Menikahi Gadis Menyebalkan!

Menikahi Gadis Menyebalkan!
Geva Pergi~


__ADS_3

Pagi menjelang... dan Bhumi baru saja terlelap setelah menggempur tubuh sang istri tanpa jeda hingga matahari hendak terbit. Bhumi seperti orang kerasukan setan semalaman karen pengaruh alkohol, dia melampiaskan segala emosi hatinya pada Geva.


Geva hanya bisa menangis pasrah karena untuk menolak saja Geva tidak memiliki kekuatan. Kalimat bahwa dia hanyalah alat pemuas nafsu Bhumi kini benar-benar terbukti dan membuat dada Geva kian sesak. Apalagi ungkapan cinta Bhumi pada Flower terus terngiang-ngiang ditelinganya.


Geva menatap wajah Bhumi yang terlelap begitu damai.. Geva bergumam, apakah bisa seorang Bhumi Bramantya bersikap sangat lembut pada istrinya seperti yang Bhima Bramantya lakukan pada Flower? entahlah..


Bhumi tidak boleh memperlakukannya seperti ini terus, dia harus tegas karena Apa yang Bhumi lakukan semalam udah termasuk menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang istri.


Dengan susah payah, Geva beranjak dari tempat tidurnya dan mencari ponselnya. Dia meminta Naomi untuk membawakan baju untuknya karena dia tidak memiliki baju. Dan Geva ingin mencari ketenangan.


Perasaan Naomi tidak enak, karena suara Geva yang menahan tangis. Dengan cepat Naomi segera siap-siap untuk ke apartemen Geva.


Naomi emang tipe sahabat yang peka...


Geva ingin pergi dari Bhumi seharian ini urusan ulang tahun Bhumi nanti malam gampang lah di pikirkan nanti setelah otak Geva dingin. Geva juga gak mau orang tuanya mengetahui masalah rumah tangganya. Cukup dia dan Bhumi yang tahu dan mungkin Naomi sebagai sahabat satu-satunya yang paling setia.


Bodoh amat dengan Bhumi yang nanti akan mencarinya, Geva sudah tidak peduli, dia tidak mau jadi istri yang ditindas. Karena dalam rumah tangga itu harus berjalan beriringan saling melengkapi dan mensupport, bukan tindas menindas.


Di dalam kamar mandi, Geva menangis sejadi-jadinya, dia tidak menyangka Bhumi akan memaksa nya seperti semalam. Persetan dengan alasan pengaruh alkohol, alkohol tidak bisa dijadikan alasan karena Bhumi sengaja meminumnya. Geva sangat benci alkohol! sangat benci. Dia sangat benci dengan sikap Bhumi.


Arghhh! rasanya Geva ingin berteriak sekeras-kerasnya. Namun Geva tidak boleh terpuruk, dia harus bangkit apalagi sebentar lagi Naomi akan datang dan Geva harus berpikir gimana caranya supaya dia tidak hamil.


Benteng kokoh yang Geva bangun untuk Bhumi saat ini justru semakin kokoh. Geva sangat jijik dengan sikap Bhumi yang selalu menang sendiri tanpa mempedulikan perasaan nya.


Geva sedikit berjalan kesusahan keluar dari kamar mandi, kini lagi-lagi dia hanya mengenakan handuk yang semalam di otak oleh Bhumi. Beruntung lah Bhumi masih terlelap dan entah dimana Bhumi menyembunyikan kunci walk in closet. Geva sudah tidak mau tahu lagi.


Ting Tong..


Suara bel pintu apartemen berbunyi. Geva mengintip siapa yang datang dan ternyata Naomi. Geva merasa sangat lega ternyata Naomi segera datang dengan mengenakan seragam sekolah dan paper bag yang sudah pasti baju untuk Geva.


Ceklek.


"Masuk nom.. gue gak pake baju." Ucap Geva dibalik pintu.


Naomi segera masuk,


"Astaga Geppp..." Pekik Naomi melihat banyak sekali Kissmark di leher hingga punggung Geva bahkan sampai paha-paha Geva yang terekspose. Naomi geleng-geleng sahabat cantiknya apa sudah menjelma sebagai macan tutul?


"Jangan kenceng-kenceng Nom.. please.. bantu gue ya.. gue harus segera pergi dari sini." Mata Geva berkaca-kaca memandang sahabatnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi Gep.. kenapa elu gak punya baju? kenapa penampilan elu seperti ini?" Tanya Naomi.


Geva hanya menggeleng dengan air mata yang sudah mengalir,


Bugh..


Naomi memeluk sahabatnya, dan air mata Geva meluncur semakin deras tanpa suara. Naomi tidak butuh cerita Geva saat ini, karena dia tahu saat ini Geva hanya membutuhkan pelukan dan tempat sandaran.


"Pause dulu nangisnya.. nanti aja oke.. "

__ADS_1


"Emang nangis bisa di pause?" Geva mengerucutkan bibirnya sambil menghapus air matanya.


"Bisa noh.. udah Cepat ganti baju Ge.. gue akan nemenin elu bolos." Ucap Naomi.


"Beneran? Kok elu bawain gue seragam sekolah?" Tanya Geva membuka paper bag yang Naomi bawakan.


"Jangan banyak tanya.. udah cepet pakai karena gue tahu elu mau kabur dari suami elu.. jadi biar dia nyariin elu di sekolah." Ucap Naomi. Geva tersenyum dan mengangguk, lalu menuju toilet yang tidak jauh dari ruang tamu apartemen tersebut.


"Baru kali ini gue lihat elu seberantakan ini Gev... Melihat elu seperti ini hingga jalan kesusahan dan mata elu sembab banget.. belum lagi elu yang berubah jadi macan tutul membuat gue takut nikah.. gue gak mau nikah ah.. eh kecuali sama kak Deon.." Gumam Naomi bergidik ngeri.


Tak lama, Geva sudah keluar dari toilet yang berada di lantai bawah, Geva naik ke lantai atas untuk mengambil ponsel dan tasnya. Geva sudah menonaktifkan ponselnya setelah mengirim pesan pada seseorang. Ditatapnya Bhumi sejenak.


"Jika kemarin aku yang gencar mendekati kamu, mulai sekarang aku yang akan membuat jarak diantara kita.. jarak yang sangat jauh dan mungkin tidak akan pernah kamu jangkau lagi." Gumam Geva segera turun.


"Ge.. kenapa jalan elu seperti itu?" Tanya Naomi pada sahabatnya yang menuruni tangga.


"Habis making love!" Jawab Geva santai membuat Naomi melotot.


"Udah ayo. " Ajak Geva.


"Enak gak?" Tanya Polos Naomi.


"Enak sih.. tapi sakit banget." Jawab Geva.


"Jadi enak apa sakit?" Naomi kepo.


"Sakit-sakit enak.. enak-enak sakit." Jawab Geva asal.


"Eh gep... mana kunci motor elu.. biar gue yang boncengin." Kata Naomi.


"Kita naik taksi online aja. mana ponsel elu.. gue mau pesen." Jawab Geva. Naomi hanya menuruti permintaan sahabatnya. Nanti jika hati Geva sudah tenang, pasti Geva akan cerita.


Sepanjang perjalan, Geva dan Naomi hanya diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Hingga mobil taksi online yang mereka tumpangi berhenti disalah satu hotel bintang lima yang merupakan hotel keluarga Bramantya tempat diadakan acara makan malam keluarga.


"Kenapa ke hotel?" Tanya Naomi.


"Gue cuma pengen tidur. Elu mau ikut gue bolos apa elu ke sekolah?" Tanya Geva.


"Ikut elu lah.. suntuk gue gak ada elu.. apalagi pak Fabian sama Theo nyariin elu terus. lagian kapan lagi gue bisa menikmati empuknya kasur di hotel bintang lima." Kata Naomi enteng. Geva pun tersenyum lalu membayar ongkos taksi yang nominalnya sudah tertera di aplikasi.


Mereka pun keluar dari mobil dan menuju lobby hotel, sebelumnya Geva sudah memakai masker dan Geva meminta Naomi lah yang reservasi hotel. Sehingga memesan kamar atas nama Naomi.


🍁


Naomi terus menatap sahabatnya yang lebih dari 15 menit itu diam termenung menatap kaca yang menyuguhkan pemandangan ibu kota. Mereka kini berada dilantai 20 kamar hotel yang mewah salah satu aset keluarga Bramantya. Geva hanya diam membuat Naomi tidak tahan untuk tidak membuka suara.


"Sebenarnya ada apa Gep? Apa yang terjadi sama elu?" Tanya Naomi pelan.

__ADS_1


"Bagaimana perasaan elu jika elu hanya dijadikan pemuas nafsu oleh suami elu doang?" Tanya Geva tanpa mengalihkan pandangan nya.


"Emang making love itu rasanya enak ya Gep... gue penasaran.. duh gimana ya rasanya making love sama kak Deon.." Gumam Naomi yang malah senyam senyum membayangkan wajah Deon.


Geva menghela nafasnya kasar, sahabatnya satu ini memang otaknya jika diukur dengan satu sendok nyam-nyam aja tidak penuh. Otak Naomi kapasitasnya hanya dikit. (nyam-nyam makanan masa kecil author hehe)


Akibat otak yang hanya satu sendok nyam-nyam itulah membuat Naomi gampang oleng, sehingga bukan malah simpati dengan sahabatnya tapi fokusnya pada making love dan parahnya justru nyangkut pada sosok Deon, lelaki matang yang mempesona di mata Naomi.


"Udah ah gue mau tidur." Kata Geva malas.


"Loh Gep! elu belum cerita!" Ucap Naomi kesal.


"Apa? elu mau making love sama kakak gue! entar gue bilangin tapi paling nasib elu juga gak jauh beda sama gue yang dijadiin pelampiasan nafsu doang sebab kakak gue sama bodohnya dengan Bhumi karena kakak gue cintanya sama Renata." Kata Geva asal membuat Naomi termenung.


"kak Bhumi hanya jadikan elu pemuas nafsu? gimana bisa elu ambil kesimpulan itu? Eli kan cantik Gep.. gue yakin dia pasti jatuh cinta sama elu." Tanya Naomi mulai connect dengan masalah sahabatnya.


Akhirnya Geva menceritakan semua masalah rumah tangganya pada Naomi. Naomi sangat terkejut, gadis secantik Geva bisa-bisanya disakitin. Apalagi dia?


Katanya, bercerita itu dapat mengurangi beban dihati, dan inilah yang Geva rasakan setelah cerita pada Naomi.


🍁


Waktu sudah mulai siang,


Bhumi mulai menggeliat karena perutnya terasa sangat lapar, apalagi sinar matahari sudah mulai mengusik indera penglihatannya yang masih ingin terpejam.


"Ehmmm.." Bhumi menggeliat. Tangannya meraba-raba mencari sosok Geva yang semalam membuatnya berkali-kali melayang menuju nirwana.


"Ge... Geva..." Panggil Bhumi.


Tidak mendapatkan jawaban,


"Gevania.." Panggil Bhumi lagi dan masih sama, tidak mendapat kan jawaban. Bhumi memaksa matanya untuk terbuka.


Benar, kamarnya kosong. Tidak ada sosok Gevania disana. Oh mungkin Geva sedang mandi. Begitulah pikir Bhumi.


Bhumi duduk di ranjang, kepalanya terasa sangat berat. Tiba-tiba dia teringat bahwa semalam dia meminum alkohol cukup banyak dan


Astaga...


Dia teringat semalam memaksa Geva untuk memuaskan nafsunya hingga berkali-kali. Ingatan Bhumi juga mulai kembali saat Geva menangis pilu di bawahnya.


Kesalahan yang sangat fatal. Bhumi mengenakan handuknya.. sisa-sisa cairan semalam yang sampe meluber itupun masih berantakan di atas seprai.


Bhumi tidak peduli, dia harus segera mencari Geva dan meminta maaf pada Gevania. Bhumi mengitari apartemen nya dan jawabannya nihil Geva tidak ada. Bhumi mendesah frustasi, mungkin dia harus menyegarkan diri dulu dengan mandi supaya otaknya jernih.


"Kamu dimana sih Ge.." decak Bhumi.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


nahlo neng Gepa bener-bener ngambek... 🤭


__ADS_2