
Happy Reading gaes..
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
Bhumi melajukan mobilnya menuju kediaman orang tuanya yang jaraknya sekitar satu jam dari apartemennya. Sebenarnya tidak terlalu jauh namun jalanan ibukota memaksa mereka untuk menikmati kemacetan menjelang sore ini di jam-jam pulang kantor.
Jangan tanya apakah hari ini Bhumi ke kantor? kalian pasti sudah tahu jawabannya bukan? begitu juga Geva, lagi-lagi dia harus bolos sekolah padahal ujian nasional sudah didepan matanya karena kurang dari tiga bulan lagi izinnya pada sekolahan, ya jelas sakit.
Di dalam mobil Geva hanya diam menatap ke arah luar. Sebenarnya Geva cukup canggung dengan Bhumi karena bagaimanapun ini untuk pertama kalinya bagi Geva ada orang yang melihat bahkan menikmati setiap lekuk tubuhnya yang selalu di puji oleh kaum Adam.
"Ge.. " Panggil Bhumi.
"HM." Jawabnya malas.
"Apa masih sakit?" Tanya Bhumi.
"Apanya?" Geva tanya balik.
"Vaagina kamu." Jawab Bhumi datar tanpa sensor. Pertanyaan Bhumi justru membuat Geva menelan ludahnya sendiri karena otaknya sudah ber traveling kemana-mana mengingat tongkat baseball Bhumi.
"Kenapa muka kamu merah?" Tanya Bhumi melirik Geva dari tadi.
"Apa?" Geva seperti gadis bodoh karena dia tidak mungkin berkata jujur telah mengingat mesin pencetak mayonaise itu.
"Aku mau tidur! nanti kalau udah sampai bangunin." Kata Geva yang salah tingkah.
"Ini mau sampai Ge.. nanti kamu pusing kalau tidur terlalu sebentar."
"Bodoh! Lagian juga masih macet parah dari tadi gak gerak-gerak! katanya Sultan.. harusnya bisa dong panggil helikopter untuk jemput tengah kemacetan." Gerutu Geva.
"Meskipun bisa membayar helikopter untuk menjemput kita. Aku tidak akan melakukan itu."
"Kenapa?" Tanya Geva penasaran.
"Terlalu lebay!" Jawab Bhumi. Geva enggan menanggapinya lagi. Dia langsung terpejam, badannya terasa remuk sekali bahkan jalannya Geva sedikit aneh. Hal itulah yang membuat Geva mengomel dan menjadi drama sebelum mereka berangkat tadi.
Geva terus menyalahkan Bhumi yang melakukan disaat yang tidak tepat karena bertepatan dengan pulangnya mami Naya dan papi Gema. Padahal Bhumi juga gak tahu jika orang tuanya pulang pagi ini.
Dan jika Bhumi tidak menanggapi segala ucapan Geva saat ngomel maka Geva akan semakin panjang dan lama ngomelnya. Mau tidak mau Bhumi juga harus membuka mulutnya menenangkan mantan perawan yang menyebalkan itu.
🍁
"Ge.. Gevania.. bangun.." Ucap Bhumi menepuk-nepuk pipi Geva dengan lembut. Ini anak kalau udah tidur emang agak susah ya bangunnya apalagi setelah kecapean.
"Gevaniaaaa..." Teriak Bhumi tepat di telinga Geva. Please deh Bhum bangunin istri itu pake cara-cara yang romantis gitu kan bisa.
"Astaga kakak.. kenapa sih ngagetin aja!" Decak Geva mengusap-usap dadanya karena jantungnya sudah berdetak sangat cepat.
"Kok udah nyampe rumah papi mami." Ucap Geva memperhatikan keadaan sekitar.
"Terus kenapa?"
"Aku tadi kan rencananya mau beli foundation buat nutupin nih bekas drakula gak berperasaan." Geva menunjuk lehernya yang dipenuhi oleh Kissmark Bhumi.
"Emang kenapa?"
"Malu lah!" Ucap Geva.
"Ngapain malu orang juga bertemu keluarga toh yang buat itu juga suami kamu sendiri bukan orang lain. Udah halal Ge.. jadi bebas!"
__ADS_1
"Ya karena aku masih punya malu gak kayak kamu yang gak punya malu! dasar nyebelin! tunggu aja pembalasanku!" Teriak Geva yang langsung keluar dengan membanting pintu mobil milik Bhumi.
Geva memasuki kediaman Bramantya dengan jalan agak seperti bebek menahan sakit akibat gesekan di pangkal pahanya setiap kakinya melangkah. Masih ngilu gimana gitu. Tapi dia harus menemui Bianca kalau nggak Flower untuk meminta Foundation.
Semua Gara-gara apartemen baru yang fasilitasnya belum lengkap karena tidak ada foundation.
"Gee.." Panggil Flower yang hendak masuk ke dalam dapur membantu para pelayan menyiapkan makanan. Padahal Flower sudah dilarang mami Naya, namun Flower yang memang hobby masak ditambah sejak hamil dia semakin semangat memasak membuat Bhima pun tidak bisa melarang istrinya yang terpenting Flo tidak kecapean dan bisa jaga diri.
"Kak.. ah syukurlah aku ketemu kakak." Ucap Geva mendekati Flower.
"Kamu kenapa jalannya aneh gitu?" Flower menatap Geva dengan bingung.
"Kak minta foundation dong.. buat nutupin gigitan drakula." Kata Geva to the point dengan setengah berbisik supaya tidak didengar oleh orang lain.
"gigitan drakula?" Flower nampak bingung namun di film-film drakula menggigit itu di area leher. Mata Flower tertuju pada leher jenjang Gevania yang berusaha ditutupi dengan rambut panjangnya.
DEG!
Flower mencoba tersenyum,
"ciiee udah ada kemajuan nih." Ledeknya berusaha menutupi perasaannya. Mungkin seperti ini yang dirasakan Bhumi saat beberapa waktu lalu Bhumi melihat dada Bhima yang penuh Kissmark. Nyeri~
"Kakak apaan sih.." Kata Geva bersemu.
"Kamu tunggu di taman aja ya.. kakak ambilkan foundation soalnya di kamar ada mas Bhima lagi tidur. Maaf ya gak bisa ajak kamu ke kamar soalnya baru aja mas Bhima terpejam setelah pulang shooting." Flower takut kebawelan adik iparnya itu nanti mengusik tidur lelap sang suami.
"Nggak masalah kak.. Aku tunggu dibelakang aja ya.. mau lihat ikan-ikannya papi yang berenang." Ucap Geva. Flower tersenyum dan mengangguk.
"Gee.. ini tas kamu." Teriak Bhumi memasuki rumah dengan membawa tas Geva yang Geva tinggal di mobil.
Deg.
"Kakak ke kamar dulu ya ambilkan Foundation buat kamu." Pamit Flower.
"Flo." Panggil Bhumi.
"Iya?"
"Bhima mana?"
"Suamiku lagi tidur." Ucap Flower berlalu begitu saja memasuki lift menuju lantai dua karena Bhima melarangnya naik turun menggunakan tangga, namun Flower masih sering melakukannya saat Bhima tidak di rumah.
"Apa lihat-lihat?" Tanya Bhumi pada Geva.
"Cih! pede banget om!"
"APA?" Teriak Bhumi.
"OM BHUMI BRAMANTYA!" Kata Geva yang masih kesel sama Bhumi.
"Jangan salahkan aku kalau besok kamu gak bisa jalan beneran ya." Ancam Bhumi.
"ngga syuudii!" Geva berlalu menuju taman belakang.
🍁
Geva sudah menunggu cukup lama kehadiran Flower membawa foundation, semoga sebelum kehadirannya terlihat oleh keluarga lain, Flower udah datang membawakan apa yang dia mau.
Kalau duduk termenung seperti ini, Geva jadi memikirkan masa depannya dan segala impiannya sebelum menikah. Apalagi setelah melakukan hubungan intim, Geva sama sekali belum ingin hamil. Dia harus mencari cara supaya gak hamil.
__ADS_1
"Gev.. maaf lama ya.." Ucap Flower pada adik iparnya yang sedang melamun.
"Oh gak apa-apa kak.. oh ya aku lupa gak bilang sama kakak tadi buat pinjem cermin yang kecil." Ucap Geva.
"Kakak kenapa matanya merah? kakak habis nangis?" Tanya Geva dengan polosnya.
"Ng.. nggak Ge.. tadi kakak habis muntah.. maklum lagi hamil muda kan emang begini. Sini aku pakein foundation nya biar rapi soalnya kakak juga gak kepikiran bawain kamu cermin make up."
Muntah? orang hamil muntah? Geva sudah sering mendengar itu tapi dia tidak pernah membayangkan jika tidak lama lagi dia akan hamil jika melakukan hubungan intim lagi dengan Bhumi.
Dengan telaten Flower membantu Geva menutup Kissmark yang Bhumi tinggalkan di leher jenjang Geva. Leher yang bersih serta mulus. Leher yang mampu membuat para lelaki berpikiran liar.
"Kak.. gimana caranya supaya gak hamil?" Tanya Geva. Lagi-lagi Flower berusaha tersenyum.
"Pake sarung." Ucap Flower.
"Ha? sarung? jadi kalau saat hubungan intim pake sarung bisa cegah kehamilan?" Tanyanya lagi yang mampu membuat Flower terkekeh.
"Bhumi tau kok sarung apa yang harus dia pakai. Yang penting jangan pakai obat penunda kehamilan ya... katanya efeknya gak bagus bahkan bisa membuat kandungan kering jika usia kamu masih terlalu muda dan belum memiliki anak.. jangan ya."
"Yah tapi tadi aku searching yang paling gampang pake obat kak." Keluh Geva.
"Mending gak usah pakai apa-apa, jika kamu hamil berarti kamu di percaya Tuhan memiliki anak. Dan kamu adalah salah satu wanita paling beruntung karena diluar sana banyak wanita yang mengharapkan keturunan sampai bertahun-tahun tapi belum Tuhan kasih. Jangan kayak kakak Gev."
"Emang kakak kenapa?"
"Kakak awalnya menolak kehadirannya." Cicit Flower mengusap perutnya yang masih rata.
"Tapi kakak beruntung memiliki suami mas Bhima yang mengajari kakak untuk bersyukur. Kamu coba deh diskusikan soal kehamilan sama Bhumi, jangan ambil keputusan sepihak ya.. "
"Kakak sih enak punya suami seperhatian, selembut dan semanis kak Bhima. Lah aku.. lihat mukanya aja yang kayak besi berkarat itu bawaannya pengen ngajak ribut mulu.."
"Buat meluluhkan Bhumi itu gampang Gev.. kamu nurut aja sama dia.. jangan ngebantah.. maka nanti dia akan nyaman sama kamu dan gak ngeselin-ngeselin banget kok." Kata Flower tersenyum mengingat masa lalu.
"Kakak deket ya sama kak Bhumi? Kok sampai tahu gimana cara meluluhkan kak Bhumi?"
Deg!
Flower bingung harus menjawab apa, jangan sampai jawabannya justru membuatnya terjerumus sendiri.
"Geva... Flower.. kalian disini nak.." Suara mami Naya membuat dua wanita cantik itu menengok ke sumber suara.
"Mami.."
"Eh lagi ngapain?" Mami Naya melihat Flower sedang memakainkan Foundation di leher Gevania.
"Biasa mi.. mau menutupi bekas pertarungan panas semalam." Jawab Flower tersenyum.
"Nggak semalam kak.. orang baru tadi pagi!" Jawab Geva spontan. Lagi-lagi Geva harus menutup mulutnya yang sudah terlanjur nyeplos.
"Pantas aja jalan kamu aneh.." Ledek Flower terkekeh dengan mami Naya. Mami Naya menatap Geva dengan penuh rasa terima kasih karena Geva sudah merelakan hidupnya untuk Bhumi.
"Gimana Bhum rasanya tembak dalam?" Tanya Flower yang melihat Bhumi berjalan menuju mereka.
Bhumi tidak menjawab dia hanya menatap Flower dengan tajam seolah ingin menguliti wanita yang berstatus sebagai mantan pacarnya itu.
"Mi.. di panggil papi." Ucap Bhumi fokus pada sang mami.
BERSAMBUNG....
__ADS_1