
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka,
Seorang wanita hanya memakai bra dan CD keluar dari kamar mandi dengan wajah tersenyum dan hati yang riang bahagia karena dia menganggap impiannya sebentar lagi akan terwujud,
Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, sontak Geva langsung menengok.
"Kak Renata.." Ucap Geva mengernyit melihat penampilan Renata.
"Eh." Renata sangat terkejut dengan hadirnya Geva dan dia langsung segera ngibrit ke kamar mandi lagi.
"Jadi yang dimaksud kak Alex tentang bibit pelakor itu Renata. Gue kerjain elu bibit pelakor biar kepanasan sekalian! " Gumam Geva tersenyum licik.
Geva memutar otak untuk membuat wanita yang tengah ada di kamar mandi itu bisa kepanasan.
Dan sebuah ide brilian muncul. Dengan cepat dia mengirim pesan pada Alex yang menunggu di bawah. Geva meminta pada Alex untuk mengajak Reno keluar dari Apartemen Bhumi sehingga ia bisa puas mengerjai bibit pelakor sampai pagi.
Geva segera keluar dari kamar Bhumi dan berharap wanita dalam kamar mandi itu tidak keluar sebelum dia kembali.
Reno dan Alex duduk di sofa ruang tengah apartemen Bhumi, entah apa yang mereka tunggu ditengah malam begini, kenapa gak langsung pulang.
"Kak tolongin.." Kata Geva lirih.
"Kamu kenapa Ge?" Tanya Alex panik karena wajah Geva memang terlihat semakin pucat dari sebelumnya saat sampai Apartemen Bhumi.
"Beliin aku obat kak.. di apotek terdekat." Katanya sedikit lemas seperti tidak bertenaga.
"Obat apa?" Tanya Alex.
"Vasoconstriktor, Bronkodilator, Antihistamin dan steroid, aku tadi gak bawa obat kak.. obatku ada di rumah.. jarak rumahku ke sini kan cukup jauh.." Jawab Geva menyebut obat-obatnya.
"Obat apa itu?" Tanya Reno menaikkan alisnya penasaran.
"Obat untuk Anafilatik aku kak.. sepertinya mau kambuh.. nafas aku udah agak sesak." jawab Geva.
"Astaga.. Anafilatik kan alergi yang parah hingga berujung pada kematian Ge.."Pekik Alex antara sedikit cemas dengan wajah pucat Geva atau sekedar mendramatisir keadaan setelah tahu maksud Geva di pesannya tadi.
"Tolong kak, aku gak mau mati muda." Ucap Geva memelas.
"Apa mending gue halang-halangin Alex buat beli obat itu... biar sekalian ini anak mati.. toh Bhumi sedang tidak sadar.. jadi jika ini anak tidak ada, kesempatan untuk Renata terbuka." Batin Reno.
"Tulis obatnya di ponsel Gue." Reno menyodorkan ponselnya pada Geva karena nama obat itu cukup susah. Dan rencananya Reno nanti akan bilang pada Alex nama obatnya ke hapus atau lupa di save. Oh sungguh liciknya lelaki titisan Sisil ini.
"Makasih kak... minta tolong cepetan ya kak.. aku gak tahan lagi." Kata Geva mengembalikan ponsel Reno setelah menulis pesanannya.
"HM.."
"Lex.. ayo cabut!" Ajak Reno. Alex segera bangun dari duduknya dan mengedipkan matanya pada Geva karena target sudah masuk dalam perangkap.
"Dasar bodoh.. kan gue kesini bawa tas selempang dan di dalamnya juga udah ada obat-obatan gue." Gumam Geva tersenyum.
Reno dan Alex sudah keluar dari apartemen Bhumi. Dengan segera Geva mengunci pintu apartemennya dan menyembunyikan remote pembuka pintu tersebut. Karena pintu itu selain hanya bisa dibuka dengan finger print Bhumi juga bisa dengan Remote control otomatis.
Geva juga tidak lupa mematikan dan menyembunyikan seluruh remote AC.
Dengan disembunyikan remote control itu, otomatis pintu tidak bisa di buka dan Renata akan terkurung dalam apartemen Bhumi bersama Geva dan Bhumi. Dan jika remote AC tidak ada, mau tidak mau Renata akan tidur di sofa kamar Bhumi... karena Geva yakin Renata gak akan bisa tidur tanpa AC.
Yah minimal sampai besok pagi saat Bhumi bangun Renata baru bisa bebas.
"Astaga tas si bibit pelakor.. handphonenya harus gue matiin nih. dia harus terpenjara disini." Geva yang melihat tas Renata di sofa itupun langsung mencari ponsel Renata lalu memasukkannya di kantong celana tidurnya yang panjang.
Otak Gesrek Geva sudah melayang-layang membayangkan adegan-adegan yang membuat seorang Renata kepanasan dan sakit hati.
Geva segera berlari ke kamar Bhumi lagi sebelum si bibit pelakor keluar.
Ceklek.
Dan ternyata masuknya Geva bertepatan dengan keluarnya seorang Renata dari kamar mandi.
"Kak.. kenapa kakak tadi cuma pakai Daleman?" Tanya Geva tajam.
__ADS_1
"A.. a.. aku tadi baju aku kotor Gev.. "
"Kenapa kotor?" Emang ini anak bau kencur kepo banget deh.
"Ka.. karena kena muntahannya Bhumi, tadi dia sempet muntah.. orang mabuk kan biasanya seperti itu." Jawab Renata bohong. Dan benar Geva melihat Renata memakai bathrobes yang kebesaran. Pasti itu milik Bhumi.
Eh tapi kan ini apartemen baru selesai di renovasi, dan katanya baru tadi sore segala keperluan Bhumi dan Geva disiapkan pelayan. Otomatis itu bathrobes baru..
Tidak masalah lah di pakai Renata, habis itu bisa buat keset kamar mandi. Begitulah pikir Geva.
Bathrobes itu hanyalah alasan Renata supaya lebih masuk akal karena dia tadi yang keluar hanya pakai dalaman. Terus bajunya sendiri dibasahi.
"Kakak keluar dulu deh.. aku mau bersihkan tubuh suami aku." Ucap Geva santai membuat Renata melongo, rasanya Renata tidak rela tubuh Bhumi disentuh wanita lain, namun dia ingat pesan Reno. Untuk mendapatkan Bhumi harus bermain cantik.
"Iya ini juga mau keluar. Aku mau minta tolong Alex dan Reno ambilin baju aku di apartemen baru aku pulang." Ucap Renata malas sambil melirik Bhumi yang terlelap damai.
"Yaudah.. Kaka telfon aja mereka. Tadi aku minta kak Alex dan kak Reno buat beliin aku obat. Jadi biar sekalian." Ucap Geva. Renata hanya mengangguk dan keluar kamar Bhumi.
Ceklek ceklek.
Geva mengunci pintu kamarnya dari dalam..
"Telfon aja Sono telfon.. telfon pake high heels elu!" Geva cekikikan sendiri membayangkan betapa bodohnya Renata mencari ponselnya.
Geva langsung ke kamar mandi mencari wash lap untuk membersihkan tubuh Bhumi yang bau alkohol. Tidak lupa dia juga menyemplungkan ponsel Renata ke dalam closet.
"Bye.. bye ponsel Mak lampir~" Kata Geva.
🍁
Geva sudah duduk di samping Bhumi yang masih damai dalam lelapnya setelah menghabiskan bersloki-sloki alkohol kadar tinggi. Entah udah ke berapa kalinya Geva menghela nafasnya, tangannya gemetar hendak menyentuh dada bidang suaminya yang menurutnya pelukable banget.
"Gak apa-apa Ge.. elu itu biar jadi istri yang teladan.. itung-itung Nebus kesalahan elu tadi yang udah ngomong ngelantur ama dia,." Ucapnya sambil terus meyakinkan dirinya.
"Kapan lagi coba elu greepe-grepee dada pelukable kayak gini.. gak bakal ada yang marahin lagi." Geva cekikikan sendiri membayangkan yang iya iya supaya kegugupannya itu hilang.
Perlahan lahan Geva dengan sabar dan telaten membersikan tubuh suaminya supaya bau alkoholnya hilang dan berganti abu maskulin khas Bhumi.
Hingga 10 menit berlalu...
Tok.. Tok.. Tok..
"Geva.. pinjem ponsel buat hubungi Reno dan Alex. Aku gak tahu ponsel aku dimana.. aduh disini panas banget lagi.. Ac-nya mati." Renata ngedumel di balik pintu.
Geva tidak menjawab, dia segera beranjak dari duduknya dan mencari bajunya di almari. Moga aja ada yang sesuai dengan yang dia harapkan.
Dan benar saja... baju tidur berwarna merah menyala dengan belahan dada cukup rendah dan celana sangat pendek menjadi pilihan Geva. Geva yakin yang menyuruh para pelayan menyiapkan semua itu pasti Mami Naya langsung.
"Mertua aku emang terbaik!" Gumam Geva mengganti baju.
"Geva.. tolong buka pintunya!" Teriak Renata yang mondar mandir kepanasan karena pintu balkon pun tidak bisa di buka dan tidak ada celah sedikitpun untuk udara luar masuk. Bener-bener berasa engap.
Geva bertindak cepat.. ponselnya ia matikan.. begitu juga ponsel Bhumi yang ternyata sudah tersilent. Untunglah jika ada telfon gak akan berisik. Setelah itu.. kedua ponsel itupun dia sembunyikan ke dalam almari.
Ceklek.
"Kenapa kak?" Tanya Geva membuka pintu kamarnya.
"Pinjem ponsel.. aku mau hubungi Reno dan Alex." Kata Renata.
"Gila panas banget di luar.. remote AC pada kemana sih... remote pintu juga gak ada semua.. padahal gue mau keluar ke balkon cari udara.. kayak dipanggang gue. Gila pintu kamar elu buka serasa dapat angin dari surga gue."
"Kakak ke surga juga gak apa-apa kak.. gue ikhlas.. sekarang aja kak.." Batin Geva.
"Di closet ada ponsel kak tadi.. apa itu ponsel kakak?" Tanya Geva polos.
"closet?"
"Iya ada ponsel tadi di dalamnya.. kalau ponsel aku baterai nya abis dan aku gak bawa charger. Ponsel kak Bhumi gak tahu dimana."
"Padahal di almari" Batin Geva.
__ADS_1
"What.. ini ponsel aku.. kenapa bisa ada disini.. mati lagi." Pekik Renata setelah masuk toilet.
"Ih kakak jijik banget sih...masak tangannya masuk closet ambil ponsel." Kata Geva.
Tidak ada sahutan dari seorang Renata. Dia masih fokus dengan ponselnya dan mengelap-ngelap itu ponsel berharap menyala.
Namun sia-sia.. maklum udah hampir 15 menit menyelam.
"Jadi kakak gimana ini? mau pulang sekarang?" Tanya Geva.
Renata mengiyakan, dia meminta Geva membantu mencari Remote control untuk pintu dan hasilnya nihil.
"Udah kak ah.. aku ngantuk mau tidur. Capek.. gak tahu itu para pelayan simpan remote dimana semua. Kalau buka pakai finger print kak Bhumi juga gak mungkin. Dia sudah tepar."
"Terus aku gimana? orang tadi Ac-nya nyala. Tadi remotenya disana.. aku yang nyalain tadi karena Alex dan Reno bawa Bhumi ke kamar." Renata menunjuk dinding yang ada tempat menyimpan remote AC.
"Mana aku tahu.. masuk aja baru tadi langsung ke kamar. " Ucap Geva.
"Terus aku gimana?" Tanya Renata frustasi karena semuanya gagal tidak sesuai rencana.
"Ya kakak kalau mau tidur sini sih boleh.. lah gimana lagi? cuma ya di sofa ruang tamu.. soalnya apartemen ini kan kamarnya cuma satu."
"Tapi panas Ge.. " Ucap Renata.
"Ya gimana.. masak kakak mau tidur di kamar pribadi aku dengan suami aku."
"Siyalan!" Batin Renata yang sedari tadi menahan amarah dan rasa cemburunya Setiap kali Geva menyebut suami. Apalagi Geva yang tadi membersihkan tubuh Bhumi, rasanya gak rela.
Renata memilih bersikap santai supaya Geva tidak curiga padanya yang memiliki perasaan berlebih pada Bhumi.
"Aku mau tidur di kamar kalian.." Ucap Renata.
"Kan kasurnya cuma satu kak.. "
"Ya berbagi.. kan kasurnya gede bisa muat berempat malah."
"No! kasur itu hanya untuk aku dan suami aku. Kalau kakak mau.. boleh tidur di sofa." Ucap Geva tegas..
"Tapi Ge.."
"Tidur di sofa tapi adem karena AC.. atau tidur di sofa ruang tamu ini yang super panas." Kata Geva memberikan pilihan.
Mau tidak mau Renata memilih tidur di sofa yang ada dikamar Bhumi dan Geva dari pada kepanasan.
Setelah masuk kamar, sebagai tuan rumah yang baik hati. Geva mengambilkan selimut tebal dan satu bantal untuk tamunya yaitu Renata.
"Elu gak ada baju lain?" Tanya Renata menatap Geva yang berpakaian sexy dengan tubuh putih mulus sempurna dan beberapa bagian menonjol indah.
"emang aku kalau tidur juga pakai begini. Tanya aja kak Bhumi." Ucap Geva yang naik ke ranjangnya sambil mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur yang cukup terang juga.
"Ge... Gev... maafin aku." Bhumi yang berbalut selimut tebal itupun mengigau membuat Geva dan Renata terkejut.
Wajah Bhumi terlihat cemas dengan tangan yang terus bergerak kesana kemari seperti mencari sosok Geva.
"Maafkan aku Ge.. jangan pergi. jangan tinggal kan aku.. maafkan aku.. aku salah." Rancau Bhumi lagi dengan mata yang masih terpejam.
"Kak.. maafin aku juga udah buat kakak sampai begini." Ucap Geva lembut mencium bibir suaminya sekilas.
Geva menggenggam tangan suaminya lalu dia arahkan untuk memeluk tubuhnya setelah masuk ke dalam selimut besar sama Bhumi.
"Jangan tinggalkan aku Ge.. aku janji akan melupakannya untuk kamu Ge." Ucap Bhumi lagi.
"Aku disini kak.. aku gak akan pergi." Ucap Geva mengeratkan pelukannya pada Bhumi. Dan Bhumi secara tidak sadar pun memeluk Geva dengan erat sambil terus menyebut nama Geva.
Melihat semua itu secara langsung dan dengan jarak yang cukup dekat, air mata Renata pun menetes begitu saja....
BERSAMBUNG...
harusnya dua episode ini.. aku jadikan satu... hehehe...
Mon Maap telat ya... beberapa hari ini dan beberapa hari ke depan cukup sibuk 🙏
__ADS_1
terima kasih dukungannya dan terima kasih sudah sabar menanti 🥰