Menikahi Gadis Menyebalkan!

Menikahi Gadis Menyebalkan!
Kepulangan Bhumi~


__ADS_3

SEKEDAR MENGINGATKAN,


NOVEL MENIKAHI GADIS MENYEBALKAN ALUR WAKTUNYA TELAT KIRA-KIRA DUA BULAN DARI CERITA ISTRIKU CINTA PERTAMA ADIKKU.


JADI KALAU KALIAN SAMBUNGKAN CERITANYA UPDATE-AN HARI KEMARIN HINGGA HARI INI.. JELAS TIDAK AKAN NYAMBUNG.. OKE...


MAAF YA TELAT UPDATE PADAHAL YANG SEBELAH UDAH TIGA KALI. KAN UDAH DIBILANG, KEJAR TARGET ISTRIKU CINTA PERTAMA ADIKKU. HEHEHE


BISA DIPAHAMI? TENANG AUTHORNYA ADIL KOK. ADIL KAN BUKAN BERARTI HARUS SAMA YA.. TAPI SESUAI PORSINYA 👌


HAPPY READING..🍁


Bhumi masih sibuk dengan pekerjaannya padahal waktu menunjukkan pukul 1 malam. Bhumi yang duduk di meja kerja yang disiapkan pihak hotel sedangkan Satria duduk di sofa dengan laptop yang menyala.


Sebuah pesan masuk di ponsel Bhumi. Satria menyunggingkan senyumannya.


"Bhum.."


"HM."


"Elu mau lihat sesuatu gak?" Tanya Satria.


Bhumi mengalihkan pandangannya dari berkas ke Satria.


"Apa?" Tanya Bhumi curiga karena Satria senyum-senyum.


Satria beranjak dari duduknya, dan melangkah menuju Bhumi. Lalu menyodorkan ponsel Bhumi pada si pemilik sesungguhnya.


"Putar lah video itu." Ucap Satria. Bhumi yang penasaran pun langsung memutarnya. Mata Bhumi terbelalak melihat bagaimana Deon mendorong istrinya dan bagaimana Theo yang datang tepat waktu.


"Kurang ajar!" Umpat Bhumi.


Bhumi sungguh tidak terima istrinya di dorong oleh Deon, meskipun status Deon adalah kakak kandung Geva sendiri. Akibat dorongan Deon itu akhirnya mengakibatkan Geva yang hampir jatuh dan tubuhnya di topang oleh Theo. Kalau begitu kan Theo jadi punya kesempatan memeluk Geva.


Bhumi sampai menge-zoom wajah Theo yang senyum bahagia sedangkan wajah Geva sangat terkejut.


Bhumi mengepalkan tangannya dengan rahang yang keras. Namun seorang Bhumi akan bertindak dan memutuskan sesuatu dengan pemikiran yang benar-benar matang. Dia tidak gegabah seperti Bhima yang langsung terbawa emosi dan menampar Flower ketika cemburu dan akhirnya Flower hampir keguguran.


Pengalaman Bhima menjadi pelajaran berharga juga untuk Bhumi.


Bhumi memutar ulang video tersebut meskipun hatinya terasa sangat panas dan nyeri melihat Geva di dorong dan ditangkap oleh Theo. Oh shiit lah..


Bhumi memperhatikan detail video tersebut, bahkan saat Geva menjambak Renata untuk pertama kalinya, Bhumi tidak menemukan sosok Theo tertangkap kamera.


Bhumi tersenyum dan suka dengan aksi Geva yang tidak ada takut-takutnya. Padahal Geva bisa juga loh di tuntut dengan tuduhan penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan.


Jika itu terjadi tentu Bhumi akan membela Geva habis-habisan.


"Kakak.." Geva menatap Deon dengan mata berkaca-kaca.


"Ge.. kakak gak sengaja." Deon terlihat merasa bersalah.


"Karena cinta kakak pada wanita yang selalu ingin merebut kak Bhumi ku, kakak tega sama aku, adik kakak sendiri. Kakak lebih bela dia dari pada aku. Aku gak nyangka!." Kata Gevania tersenyum sinis pada Deon sambil menggeleng-geleng kan kepalanya.


"Karena cinta kakak pada wanita yang selalu ingin merebut kak Bhumi ku, kakak tega sama aku, adik kakak sendiri. Kakak lebih bela dia dari pada aku. Aku gak nyangka!."


"Karena cinta kakak pada wanita yang selalu ingin merebut kak Bhumi ku, kakak tega sama aku, adik kakak sendiri. Kakak lebih bela dia dari pada aku. Aku gak nyangka!."


"Karena cinta kakak pada wanita yang selalu ingin merebut kak Bhumi ku, kakak tega sama aku, adik kakak sendiri. Kakak lebih bela dia dari pada aku. Aku gak nyangka!."


Bhumi mengulang-ulang kalimat tersebut.


Kak Bhumi- ku?


Kak Bhumi - ku?


Bukankah itu artinya Bhumi milik Geva jika Geva yang mengatakan itu.. Jadi Geva mengakui bahwa Bhumi adalah miliknya? tidak ada pria lain kan yang bisa memiliki Geva?

__ADS_1


Oh sungguh hati Bhumi rasanya berbunga-bunga. Sebuah senyuman melengkung di bibir Bhumi membuat Satria yang tadi menunggu ekspresi marah Bhumi menjadi mengernyit dan bergidik ngeri. Apakah Bhumi kerasukan sadako? setan Jepang yang rambutnya di rebonding lalu di taruh ke depan semua itu? Ah syerem~


Bhumi langsung menghubungi Geva, dia ingin memastikan kondisi Geva, sudah pulang apa belum dan udah berpisah belum dengan Theo. Namun sayang... ternyata nomornya di Block oleh Geva.


"Shiit!" Umpat Bhumi emosi dan melemparkan ponselnya ke arah ranjang empuk. Astaga...


Untung di ranjang kan.. jadi kan gak pecah.


Sayang Bhum.. iPhone keluaran terbaru loh..


"Kenapa elu?" Satria memberanikan diri untuk bertanya pada Bhumi meski hatinya berdebar hebat. Habis senyum-senyum kini marah-marah sampai membanting ponselnya ke arah ranjang.


"Geva sepertinya memblokir nomor gue." Ucap Bhumi menyandarkan tubuhnya di headboard kursi lalu memijat keningnya. Pekerjaan hari ini cukup padat ditambah Geva yang kekanak-kanakan.


"Makanya punya istri itu di perhatiin. ngambek kan dia.. atau jangan-jangan sekarang dia sedang sama Theo. Pulang ke rumah diantar Theo. Terus Theo menyatakan cinta lagi.. kan kata Elu Geva bilang jika dia masih cinta sama Theo." Kata Satria sengaja menyalakan api kompor yang tadi sudah panas.


Bhumi diam dengan hati bergemuruh hebat.


"Kayaknya gak perlu waktu satu bulan deh Bhum.. Geva bakalan pergi ninggalin elu.. lagi pula jika dengan Theo, Theo pasti mendukung impiannya kuliah di luar negeri dan menjadi dokter." Satria terus menyiram bensin pada kobaran api yang sudah menyala-nyala itu.


"Berani sekali dia." Ucap Bhumi yang langsung menelan mentah-mentah ucapan Satria.


Satria mencoba menahan diri untuk tidak tertawa. Bhumi terlihat sangat bodoh. Logikanya mendadak hilang. Gitu kok bilang gak cinta? Duh Bhum.. jujur Napa jujur.


"Saat, sewa jet pribadi di negara ini sekarang juga. Gue mau kembali ke tanah air." Ucap Bhumi.


"APA?" pekik Satria.


"Cepat lakukan."


"Kerjaan elu.. ?" Satria masih melotot.


"Elu yang handle semua buat besok. Besok malam gue kembali kesini." Jawab Bhumi dengan entengnya.


Sungguh demi matahari yang masih tenggelam di ufuk barat, Satria menyesali ucapannya yang sengaja membuat Bhumi terbakar cemburu.


"Gak salah elu naik jet pribadi? udah mau bergaya kayak sultan elu?" Tanya Satria.


Bhumi segera berkemas, membawa beberapa berkas yang bisa dia kerjakan selama di perjalanan menuju Indonesia.


8 jam, itu bukan waktu yang singkat dengan jarak tempuh ribuan kilo meter.


"Elu gila?" Tanya Satria lagi.


"Kalau via telfon akan berdebat lagi.. jadi gue mau ngomong sama dia secara langsung." Ucap Bhumi penuh keyakinan.


Tidak menunggu lama, Satria sudah mendapatkan telfon dari pihak maskapai jika malam ini bisa langsung terbang. Satria dibuat geleng-geleng kepala dengan tingkah Bhumi yang seperti ini untuk pertama kalinya.


Benar-benar diluar dugaan~


🍁


Satu jam setelah Naomi kembali dari kediaman Wijaya, sebuah mobil mewah memasuki kediaman itu kembali.


"Kok ada suara mobil? papa punya tamu?" Tanya Mama Rachel pada Papa Arsa.


"Nggak ma." Jawab Papa Arsa.


"Coba deh aku cek." Mama Rachel berdiri dari duduknya di taman samping.


"Pagi Ma.. Pagi Pa.." Belum juga Mama Rachel melangkah kan kakinya eh ada suara yang menyapa.


"Bhumi?" Baik Papa Arsa maupun Mama Rachel mengernyit. Menatap bingung pada Bhumi.


Bukankah Bhumi di Jepang?


Bukankah baru berangkat kemarin?

__ADS_1


Kenapa sudah sampai aja disini?


Ini mimpi bukan sih?


"Aww.." pekik Mama Rachel yang mencubit tangannya sendiri karena semua seperti mimpi.


"Mama kenapa?" Tanya Bhumi bingung.


"Kamu beneran menantu mama?" Tanya Mama Rachel polos nya.


"Ngapain kamu pulang Bhum?" Tanya Papa Arsa.


Bhumi bingung dan hanya bisa tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.


"Jangan bilang karena pengen ketemu Geva?"Selidik papa Arsa.


"Ng.. nggak pa.. aku mau ambil sesuatu yang ketinggalan." Jawab Bhumi asal.


"Apa?" Tanya Mama Rachel.


"Charger handphone. soalnya aku disana pinjem charger handphone Satria." Jawab Bhumi asal membuat kedua orang tua itu ingin sekali tertawa terbahak-bahak menertawakan menantunya yang terlihat sangat bodoh mencari alasan.


" Terus terbang kesini pake apa?"


"Jet pribadi yang disewa Satria semalam." Jawab Bhumi lagi.


Bukankah lebih baik beli ponsel se charger charger-nya hingga dapat berlusin-lusin dari pada uangnya buat sewa jet pribadi.


Aduh Bhum.. kecerdasan kamu kayaknya terbawa sama angin~


" Ya.. ya.. ya.. ya.." Ucap Papa Arsa menhan tawanya.


"Sudah sana temui Geva, dia di kamar gak sekolah.. " Usir Mama Rachel yang sudah tidak tahan untuk tertawa.


"Iya ma." Jawab Bhumi.


Baru papa Arsa dan Mama Rachel hendak tertawa.


"Eh pa.."


"Iya?"


"Semalam Geva pulang sama siapa?" Tanya Bhumi yang tidak sempat tanya pada Satria yang sudah menyuruh orang menjaga Geva dari jauh.


"Geva sama Naomi pulang diantar Alex menggunakan mobil masing-masing." Jawab Mama Rachel.


Oh syukurlah.. berarti Satria bulshiit MB Bhumi kira Geva pulang diantar Theo naik motor terus Geva memeluk Theo dari belakang terus dada Geva nempel di punggung Theo..


Astaga, pikiran kamu terlalu jauh Bhumi Bramantya.


Bhumi kembali mengingat bagaimana Geva memutus Theo, Kepercayaan Bhumi pada Geva yang tidak mungkin mengkhianatinya itu kembali. Bhumi sudah bisa tersenyum.


Padahal dari semalam gak keingat bagaimana Geva memutuskan Theo saking cemburunya. Ih Bhumi gemes deh...


"Aku keatas dulu ya ma.. pa.." Pamit Bhumi.


Bhumi menaiki tangga setelah menyapa mba Sumi yang sedang beres-beres, Jantung Bhumi tiba-tiba berdegup kencang saat sampai di depan kamar Geva.


Dengan hati-hati Bhumi membuka kamar Geva, sosok cantik dengan baju mini terlelap di atas ranjang yang berkurang besar. Senyum terukir di bibir Bhumi.


Bhumi menuju kamar mandi lebih dulu untuk membersihkan diri meskipun dia sudah tidak sabar memeluk sosok yang sangat nyenyak itu.


Setelah mandi dan memakai kaos juga celana pendeknya yang ada di almari Geva, Bhumi merebahkan tubuhnya disamping Geva dan memeluk Geva.


"Kamu benar-benar bisa membuatku jungkir balik Ge." Gumam Bhumi mengecup Geva sebelum ikut terlelap.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


BIAR BANYAK YANG LIKE,


LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE


__ADS_2