
15 menit berlalu, tidak ada tanda-tanda Geva keluar dari kamar mandi dan gemercik air masih terdengar dari tadi. Fix perasaan Bhumi tidak enak..
"Ge.. buka pintunya Ge... Gevania.. aku mohon buka pintunya." Teriak Bhumi dengan menggedor-gedor pintu kamar mandi. Untung kamar Bhumi kedap suara.
Sementara Geva di dalam kamar mandi hanya menghela nafasnya mendengar teriakan sang suami.
"Hilih.. begini aja teriak-teriak seolah khawatir, coba kalau udah ketemu mantan.. udah kan istrinya dilupain." Gumam Flower bangkit dari duduknya dan membilas tubuhnya lalu memakai bathrobes dan menatap dirinya dari pantulan cermin kamar mandi yang berukuran cukup luas.
"Elu gak boleh lembek gev.. sebuah besi akan leleh hanya dengan panasnya api.. dan gue akan menjadi api itu untuk terus membakar elu Bhumi Bramantya karena tidak ada yang bisa menginjak injak harga diri seorang Gevania, elu harus bisa membuat Bhumi mengejar-ngejar dan mengemis-ngemis cinta gue." Gumamnya terlintas sebuah ide yang mungkin ide gila.
Hati wanita mana yang tidak sakit melihat semua itu.. tapi semua ini sudah Geva prediksi sebelumnya dan dia sudah siap dengan segala kemungkinan yang ada. Hanya saja dia kecewa karena ternyata mantannya Bhumi adalah Flower salah seorang anggota keluarga Bramantya yang cukup dekat dengan dirinya.
BRAK! BRAK! BRAK!
Bhumi terus menggedor pintu kamar mandi tapi tidak ada satupun jawaban dari Geva. Hingga akhirnya Bhumi hendak mendobrak pintu tersebut dan...
Ceklek..
Geva keluar dengan menggunakan bathrobes dengan wajah datar dan dingin melewati Bhumi begitu saja namun matanya terlihat sedikit bengkak setelah menangis dibawah guyuran shower.
"Ge.."
"Iya?" Jawab Geva berusaha biasa saja. Geva menatap Bhumi dengan tatapan yang sulit untuk Bhumi artikan. Melihat Geva yang seperti itu membuat nyali Bhumi sedikit menciut.
"Aku mau ngomong berdua sama kamu Ge." Bhumi memberanikan diri mengajak Geva ngobrol meskipun penuh keraguan.
"Aku laper kak. Nanti aja ya.." Ucap Geva santai.
"Kuat Ge.. kuat.. jangan nangis lagi please.. jangan biarkan Bhumi Bramantya merendahkan harga diri elu.. buat dia bertekuk lutut dan menyesal Ge." Batin Geva menguatkan hatinya yang sejujurnya rapuh.
"Aku udah minta si mbok untuk mengantar makanan ke sini... makanlah.." Bhumi memberikan semangkok sup iga pada Geva yang masih mengepul asapnya.
"Aku mau makan diluar, bukankah kita kesini untuk makan malam bersama?" Tanya Geva.
__ADS_1
"Diluar hanya ada Papi, Mami juga kak Keen.. apa kamu yakin mau makan diluar dengan mata membengkak seperti itu?" Tanya Bhumi.
Geva terhenti, dia cukup malas jika ditanya-tanyai lagi mengapa matanya agak bengkak sehingga dia memilih duduk di sofa dan menerima sup iga yang Bhumi berikan tanpa berganti baju lebih dulu.
Memang Geva dewasa lebih dini, dia bisa cukup tenang meskipun hatinya porak-poranda. Dia tidak mendahulukan emosi dan egonya dalam menghadapi suatu masalah. Geva berusaha memaksimalkan otaknya yang hanya cerdas jika digunakan mencari ide- ide gila, tapi tidak dengan pelajaran.
Bhumi terus memandang Geva yang menikmati semangkuk sup iga. Sebenarnya Geva merasa sangat susah menelan itu makanan tapi gimana lagi, gengsi dong nangis kejer depan Bhumi. Emang siapa Bhumi? hanya lelaki yang berstatus sebagai suaminya kan tanpa memiliki perasaan padanya bukan?
"Pelan-pelan Ge.." Ucap Bhumi membuat Geva ingin tertawa mendengar perhatian Bhumi. Apa Bhumi amnesia dengan tadi yang sudah dia lakukan dan sekarang sok Sok-an perhatian.
"Ge.. maafkan aku.."
"Jangan meminta maaf.. kakak tenang aja, aku gak apa-apa kok. Lagian aku juga gak punya perasaan apa-apa sama kakak selain aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri, santai aja kali karena sepenuhnya hatiku juga masih untuk Theo..." Ucapan Geva yang begitu tenang itu justru mampu menghantam hati Bhumi dengan sangat keras.
"Tuhan.. ampuni dosaku ya yang bilang cinta pada lelaki lain didepan suamiku sendiri.. maafkan aku Tuhan.. hanya ini yang bisa aku lakukan, kalau aku pergi meninggalkan dia.. watak dia juga gak akan mengejar karena egonya terlalu besar dan dia pasti akan memilih menyibukkan diri dengan kerjaan seperti cerita mami Naya kemarin ." Batin Geva.
"Gev.."
"Udahlah kak gak ada yang perlu dibahas.."Kata Geva berdiri dari duduknya setelah meletakkan mangkuk SOP iga.
"Kalau kamu gak punya perasaan apa-apa sama aku, kenapa kamu menangis hingga mata kamu bengkak?" Tanya Bhumi menangkap pergelangan tangan Geva hingga membuat Geva terhenti. Bhumi membalikkan tubuh Geva hingga keduanya saling berhadapan dan mata mereka saling bertemu,
"Manusiawi, aku hanya kecewa sama semua orang yang menutupi identitas mantan kakak. Tapi sudahlah.. semua udah terjadi dan aku juga tahu sendirinya kan padahal jika kakak bilang dari awal siapa dia, mungkin aku tidak se kecewa sekarang, tapi kakak kan emang bukan lelaki gantle! .. dan aku gak menyangka ya kalau kak sering making out sama kak Flower, berati udah lihat semua dong lekuk tubuhnya kak Flo yang sexy itu bahkan udah menikmati area intimnya juga." Geva tersenyum sinis.
"Ge.."
"Kalau kakak mau mengejar kak Flower, kejar saja.. gak masalah.. tapi sekali kakak mengejarnya kakak akan kehilangan aku dan kakak bebas memperhatikan kak Flo tapi jangan pernah menghalangi apapun yang ingin aku lakukan, aku juga berhak menentukan apa yang ingin aku lakukan meskipun status seorang istri apalagi istri yang tidak pernah dicintai suaminya sedikitpun." Tegas Geva. Rasanya Bhumi ingin mengungkapkan perasaannya yang sudah terbiasa dengan hadirnya Geva, tapi semua percuma karena yang Geva butuhkan adalah kata cinta, dan tadi Geva sudah mendengar semuanya.
"Bukan begini Gev cara menyelesaikan masalah, apalagi tadi pagi kita udah...." Ucap Bhumi penuh harap pada Gevania.
Geva menghela nafasnya dengan kasar, lalu memotong ucapan Bhumi, " Aku udah menyerahkan kehormatan aku pada suami aku, anggap aja itu bonus buat kakak yang dulu sering making out sama kak Flo tapi gak berani making love. Dan sekarang giliran aku menikmati masa remajaku, mulai sekarang jangan pernah ikut campur urusan ku.
aku bertahan dengan kakak hanya demi orang tuaku juga Mami Naya yang sedang sakit, aku gak mau mami tambah kepikiran."
__ADS_1
"Apa maksud kamu dengan menikmati masa remajamu Gevania?" Ucap Bhumi tajam membayangkan jika nanti Geva akan melakukan hal yang dia lakukan dulu dengan Flower. Apalagi Geva terang-terangan berkata mencintai Theo.
"Ya melakukan apapun yang aku mau.. terus apalagi? toh aku juga menyerahkan kehormatan aku pada suami aku sendiri, setelah itu aku mau berhubungan dengan lelaki lain.. gak masalah kan.. dari pada kak Bhima, jadi suami tapi dapat bekas adiknya." Sindir Geva.
"Jaga ucapan kamu Gevania!" Bentak Bhumi.
"Cih! se cinta itu sama mantan ya.. jyjyk gue sama kalian berdua meskipun itu masa lalu!" Ucap Geva mendorong tubuh Bhumi lalu Geva masuk walk in closet untuk berganti pakaian.
Bhumi menjambak rambutnya dengan Frustasi, Geva bukanlah Flower yang selalu menuruti segala kemauannya. Dia akan bertindak sesuka hatinya yang dirasa itu adalah benar.
"Gue harus perbaikan semuanya sebelum terlambat.." Gumam Bhumi.
Terlambat Bhum.. udah terlambat...dan mungkin saat ini hati Gevania juga sudah beku..
Tok.. Tok.. Tok...
"Bhumm.. Bhumi.."
Mendengar namanya dipanggil sang mami, Bhumi segera bangkit dan membuka pintu kamarnya,
"Ada apa mi?" Tanya Bhumi melihat wajah Mami Naya nampak panik.
"Tolong cari Bhima Bhum.. Flo... Flo.. dia.. dia mau dibawa ke rumah sakit sama Keenan dan Papi."
"Ada apa mi?" Tanya Geva.
"Flo.. Gev.. Flo..." Mami Naya kesusahan berbicara karena shock dan Geva langsung memeluk sang mertua.
BERSAMBUNG...
NUNGGU LIKE DULU AH YA...
KALAU MAU NGASIH HADIAH JUGA BOLEH
__ADS_1
KALAU BESOK PAGI MAU KASIH VOTE JUGA MAKASIH BANYAK HEHEHE