Menikahi Gadis Menyebalkan!

Menikahi Gadis Menyebalkan!
Obrolan para Lelaki~


__ADS_3

Geva yang diantarkan Bhumi ke sekolah pun memilih diam sepanjang perjalanan karena baginya berdebat dengan seorang Bhumi Bramantya hanya akan membuatnya laper lagi dan emosi.


Begitu pula dengan Bhumi yang sepanjang perjalanan sibuk menerima telfon dan Satria dan Renata terkait pekerjaan. Ada masalah besar yang terjadi saat ini di perusahaan.


Terkadang diam memang lebih baik untuk saat ini.


Bhumi yang sudah menghentikan mobilnya didepan gerbang sekolah Geva pun enggan menutup telfonnya. Hal itu membuat Geva kesal, dan Geva keluar dari mobil tanpa pamit. Suara pintu mobil yang dibanting Geva tidak mengusik Bhumi sedikitpun.


Saat Bhumi menutup telfonnya, ternyata bangku sampingnya sudah kosong. Bhumi hanya menatap punggung Geva yang berlari menjauh darinya.


Selalu saja seperti itu, fokus Bhumi selalu ke perkejaan hingga melupakan sekitar.


Bhumi melajukan mobilnya ke arah kantornya, hari ini akan ada meeting penting di kantor menyangkut kesejahteraan hampir seluruh karyawannya karena salah satu perusahaan besar di Okinawa Jepang mendadak membatalkan kontrak kerja samanya yang bernilai puluhan triliun rupiah.


Urusan membujuk dan meyakinkan Geva nanti saja lah setelah pulang dari kantor.


Sesampainya di kantor, Bhumi langsung berlari menuju ruang rapat. Dia sudah telat hampir 30 menit. Ternyata disana sudah ada Papi Gema, Papa Genta, Keenan juga Bhima yang menunggunya serta dewan-dewan direksi.


"Dari mana saja kamu?" Tanya Papi Gema dengan tajam. Rapat tidak bisa dimulai karena menunggu Bhumi sebab masalah dengan perusahaan Jepang itu adalah tanggung jawab Bhumi. Dan hanya Bhumi juga Satria yang paham seluk beluk masalah nya.


"Maaf." Kata Bhumi sopan dan langsung duduk di kursinya.


" kedepannya saya minta untuk belajar disiplin dan pisahkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan!" Kata Papi Gema. Bhumi hanya mengangguk karena dia memang salah.


"Maaf sudah membuat anda semua menunggu." Kata Bhumi sopan.


"Baiklah.. kita mulai rapat pagi ini." Kata Keenan nampak sangat serius.


🍁


Rapat para petinggi perusahaan berjalan dengan sangat alot, masalah perusahaan kali ini begitu rumit. Dan semua memang karena kelalaian Bhumi yang selama beberapa Minggu ini sibuk dengan masalah hatinya. Ya semua bermula sejak kasus pemerkosaan Flower yang dilakukan oleh Bhima.


Kerjaan Bhumi jadi berantakan dan sangat berantakan.


Karena kinerja Bhumi yang selama ini selalu mendekati kata sempurna dan baru melakukan kesalahan cukup besar untuk pertama kalinya, akhirnya direktur utama Bramantya Corp yaitu Gema Bramantya beserta wakil direktur utama Genta Bramantya memutuskan untuk memberikan kesempatan pada Bhumi memperbaiki semuanya.


Dan para direksi juga menyetujui hal tersebut.


Mereka percaya dengan bagaimana Bhumi menyelesaikan semua masalahnya.


Dalam hati kecil Bhumi tertantang untuk menyelesaikan masalah ini. Namun disisi lain, Bhumi yakin ini akan memakan waktu yang tidak sedikit dan dia harus terbang ke Jepang sampai semuanya selesai.


Lalu Bagaimana dengan Gevania?


Bhumi sudah berusaha membujuk Keenan supaya Keenan yang berangkat ke Jepang, namun Keenan memiliki tanggung jawab lainnya. Menyelesaikan masalah Sisil hingga akar-akarnya. Papa Genta dan Papi Gema tidak mau masalah Sisil terus berlarut-larut, dia harus menyiapkan perangkap yang tepat untuk Sisil hingga Sisil membusuk di penjara.


Kepala Bhumi rasanya ingin pecah, Membujuk Geva bukan perkara yang mudah dan baru saja pagi tadi Geva memberikan waktu pada Bhumi selama dua bulan, jika Bhumi tidak memanfaatkan semua itu dengan baik maka perceraian ada didepan matanya.


Tapi bagaimana masalah di Jepang?


"Pi.. please bagaimana aku bisa membujuk Geva jika Aku harus pergi ke Jepang dalam waktu yang lamanya tidak bisa ditentukan." Ucap Bhumi yang saat ini mendatangi ruangan sang Papi.


"Bukan urusan papi ." Ucap Papi Gema.


"Tapi Pi?"

__ADS_1


"Belajarlah tanggung jawab, semua ini terjadi juga karena kelalaian kamu Bhumi Bramantya. Mulai dari perusahaan yang mendapatkan masalah besar hingga Geva yang tidak percaya dengan kamu!" Kata Papi Gema.


"Aku mohon Pi.. kali ini saja demi rumah tanggaku."


"Selesaikan semua masalah dengan Perusahaan di Okinawa itu, supaya kamu bisa segera kembali kesini dan menyelesaikan masalah kamu dengan Geva." lemas sudah Bhumi. Memang nasib perusahaan supaya tidak pailit ada ditangannya.


"Hidup adalah proses Bhum.. nikmati segala proses kamu saat ini, begitu pula papi. Kenapa papi bisa sampai di titik ini.. semua karena kerja keras, bukan karena warisan yang banyak.


Percuma warisan banyak jika otaknya mati, yang ada itu warisan habis dan buat rebutan hingga perang saudara.


Berbeda jika kapasitas otak kalian hidup, tanpa warisan pun otak berkualitas kalian, mental kalian yang berkualitas itu.. meskipun tanpa warisan, kalian bisa berkembang dan maju.


Kamu beruntung saat ini dibantu Keenan, Satria, Kaisar dan sekarang Bhima. Dulu Papi kerja sendiri dibantu mertua kamu, Arsa Wijaya karena Papa Genta masih di Jerman." Ucap Papi Gema.


"Jadi aku harus bagaimana Pi?"


"Pikirkan mana dulu yang jadi prioritas kamu, semuanya tanggung jawab kamu. Gevania adalah istri kamu, dan ribuan karyawan Bramantya juga tanggung jawab kamu, sebab kepemimpinan perusahaan akan Papi serahkan ke kamu jika kamu bisa menyelesaikan semua ini."


"Kenapa harus aku Pi? kenapa gak kak Keen?"


"Papi dan Papa Genta memiliki alasan untuk itu dan semua sudah setuju. Kami semua dan juga para direksi sudah membahas ini sebelum kamu datang tadi."


"Pi..."


"Jangan kecewakan Papi Bhum.. kesampingkan urusan gagal move on kamu itu! Fokus pada masalah mana yang lebih penting dan harus diselesaikan terlebih dahulu."


"Siapa yang gagal move on! enak aja!" Ucap Bhumi tidak terima membuat papi Gema terkekeh.


"Jadi gimana? udah berapa kali berhasil tembak dalam sampai bisa buat kamu move on dari Flower?" Tanya Papi Gema penasaran.


Emang tubuh Geva tidak kalah dengan para artis bookep yang dulu pernah Bhumi dan kawan-kawannya tonton semasa SMA. Jangan tanya dapat video laknat itu dari mana, ya jelas dari Alex yang sudah tidak perjaka sejak SMA.


"Menantu papi satu itu memang luar biasa, bisa membuat Bhumi yang super cuek dan gak peduli sama orang lain hingga terlihat kacau beberapa hari ini." Papi Gema geleng-geleng.


"Enakan mana Bhum.. tembak luar sama Flower apa tembak dalam sama Geva?" Tanya Papi Gema.


"Ngapain papi sebut-sebut nama istri aku?" Tanya Bhima yang tiba-tiba masuk ruangan Papinya tanpa ketuk pintu.


"Bhim.." Ucap Bhumi terkejut.


"Apa maksudnya tembak diluar sama Flo dan tembak dalam sama Geva?" Tanya Bhima. Papi Gema menghela nafasnya pasti akan menjadi masalah yang panjang jika Bhima tahu masa lalu Flower. Untung aja Bhumi gak sobek selaput dara Flower kan.


"Bhim.. papi hanya bercanda." Kata Papi Gema.


"Apa maksudnya?" Bentak Bhima menggebrak meja didepan Bhumi. Wajah Bhumi mendadak berubah.


"Bhim.. gue bisa jelasin.."


"Jelasin apa? elu udah making out sama Flower berapa kali ha?" Bhima menatap tajam Bhumi.


"Bhim.." Bhima rasanya ingin tertawa terbahak-bahak melihat wajah Bhumi yang serba salah.


Dan detik berikutnya,


"Kenapa muka elu pucat gitu Bhum?.hahahaha!" Tawa Bhima pecah.

__ADS_1


"Gue udah tau lama soal itu.. sumpah kenapa muka elu akhir-akhir ini tollol banget sih Bhum." Ucap Bhima lagi.


Papi Gema dan Bhumi saling pandang tak mengerti, atau lebih ke takut salah omong kedepannya lagi.


"Maksudnya?" Tanya Bhumi.


"Gue udah tahu dari Flower kalau kalian saat SMA dulu sering making out." Ucap Bhima santai.


Deg.


"Bhim.. gue minta maaf gue bisa.."


"Itu hanya masa lalu Flower, dan gue gak mau ungkit itu lagi, so.. gue hanya minta sama elu buat tidak mengingat sedikitpun tubuh Flower!" Ucap Bhima penuh penekanan.


"Nggak.. nggak... "


"Jujur!"


"Iya jujur... gimana gue mau ingat.. itu udah delapan tahun lalu.. lagian tiap hari gue lihat Geva aja udah buat gue merem melek sampai ke bawa mimpi." Ucap Bhumi dengan polosnya membuat papi Gema dan Bhima tertawa terbahak-bahak.


"Astaga.. gue lupa jemput Geva!" Pekik Bhumi langsung berdiri dan mengecek ponselnya. Puluhan panggilan tak terjawab dari Geva tertera karena ponsel Bhumi tadi di silent sejak rapat hingga saat ini.


"Otw bucin anakmu Pi." Kata Bhima.


"Sama seperti kamu kan Bhim.." Jawab Papi Gema.


"Ya.. siapa dulu bibitnya, bucin parah gak ketulungan dan kadang sampai gak tahu malu hingga lagi bergelut diatas ranjang lupa mengunci pintu, untung ditutup selimut, jad mata suciku tidak tercemari." Ucap Bhima .


"Kenapa emang? pengen? sana pulang dan praktekin." Ucap Papi Gema.


"Papi mesum!"


🍁


Geva benar-benar kesal dengan Bhumi, janjinya menjemput, tapi sudah dikirim pesan 30 menit sebelum bel tidak membukanya di telpon berkali-kali juga tidak diangkat. Parahnya lagi, Naomi sudah pulang lagi, dan dia gak bawa uang cash buat naik taksi sedangkan ATM gak bisa, M-banking belum dia aktif kan.


Yaudah lah.. menunggu Bhumi aja...


Sejam lebih Geva menunggu Bhumi duduk dibawah pohon beringin yang ukurannya cukup besar dan terdapat bangku-bangku yang memang disediakan untuk menunggu jemputan.


"Katanya saja mau meyakinkan aku, janji mau antar jemput.. tapi nyatanya lupa lagi kan.. emang gak pernah serius sama aku.. coba kalau sama kak Flo." Gumam Geva menghela nafasnya.


Hari ini emosi Geva cukup naik turun, maklum hari pertama datang bulan dan tembus pula... Namun, Geva lega sekali saat tamu tak diundang ini datang pas jam istirahat siang tadi. Itu artinya dia bulan ini aman tidak hamil.


Dan emosi Geva yang naik turun bagaikan rollercoaster itu membuat Geva ingin sekali memakan Bhumi hidup-hidup.


Akhirnya saat pulang sekolah tadi, ternyata tembus tamu bulannya, hal itu.membuat theo langsung menutup rok Geva bagian belakang dengan jaketnya. Ah Theo ternyata gak kalah so sweet sama Bhima.


"Vania.. kenapa masih disini? pulang bareng yuk." Ajak Fabian yang berhenti diatas motornya.


"Pak..."


BERSAMBUNG..


LIKE LIKE LIKE

__ADS_1


BIAR SEMANGAT UPDATENYA! MAKASIH 🥰


__ADS_2