
Pagi menjelang, Bhumi masih sangat ngantuk. Semalam memang Bhumi terlelap, tapi itu tidak lama sebab Bhumi terbangun karena mimpi saat masa kecilnya kembali hadir.
Bhumi sebelumnya pernah bermimpi yang sama yaitu dimalam pertama dia menikahi Gevania.
Mimpi itu tidak begitu jelas, sehingga Bhumi menganggap itu adalah bunga tidur, tapi saat Geva sakit kemarin dan Deon memberikan foto dirinya dan Geva saat kecil, Bhumi mengingat kembali gadis kecil di foto tersebut sama dengan gadis kecil yang datang ke mimpinya. Iya dia adalah Gevania.
Mencoba dan terus mencoba mengingat mimpinya tersebut, Bhumi seperti sedang menyusun kepingan-kepingan puzzle hingga hatinya berkeyakinan untuk memiliki Geva seutuhnya. Dan semalam itu kembali hadir dengan sangat jelas,
Gadis kecil yang jika dengan Keenan, Kaisar, Bhima dan Bianca itu selalu terlihat acuh. Namun dengan Bhumi yang banyak diam, gadis kecil itu selalu mengganggu Bhumi, merecoki apapun yang Bhumi lakukan. Gadis kecil yang pantang menyerah sebelum Bhumi melakukan apa yang dia mau.
Awalnya Bhumi yang kesal karena terus diganggu itu selalu memencet hidung si gadis kecil menyebalkan hingga gadis kecil tersebut nangis. Namun lama-lama Bhumi tidak tega, akhirnya Bhumi mengalah karena selain centil gadis itu juga sangat bawel bahkan super bawel. Dan jika sudah menangis, akan menggegerkan seluruh penghuni kediaman Bramantya sebab susah diamnya kecuali diizinkan bermalam di kamar Bhumi.
"Kakak.. kakak harus janji sama aku.. kakak harus jadi kaya raya terus menikahi aku!" Kata seorang Gadis kecil.
"Emang kenapa kalau aku gak kaya? Kamu gak mau aku nikahi?" Tanya Bhumi.
"Ya gak apa-apa sih, nikah sama kakak aja aku udah bahagia.. apalagi kakak kaya, bahagia bertambah tambah loh.. kakak bisa beliin aku apapun yang aku suka." Ucap Gadis kecil itu dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.
"Baca aja belum bisa kok mikirin nikah terus sih!" Gerutu Bhumi yang gemas dengan adik perempuan sahabatnya, Bhumi langsung memberikan ciuman bertubi-tubi ke pipi anak perempuan tersebut sambil menggelitiki perutnya.
"Kakak...!!" Pekik gadis kecil itu yang justru tertawa terbahak-bahak.
"nanti kalau kakak nikah sama aku, kakak mau panggil aku apa?" Si centil itupun terus berisik sebelum pertanyaannya dijawab oleh Bhumi.
"Gadis menyebalkan!" Jawab Bhumi malas sambil membaca buku pelajarannya.
"Nama aku Gevania kak.. Gevania bukan Menyebalkan... Kakak kok gitu.." Ucap gadis kecil itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Bhumi yang baru beranjak remaja hanya bisa menghela nafasnya dia harus mengalah lagi dari pada gadis kecil nan menyebalkan ini nangis dan menggegerkan orang seisi rumah seperti yang sudah-sudah.
"Kakak bercanda Ge.... kakak akan panggil kamu bee ya?"
"Kenapa Bee..? " Tanya si gadis kecil dengan mata yang berkedip-kedip.
"Karena kakak sayang sama kamu dan kakak akan bahagiakan kamu Ge." Ucap Bhumi.
"Kakak janji?"
"Janji! Sekarang kamu keluar dulu, kakak mau belajar." Kata Bhumi.
"Baiklah.. aku akan keluar tapi setelah kakak berjanji setelah ini kita main nikah-nikahan.. jadi aku mau di make up dulu sama kak Caca." Ucap Geva.
"Iya." Bhumi tersenyum sambil menggeleng gelengan kepalanya. Hanya gadis kecil itu yang mampu membuat Bhumi bertekuk lutut.
Pagi ini Bhumi mengumpulkan semangatnya di depan cermin sambil mengenakan dasinya.
__ADS_1
Membayangkan kembali mimpinya semalam.
"Aku janji aku akan membahagiakan kamu Ge.. dan baru kali ini aku gak bisa tidur hanya kepikiran kamu yang dideketin Fabian dan Theo di sekolah." Bhumi menertawakan dirinya sendiri.
Mimpi singkatnya semalam ternyata membawa efek yang besar untuk pagi harinya ini. Sebab setelah mimpi itu Bhumi berpikir keras semalaman, dan memang benar apa kata Mama Rachel bahwa dia lah yang harus banyak mengalah dengan Geva mengingat usia Geva yang masih remaja yang labil juga kekecewaan Geva pada janji-janji Bhumi yang hanya menguap saja.
Padahal dulu dia saat berjauhan dengan Flower dan bertengkar dengan Flower aja masih bisa cuek karena Flower sudah terbukti cinta sama Bhumi dan mengalah sama Bhumi. Sedangkan sekarang? terang-terangan Geva bilang masih cinta dengan Theo dan gak mau mengalah dengannya.
Bhumi harus menurunkan egonya, jika tidak maka dia akan kehilangan Geva, Bhumi segera bergegas ke unit apartemen Bianca, Bhumi yakin pasti Geva belum bangun.
Ceklek.
Bhumi sudah membuka pintu apartemen Bianca yang Geva tempati, semua masih sepi dan lampu tengah masih menyala. Sepertinya penghuninya masih terlelap.
Bhumi melirik jam dinding dan ternyata belum ada jam 6 pagi.
Bhumi langsung menuju kamar, untunglah kamarnya tidak terkunci dan Geva masih terlelap dengan damainya. Bhumi duduk sisi ranjang menatap lekat wajah cantik yang polos tanpa make up namun masih terlihat sangat cantik. Kulit putih dan bersih tanpa jerawat, bibir tipis dan berwarna merah muda serta hidung mancung seperti hidung mama Rachel yang merupakan blesteran indo-jerman.
Bhumi menyingkirkan anak rambut Geva yang berantakan hingga menutupi sebagian wajahnya,
"Bee.. bangun.." Ucap Bhumi lembut mengecup kening Geva.
"Bee..." Panggil Bhumi lagi menggoyang-goyangkan tubuh Geva. Geva menggeliat hingga membuat selimut yang dia kenakan merosot ke bawah.
"Bee.. bangun.. udah pagi.. nanti kamu telat ke sekolahnya." Kata Bhumi lagi.
"Bentar ih!" Ucap Geva belum sadar sepenuhnya.
"Bangun atau kita buat adik bayi untuk jadi teman main anaknya Bhima?" Tanya Bhumi yang langsung membuat Geva melek. Geva cukup terkejut akan kehadiran Bhumi. Namun dia mencoba menetralkan dirinya dan bersikap dingin.
" Ngapain kakak pagi-pagi kesini?" Tanya Bhumi ketus.
"Bangunin kamu dan mau antar kamu ke sekolah." Ucap Bhumi menampilkan senyumnya.
"Astaga kak.. senyum kamu itu loh.. gimana dedek gak meleleh coba.. tapi no! harus jual mahal dulu! harus!" Batin Geva.
"Bee.." Panggil Bhumi.
Deg.
Geva menatap Bhumi tidak percaya."Panggilan itu? apa dia mengingatnya?" Batin Geva.
"Bee? maksudnya?" Tanya Geva meminta penjelasan dengan Bhumi.
__ADS_1
" Panggilan kesayangan ku buat kamu Bee.. baguskan?" Tanya Bhumi.
"Kakak dapat panggilan allay itu dari mana sih? aku gak suka dipanggil begitu! allay banget deh!" Ucap Geva memalingkan wajahnya karena ditatap Bhumi seperti itu jantung Geva berdegup kencang. Dan dia tidak mau pertahanannya runtuh karena sikap Bhumi pagi ini. Tidak.. tidak boleh dibiarkan.. Bhumi harus membuktikan dulu jika dia memang bersungguh-sungguh ingin melupakan Flower.
"Bee.. kenapa bengong?" Tanya Bhumi.
"Kak please deh kak. jangan panggil aku gitu.. geli tau. allay banget sih! gelaaay!" Ucap Geva asal.
"Kamu gak suka ya?" Tanya Bhumi sedikit kecewa ternyata Geva tidak mengingat panggilan itu.
"Udah ah. aku mau mandi.. dan aku mau pergi sekolah sendiri! aku gak mau kakak antar." Ucap Geva langsung berlari menuju kamar mandi.
Bhumi menghela nafasnya, ternyata tidak mudah meluluhkan hati Geva. Maklum lah Geva sudah terlanjur kecewa. Apa yang Bhumi lakukan memang benar-benar keterlaluan.
"Aku akan membuat kamu tetap disamping ku Gevania.. " Gumam Bhumi beranjak.
Di dalam kamar mandi, Geva menetralkan detak jantungnya yang tidak beraturan. Berdekatan dengan Bhumi yang sudah terlihat sangat tampan dan wangi pagi hari seperti nya tidak baik untuk kinerja jantungnya.
"Apa kamu sudah mengingat aku kak? pengantin kamu di waktu kecil? Terima kasih Tuhan..." Gumam Geva tersenyum menatap cermin.
Dan Bhumi yang ditinggal Geva ke kamar mandi tadi hanya bisa menepis rasa kecewanya, ini belum sebanding dengan bagaimana dia menyakiti Geva.
Turunkan ego..
Turunkan ego..
Turunkan ego..
Hanya itu satu-satunya cara untuk merebut hati Gevania. Karena semakin dikerasin maka Geva juga akan semakin keras kepala.
Sambil berpikir bagaimana caranya Geva mau dia antar ke sekolah, Bhumi membuatkan Geva sandwich tentunya tanpa keju dengan saus berbentuk love diatasnya.
"Semoga kamu suka Ge.." Batin Bhumi menatap sandwich tersebut.
BERSAMBUNG...
TERIMA KASIH DUKUNGANNYA...
TERIMA KASIH DOANYA...
TERIMA KASIH LIKENYA..
FANS BHIMA DAN FLO SABAR DULU YA... BARU ON PROSES 🥰
__ADS_1