
"Gak mau diangetin dulu?" Tanya Bhumi.
"Kelamaan!" Jawab Geva.
baru beberapa suap saja, mendadak nafas Geva menjadi sesak dan Geva memegang dadanya.
"Ge.. kamu kenapa!" Teriak Bhumi yang khawatir melihat Geva mendadak kesusahan bernafas.
Geva tidak bisa menjawab, nafasnya terlalu sesak dan air matanya sudah berjatuhan.. di genggamnya tangan Bhumi dengan erat seolah meminta pertolongan.
Bhumi tidak bisa berpikir panjang, Geva kali ini bukan main-main atau sedang ber-drama. Diangkatnya tubuh Geva sambil terus berteriak memanggil nama Satria untuk menyiapkan mobil.
Untung Satria Standby, jadi Satria bisa bertindak dengan cepat karena saat ini otak Satria lebih waras daripada Bhumi. Bhumi yang terlihat sangat cemas dengan kondisi Geva tidak peduli dengan para karyawan yang cukup terkejut melihat atasannya menggendong anak SMA yang sudah jatuh pingsan.
"Bhum.. kenapa dia?" Tanya Renata.
"Aku gak tahu." Jawab Bhumi menunggu lift turun menuju lobby terasa sangat lama.
"Ge.. bertahanlah Ge.. kamu kenapa Ge?" Wajah Geva bukan pucat, melainkan memerah.
Ting.
Pintu lift terbuka, Satria sudah di lobby dan dia yang pegang kendali pada mobil mewah milik nya, karena jika memakai mobil Bhumi hanya bisa dinaiki dua orang saja.
"Ke rumah sakit Sat! Cepat!" Bentak Bhumi pada Satria.
Satria sesekali melirik ke kaca yang mengarah ke belakang, Bhumi memeluk Geva dengan erat. Dia tidak tahu apa yang terjadi sama Geva hingga seperti ini yang dia tahu, Geva dalam keadaan bahaya.
Letak rumah sakit yang tidak jauh dari perusahaan Bramantya Corp membuat perjalanan tidak terlalu lama, lagi pula saat ini masih jam kerja jadi jalanan belum begitu padat.
Bhumi berteriak-teriak di depan UGD rumah sakit meminta pertolongan pada siapa saja tenaga medis yang ada disana. Geva langsung mendapatkan penanganan pertama dengan baik. Sedangkan Bhumi menunggu di luar bersama Satria.
"Tenang Boss.. non Geva pasti gak apa-apa." Satria menenangkan Bhumi.
"Kamu tidak lihat tadi Sat.. Bagaimana dia sesak nafas, dia seperti orang... orang yang..." Bhumi tidak mampu meneruskan kalimatnya lagi.
"Tuan.." Panggil dokter pada Bhumi dengan wajah sangat gusar.
"Iya dok.. kenapa dengan Geva dok.. kenapa?" Tanya Bhumi langsung mendekat ke dokter paruh baya yang baru keluar dari ruang UGD.
"Mari masuk dulu.. " Bhumi pun melangkah masuk ke dalam UGD dan menuju ruangan yang sudah disiapkan disana untuk berkonsultasi. Bhumi segera duduk di kursi berhadapan dengan dokter yang menangani Geva.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Gevania dok?" Bhumi sangat cemas. Perasaannya mendadak tidak enak..
"Menurut pemeriksaan, pasien mengalami anafilatik."
"anafilatik? apa itu dok?" tanya Bhumi.
"Suatu reaksi alergi yang parah dan berpotensi mengancam nyawa.
Reaksi dapat terjadi dalam hitungan detik atau menit sejak terpapar alerginya. Kondisi pasien cukup mengkhawatirkan dan pasien belum sadar juga."
" Alergi.. alergi apa dok?" Bhumi nampak kebingungan. Selama ini dia tidak tahu apapun mengenai istrinya. Lebih tepatnya tidak ingin tahu sih.
"Berdasarkan pemeriksaan keseluruhan, pasien alergi pada susu sapi dan turunannya. Terlebih pada keju." Ucap dokter.
"Jadi pasien harus dirawat inap selama beberapa hari untuk mencegah terjadinya alergi susulan. Dan kamu sudah menyuntikkan suntikan adrenalin (epinephrine) untuk mengurangi rasa tidak nyamannya karena alergi." Jelas sang dokter.
Mendengar penjelasan dokter panjang lebar membuat Bhumi cukup lemas.Dia hanya meminta pada dokter memberikan pelayanan yang terbaik.untuk seorang Gevania.
🍂
Ruangan rumah sakit yang memiliki standar interior layaknya hotel bintang lima itu hanya di khususkan untuk keluarga Bramantya dan kerabat-kerabat terdekat mereka. Semua dilakukan demi kenyamanan pasien dan keluarga.
Gara-gara Pizza yang dia belikan, Geva berakhir di rumah sakit dan tidak sadarkan diri. Suami macam apa itu Bhumi,
Dia tidak tahu jika istrinya alergi akut pada keju. Justru Bhumi membeli Pizza dengan topping keju mozzarella yang melimpah seperti favorit Flower. Ya, Bhumi mengingat Flower saat memesan pizza sehingga dia secara spontan saja memesan menu itu.
Dan sambik termenung, Bhumi mengingat pesan Theo pada Geva, hal itu membuat rasa bersalah Bhumi semakin menjadi-jadi.
Geva sudah mengorbankan perasannya demi hubungan yang tidak jelas bersamanya. Geva yang biasanya absurd itu sekarang bisa bersikap tegas pada dirinya karena sebuah status. Dan hal itu mampu memporak-porandakan hati Bhumi.
Ceklek.
"Gev.." Pekik Mama Rachael yang langsung menangis melihat putri kesayangannya masih belum sabar.
"Sayang bangun sayang kamu kenapa?" Tanya Mama Rachel.
"Bhum.. ini kenapa Geva bisa sampai seperti ini?" Tanya Mama Rachel.
"Maaf ma.. saya gak tahu Geva alergi keju.. dia makan pizza yang saya belikan." Jawab Bhumi tanpa ragu mengakui kesalahannya.
"Bagaimana bisa kamu sebagai suaminya gak tahu hal sepenting ini Bhum? Terus kerjaan kamu apa selama ini? mengingatkan-ingat mantan terus?" Bentak Mama Rachel. Bhumi hanya diam. Karena itulah kenyataannya.
__ADS_1
"Ma.. sabar ma.. Biarkan Geva istirahat dulu." Ucap Papa Arsa.
"Bagaimana aku bisa sabar, aku takut mas kalau Geva seperti dulu lagi.. dia sampai koma hanya gara-gara sepotong keju."
"Ko.. koma?" Tanya.Bhumi shock.
Apakah separah itu? rasanya tidak. Namun begitulah faktanya.
"Bagaimana bisa Geva asal makan tanpa lihat dulu makanannya. Secara Keju kan juga terlibat." Omel Mama Rachel.
"Geva sedang kalut dan dia tidak melihat makanan itu, dia langsung melahap nya hingga tiga lahapan." Batin Bhumi.
Bhumi tidak mau berkata seperti itu karena pasti nanti urusannya panjang,
"Sudahlah Bhum... sepertinya kamu memang tidak ada niat membangun rumah tangga yang baik dengan Geva. aku kecewa sama kamu Bhum.. karena masalahnya ini menyangkut nyawa. Kalau mama boleh menyesal dan mengembalikan semuanya, mama tidak ingin menikahkan kalian!" Kata Mama Rachel.
*Tenang ma.. tenang.. nanti Geva terusik istirahatnya. Kita keluar dulu dan tenangkan pikiran ya.." Ajak Papa Arsa pada Mama Rachel.
"Urusan kita belum selesai Bhumi.." Bisik Papa Arsa menepuk pundak menantunya. Nyali Bhumi begitu ciut menghadapi yang namanya mertua. Padahal kalau menghadapi lawan bisnis dia begitu beringas.
.
.
Kini di ruang rawat inap tinggal berdua. Bhumi dan Geva. Bhumi menggenggam tangan Geva dan sesekali mengecupnya.
"Maafkan aku Ge.. aku tidak tahu apapun tentang Kamu. Aku akan berubah Gev.. aku akan berusaha membuka hati aku untuk kamu.. tapi bangunlah.. jangan buat aku takut." Kata Bhumi.
memang benar, saat seorang lelaki yang sudah berumah tangga memikirkan wanita lain, justru yang dijadikan korban adalah istri sah lelaki tersebut. Sama dengan Bhumi kali ini.
Ciie Bhumi sudah menyesal?
Yakin Bhumi akan belajar menerima Geva?
Jangan-jangan kalau mendengar berita buruk tentang Flower, Bhumi oleng lagi dan gak peduli lagi sama Geva.
BERSMBUNG...
Udah ya.. Ayah Bhima dan Bunda Flower besok aja updatenya...
selamat malam dan selamat istirahat...
__ADS_1