
HAII GAESS.. HAPPY READING 🍁
Pernikahan konyol sepanjang sejarah peradaban dunia. Mempelai wanita tidak mengerti alasan dia mau dinikahkan. Mempelai pria menerima permintaan kedua orang tuanya untuk menikahi anak gadis orang karena emosi sebab sang mantan sudah menunjukkan tanda-tanda move on darinya.
Alasan klasik orang tua meminta menikah hanya karena aji mumpung didapatnya sebuah foto.
Kedua pasangan pengantin baru itu sama-sama tidak paham, hubungan yang mereka anggap tidak penting itu justru akan membawa keduanya menjalani kehidupan layaknya naik rollercoaster kedepannya nanti.
Namun semua tergantung.
Iya, semua tergantung pribadi masing-masing, baik itu Geva maupun Bhumi.
Jika memang mereka memiliki nyali yang besar maka adrenalinnya akan terpacu, dan mereka bisa menikmati perjalanan dalam gerbong rollercoaster itu.
Namun jika salah satu dari mereka tidak memiliki nyali yang kuat. Bisa juga salah satu dari mereka memilih melepaskan pegangan dan terlempar keluar dari gerbong rollercoaster tersebut.
Lebih menyedihkannya lagi, jika salah satu dari mereka tidak memiliki nyali dan tidak berani mengambil resiko untuk lompat keluar, maka dia akan duduk menahan semuanya hingga rollercoaster itu berhenti dengan sendirinya. Iya duduk dalam gerbong rollercoaster menahan semua persaan yang ada.
Pada umumnya, dua insan manusia yang akan menjalani hidup bersama, mereka akan mengobrol perihal rencana atau planning- planning masa depan.
Itu jika pasangan pada umumnya.
Namun kembali lagi, Bhumi dan Geva bukan lah pasangan pada umumnya. Mereka menikah karena spontanitas dari kedua keluarga mereka.
Sehingga wajar, setelah pertengkaran yang cukup mendebarkan antara Bhumi dan Papi Gema. Pengantin baru itu baru akan membicarakan hubungan mereka kedepannya.
Tamparan Papi Gema yang cukup keras masih terasa sangat perih di pipi Bhumi, bahkan sudut bibir Bhumi berdarah. Bhumi sadar akan hal itu, dia masih trauma dengan darah meskipun tidak se-down dulu. Namun melihat darah cukup membuat Bhumi menjadi lebih pendiam.
Geva terus menarik lengan Bhumi, Bhumi hanya pasrah. Bukankah mereka memang hendak ngobrol berdua?
Bhumi mengira, Geva akan mengajaknya ngobrol di tempat yang nyaman seperti cafe yang memiliki private room atau taman yang sepi,
Tapi semua di luar ekspektasinya seorang Bhumi Bramantya.
Geva menggiringnya ke lantai dua dan mengajaknya masuk sebuah kamar.
Kamar dengan nuansa maskulin itu sangat jauh dari kamar seorang anak gadis. Cat berwarna abu, bahkan tidak ada satupun boneka disana.
__ADS_1
Namun disana ada beberapa Foto Geva yang menggantung di dinding, jadi Bhumi bisa menebak ini adalah kamar istrinya. Ck istri...
Bhumi hanya diam menatap gadis yang tadi mengajaknya ke kamar justru kini meninggalkannya sendiri di kamar tersebut. Gadis itu menghilang dibalik pintu.
"Tangan Papi sepertinya terbuat dari Beton." Gumam Bhumi.
Mata Bhumi mengelilingi setiap sudut kamar tersebut, hingga matanya menemukan sebuah kotak tissue diatas meja rias. Bhumi segera melangkah menuju meja tersebut.
Sebuah meja rias yang tidak banyak perlengkapan make up. Mungkin karena sang pemilik kamar masih remaja dan berstatus sebagai siswi SMA.
Diambillah selembar tissue dari kotaknya, lalu digunakan untuk mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Cukup terasa perih ternyata tamparan seorang Gema Bramantya yang selama ini selalu bersikap lembut pada anak-anaknya.
Lagi-lagi mata Bhumi terpaku pada foto yang tidak berukuran besar berbingkai warna hitam polos diatas meja.
Potret seorang anak berseragam SMA yang pipinya di cium oleh anak lelaki dengan seragam yang sama pula.
Melihat foto Geva tersebut membuat senyum terukir di bibir Bhumi. Bukan karena Geva, melainkan Bhumi tengah mengingat sosok Flower dan dirinya saat masih duduk di bangku SMA.
Mereka berpacaran dengan sangat mesra bahkan melampaui batas hingga making out hampir tiap akhir pekan.
Bhumi merindukan Flower. Sangat.
Pintu kamar terbuka, Bhumi hanya melirik sekilas. Suara pintu itu membuat lamunan Bhumi buyar, Flowernya hanya angan, tidak nyata disini.
Gadis yang sering di panggil alien itu pun memasuki kamar dengan membawa baskom dan obat merah.
"Om sini.. aku obatin lukanya." Katanya santai.
"Berapa kali saya bilang, jangan panggil saya Om!" Ucap si Besi karatan dengan mode dingin.
"Gitu aja marah... jangan suka marah-marah kenapa sih.. nanti cepet tua dan seperti om om beneran." Gerutu Geva menarik Bhumi untuk duduk di ranjangnya.
"Mau apa?" Tanya Bhumi.
"Aku hanya mau obatin luka om! biar gak bengkak pipi om karena habis kena cium sama tangan om Gema."
"Tidak usah, ini bukan seberapa." Ucap Bhumi datar.
__ADS_1
"Jangan bantah ucapan istri!" Kata Geva langsung memeras waslap di dalam baskom dan mengompres ujung bibir Bhumi dengan telaten.
Bhumi memejamkan matanya, merasakan dingin waslap itu menyentuh kulitnya.
"Kamu ganteng banget sih Om.. tapi sayang, aku gak cinta! Eh ya ampun bibir kamu sexy banget sih om.. rasanya tadi seperti mimpi. Bentar banget ciumannua... duh kenapa otak aku mendadak kotor!" Batin Geva memandang wajah Bhumi dari jarak yang sangat dekat.
"Sudah!" Ucap Bhumi membuat Geva terperanjat karena membayangkan ciuman pertamanya tadi saat melihat bibir Bhumi yang sexy.
"Awwww... kamu sengaja ya!" Teriak Bhumi saat Geva menekan waslap itu dengan kasar.
"Hukuman buat om yang sudah mencuri ciuman pertama aku!" Kata Geva.
"Ciuman pertama ck? pertama dengan saya tapi tidak dengan laki-laki lain." Bhumi tersenyum sinis.
Anak jaman sekarang kalau pacaran berciuman itu dianggap hal lumrah, padahal itu juga dosa!
"Enak aja! Udah ah.. om obati sendiri aja.. aku ngantuk!" Ucap Geva langsung merebahkan tubuhnya tanpa mempedulikan Bhumi lagi.
Niat Geva mengajak ngobrol berdua sebenarnya bukan ngobrol berdua itu hanya Alibi Geva, karena Geva sendiri tidak tahu apa yang harus diobrolin. Otak Geva sepertinya belum sampai jika ngomongin hal yang serius serius.
Hanya saja Geva malas mendengar pertengkaran yang tidak ada ujungnya, mata Geva sangat ngantuk. Dia ingin segera tidur. Hanya saja, tidak mungkin dia ke kamar sendiri. Ah emang Geva bener-bener ya~
"Heh alien bangun! katanya mau ngobrol?" Tanya Bhumi.
"Nggak! siapa juga yang mau ngobrol dengan besi berkarat! aku hanya ngantuk! jangan GR om!" Ucapnya dengan wajah yang masih tertutup bantal.
"Terus kamu nyuruh saya kesini buat apa?"
"Biar aku bisa tidur... om terserah deh mau apa! Kalau mau tidur juga boleh tapi di sofa sana! awas kalau tidur di ranjang aku!" Kata Geva membuat Bhumi melotot.
untuk pertama kalinya ada gadis yang berani dengan seorang Bhumi Bramantya bahkan bersikap kurang ajar.
BERSAMBUNG...
Maaf yaaa telat update
Cita-cita author bisa rajin update 2 kali sehari namun apalah daya Author yang belum bisa merealisasikannya...
__ADS_1
Mohon maaf banyak-banyak 😭