak menjadi berbunga-bunga dan Bhumi tidak meloloskan Geva begitu saja di dalam kamar mandi.
Geva dimintai pertanggungjawaban atas perasaan bahagia Bhumi karena cintanya pada gadis menyebalkan itu terbalaskan dengan sempurna.
Keluar dari kamar mandi, jangan tanya bagaimana ekspresi Gevania. Jelas saja di cemberut kesal karena energinya benar-benar terkuras demi memuaskan sang suami yang sudah ia cintai. Padahal sebelumnya Geva sudah merengek lapar, eh yang ada energi Bhumi yang diisi.
"Ge.. jangan cemberut terus dong.. dimana baju kamu? biar aku ambilkan." Tanya Bhumi pada Geva yang duduk di sofa dan hanya memakai bathrobes.
"Masih di koper!" Jawab Geva ketus. Tanpa berkata apapun lagi Bhumi pun menuju koper milik sang istri yang tergelatak begitu saja di kamarnya.
Bhumi mengambilkan sebuah dress yang tidak begitu pendek untuk Geva lalu tidak lupa juga mengambil kan underwearr untuk sang istri.
"Ge.. ganti baju dulu gih." Ucap Bhumi meletakkan baju ganti Geva dipangkuan Gevania sendiri.
"Udah gak punya tenaga." Jawab Geva lemas dengan kepala bersandar di headboard sofa.
"Capek banget ya? maaf ya.. " Kata Bhumi lembut menarik Geva dalam pelukannya, lalu Bhumi memberikan kecupan ringan di kening sang istri.
"Kakak tanggung jawab. Gantiin baju aku!" Ucap Geva dengan tidak tahu malunya. entahlah mungkin Geva sudah mulai terbiasa berpenampilan tanpa apapun di hadapan sang suami.
"Beneran?" Wajah Bhumi berbinar lagi, padahal baru beberapa menit lalu kan selesai aktivitas panasnya.
"Tapi gak ada acara itu si tingkat baseball berdiri tegak dan kokoh lagi." Kata Geva membuat Bhumi putus asa seketika.
"Kamu mau menyiksa aku ya sayang?" Tanya Bhumi dengan wajah yang sudah sangat memelas dan mengenaskan.
"Hukuman buat kakak yang suka seenaknya ngajakin enaa enaa dan ngebiarin aku kelaparan lagi!" Ucap Geva kesal.
"Sayang..." Rengek Bhumi.
"Ck. calon Presdir Bramantya Corp merengek?" Ejek Geva pada suaminya. Bhumi menghela nafasnya dan memasang wajah cool nya kembali. Untung gak ada orang lain selain Geva kan?
"Gantiin baju aku kak.. kalau nggak, besok pagi aku mau balik indo." Ancam Geva.
"Jangan bercanda Ge."
"Makanya gantiin baju aku, tapi dengan syarat si Gohan tongkat baseball itu gak boleh berdiri."
"Bagaimana bisa?" Tanya Bhumi yang tidak habis pikir dengan permintaan sang istri.
Si Gohan sudah sangat sangat dipastikan akan bangun dengan sempurna.
"Harus bisa.. kalau Gohan sampai bangun.. maka, kakak harus kabulkan permintaan aku!" Ucap Geva yang memang sengaja mengerjai suami nya.
"Ge.."
"Setuju, atau besok pagi aku pulang." Ancam Geva lagi.
"Iya.. iya.." Jawab Bhumi mulai melepas tali bathrobes yang Geva kenakan. Setelah tali tersebut terlepas, tentu sebuah pemandangan indah tersuguh kan. Gunung Sindoro dan sumbing yang besar itu benar-benar menggunggah selera siapapun yang menikmati pemandangan itu.
Bhumi menghela nafasnya, ingin sekali dia panjat gunung kembar itu saat ini juga. Namun kalau dia lakukan, bagaimana kalau Geva beneran pulang besok pagi. Kan Bhumi belum puas mengobati kangennya.
"Ge.. kamu benar-benar mengerjai aku ya." Ucap Bhumi memasangkan pengait pada bra milik sang istri.
"Bukan mengerjai kak.. tapi tanggung jawab.. katanya cinta sama aku kan." Ledek Geva. Bhumi hanya mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Katanya cinta? cinta gak?" Tanya Geva.
"Iya sayang iya.."
"Ciee sayang... aku suka kakak panggil itu.. romantis banget meskipun aku lebih suka kamu panggil 'Bee' karena lebih manis. Kalau sayang kayaknya terlalu biasa." Ucap Geva.
"Aku gak mau panggil kamu 'bee' kata Bhumi menaikkan resleting dress sang istri.
"Kenapa? keinget mantan? belum move on?" Hardik Geva.
"enak aja. Aku udah move on ya.. aku mau panggil kamu Jo aja." Kata Bhumi membuat Geva mengernyit.
"Jo? Jojo?"
"Bojo! kalau bahasa Jawa itu namanya pasangan, bisa buat istri bisa buat suami. Jadi kamu itu bojoku.. alias istri aku.. ya Jo." Kata Bhumi tersenyum.
Bhumi baru mendapatkan kata bojo itu kemarin saat salah satu karyawan Papanya Ayumi di bagian accounting ternyata orang Jawa. Dan dia mengobrol banyak dengan Satria terus si Bhumi menguping dengan gaya coolnya.
"Lucu sih.. tapi aku gak suka. aku masih suka di panggil Bee." Kata Geva.
"Kenapa? kan kalau bojo itu anti-mainstream."
"emang ada orang tampang aku tampang rada-rada blesteran gini masak dipanggil pake nama-nama Jawa?" Tanya Geva.
"Terus apa?"
"Bee. titik! tapi kalau di depan orang banyak panggil sayang aja." Ucap Geva yang masih kekeuh mempertahankan panggilan saat masa kecilnya.
Belum juga Bhumi menimpali Geva.
"Ck.. udah berdiri tegak dari tadi ternyata." Goda Geva langsung mengusap si Gohan dengan lembut sambil menggigit bibir bagian bawahnya.
"Kamu nakal banget sih Bee." Kata Bhumi memejamkan matanya menikmati sentuhan sang istri tercinta.
"Tapi bantu boboin dulu."
"Janji dulu kabulkan permintaan aku!" Kata Geva.
"Iya sayang iya..." Bhumi pasrah sangat jari-jari Geva sudah memijit apa yang seharusnya tidak perlu di pijit.
"Setelah proyek ini selesai, aku mau kakak pecat Renata. Gimana?"
"Apapun aku lakukan." Ucap Bhumi terus memejamkan matanya.
"Aku mau selama aku tiga hari disini, kakak temani aku jalan, kencan dan makan.. kakak gak boleh mikirin pekerjaan. Kasihkan pekerjaan semua pada Renata." Ucap Geva lagi menggoda sang suami dengan tangan nakalnya.
"Tapi Bee.. gak bisa seperti itu juga.. karena...." Tolak Bhumi halus. Geva langsung mengeluarkan tangannya dari kantong si Gohan.
"Lah?"
"Aku gak mau lagi kalau kakak gak temani aku. mending aku pulang besok pagi." Ucap Geva langsung beranjak berdiri keluar dari kamar Bhumi.
"Bee.. belum selesai.."
"Bodoh amat aku udah lapar banget." Ucap Geva.
"Emang benar-benar gadis Menyebalkan dan minim akhlak. Bisa-bisanya dia membangunkan gohan lalu memanjakan Gohan dengan tangannya terus ditinggal pergi gitu aja. Padahal kan aku gak bermaksud menolak ajakannya untuk quality time."Gumam Bhumi kesal dan langsung lari ke kamar mandi.
🍁
"Ge.." Sapa Ayumi tersenyum pada Geva yang baru keluar dari kamar.
__ADS_1
"Kok masih pada disini?" Tanya Geva dengan wajah bingung. Renata melirik Geva sekilas, menunjukkan ketidaksukaan nya pada Gevania.
"Belum beres kerjaan." Ucap Satria tanpa melirik ke arah istri bossnya.
"Bang Sat.. urusan kita belum kelar ya!" Kata Geva memandang Satria dengan senyum kelicikan.
"Urusan apa? aku gak punya urusan sama Bu boss." Ucap Satria menatap Geva bingung.
"Kata siapa gak punya? kemarin suami aku kirim pesan katanya ada sebuah ide gila itu bang Sat pencetusnya." Ucap Geva melirik Renata.
Pasti ide gila Satria yang meminta Renata menyusul ke Jepang akan berbuntut panjang ini.
"A .. aku bisa jelasin Bu bos." Kata Satria mendadak bergidik ngeri melihat senyum Geva karena Satria sangat tahu jika seorang Geva itu mempunyai otak yang sangat absurd.
"Tenang.. urusan bang Sat gak saat ini juga kok sama aku." Kata Geva tersenyum manis lalu duduk di samping Ayumi.
"Bhumi mana Gev?" Tanya Ayumi.
"Sejak kapan kalian kenal dan dekat?" Tanya Renata memotong pembicaraan Geva dan Ayumi.
"Kepo!" Jawab Ayumi.
"Sejak dua pekan lalu kak Renata... kami kenalan di sosial media. Terus tadi yang jemput aku juga kak Ayumi." Kata Geva tersenyum manis membuat Satria mengernyit. Kenapa mendadak Geva sangat manis dengan Renata.
"Ge?" Ayumi tidak percaya.. harusnya kan Geva koalisi dengannya untuk menjatuhkan Renata.
"Oh ya.. tadi kakak nanya kan.. dimana suami aku.. dia lagi mandi kak." Jawab Geva tersenyum memberi kode pada Ayumi untuk tidak banyak nanya soal sikapnya pada Renata.
"Kak Re.."
"Iya?" Renata berusaha bersikap baik pada Geva karena dia tahu posisinya saat ini, membuat Geva tidak suka dan berujung pada Bhumi marah akan mengancam masa depannya untuk selalu dekat dengan Bhumi.
"Kak Bhumi habis olahraga ranjang sama aku sampe beronde-ronde tadi katanya capek dan laper,, dia pengen kakak masakin." Ucap Geva sambil memainkan ponsel membalas pesan dari Naomi sahabatnya yang sedang ngambek karena Geva dekat dengan Ayumi yang sama-sama suka Deon.
"Benarkah?" Tanya Renata tidak percaya. Bukankah Bhumi dari kemarin menolak untuk ia masakan?
"Iya.. kata kak Bhumi kak Renata kalau masak itu enak. aku malah gak bisa masak sama sekali." Ucap Geva dengan muka sedih.
"jadi Geva gak bisa masak? oke.. aku akan menarik perhatian Bhumi dengan masakan aku." Batin Renata.
"Jadi wanita itu harus bisa di dapur Ge.. memanjakan suami dengan makanan. Bagaimana kamu bisa jadi istri idaman Bhumi Bramantya jika kamu gak bisa masak, Flower itu sangat pandai memasak." Kata Renata sengaja menyentil hati Geva.
Namun Geva tetap tenang tidak terprovokasi,
"Yaudah kalau gitu aku mau masakin kak Bhumi aja." Kata Geva hendak berdiri.
"Jangan!" Larang Renata.
"Biar aku aja yang masakin Bhumi." Ucap Renata penuh semangat dan berlalu menuju dapur yang ukurannya tidak terlalu besar.
Geva tersenyum penuh kemenangan,
"Elu ngapain senyum-senyum Ge?" Tanya Ayumi bingung.
"memanfaatkan lawan itu harus dengan cara elegan kak." Jawab Geva.
"kamu yang pengen makan kan Ge? bukan Bhumi?" Tebak Satria yang tahu betul siapa Bhumi.
"Tepat sekali, hahaha.." Tawa Geva yang hanya menggunakan nama Bhumi dia bisa dengan mudah mendapatkan makanan yang dimasak seorang Renata.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE