
SEBELUMNYA TERIMA KASIH KONTRIBUSI KALIAN DENGAN MEMBERIKAN LIKE JUGA BERSEDIA MEMBERIKAN KOMENTARNYA.... ITU UDAH CUKUP MEMBAHAGIAKAN BUAT AUTHOR
SEKALI LAGI AUTHOR MENGUCAPKAN BANYAK-BANYAK TERIMA KASIH.. YUK BUDAYAKAN MINIMAL LIKE KARYA YANG SUDAH KITA BACA KARENA SUDAH BANYAK AUTHOR YANG PINDAH KE APLIKASI BERBAYAR KARENA MERASA KARYANYA DI APLIKASI GRATISAN KURANG DIHARGAI. SETIDAKNYA DUKUNGAN KALIAN MEMBUAT PARA AUTHOR DI APLIKASI GRATISAN MEMILIH BERTAHAN 😊
HAPPY READING 🍂
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
Ada perasaan lega dan bahagia yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata setelah merasakan bagaimana Gohan dimanjakan di kue apem basah milik Gevania yang di jaga dengan sangat-sangat baik.
Jika di Flashback kembali, rasanya Bhumi benar-benar dipermainkan oleh takdir. Setiap hari impiannya adalah memasukkan Gohan si tongkat baseball pada kue apem basah milik Flower yang sudah dia nikmati dengan cara berbeda. Tapi ternyata takdirnya Gohan adalah bersama Geva, gadis cantik yang sangat menyebalkan ini, bukan Flower si mantan terindah.
Bhumi mengecup kedua mata Geva yang terus meneteskan air matanya karena merasakan sakit di yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Geva terlihat sangat tegang dan gugup juga bercampur malu karena polos dihadapan seorang lelaki. Geva pikir malunya gak sampai seperti ini.
"Ge.. rilex.. nanti sakitnya hilang.." Bisik Bhumi menenangkan sang istri. Geva hanya bisa menggeleng.
"Rilex dulu, baru kita lanjutkan.."
"Nggak kak.. sakit banget.. tongkat baseball kakak kegedean!" Teriak Geva kesal.
"Aku mau udahan!" Geva mulai merajuk.
Ha? udahan? apa-apaan ini! si Gohan udah nyaman di dalam dan belum digerak-gerakan hingga merasakan Kamehame atau tembak di dalam Geva sudah meminta udahan?
"Kita lanjutkan!" Tegas Bhumi.
"Sakiit kak.. hiks.. hiks.. hikss.. sebelum keperawanan aku hilang, aku mau udahan! dan aku gak mau coba-coba lagi yang namanya making love! gak mau! temen-temenku dan guru biologi bohong! termasuk Theo juga bohong! katanya making love itu enak dan bikin nagih!" Omel Geva. Bhumi hanya mendengarkan Omelan sang istri sebagai bentuk ungkapan rasa sakitnya. Namun ketika mendengar nama Theo, dada Bhumi mendadak panas.
Bisa-bisanya Geva menyebut nama pria lain dan mengingat pria lain disaat tubuhnya masih saling menyatu dengan tubuh Bhumi.
"Udah terlambat." Ucap Bhumi singkat dengan sorot mata yang begitu tajam hingga menusuk tatapan sayu Geva.
"Maksudnya.."
"Aku udah ambil keperawanan kamu.. dan aku gak akan membiarkan kamu lolos sebelum kita merasakan apa yang dinamakan Kamehame." Ucap Bhumi yang sudah terdoktrin oleh bahasa papi Gema.
"Ka.. kapan a.. aku kehilangan keperawanan?" Tanya Geva.
ingin rasanya Bhumi menjambak rambutnya sendiri menghadapi gadis yang tengah polos dan berada dibawahnya tersebut.
"Sejak tadi kamu berteriak kesakitan dan mencengkram punggungku." Jawab Bhumi.
"Hiks.. hiks.. hiks.." Geva mendadak menangis dan Bhumi mengernyit. Ini emang gadis bener-bener absurd entah apa yang dipikirannya saat ini.. mungkin dia sudah menyesal, tapi semua sudah terlambat. Keperawanan tidak akan pernah bisa kembali.
Dari pada menanggapi keabsurdan seorang Geva, mending Bhumi langsung melanjutkan aktivitasnya. Bhumi mengecup kembali bibir Geva hingga berakhir dengan sebuah lumaatan panas dan Bhumi sudah mulai perlahan memompa tubuhnya.
Gesekan- gesekan antar kulit yang berada di pusat tubuh itu memberikan suara yang berbeda apalagi Bhumi sudah menaikkan tempo permainannya.
Geva hanya bisa memejamkan kembali matanya dan mencengkram lengan sang suami merasakan sensasi antara sakit dan nikmat yang menjadi satu.
"Keluarkan Ge.. aku ingin mendengar suara sexy kamu." Ucap Bhumi sambil mengatur nafasnya karena sudah cukup lama dia tidak olahraga atau nge-gym kini olahraga yang benar-benar langsung menguras tenaganya.
"Emmppp... ahhh.. ahh.. ahh...." Desah Geva mengikuti irama permainan Bhumi.
"Kakkkkk.... ahhh....."
"Emmpppssssss... ahhhh..."
__ADS_1
Bhumi terus bersemangat untuk mencapai puncak yang dinamakan tembak dalam seperti yang sering dibanggakan oleh Keenan dan Bhima dan dia hari ini harus merasakan sendiri nikmatnya tembak dalam biar besok-besok juga bisa sombong kan pada kedua saudaranya.
"Kakkk.. ah.. aku pengen pipis..." Kata Geva membuat Bhumi sedikit mengurangi ritme permainannya.
"Keluarkan Ge..." kata Bhumi.
Geva sudah mencapai puncaknya untuk pertama kali, ada rasa lega, tapi tidak berlangsung lama karena Bhumi kembali menaikkan ritme permainannya. Bhumi pun ingin mencapai puncak tembak dalam.
Lelaki yang baru merasakan bagaimana Gohan dimanjakan di dalam Goa super sempit bukan lagi dengan tangan ataupun mulut seperti delapan tahun lalu itupun semakin bersemangat dengan permainan barunya.
Geva kewalahan mengimbangi permainan sang suami. Rasanya Geva ingin berteriak dan meminta Bhumi menghentikan permainannya karena tubuh Geva rasanya benar-benar remuk dan pusat tubuhnya rasanya sudah tidak karuan lagi.
Lebih dari tiga puluh menit berlalu...
Geva sudah dua kali mencapai pelepasan.
"Kakak.. pengen Pi.. pis lagi...aahhhhh" Kata Geva.
"bentar lagi Ge .. kita barengan ya.." kata Bhumi
Dan benar saja,
Sebuah mayonaise itupun memenuhi kue apem yang berwarna merah muda membuat si pabrik mayonaise mengerang hebat untuk pertama kalinya dalam hidup.
Sedangkan sang pemilik kue apem sudah sangat lemas dengan tatapan sayu menyaksikan si pabrik mayonaise yang keluar dari tongkat baseball itu tumbang diatasnya.
"Makasih banyak Gevania..." Bhumi mengecup kening Geva dengan lembut dan Geva sudah memejamkan matanya. Bhumi berbaring disamping Geva dan mengeratkan pelukannya pada Geva. Untung sofa itu ukurannya cukup lebar.
"kak.. aku mau ke kamar." Lirih Geva disela-sela ke sadarannya.
"Bentar Ge.. kamu bobok dulu ya.. nanti aku pindah ke kamar." Kata Bhumi yang cukup kelelahan, terbukti dengan nafasnya yang masih tersengal-sengal.
"Sepertinya kamu harus dibuat kecapean dulu ya biar gak banyak tanya gak banyak protes dan gak banyak ngomel yang menyebalkan." Gumam Bhumi menatap wajah Geva yang sudah terlelap disampingnya.
Meskipun tidak pernah berucap dari mulutnya, seorang Bhumi memang dari awal bertemu dengan Geva itu sangat mengagumi kecantikan dan kemolekan tubuh Geva. Dan wanita berwajah cantik juga tubuh indah ini sudah jadi milik Bhumi seutuhnya.
🍁
"Ge... bangun.. udah mau sore." Bhumi menepuk-nepuk pipi Geva dengan lembut.
"Gevania Bramantya."
"Bentar maa.. mama please jangan berisik aku capek!" jawab Geva. Bhumi hanya me geleng-gelengkan kepalanya.
"Bangun atau kita making love lagi." Bisik Bhumi lalu menggigit telinga Geva dengan sensuaal. Mendengar nada yang terdengar seperti ancaman berbahaya, Geva segera memaksa matanya untuk terbuka.
"Bangun... udah mau sore.. tadi orang suruhan Papi kesini, kita diminta makan malam di kediaman Bramantya karena mami dan papi udah pulang. Mereka tidak bisa menghubungi kita, emang ponsel aku kamu sembunyikan dimana sih?" Tanya Bhumi.
Geva menatap Bhumi yang sudah beranjak dari ranjang dan membuka beberapa laci untuk mencari ponselnya.
Air mata Geva menetes lagi, dadanya sungguh terasa sesak.
"Hiks.. hiks.. hiks.." Geva menangis kejer kalau menyadari tubuhnya masih polos dan hanya berbalut selimut tapi sudah pindah ke kamar bukan lagi di sofa tadi.
Bhumi menghentikan aktivitasnya, mendengar tangis Geva membuat Bhumi sangat terkejut.
"Ge.. masih sakit ya?" Tanya Bhumi duduk dihadapan Geva yang menyembunyikan wajahnya diantara lututnya.
__ADS_1
"Kakak jahat! Hiks.. hiks.. hiks.." Tangis Geva semakin menjadi-jadi ditambah Geva melayangkan beberapa pukulan pada tubuh sang suami.
"Maafkan aku Ge.. aku melakukannya juga atas seizin kamu.. aku gak maksa kamu.. maaf ya." Kata Bhumi lirih memeluk Geva.
"Padahal impianku kan menghabiskan malam pertama dengan suami itu tempat yang indah.. di villa-villa yang memiliki pemandangan laut yang luas juga suara ombak. Tapi kenapa malah di sofa depan TV... hiks.. hiks.. kakak bener-bener ngeselin!" Ucap Geva membuat Bhumi bengong. Jadi Geva bukan mempermasalahkan making love nya tapi tempat making love.
Duh neng Gepa.
🍂
Drama tangis Geva telah usai setelah Geva memberi tahu dimana dia menyembunyikan ponselnya dengan ponsel Bhumi dan setelah itu juga telfon dari Mami Naya masuk yang meminta seluruh keluarga Bramantya berkumpul untuk makan malam.
Dan Drama selanjutnya pun dimulai kala Geva hendak ke kamar mandi tapi ternyata tidak kuat menahan rasa sakitnya hingga gak mampu berjalan. Omelan Geva terus memenuhi gendang telinga Bhumi.
Dengan terpaksa Bhumi menggendong Geva ke kamar mandi dan membantu Geva mandi. Geva yang masih malu-malu terus berteriak meminta Bhumi membelakanginya. Dan Bhumi beserta si tongkat Baseball bernama Gohan itu pun sudah menegang sejak tadi. Ingin menyerang Geva dengan jurus Kamehame lagi tapi dia tidak tega dengan Geva. Karena Gua Geva cukup membengkak akibat ulahnya.
"Kamu mau pakai baju apa?" Tanya Bhumi pada Geva yang sudah duduk di sofa kamar mereka dan hanya mengenakan bathrobes.
"Apa aja!" Jawab Geva malas karena bingung bagaimana di kediaman mertuanya jika buat jalan aja sakit banget.
"Jawab yang bener dong Ge." Kesal Bhumi.
"Apa aja ya apa aja.. terserah kakak mau ambilin apa!"
"Yaudah gak usah pakai baju aja.. kita mengulang yang tadi di sofa." Jawaban enteng keluar dari mulut Bhumi.
"Apa? nggak mau!"
"Yaudah kamu mau pakai baju apa?"
"Cariin baju yang bisa menutupi ini bekas gigitan drakula." Kesal Geva yang tadi bercermin baru menyadari ternyata bukan hanya bagian dadanya. Tapi lehernya juga dipenuhi dengan Kissmark oleh Bhumi.
"Hiks.. Hiks.. Hiks.."
"Kenapa lagi sih Gevania."
"Kak.. sakit banget.. rasanya itu cenut cenut cenut cenut kayak ditusuk-tusuk jarum." Kata Geva menirukan sebuah iklan obat maagh.
Bhumi berjongkok dihadapan Geva.
"Kita lakukan sekali lagi ya.. katanya kalau dilakukan lagi rasa sakitnya akan berkurang.* Ucap Bhumi yang disambut dengan gelengan kepala oleh Geva.
"Nggak mau.. aku takut.. ini aja sakit." Ucap Geva dengan polosnya. Semua ini terjadi karena Bhumi yang terlalu bersemangat menggenjot tubuh sang istri juga merupakan pengalaman pertamanya ditambah Geva yang bawel sehingga Bhumi bingung harus bagaimana selain mengikuti nalurinya sebagai lelaki.
Hanya pelukan yang bisa Bhumi berikan pada Geva untuk mengurangi rasa bersalahnya karena sudah membuat Geva kesusahan berjalan dan kesakitan.
'Aku harus gimana kak.. mami minta kita ke rumah.." Ucap Geva.
"Kita gak usah kesana saja. aku akan bilang kalau kamu sakit."
"Kakak gak lupa kan siapa mami kakak dan mama aku? pasti rempong banget itu dua emak-emak dan pasti dibawah kakak belum beresin sofa kan.. katanya kalau habis ngambil keperawanan ada darahnya berarti disofa.." Geva menggantungkan kalimatnya.
"Da... da... darah?" Gumam Bhumi sedikit pucat.
"Ke.. kenapa gue tadi gak takut sama darah?" Batin Bhumi diam menatap Geva.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
BUDAYAKAN LIKE...
DAN TERIMA KASIH YANG SUDAH LIKE 😍