
Ada yang kangen sama neng Gepa gak?
Selamat membaca ya.. eh tapi sebelumnya, buat yang mau masuk GC/Group Chat aku, bisa langsung gabung ya... caranya gampang banget, tinggal buka profil aku, terus gabung deh...
Kita kenalan dan ngobrol disana ya.. see you ! 💋
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Langit seketika berubah menjadi mendung. Perubahan cuaca di Planet bernama Bumi terbilang cukup ekstrim setelah panas sepanjang hari seakan mengerti dengan kehidupan Bhumi saat ini.
Bhumi, lelaki yang memiliki kepribadian kaku, datar tanpa ekspresi, dingin dan tidak peduli dengan orang lain mendadak berubah menjadi jahil dan sering tersenyum meskipun tanpa sepengetahuan orang lain. Perubahan yang cukup ekstrim untuk seorang Bhumi.
Bahkan,
Satria yang menjabat sebagai asisten pribadinya saja masih setengah tidak percaya sampai saat ini. Bhumi menghubungi dirinya, hanya untuk memesan 1000 porsi makanan untuk atas nama Geva dan memintanya mengirim ke bawah flyover daerah Rempoa. Bukan hanya itu, Bhumi juga meminta Satria menyebutkan ciri-ciri Geva seperti yang sudah dia sebutkan.
Satria jadi berpikir,
Kesurupan setan dari mana bosnya itu hingga mau melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan untuk perusahaan Bramantya.corp ?
Setelah satu jam berlalu, Bhumi kembali menghubungi Satria, dimintanya Satri untuk menyusul dirinya guna mengeksekusi nasi 1000 porsi tersebut. Bahkan Bhumi mengingatkan Satria untuk tidak membuang satu porsi pun makanan. Semua harus diberikan pada orang-orang yang membutuhkan.
Segala urusan pembayaran nasi tersebut telah usai, Bhumi langsung mengajak Geva masuk mobil tanpa memberi kesempatan Geva berpamitan pada Naomi dan anak-anak panti asuhan lainnya.
Di dalam perjalanan kedua manusia yang memiliki julukan Besi karatan dan Alien dari Planet Pluto itupun sama-sama diam. Ego keduanya masih sama-sama tinggi.
Sebenarnya Bhumi merasa aneh, beberapa kali satu mobil dengan Geva, Geva selalu bawel dan ini mendadak diam. Namun, Bhumi yang merupakan manusia irit bicara merasa bingung harus memulai dari mana.
Sedangkan Geva, yang bener- bener kesel dengan sang suami sangat malas berbicara. Lihat wajah suaminya saja ogah.
Hingga tak terasa mobil yang dikemudikan oleh Bhumi berhenti di lobby Apartemen mewah yang bertuliskan Bramantya Apartemen.
Bhumi tidak langsung turun dari mobil, karena ponselnya berdering. Dan nama Papi Gema tertera disana, jadi Bhumi langsung menerima panggilan sang Papi.
Dan Geva yang sebel dengan Bhumi langsung main turun aja dan membanting pintu mobil Bhumi.
Bhumi yang sedang menerima telfon hanya bisa menghela nafasnya, menghadapi anak ABG memang butuh ekstra sabar.
"Aduh.. ini gue kemana..? gue kan gak pernah masuk kesini. Apartemennya di lantai berapa saja aku gak tahu." Gumam Geva duduk di sofa tunggu yang ada di lobby.
"Vania..ngapain kamu disini?" .Panggil seseorang pada Geva.
"Eh.." Geva terperanjat, matanya melotot melihat siapa yang ada disana.
"Pak Fabian.." Geva langsung bangun dari duduknya dan menghampiri lelaki yang memanggilnya tadi.
"Kok bapak ada disini?" Tanya Geva.
__ADS_1
"Ya saya memang tinggal disini Van. Dan kamu kenapa ada disini?" Tanya Fabian, Guru muda dan tertampan yang baru berusia 23 tahun.
" sama kakak aku pak. Berarti bapak tajir dong.. makanya tinggal disini?" Tanya Geva polos membuat Fabian tertawa terbahak-bahak.
"Nggak juga sih Van.. kan beli apartemen disini bisa nyicil. Oh ya.. Ini diluar sekolah Vania, jangan panggil saya bapak.. saya berasa tua banget.. padahal umur kita paling selisih 5 tahun doang." Ucap Fabian.
"Terus saya panggil apa?"
"Terserah kamu saja.. panggil mas juga boleh."
"Nggak ah.. geli.. panggil kakak aja ya." Ucap Geva sambil terkekeh.
Fabian mengajak Geva duduk di lobby untuk ngobrol. Geva tidak masuk sekolah beberapa hari membuat Fabian kepikiran, ponsel Geva juga tidak aktif.
"Van.. gimana ceritanya kamu menghilang dan sampai Bandung? Orang tua kamu sampai marah-marah sama pihak sekolah loh karena motor kamu ada di sekolahan."
"Ya ampun ini guru tampan banget sih.. tapi masih tampan suami aku sih.. cuma kalau senyum itu loh.. coba suamiku murah senyum aku pasti klepek-klepek." Batin Geva.
"Vania... hallo." Fabian melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Geva.
"Aku rencananya mau jenguk Theo pak.. eh kak.. hehehe.. niat bolos.. tapi aku malah dikerjain anak-anak kelas bahas 3, hingga aku dibawa ke Bandung dan dibuang di tengah hutan, untung ketemu kakak aku..." Kata Geva sambil menghela nafas.
"Emang kamu ada masalah apa sama anak bahasa itu Van?"
"Biasa pak.. dia suka sama Theo dan cemburu karena aku pacaran sama Theo." Kata Geva santai.
"Jangan pacaran sama Theo Van.. dia bukan anak yang baik.. dia akan memberikan dampak negatif sama kamu." Ucap Fabian meraih tangan Geva dan menggenggamnya. Geva berusaha melepas tapi gagal.
"Catatan negatif Theo sangat banyak, mulai dari suka taruhan dan balapan liar hingga keluar masuk hotel."
"Kok bapak tau?" Tanya Geva bengong. Geva juga tahu semua itu, hanya saja asalkan Theo masih bersikap baik padanya, Geva gak masalah.
"Please putusin Theo.. dia tidak pantas untuk gadis sebaik dan secantik kamu." Genggaman tangan Fabian semakin erat.
"Kalau aku nggak..."
Belum juga Geva menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba suara berat dengan volume cukup tinggi memenuhi rongga telinganya.
"Gevania!" Panggil Bhumi.
"Eh."
"Kakak..." Ucap Geva tersenyum kikuk langsung berdiri dari duduknya dan melepas paksa tangan Fabian yang menggenggamnya.
"Dia siapa Vania?" Tanya Fabian ikut berdiri.
"Oh kenalin, dia kakak aku kak. Kak Bhumi.. kenalin ini Pak Fabian guru aku." Kata Geva. Fabian tersenyum lalu mengulurkan tangannya pada Bhumi.
__ADS_1
Bhumi sama sekali tidak menggubris, fokusnya pada tangan Geva yang tadi digenggam Fabian,
"Fabian.. " Ucap Fabian.
"Ayo masuk sekarang!" Bhumi langsung menarik pergelangan tangan Geva dan membawanya menjauh dari Fabian.
Fabian hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum saat Bhumi enggan membalas jabat tangannya.
"Menarik.." Gumam Fabian memandang punggung Geva yang menghilang di balik pintu Lift.
Fabian sebenarnya adalah anak dari seorang pengusaha di bidang Fashion, namun latar belakang pendidikannya adalah sebagai pendidik. Impiannya menjadi seorang dosen yang mampu mencerdaskan penerus-penerus bangsa.
Impiannya seketika berubah disaat dia semester akhir tidak sengaja bertemu dengan gadis SMA kelas 1. Gadis cantik bernama Gevania benar-benar menarik perhatiannya dan membuatnya semangat menyelesaikan skripsinya.
Enam bulan kemudian Fabian lulus sebagai sarjana pendidikan, sambil kuliah pasca sarjana Fabian memilih menjadi guru SMA di SMA tempat Geva sekolah ketimbang menjadi asisten dosen.
Perlahan tapi pasti Fabian mendekati Geva. Bahkan dia memiliki nama panggilan tersendiri untuk Geva, yaitu Vania.
🍂
"kak lepasin!" ucap Geva karena genggaman tangan Bhumi cukup kuat.
"Siapa lelaki tadi? apa dia Theo?" Tanya Bhumi membuat Geva pengen ketawa, tapi dia masih ingat jika sedang kesel sama Bhumi, jadi ketawanya di pending dulu.
"Jawab!" Bentak Bhumi.
"Makanya punya telinga dipakai! jangan cuma buat cantolan panci doang! kalau ada orang ngajak kenalan dan ngobrol itu dihargai ditanggepi. Bukan ditinggal pergi."
"Apa dia Theo?" Tanya Bhumi lagi.
" Hah! Kakak tadi gak denger, namanya itu Fabian, F A B I A N guru Matematika aku!" Jelas Geva.
"Guru? ck! bualan yang tidak bermutu! saya bukan orang bodoh yang gampang kamu bohongi. Dia menatap kamu dengan tatapan lelaki yang mendamba wanitanya. Jangan pikir saya buta!"
"Tapi kali ini kamu bener-bener terlihat bodoh kak!" Ucap Geva tajam.
Bersambung...
Ah kelar.....
Tambah satu lagi gak ya?
Kalau bikin novel yang ini kudu mikir keras soalnya selera humor aku ancur banget jadi takut gak dapat feel-nya ke pembaca.
Konflik baru di mulai di hati Bhumi ya..
Theo bukan saingan yang tepat untuk Bhumi, tapi Fabian...
__ADS_1
jeng jeng jeng...