
Dengan hanya menggunakan bathrobes, Deon terpaksa keluar kamar hotel menuju lantai 10 dimana kamarnya dan Alex yang harusnya menjadi tempat menginap dia semalam bukan di kamar pengantin Gevania dan Bhumi.
Untung Alex masih tidur saat Deon masuk kamar, jadi tidak perlu menjawab segala pertanyaan yang diajukan oleh sahabatnya yang super kepo itu.
Sama-sama keluar kamar hotel menuju lantai 10 menggunakan bathrobes, kenapa gak dari semalam aja sih Yon? kalau dari semalam kan kejadian lucknat itu tidak akan terjadi~
Setelah berganti pakaian, Deon segera mengetuk pintu kamar Bianca yang berada disebelahnya untuk meminjam baju. Namun sayang, Bianca ternyata tidak menginap di kamar hotel semalam karena Bianca diajak pulang Keenan ke apartemennya.
Mau tidak mau, Deon keluar hotel mencari butik didekat hotel untuk membelikan baju untuk Naomi.
Kini,
Naomi sudah selesai membersihkan diri dan berganti baju dengan dress berwarna peach yang Deon berikan. Deon yang menunggu Naomi di sofa itupun tersenyum menatap wanita cantik yang baru keluar dari kamar mandi.
Deon mempertanyakan hatinya sendiri, mengapa tidak dari dulu dia membuka hatinya untuk Naomi dan berhenti berharap pada Renata? ah pasti sekarang dia sudah bucin sama Naomi yang secara fisik pun jauh lebih cantik dari Renata.
Mungkin dulu Deon menganggap Naomi hanya anak kecil karena seusia dengan adiknya sehingga tidak menggubris kata cinta Naomi. Namun setelah melihat bagaimana hubungan Bhumi dan Geva yang jarak umurnya cukup jauh, Deon sadar jika umur tidak berpengaruh pada sebuah perasaan bernama Cinta.
" Kamu cantik banget nom.." puji Deon. Wajah Naomi tersipu, merah merekah bagai bunga mawar yang memberikan keharuman hingga memenuhi kamar yang harusnya untuk pengantin baru itu.
"A.. aku udah siap kak." Kata Naomi menunduk dengan jemari meremas dress yang ia gunakan.
"Yaudah, ayo kita sarapan ke bawah. Lalu habis itu pulang ke rumah ya.. karena papa dan mama ternyata udah check out pagi-pagi tadi."
"Pu.. pulang ke rumah? Ke rumah siapa?" Tanya Naomi semakin gugup. Ketemu Mama Rachel? Naomi rasanya belum siap. Bagaimana kalau sampai Keluarga Deon tahu apa yang terjadi semalam, apakah mama Rachel dan Papa Arsa masih merestuinya menjadi menantu Wijaya karena dia yang murahan?
"Iya, kita pulang ke rumahku ketemu mama dan papa, untuk meminta restu. Selama sepekan ini aku juga akan menyelidiki apa yang Ayumi katakan, jika memang benar ayah Ayumi adalah ayah kamu juga, aku akan menemuinya dan meminta restu padanya untuk meminang kamu, menjadikan istriku."
"Tapi kak.. a.. aku takut dengan kenyataan." Lirih Naomi.
"Jangan takut, ada aku. Aku akan melindungi kamu dari orang yang berniat jahat padamu, termasuk orang tua angkat kamu bahkan orang tua kamu sendiri beserta keluarganya."
"Ta.. tapi bagaimana kalau ayah kandung aku sendiri tidak mengharapkan kehadiran aku kak?" Tanya Naomi.
"Sudah, jangan terlalu memikirkan yang belum pasti. Kita sendiri belum tahu apa yang terjadi sebenarnya di masa lalu hingga kamu bisa berada di panti. Kamu tenang saja, keluarga aku akan selalu melindungi kamu.. apalagi mama aku, sudah menganggap kamu anaknya sendiri."
"Makasih ya kak." Kata Naomi.
Deon mengangguk dan tersenyum, diraihnya jemari tangan Naomi lalu mereka berjalan beriringan keluar dari hotel.
Bohong jika Noami tidak menyesal menyerahkan kehormatannya pada Deon di waktu yang belum tepat karena belum ada ikatan secara SAH.
Namun Naomi juga tidak mau munafik, bahwa di lubuk hatinya juga dia bersyukur Deon lah yang melakukan itu, dan Deon mau bertanggung jawab. Deon lelaki yang dia cintai dan cinta pertamanya.
Toh semua sudah terlanjur, murahan memang, tapi mau bagaimana lagi...
semenjak kecil Naomi kurang kasih sayang dan perhatian apalagi tentang edukasi bagaimana menjadi wanita yang baik dan bermartabat. Berbeda dengan Geva yang dari kecil mama Rachel selalu memberikan edukasi untuknya ditambah papa Arsa yang overprotektif mengingat bagaimana masa lalunya yang memperkosa mama Rachel hingga mama Rachel hamil.
Papa Arsa gak mau anak perempuannya merasakan itu.
Bukan ibu panti tidak menyayangi Naomi, namun terlalu banyak anak panti yang harus ibu panti itu urus karena kurangnya relawan di panti asuhan tersebut disaat masa tumbuh kembang Naomi.
Asal anak di panti itu tidak kelaparan dan tidak menangis juga bisa sekolah. Sudah cukup, namanya juga tinggal di panti yang kekurangan. Terlebih lagi saat remaja Naomi diangkat seseorang menjadi anak mereka lalu dibawa ke Jerman. Disana Naomi mendapatkan banyak kekerasan fisik dan verbal. Hingga akhirnya Naomi bertemu dengan keluarga Wijaya dan berakhir kembali di panti asuhan.
Dan semenjak mengenal keluarga Wijaya itu pula, seiring berjalannya waktu panti asuhan. tempat Naomi tinggal itu berkembang cukup baik. Bahkan pendidiknya juga dididik dan dibekali ilmu yang baik.
"Kak.." Panggil Naomi kala mereka menikmati sarapan di restoran hotel yang nampak sepi karena jam sarapan sudah lewat.
"hmm. kenapa Nom? kamu kok gak nafsu gitu makannya. cuma di aduk -aduk aja. Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Deon menatap wanita cantik dihadapannya.
"Kak.. to.. tolong jangan bilang siapapun soal semalam." Kata Naomi menunduk dengan wajah memerah juga gugup.
"Kenapa?" Pertanyaan bodoh Deon pun terlontar.
"ka.. karena aku wanita murahan.." Jawabnya lirih. Deon menghela nafasnya,
"Dengar ya Nom, kamu wanita yang berharga, dan sangat berharga untuk aku.. lagian semalam yang terjadi itu murni kesalahanku yang tidak bisa mengontrol diriku. Kita melakukannya dengan cinta dan sebentar lagi, kita akan menyatukan cinta kita. Maafkan aku soal semalam. Jangan berpikir macam-macam tentang diri kamu... Ingat, hidup kamu sekarang udah tanggung jawab aku, dan semenjak semalam, apapun yang terjadi dengan kamu menjadi urusan ku. "
__ADS_1
"Makasih ya kak.." Kata Naomi lagi.
"Sama-sama sayang.." Ucap Deon sambil mengusap rambut Naomi.
🍁🍁🍁🍁
Keenan menggebrak mejanya, orang yang bertanggung jawab atas kebocoran dana yang sangat besar di perusahan Bramantya adalah hasil dari kecerobohan Papa Genta, ayah kandung Keenan sendiri.
"Bagaimana bisa sih Pa? Pala tanda tangani berkas yang tidak papa teliti satu persatu." Tanya Keenan yang emosi. Sebab pagi tadi Keenan habis bertengkar dengan Bianca eh, mendapat kabar mengejutkan dari perusahaan.
Belum menenangkan sang adik kesayangan yang menangis setelah kepulangan Alona dia juga harus pergi ke perusahaan.
"Maafkan papa Keen, Bhum..." Kata Papa Genta menghela nafasnya berat, biasanya papa Genta memeriksa satu persatu. Tapi entah mungkin kelelahan hingga menyebabkan kurang fokus, terlebih saat sekertarisnya meminta tanda tangan dalam jumlah banyak itu, kondisi papa Genta sangat pusing.
Papa Genta menjadi orang nomor dua di perusahaan setelah papi Gema. Tapi selama papi Gema tidak ada, seluruhnya menjadi wewenang papa Genta hingga nanti peresmian jabatan jatuh pada Bhumi dan Keenan.
"Aku yakin ada yang tidak beres dengan sekertaris papa." Kata Bhumi.
"Lukman, cari sekertaris Tuan Genta sekarang juga." Perintah Bhumi pada bawahan papa Genta. Sekertaris papa Genta sudah menghilang dua hari ini tepatnya sehari setelah meminta tanda tangan pada papa Genta.
"Baik tuan." Kata Lukman lalu meninggalkan ruang meeting.
"Papa kenapa ceroboh banget sih pa!" Kata Keenan dengan nada tinggi.
"Maafkan papa." Ucap Papa Genta menyesal.
"Sudah lah kak, tenang dulu.. kita cari solusinya dengan kepala dingin, Jangan emosi. Kita sudah tahu kan kalau perusahaan HiTech itu menyelundupkan kertas yang merugikan perusahaan kita dan ditandangani oleh Papa Genta." Kata Bhumi memijat pelipisnya yang pusing.
Harusnya saat ini Bhumi sudah didalam pesawat dan bermesraan dengan Geva, eh nyangkut di ruang meeting sudah 6 jam lamanya.
Romantis-romantisan sama Geva hingga sepekan tanpa ada gangguan dari luar. Ah itu hanya angan saja saat ini.
"Permisi boss." Satria masuk dengan membawa laptopnya dan wajah yang sulit diartikan.
"Ada apa sat?" Tanya Bhumi.
"CEO Angkara Jaya? maksud kamu Afka?" Tanya Bhumi shock.
"Banggsaadt! bagaimana bisa HiTech masuk perusahaan kita dan kita menerima tawaran kerjasama dengan mereka!" Umpat Keenan.
"Sepertinya ancaman Afka tidak main-main kak." Kata Bhumi menatap Keenan.
"Ancaman apa?"
"Setahun lalu, dia kalah tander dengan Bramantya saat Mega proyek di Paris. dia sudah menyuap banyak petinggi perusahaan dan pemerintahan hingga menghabiskan banyak uang, tapi nyatanya dia kalah dengan perusahaan kita. Dan dia Mengancam aku akan menghancurkan perusahaan Bramantya Corp." Kata Bhumi.
"Jadi apa yang dilakukan Afka, bukan untuk balas dendam?" Bhumi menggeleng.
"Semalam dia juga datang ke perta pernikahan ku, sepertinya dia menggunakan kelemahan ku yang pernah membunuh Om nya untuk menghancurkan perusahaan Bramantya. Tidak mungkin dia balas dendam karena kasus itu kak.. karena dia belum lahir saja om nya sudah di penjara." Kata Bhumi. Keenan diam mencerna ucapan adiknya.
"Bhum, apapun yang terjadi kamu harus kuat, kamu calon pemimpin perusahaan. Pasti kamu yang diincar. Jangan tunjukkan kelemahan kamu di hadapan musuh." Nasihat papa Genta.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk." Ucap Keenan.
Seorang OB membawa box cukup besar ke dalam ruang meeting,
"Apa itu?" Tanya Papa Genta.
"Ini ada paket tuan.. untuk tuan Bhumi Bramantya." Ucap OB tersebut.
"Ya sudah sini." Kata Bhumi. Bhumi pun menerima box yang kira-kira berukuran 30 kali 30 cm tersebut dan membukanya.
Betapa terkejutnya Bhumi ketika membuka box itu yang berisi pisau yang sudah bersimbah dengan darah dan disana terdapat foto Rendi, penjahat yang Bhumi bunuh.
Wajah Bhumi langsung memucat, memang trauma nya pada darah sudah tidak separah dulu, Namun melihat pisau yang bersimbah darah Bhumi mundur beberapa langkah.
__ADS_1
Hanya darah keperawanan Geva yang tidak membuat Bhumi shock.
"Bhum.." Papa Genta segera memegang lengan Bhumi dan membantu Bhumi duduk kembali di sofa lalu meminta OB mengambilkan minuman untuk Bhumi.
"BAJIIINGGAN!" Umpat Keenan memeriksa box tersebut.
"Kenapa Keen?" Tanya Papa Genta serius.
Keenan memberikan kartu ucapan itu pada Papa Genta,
"Kado Pernikahan untuk Bhumi Bramantya - sang pembunuh!
Sungguh tidak sabar menunggu kehancuran perusahaan Bramantya!"
^^^-Afka-^^^
Bhumi masih mematung dengan nafas yang tersengal. Wajahnya nampak pucat pasi tanpa satu kata pun yang terucap. Afka, keponakan dari Rendi, penjahat yang Bhumi tusuk tusuk untuk menyelamatkan Bianca. Ingatan Bhumi kembali, dimana dia tidak bisa menghentikan aksinya menusuk tubuh Rendi itu meskipun Rendi sudah tidak bernyawa. Lebih dari 30 tusukan yang Rendi terima. Bhumi tidak bisa mengontrol emosinya saat adiknya yang masih kecil itu hampir dilecehkan didepan matanya.
Bhumi menghela nafasnya, dia tidak boleh lemah. Kelemahannya harus menjadi kekuatan. Apalagi sudah ada Gevania yang menjadi tanggung jawabnya. Bhumi tidak mau hidup seperti beberapa tahun lalu saat traumanya kambuh gara-gara ulah Flower yang menyiramnya dengan darah. Tidak boleh.
Apalagi perusahaan sangat membutuhkannya, dan dia tidak akan membiarkan perusahaan yang dibangun kakek buyutnya itu bangkrut begitu saja karena satu tanda tangan. Apalagi Geva maunya memiliki suami yang kaya raya kan?
Bhumi mencoba mengingat kembali dan mensugestikan dirinya sendiri. Mencoba merasakan pelukan Geva semalam saat perjalanan pulang ke rumah setelah Afka menyebutnya pembunuh.
"Kaka bukan pembunuh, kakak hebat.. kakak pahlawan.. kakak hebat!"
"Aku cinta kakak, tetaplah kuat dan lindungi lah aku.. kakak tidak boleh lemah karena kakak udah menjadi suami, dan akan menjadi calon daddy.. kakak harus kuat, dan harus segera menghamili aku lagi."
Bhumi teringat ucapan Geva lalu tersenyum, hamili... bisa-bisanya gadis itu minta dihamili. Bhumi terus berusaha tenang... namun wajahnya masih pucat pasi dan keringat deras mengalir di pelipisnya.
"Pa.. tolong telfon Geva, suruh Geva kesini sama supir.. aku membutuhkan Geva.."Kata Bhumi.
"Are you oke Bhum?"
"Aku gak apa-apa pa.. tolong.. obatku hanya pelukan Geva pa." Ucap Bhumi. Papa Genta langsung meraih ponselnya dan menghubungi Geva.
"Dasar bucin.. " Cibir Keenan tersenyum. Syukurlah trauma Bhumi tidak semenyeramkan dulu.
"Tahu gitu saat lulus SMA langsung nikahin aja sama Geva ya.. jadi gak perlu terpuruk terlalu lama gara-gara Flower."
"Saat itu Geva masih SD kali boss." Sambung Satria.
🍁
Ditempat lain,
Lelaki yang semalam memberikan ucapan pernikahan pada Bhumi dan Geva sembari mendoakan sebuah keburukan pada pernikahan Bhumi dan Geva tersenyum puas.
Semalam raut wajah Bhumi sudah berubah pias ketika dia menyebut Bhumi sebagai pembunuh,
Dan, sekarang dia pastikan setelah melihat pisau berlumuran darah, maka sangat mudah untuk membuat mental Bhumi hancur berantakan seperti bertahun-tahun lalu,
Dan pengangkatan jabatan untuk Bhumi sebagai Presdir akan di tunda.
Lelaki itu tidak lain adalah Afka, Pemilik perusahaan Angkara Jaya yang merupakan pesaing perusahaan Bramantya Corp. Angkara Jaya selalu kalah tander beberapa kali jika disana ada perusahaan Bramantya Corp setelah Bramantya melebarkan sayapnya di dunia kontraktor jika sebelumnya fokus di bidang Frozen food juga Properti.
Perusahaan Angkara Jaya terus mengalami penurunan yang signifikan setiap bulannya, sedangkan Bramantya di bidang kontraktor terus menaik dengan pesat.
Akhirnya Afka yang licik menggunakan perusahaan mertuanya yang tidak lain adalah HiTech untuk menghancurkan Bramantya.
"Satu kali dayung, dua pulau terlampau, menghancurkan Bramantya Corp juga menghancurkan mental Bhumi Bramantya yang selalu menggagalkan proyekku!" Ucap Afka tersenyum jahat.
BERSAMBUNG..
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR
__ADS_1
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE