
"Maaf nona saya tidak punya banyak waktu, sebab penerbangan di ajukan menjadi jam 5 sore."..
"APA?" Pekik Geva.
"Kenapa dia tidak memberi tahu aku?" Tanya Geva.
"Mana saya tahu.." Jawab Satria.
"Bang Sat kamu pasti tahu kan?"
"Kalau saya tahu saya juga tidak akan kasih tahu anda nona.. coba anda introspeksi diri apa yang sudah anda katakan pada boss." Kata Satria tenang.
"Bang Sat.. please ." Rengek Geva.
"Maaf Nona."
"Bang Sat stop panggil nona!" Teriak Geva.
"Kasih tahu ya.. ya please.. bang Sat baik deh." Kata Geva.
"Sejak kapan ada bang-Sat yang baik? begini Gevania... Saya cuma mau bilang, jika salah satu diantara kalian tidak ada yang mau mengalah dan sama-sama tidak peka pada perasaaan masing-masing, maka hubungan kalian pasti akan terus seperti ini. Tidak akan ada kemajuan, bahkan sampai Flower dan Bhima sudah memiliki anak 11."
"Ya sudah.. aku ikut Bang Sat ke kantor aku mau tanya langsung sama kak Bhumi."
"Izin sama boss dulu kalau mau ikut." Ucap Satria meninggalkan Geva menuju ruang kerja Bhumi.
"Sumpah ya..boss sama asisten sama-sama menyebalkan!" Gerutu Geva.
Mendengar ucapan Satria seperti itu membuat perasaan Geva semakin tidak karuan. Otak Geva yang selalu berpikir absurd itupun bingung sendiri sebenarnya ada apa dengan Bhumi. Ah lebih baik dia menemui Bhumi karena baik Geva maupun Bhumi keduanya sama-sama agak susah jika diminta untuk peka.
Geva segera memasuki kamarnya untuk siap-siap toh Satria masih di ruang kerja Bhumi mengambil beberapa dokumen-dokumen penting.
Dibukanya lemari yang panjang itu dan terpampang banyak sekali pakaian-pakaian baru yang belum pernah Geva pakai sebelumnya.
"Aku pake pakaian yang mana ya.. aku harus terlihat cantik dan dewasa... apalagi disana ada Renata." Gumam Geva.
Geva memilih mengenakan rok mini yang memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus juga kemeja berbahan flanel berwarna maroon yang tidak dia kancing kan karena sudah menggunakan tangtop didalamnya.
Tak lupa Geva menggulung lengan kemejanya hingga sampai ke siku lalu merapikan rambutnya supaya dia terlihat dewasa ditambah Make up tipis-tipis yang sudah menempel di wajah cantiknya.
Geva benar-benar berbeda dengan hari biasanya. Terlihat simpel tapi sangat anggun. Kecantikannya memang benar-benar natural makanya wajar banyak anak perempuan di sekolahnya yang iri dengan Gevania. Namun apa daya juga, mereka tidak berani mengusik Gevania sedikitpun mengingat status Gevania sebagai tunangan Bhumi Bramantya.
Pantas saja, siswa yang membuat masalah dengannya karena meninggalkan Geva di Bandung itu langsung hilang tanpa jejak beserta keluarga-keluarganya.
"Perfect!" Gumamnya di depan cermin. Geva benar-benar puas dengan tampilannya saat ini yang sudah seperti anak kuliahan. Apalagi tubuhnya yang diatas rata-rata anak SMA itu semakin menunjangnya untuk tampil dewasa.
Dibukanya kamar miliknya,
"Bang Sat.... " Teriak Geva.
__ADS_1
"Bang Satria..." Teriak Geva lagi tapi tidak mendapatkan jawaban dari Satria.
Geva mencari Satria di ruang kerja Bhumi tapi kosong. Tidak kehabisan akal, Geva segera menuju ke apartemen samping. Apartemen milik Bhumi, siapa tahu Satria sedang mengambil sesuatu disana dan ternyata juga kosong.
Satria ternyata sudah pergi duluan, padahal tadi Geva sudah bilang untuk ikut ke kantor Bhumi. Apa Bhumi tidak mau menemuinya?
Geva terus menggerutu dan mengumpat seorang Satria. Satria benar-benar menyebalkan! Mau tidak mau Geva langsung berlari keluar apartemen dan mencari taksi. Waktu Bhumi hanya tinggal satu jam lagi. Untung jarak apartemen ke kantor Bhumi tidak jauh.
🍁
Gadis cantik turun dari taksi dan menampilkan kaki jenjangnya. Dia berjalan bak seorangodel diatas catwalk. Semua mata tertuju padanya karena hari ini kondisi kantor Bramantya Corp cukup ramai terlebih di lobby.
"Permisi.." Sapa Geva sopan.
"Iya.. ada yang bisa kami bantu nona?" Tanya Resepsionis dengan ramah.
"Saya mau ke ruangan tuan Bhumi Bramantya." Ucap Geva.
"Bhumi sedang sibuk dan tidak bisa di temui." Kata seseorang dari belakang Geva. Geva cukup tahu suara itu lalu ia memutar tubuhnya ke belakang.
"Jangan ganggu Bhumi dulu, dia sangat sibuk menyiapkan berkas-berkas yang akan dia bawa pergi ke Jepang, lagi pula hari ini dia tidak memiliki janji dengan anak SMA." Ucap orang tersebut yang tidak lain adalah Renata.
"Sejak kapan ada aturan seorang Gevania Azkia Bramantya dilarang untuk menemui Bhumi Bramantya?" Tanya Geva sangat tenang.
"Sejak saat ini, karena Bhumi tidak mau menemui anak yang tidak memiliki sesuatu yang dibanggakan. Mending kamu pulang jika kamu kesini cuma merengek dan meminta untuk di belikan permen, sekolah yang benar!" Kata Renata mengejek Geva.
Renata yang tadi tidak sengaja mendengar kalimat Bhumi yang mengatakan pada Satria bahwa hubungannya dengan Geva sedang tidak baik, sehingga Bhumi menyuruh Satria untuk mengambil barangnya dari pada harus berdebat dengan Geva. Untung Bhumi tidak cerita apa yang membuat hubungannya dan Geva tidak baik.
Seseorang yang di cari Gevania akhirnya keluar dari ruang meeting di lantai dasar yang tidak jauh dari lobby utama perusahaan.
Geva tersenyum, dia mau tahu bagaimana reaksi Bhumi melihat kedatangannya karena Bhumi tadi sudah berusaha menghindarinya. Apalagi saat ini di depan Renata.
Cukup beresiko memang karena Bhumi susah ditebak.
"Bodoh amat! aku mau temui kak Bhumi!" Ucap Geva berjalan ke arah Bhumi yang belum menyadari kehadiran Geva karena masih sibuk ngobrol dengan seseorang yang keluar dari ruangan Meeting bersamanya.
"Berhenti!" Teriak Renata menarik perhatian seluruh orang termasuk Bhumi. Renata belum menyadari kehadiran Bhumi karena terhalang oleh sebuah pilar yang berdiri dengan kokoh di lobby tersebut.
Geva pun menghentikan langkahnya dan mengernyit. Bhumi cukup kaget melihat wanita cantik berdiri ditengah-tengah lobby dengan pakaian yang cukup sexy karena memperlihatkan kaki jenjangnya juga cetakan dadanya yang padat karena kemejanya yang tidak di kancingkan.
"Ini adalah kantor nona Gevania... bukan sekolah menengah atas, jadi buat apa anak SMA datang kesini? Tuan Bhumi sedang bekerja, harusnya anda cukup sadar diri dan tahu diri karena anda tidak memiliki apa-apa selain tubuh anda itu. Sampai kapan pun Tuan Bhumi tidak akan pernah cocok dengan gadis SMA. Dan asal anda tahu, tidak akan ada yang pernah menggantikan posisi Flower di hati tuan Bhumi Bramantya, termasuk itu anda." Kata Renata dengan tajam.
Semua yang ada disana pun cukup terkejut dengan apa yang Renata katakan dan mereka tidak ada yang berani ikut campur sebab posisi Renata di Bramantya Corp cukup tinggi sedangkan Gevania adalah wanita yang dikabarkan dekat dengan Bhumi Bramantya.
Deg.
"Iya gue anak SMA.. gue masih kecil.. emang gue gak pantas buat kak Bhumi. Kenapa selama ini gue gak sadar diri. Apa yang bisa dibanggakan dari diri gue. Kak Bhumi aja hanya diam tidak membela gue.." Gumam Geva dalam hati dengan mata berkaca-kaca.
Bhumi yang mendengar itupun merasa tidak terima, dia menunggu reaksi Geva sang gadis bar-bar. Dia ingin lihat perlawanan apa yang akan Geva berikan pada Renata.
__ADS_1
Sepersekian detik, masih saja diam bahkan Bhumi melihat dengan jelas mata Geva berkaca-kaca.
Bhumi melangkah kan kakinya dengan lebar menuju arah Geva. Ingin rasanya saat ini Bhumi menampar dan mendepak keluar Renata dari perusahaan. Tapi tidak semudah itu Renata lepas Ferguson, Bhumi ingin melihat Renata hancur karena perasaannya sendiri.
BUGH...
"Sayang.. kenapa kamu datang tidak bilang-bilang?" Tanya Bhumi menangkup pipi Geva dan menatap mata Geva yang berkaca-kaca setelah melepas pelukannya.
"A.. aku.."
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Bhumi bersikap manis.
Deg!
Renata cukup terkejut dengan sikap Bhumi yang sejam lalu bilang pada Satria bahwa hubungannya dengan Geva tidak baik-baik saja. Lalu apa ini?
Dan sejak kapan Bhumi datang? apa Bhumi mendengar semuanya?
"Heii kamu kenapa?" Tanya Bhumi lagi. Melihat mata Geva yang seperti ini sungguh membuat perasaan Bhumi tidak karuan. Sakit itu yang Bhumi rasakan saat ini.
"A.. aku mau pulang kak.. a.. aku gak pantas buat kakak, aku hanya anak SMA." Kata Geva menunduk kan kepalanya.
Tidak pernah Bhumi melihat Geva se-insecure ini karena dihadapan Bhumi Geva selalu terlihat percaya diri dan ceria tanpa beban.
"Heii apa yang kamu katakan?" Tanya Bhumi.
"Tidak ada orang yang boleh merendahkan kamu ataupun menghina kamu. Seeing your smile is happiness for me. Meanwhile, having you is the most beautiful gift in my life". Kata Bhumi dengan lembut mencium kening Geva.
Semua yang ada disana terkejut mendengar ucapan Bhumi didepan umum. Lelaki datar dan dingin layaknya besi berkarat itu mendadak romantis? Geva pun mengedip-ngedipkan matanya mencari fakta ini nyata atau dia hanya sekedar halu?
"Kakak... aku meleleh.." ucap Geva yang kembali pada mode gasreknya hingga merusak suasana romantis yang sudah Bhumi bangun dengan susah payah.
Bhumi menghela nafasnya, tanpa bicara lagi, digandengnya tangan Geva untuk menuju lift sebelum menuju lantai ruangannya. Namun Bhumi menghentikan langkahnya di depan sekertaris sekaligus sahabat tak berakhlak nya itu.
"Nona Renata, kali ini saya memaafkan anda karena sudah menghina dan mencoba mempermalukan wanita yang berarti di hidup saya. Namun jika sekali lagi anda melakukan ini, jangan harap anda bisa hidup dengan tenang." Ucap Bhumi penuh penekanan dan meninggalkan Renata yang mematung dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa sesakit ini melihat mu dengan wanita lain Bhumi.. kenapa?" Batin Renata.
BERSAMBUNG....
LALU APA YANG AKAN TERJADI ANTARA BHUMI DAN GEVA JIKA MEREKA SEDANG BERDUA?
LANJUT MANIS-MANISNYA?
ATAU....
KEMBALI MENJUNJUNG TINGGI EGO MASING-MASING?
LIKE DULU...
__ADS_1
NUNGGU LIKE NYA 1000 LAMA BANGET DAH...