Menikahi Gadis Menyebalkan!

Menikahi Gadis Menyebalkan!
Tongkat Baseball~


__ADS_3

"Jawab jujur! kakak pernah melakukan apa saja dengan mantan kakak?" Tanya Geva.


"Jujur kena, bohong dosa." Batin Bhumi.


"Kenapa semalam kamu bisa sama Theo?" Bhumi menatap tajam Geva demi mengalihkan fokus Geva supaya tidak membahas mantan.


"Kakak kok jadi mengalihkan pembicaraan sih!" Decak Geva.


"Jawab pertanyaan ku Gevania!" Tegas Bhumi, jangan sampai juga Geva terus mendesaknya. Dia harus berpikir keras supaya keluar dari situasi ini.


Bhumi sudah berjanji pada dirinya sendiri akan bercerita pada Geva tentang siapa mantannya, tapi setelah Bhumi berhasil melepaskan seluruh perasannya pada sang mantan. Bhumi tidak ingin saat cerita nanti justru malah menyakiti Geva jika Geva merasakan Bhumi masih menyimpan perasaan untuk mantan.


"Jawab dulu pertanyaan ku! pasti kakak udah making love kan sama mantan kakak?" Tanya Geva tajam.


"Aku gak pernah making love Gevania..."


"Terus.." Geva menelisik sorot mata sang suami demi mencari kebenaran.


"Dan aku ingin making love saat ini juga." Bisik Bhumi. Dengan cepat Bhumi menarik tengkuk Geva lalu menyatukan bibir mereka. Geva yang tidak siap dengan serangan mendadak itu hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya.


Geva sangat suka ciuman Bhumi.. sangat-sangat suka, apalagi Bhumi adalah lelaki pertama dan satu-satunya yang menciumnya. Meskipun efeknya tidak baik untuk jantungnya, pasalnya jantung Geva saat ini berdegup dengan sangat cepat hingga membuatnya sesak nafas.


Bhumi memejamkan matanya menikmati betapa sesuatu yang selalu mampu membuatnya melayang. Apalagi kini Geva sudah belajar membalas apa yang Bhumi lakukan yah meskipun Geva masih terbilang cukup kaku untuk seorang Bhumi.


Maklum Bhumi dulu mainnya sama Flower udah beda~


Bhumi mengabsen apa saja yang ada di dalam milik Geva tanpa ada satupun yang terlewati. Katanya sih namanya bertukar air liur~


Mendapat perlakuan yang sedemikian itu membuat tubuh Geva memanas dan secara alami, Geva mengalungkan tangannya ke leher kokoh sang suami lalu merapatkan tubuhnya pada tubuh Bhumi hingga tidak menyisakan jarak diantara mereka.


Bongkahan pepaya yang padat itu menempel di dada yang kokoh dan hanya berjarak baju yang mereka berdua kenakan. Bhumi benar-benar membayangkan pepaya Bangkok yang luar biasa itu. Pasti rasanya selain manis juga kenyal.


Bhumi tersenyum puas setelah apa yang terjadi diantara mereka tersebut. Geva memang gadis yang cerdas jika disuruh mempraktekkan sesuatu tapi tidak dengan pelajaran. Jangan harap ya~


Dengan nafas yang saling berseteru, Mata mereka saling menatap dan mengunci satu sama lain. Keduanya sudah diliputi oleh gairah.


"Jika kamu tidak bisa memanjakan suami kamu dengan makanan di meja makan, kamu bisa memanjakan suami kamu diatas meja makan dengan cara yang berbeda." Bisik Bhumi.


"Mak..maksud kakak?"


"Kita membuat adik kecil yang lucu dan menggemaskan di atas meja makan." Jawab Bhumi sambil menaik-naikkan alisnya.


"Nggak! disini ada CCTV.. aku kan malu." Tolak Geva.


"Berarti kita ke kamar sekarang ya." Ajak Bhumi.


"Kak.." Geva menahan lengan Bhumi.

__ADS_1


"HM?" Bhumi menaikkan sebelah alisnya. Penasaran dengan apa yang akan Geva katakan. Apakah Geva akan menolaknya?


"Kakak yakin mau melakukannya denganku ?." Tanya Geva ragu sambil meremas lengan Bhumi. Geva berusaha meliputi kegugupannya.


"Maksud kamu?" Bhumi mengernyitkan keningnya.


"Aku siap melakukan kewajiban aku sebagai istri kakak meskipun diantara kita belum ada cinta, tapi jika kakak melakukan itu padaku...


itu artinya kakak harus berjanji melupakan mantan kakak dan belajar menerima kehadiranku." Kata Geva tegas setelah tarikan nafas panjang dan sorot mata Geva terlihat tajam tanpa ada keraguan sedikitpun dengan ucapannya tersebut.


Dalam hati kecil Bhumi, dia cukup kagum dengan Alien cantik yang datang dari planet Pluto ini, meskipun masih SMA dia sangat tahu antara hak dan kewajibannya sebagai seorang istri. Dari sini Bhumi merasa bahwa dia lah yang harus belajar banyak dari Gevania. Gevania Azkia Bramantya memang gadis yang unik dan limited edition.


Ada rasa bahagia tersendiri dihati Bhumi karena dia sudah menjadi suami dari gadis dihadapannya itu.


Yah meskipun awalnya Bhumi memang sempat bingung pada Geva, mengapa Geva sangat yakin memberikan mahkotanya pada Bhumi walaupun statusnya suami istri, apa Geva tidak takut jika hubungannya tidak akan berlangsung lama dengan Bhumi?


Geva memang mengatakannya karena Kewajiban sebagai seorang istri. Padahal dibalik semua itu Geva lebih penasaran dengan bagaimana making love itu sendiri. Bagaimana dua orang berlawanan jenis yang hanya berdua di kamar bisa membuat hamil juga berani Pinak. Prosesnya yang secara detail itu gimana?


Terbukti saat pelajar Biologi Geva tidur di kelas. Ck.


Mengapa Geva berani mencoba hal itu?


Jawabnya simple, karena teman-temannya sudah banyak yang pacaran bebas hingga making love dan berakhir putus namun biasa saja. Padahal baru pacaran nah Geva udah nikah, udah sah. Jadi salahnya dimana jika mencoba hal baru yang belum pernah dia lakukan.


Kata teman-temannya sih enak dan bikin nagih meskipun awalnya sakit, Emang sakitnya gimana? kenapa bisa sakit? Kenapa bisa sampai keluar darah. Oh sebegitu polos kah dirimu neng Gepa?


Dan inilah saatnya Geva membuktikan bagaimana rasanya making love itu sendiri. Dan Geva melakukannya dengan pasangan yang sah. Bukan pacar. So, bodoh amat dengan hubungannya dengan Bhumi bagaimana nanti kedepannya. Yang penting kan gak dosa. Jalanin aja~


"Iya, Aku janji..." Ucap Bhumi tanpa ragu langsung menautkan kembali apa yang sebelumnya terputus tadi.


Berlahan tapi pasti.. tanpa aba-aba Bhumi membawa Geva pindah ke sofa hingga membuat Geva sendiri mengernyit sekaligus terkejut.


Bhumi sudah kehilangan kewarasannya saat tangannya menyentuh sesuatu yang halus dan sehalus sutra.


Planning masuk kamar hanyalah tinggal Planning.


Kan ada sofa yang ukurannya cukup besar di depan TV.


Jadi muat kok untuk berdua.


"Kak.. kok gak dikamar?" Tanya Geva dengan polosnya menatap Bhumi sambil berkedip-kedip untuk menetralkan debaran jantungnya dan menepis kegugupannya.


Bhumi semakin kagum dengan Geva yang semakin menggemaskan.


"Kejauhan.." Ucap Bhumi singkat lalu menyembunyikan wajahnya di tengkuk leher sang istri membuat bulu kuduk Geva auto berdiri karena hembusan nafas Bhumi yang menerpa kulit mulusnya.


Geva hanya bisa menggigit bibir bagian bawahnya sambil memejamkan matanya merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

__ADS_1


"Jangan ditahan Ge... jangan gigit bibir kamu nanti berdarah.. keluarkan saja... " Ucap Bhumi lembut dan mengecup bibir Geva.


"Kak.."


"Kenapa ? kamu belum siap? Kalau belum siap, kita tunda saja." Tanya Bhumi yang sadar jika Geva masih lah ABG. mungkin juga masih labil. Bukan mungkin sih tapi sangat labil. Dan Bhumi tidak ingin memaksa Geva untuk melakukan hubungan suami istri sampai Geva benar-benar siap lahir dan batin.


Geva menggeleng..


"Lalu?" Bhumi mengusap lembut pipi Geva.


"Aku pengen pipis lagi kak.." Cicit Geva. Bhumi hanya terkekeh dengan sikap Geva. Karena setelah ciuman panas pasti Geva pengen pipis.


"Itu namanya kamu menyukai apa yang aku lakukan pada mu Ge... tahan dulu ya.. nanti ada waktunya dan kamu pasti ketagihan." Kata Bhumi tersenyum nakal.


"Kalau aku ngompol gimana? sofanya kotor dong " Tanya Geva.


"Kita beli sofa yang baru.."


"Tapi kan sayang kak.. ini sofa mahal loh kata mami aja belinya inden." Ucap Geva.


"Jadi kapan kita melakukannya jika kita terus berdebat dengan hal yang tidak penting Gevania.." Bhumi yang tidak sabaran mencoba mengontrol emosinya. Memang gadis bernama Gevania yang super menyebalkan ini tetaplah menyebalkan tidak bisa kalem dikit aja deh.


Geva terkekeh melihat Bhumi yang sudah kesal.


Geva mengusap rahang tegas Bhumi dengan lembut. Menatap sorot mata tajam yang membuat hatinya berdebar sekaligus gugup.


"Ayo kita lanjutkan kak." Dengan entengnya Geva berucap seperti itu.


Persiapan buka segel macam apa ini?


Bhumi merapatkan kembali tubuhnya pada tubuh sang istri. Belum juga Bhumi mendaratkan melancarkan aksinya yang terus tertunda karena obrolan unfaedah,


"Kakak.. itu apa? keras banget? gede banget?"


Pekik Geva merasakan sesuatu yang mengeras tepat di pahanya.


Mata Geva melotot dan pikirannya melayang kemana-mana, apa sebesar itu? kan gak mungkin. Orang dia lihat punyanya anak panti yang usia 5 tahunan aja tidak se besar itu.


Mood Bhumi benar-benar di uji menghadapi gadis menyebalkan sekaligus menggemaskan di depan matanya ini.


"Itu yang akan membuat kamu berteriak keenakan dan ketagihan."


"A.. apa itu....?" Belum juga Geva menyelesaikan pertanyannya, Bhumi sudah menjawab.


" ini? tongkat baseball!" Jawab Bhumi malas.


BERSAMBUNG!

__ADS_1


ah semoga gak ada yang protes karena terlalu detail yak 😂😂


aduh deg deg an banget kalau ada yang protes 🤧


__ADS_2