
"Gev.. aku minta maaf.." Ucap Bhumi meraih jemari tangan Geva.
Geva tidak menolak, bagaimana pun Bhumi berhak atas dirinya.
Dan hembusan angin dari luar yang menerobosnya masuk melalui jendela membuat suasana semakin hening dan dingin.
Geva memang tadi meminta Deon untuk membuka rumah sakit dan mematikan AC karena menurut Geva udara dari luar lebih menenangkan hatinya dari pada AC.
Geva terdiam.
"Gev..."
"Aku udah tahu kak.. kemarin aku udah denger semua dari bang Sat, kalau kakak memang merindukan mantan kakak." Geva tersenyum kecut.
"nyesel gue putusin Theo hanya untuk lelaki yang berstatus suami gue tapi gak bisa menghargai gue sebagai istrinya." Gumam Geva yang masih terdengar jelas oleh Bhumi.
"Aku salah Ge..Maafin aku Ge.. "
"Tanpa kakak minta maaf, aku juga sudah memaafkan kakak, Aku udah memprediksi jika kejadian-kejadian semacam ini pasti akan sering terjadi, kan kakak gak akan pernah bisa move on dari mantan terindah kakak. So, aku juga udah membentengi hati aku untuk tidak jatuh cinta sama kakak, kakak tenang saja... karena aku sadar, aku hanya wanita pengganti yang kakak nikahi untuk melampiaskan kekecewaan kakak dengan mantan terindah kakak." Bhumi hanya mampu menelan saliva nya. Senyum Geva yang lebar itu justru membuat Bhumi merasa horor.
"aku janji akan melupakannya Gev, maafin aku.. aku akan memperbaiki semuanya. Aku menyesal sudah membuat kamu seperti ini."
"Aku gak bisa kak.." Jawab Geva lirih.
"Ge.. aku mohon pulanglah ke apartemen, ke tempat tinggal kita." Bhumi benar-benar merasa menyesal, dan Geva tahu itu dari raut wajah Bhumi.
"Seribu kali kakak minta maaf pun, tidak akan merubah keadaan. Keputusan aku udah bulat kak, aku mau pulang ke rumah orang tuaku." Jawab Geva tersenyum.
" Ge.. aku suami kamu...
"Aku tahu itu kak, aku gak amnesia kok. Tapi bagi aku yang kakak lakuin kemarin udah cukup keterlaluan meskipun aku udah bener-bener maafin kakak."
"Lalu bagaimana hubungan kita Ge?"
"Hubungan yang seperti apa yang kita jalani kak? menurut aku tidak lebih hanya status suami dan istri di atas buku KUA. Tidak lebih kan? Bahkan aku yang merendahkan harga diri aku sendiri untuk meminta kakak..." Geva menghentikan ucapannya, bibirnya bergetar.
"Aku sendiri yang meminta kakak untuk menggauli aku... menyentuh aku dan menjadikan aku istri kakak sepenuhnya tapi apa yang kakak lakukan?" Air mata menetes di pipi Geva, martabatnya sebagai seorang istri sudah hancur berkeping-keping.
"Aku akan memperbaiki semuanya Gev.." Bhumi menggenggam tangan Geva dan menciumnya. Masih menggenggam tangan Geva, Bhumi menundukkan kepalanya di ranjang Geva. Bhumi benar-benar terlihat sangat menyesal.
"Kak..." Geva menyentuh pundak Bhumi yang bergetar.
"Aku hampir saja jadi pembunuh lagi Ge...dan yang hampir aku bunuh adalah kamu Ge.." Kata Bhumi lirih.
Oh Geva baru sadar ternyata suami sang besi berkarat itu bisa menangis.
"Sudahlah kak lupakan saja.. " Ucap Geva bingung harus apa, hingga Geva menggaruk tengkuknya sendiri karena melihat seorang lelaki menangis.
"Aku mohon kembali lah Ge.. kembali kita mulai semua dari awal.. aku menyesal udah menyia-nyiakan kamu... aku menyesal.. aku janji akan memperbaiki semuanya."
__ADS_1
Bhumi mendongak wajahnya menatap wajah cantik Geva dengan intens.
"Maaf kak.. aku gak bisa.." Geva menggelengkan kepalanya sembari mengusap air mata Bhumi.
"Kenapa Ge?"
"Aku tidak bisa bertahan dengan orang yang tidak bisa menghargai aku sedikitpun, tidak bisa melihat ke arahku sedikitpun."
"Ge..."
"Aku mau kembali sama kakak kalau memang kakak bisa membuat aku jatuh cinta, dan sebelum itu terjadi aku akan tinggal di kediaman Wijaya." Jawab Geva.
"Ki.. kita pisah rumah?"
"Hmm.. mungkin itu lebih baik kak.. untuk hubungan kita, dari pada kita tinggal satu atap tapi hanya saling menyakiti satu sama lain."
"Ge.. jangan seperti ini..."
"Anggap saja kita sedang bermain peran menjadi orang asing yang belum saling mengenal tapi dijodohkan kedua orang tuanya. pasti lucu deh." Geva terkekeh kecil.
Tok.. Tok.. Tok...
Ceklek...
"Siang Vania.." Sapa Fabian yang datang dengan membawa buah untuk Geva.
"Kak bian?" Ucap Geva tersenyum.
"Gimana kabar kamu hari ini Vania?" Tanya Fabian langsung duduk di dekat Geva berhadapan dengan Bhumi.
"Kok kak Bian repot-repot kesini tiap hari sih? aku jadi gak enak loh kak." Ucap Geva.
"Aku gak akan pernah merasa repot kalau berhubungan sama kamu Gevania."
"Oh ada tuan Bhumi juga disini.. " Ucap Fabian ramah pada Bhumi dan masih mengira Bhumi adalah kerabat dari Geva.
"HM." Jawab Bhumi dengan tangan mengepal.
"Udah makan belum?" Tanya Fabian.
"Udah tadi kak.. sama Naomi."
"Maaf ya aku kesininya telat, sehingga aku gak bisa suapin kamu lagi.. tadi sih ada rapat bentar dengan kepala sekolah." Fabian terlihat kecewa.
"gak masalah kak..."
"Oh ya.. Theo kesini lagi?" Tanya Fabian.
"Hari ini belum sih kak... gak tahu kalau nanti. "
__ADS_1
"Semoga saja tidak deh.. soalnya kalau dia datang pasti memonopoli kamu." Kekeh Fabian yang dari kemarin rebutan memperhatikan Geva yang tengah sakit. Dan itu cukup menghibur hari-hari Gevania.
Dada Bhumi semakin sesak mendengar obrolan guru dan murid itu tanpa menganggap dirinya ada.
Bagaimana Bhumi, sudahkah kamu merasakan apa yang di namakan tidak dianggap dan tidak dihargai?
Ceklek.
Mama Rachel datang bersama dengan Papa Arsa untuk menjemput sang buah hati keluar dari rumah sakit. Melihat di dalam sana Putrinya berada diantara dua pria tampan membuat Mama Rachel dan Papa Arsa menahan senyumnya apalagi melihat wajah Bhumi yang kecut.
"Eh ada Fabian.." Ucap Mama Rachel yang hanya menyapa Fabian.
"Hallo Tante.. apa kabar? Tante makin cantik aja deh kayak Gevania." Puji Fabian membuat Mama Rachel terkekeh.
"Emang Geva cantik.."
"Banget Tante.." Ucapnya tanpa sungkan.
"Kamu juga tampan Fabian.."
"Berarti cocok dong aku jadi menantu Tante." Ucap Fabian sontak membuat Bhumi melorot. Sejak kapan ini guru matematika berani terang-terangan seperti ini?
Mama Rachel hanya tersenyum tidak menanggapi lebih.
"Bhum sudah dari tadi?" Tanya Papa Arsa menepuk pundak menantunya.
"Lumayan pah.. " jawab Bhumi datar.
"Sudah puas menyendiri nya?" Tanya Papa Arsa lagi.
"Hmmm."
"Dan selama kamu menyendiri, kamu akan membukakan peluang pada kompetitor kamu." Kata Papa Arsa menahan tertawanya.
Bhumi sudah paham maksud kompetitor dari Papa Arsa, bukan urusan perusahaan, tapi urusan keutugan rumah tangganya mulai terancam. Apalagi jelas-jelas Geva tadi memilih untuk tinggal di kediaman Wijaya, dan mau kembali pada bhumi jika sudah bisa membuat Geva jatuh cinta.
"Aku akan membuat kamu jatuh cinta Gevania." Batin Bhumi.
"Pa.. gimana? boleh kan aku ambil pendidikan kedokteran di Amerika." Tanya Geva pada Papa Arsa.
"Tolong izinkan om.. itu impian Gevania. Kalau om izinkan juga, aku akan lanjutkan S2 disana untuk menjaga Gevania disana juga." Kata Fabian.
Deg!
Bhumi yang sedang minum tersedak.
BERSAMBUNG....
Selamat menikmati aa Bhumi...
__ADS_1
Ini baru awal loh...