Menikahi Gadis Menyebalkan!

Menikahi Gadis Menyebalkan!
Kakak Jahat~


__ADS_3

Mobil mewah yang Bhumi kendarai sudah terparkir di halaman sebuah butik yang khusus merancang gaun-gaun pernikahan yang harganya fantastis. Butik pilihan Bianca adalah butik kelas internasional.


Sebenarnya sebelumnya Mama Bela ingin memesan baju pengantin Geva pada Alona, tunangan anak tirinya itu kan juga seorang desainer cukup terkenal, meskipun belum seterkenal butik yang Geva datangi saat ini. Melihat hasil karya-karya Alona juga sebenarnya Geva cukup kagum. Namun, Geva menolak keras dengan berbagai alasan. Masih ingat kan bagaimana ucapan Alona pada Geva saat makan malam dikediaman Bramantya?


Geva meminta Bianca mencarikan perancang baju pengantin profesional. Dan setelah Bianca mendapatkannya, Bianca segera menghubungi mama Rachel dan Mama Bela. Geva benar-benar tidak Sudi berurusan dengan seorang Alona Anindita.


"Sayang udah sampai butik." Kata Bhumi lembut mengusap rambut Geva. Geva yang tadi awalnya cuma pura-pura tidur karena jengkel gak jadi Bhumi ajak ciuman panas, eh tertidur beneran.


Geva mengucek matanya sambil mengumpulkan nyawanya yang melayang entah kemana.


"Mama aku udah Dateng?" Tanya Geva menanyakan mama Rachel. Bukan soal gaun, tapi Geva ingin menanyakan soal Deon.


Maklum, selama ujian Bhumi benar-benar membatasi Geva yang bermain ponsel. Lelaki itu benar-benar memprioritaskan apa yang terbaik untuk istrinya.


"Mama ke butik butterfly ngurus seragam keluarga. Kalau disini kan khusus gaun pengantin. mama Bela dan Bianca udah ada di dalam deh kayaknya, itu mobilnya."


"Yaudah!" Kata Geva yang masih kesal mengingat adegan gagal ciumannya.


"Kamu kenapa kayaknya marah sih sayang?" Tanya Bhumi mencekal tangan Geva yang hendak membuka pintu mobil.


"Nggak! siapa yang marah." Kata Geva ketus.


"Sayang,, aku juga pengen cium kamu.. tapi kamu ingat kan perjanjian kita malam itu.. kita harus berpacaran seperti remaja polos.. gak boleh ada cium-ciuman sampai acara resepsi nanti." Kata Bhumi.


"Itu kan ide kakak.. gak ada anak remaja pacaran dengan gaya polos itu dikit-dikit cium kening sama pipi. Gak ada juga ya tidur bareng terus peluk dari belakang." Protes Geva yang dari dalam lubuk hatinya yang terdalam tidak pernah setuju dengan ide Bhumi yang gak jelas, namun sudah hampir seminggu mereka meniru gaya pacaran ABG polos bin lugu.


"Sabar dulu Ge.. beberapa hari lagi.. kita puasa dulu ya." Kata Bhumi tersenyum dan keluar dari mobil. Geva hanya bisa menggerutu melihat suaminya yang sudah berubah 180 derajat.


"Silahkan turun tuan putri.." Kata Bhumi membuka pintu mobilnya untuk Geva.


Eh?


Bhumi gak pernah loh melakukan ini, membuka kan pintu mobil untuk Geva dengan kalimat semanis itu dan wajah seramah itu,


"Mau turun atau mau bobok disini?" Tanya Bhumi lembut.


"Turunlah!" Jawab Geva dengan nada tidak ada manis-manisnya dan langsung turun begitu saja meninggalkan Bhumi sebab Geva langsung berlari memasuki butik.


"Dasar istri gak ada romantis-romantisannya tapi pengen di romantisin." Gumam Bhumi geleng-geleng kepala.


Geva langsung heboh kala bertemu dengan Bianca. Gadis yang beda usia hanya 2 tahunan itu menarik perhatian para pegawai butik juga pengunjung butik yang berada disana. Bukan marah karena dua gadis berisik itu, tapi para pengunjung butik justru tersenyum saat Geva dan Bianca berpelukan sambil loncat-loncat.


Mama Bela hanya geleng-geleng kepala, Sedangkan Bhumi yang baru memasuki butik pun tersenyum melihat dua gadis yang berarti dalam hidupnya, Bianca dan Gevania. Bhumi tidak mau mengganggu mereka, Bhumi memilih duduk disofa lalu membaca email yang dikirim oleh Satria.


Bianca menanyakan kabar kakak iparnya, dan mereka berdebat sedikit karena Bianca gak mau dipanggil kakak oleh Geva, sebab status Geva adalah istri Bhumi. Bianca mau dipanggil nama saja, toh umur mereka gak beda jauh


Sedangkan Geva gak mau, dia merasa kurang ajar dan tidak sopan karena memanggil yang lebih tua darinya hanya menggunakan nama.


Namun, perdebatan itu akhirnya Bianca menangkan.


"Gege.. buruan sana ikut mbaknya cobain gaun kamu." Kata Bianca.


"Iya kak.. eh Caca... temenin aku yuk." Kata Geva menarik tangan adik iparnya.


"Minta temenin kak Bhumi aja ya." Kata Bianca.

__ADS_1


"Mohon maaf nona, saat mencoba baju tidak boleh ditemani lawan jenis.." Kata salah seorang pegawai butik.


"Ck. kak Bhumi udah menikmati mba.. kenapa ikut ganti baju aja gak boleh." Batin Geva untung gak keceplosan karena setahu publik, Geva dan Bhumi akan menikah akhir pekan ini.


"Mama Bela temani ya sayang.." Kata Mama Bela.


"Huh.. coba ada mami Naya disini ya ma.. pasti seru." Gumam Geva membuat raut wajah Bianca mendadak berubah, gadis itu selalu merindukan mami dan papinya yang selalu memanjakan dan menasehati juga mengajaknya ngobrol dengan penuh cinta.


"Makanya, cepet buatin mami Naya cucu biar mami Naya makin semangat."


"Kalau itu pasti ma Bel.. aku akan kerja keras sama kak Bhumi untuk memberikan mami Naya cucu." Jawab Geva sambil terkekeh membuat seorang wanita yang juga menjadi calon pengantin mengernyit.


Bisa gitu ya calon pengantin perempuan ngomong sebar-bar itu ditempat umum.


🍁


Bhumi terbengong melihat Geva keluar dari ruang ganti untuk mencoba gaun pengantinnya.


Gaun pengantin panjang hingga menyapu lantai dengan bagian depan terbuka dimana pundak Geva terekspose hingga dada bagian atas, ditambah lagi...


Belahan dada yang hingga ke bawah memperlihatkan dengan jelas betapa sexy nya istri seorang Bhumi Bramantya.


"Berputar!" Kata Bhumi dengan nada dingin.


Geva pun mengikuti perintah sang suami, di ruang fitting VIP itu hanya ada Bhumi, Geva, Mama Bela, Bianca dan dua orang pegawai butik dan manager butik yang berjenis kelamin perempuan.


Bhumi melihat punggung sang istri yang terbuka sangat lebar dan jelas.. belahan pahanya juga sampai atas. benar-benar seperti telanjang setengah badan jika dilihat dari belakang.


"Ganti!" Kata Bhumi dingin tidak suka tubuh istrinya dipamerkan begitu karena gaun itu kelewat terbukanya.


"Kak ini bagus... lucu banget payet-payetnya!" Kata Geva.


"Nggak mau! aku mau yang ini aja.. simpel gak ribet kayak yang lainnya. Apalagi yang dipesan mama Rachel, bagus banget sih,, cuma terlalu glamor, aku gak suka." Kata Geva.


"Gevania.. ganti dengan gaun yang lainnya sekarang!


"Nggak!" Kata Geva.


"Aku tetap mau yang ini!" Kekeh Geva membuat kesabaran Bhumi teruji.


"Udahlah kak biarin Gege milih itu, cantik kok.." Kata Bianca.


"Iya Bhum.. kasian itu Geva udah berkaca-kaca, mau nangis." Sambung Mama Bela.


"Ganti gaun yang lain Gevania Azkia Bramantya!" Kata Bhumi penuh penekanan.


"Kak.. aku udah suka gaun ini sejak pertama tadi melihatnya daripada gaun-gaun yang lainnya aku suka sama ini, hanya ini." Rengek Gevania.


"Nona Gevania sangat cocok pakai gaun ini tuan Bhumi, kulit nona yang putih bersih dan halus, sangat sayang jika disembunyikan saja.. apalagi dada nona... terkadang wanita itu ada.."


"DIAM!" Bhumi.


"Kalian semua keluar dulu!" Kata Bhumi tidak ingin dibantah.


"Tapi tidak boleh berduaan dengan...." Salah seorang karyawan.

__ADS_1


"Udah kalau mau selamat, nurut aja." bisik Bianca pada pegawai butik tersebut.


Bianca sudah tahu watak kakaknya. Namun satu yang Bianca dan mama Bela yakini, Bhumi tidak akan main fisik dengan Geva.


"Kita keluar dulu..," Kata Mama Bela menepuk pundak keponakannya.


Ruangan itu mendadak sepi hanya ada dua anak manusia, yang satu dengan muka cemberut, yang satu dengan muka tegas siap memerintah seperti bos- bos angkuh nan dingin.


"Kak aku mau pakai gaun ini di resepsi nanti.. please boleh ya?"


"Tidak!"


"Kenapa?" Masih juga nanya Gep.


"Itu terlalu terbuka Gevania, aku gak suka kamu pamerkan tubuh kamu ke mata lelaki lain!"


"Ya ampun kak.. please jangan lebay.. nanti aku hanya pengen bener-bener jadi ratu sehari." Kata Geva terus memohon.


"Aku mohon.. aku gak mau naik pelaminan jika tidak pakai gaun ini." Ancam Geva. Mana bisa seperti itu? undangan aja udah tersebar.


Bhumi mendesah frustasi.


"Baiklah." Kata Bhumi tiba-tiba membuat Geva berbinar.


"benarkah boleh?" Tanya Geva tak percaya, ah Geva bahagia bisa menikah dengan gaun yang modalnya simpel namun elegan meskipun cukup terbuka dan harganya fantastis untuk Geva yang dari kecil terlahir kaya.


"Makasih kakak.." Geva langsung memeluk Bhumi dengan erat.


"Ada syaratnya." Kata Bhumi.


"Apa?" Geva menatap Bhumi penuh tanya, dan lelaki itu menampilkan senyum terbaiknya membuat Geva meleleh seketika.


"Tutup mata kamu.. aku kasih kejutan sama kamu dan pakai ini dulu.," Kata Bhumi langsung memasangkan handfree ke telinga Geva.


Geva pun menurut sang suami dengan senang hati, apalagi lagu yang Bhumi putar adalah lagu romantis yang membuatnya semakin berbunga-bunga.


Bhumi tersenyum licik, dia ambil Gunting yang tergeletak dimeja tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi.


Kreesss


Kreesss


Kresss


Geva merasa ada yang aneh, dia spontan membuat matanya...


"KAAAKAAAAKK! ASTAGA GAUNKU KENAPA KAKAK GUNTING!" teriak Geva yang sebagian gaunnya sudah luruh ke lantai dan mengekspor dadanya yang hanya diberikan caping atau topi gunung di bagian puncaknya saja.


"Pakailah itu,, sekalian kan telanjang!" Kata Bhumi dengan santainya.


"KAKAK JAAAAHHAAT!" tangis Geva pecah.


BERSAMBUNG..


LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE

__ADS_1


KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE


__ADS_2