
VOTE VOTE VOTE!!!
KITA LIHAT DAPAT BERAPA VOTE HARI INI HEHE...
HAPPY READING 🍁
Bhumi sudah meninggalkan ruangan Geva dengan emosi yang memuncak, Mama Rachel meminta papa Arsa untuk menenangkan menantunya. Papa Arsa menghela nafasnya dalam-dalam jika harus berhadapan dengan anak sahabatnya sekaligus menantunya itu yang sangat keras kepala.
Sementara mama Rachel berusaha menenangkan putri kesayangannya. Kondisi ini memang tidak mudah. Mama Rachel paham, itu tadi adalah bentuk keterkejutan Geva menanggapi dirinya yang keguguran sementara dia tidak tahu sebelumnya jika dia tengah mengandung.
Tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini, yang perlu dilakukan hanyalah menekan ego dan emosi, menerima semuanya dengan penerimaan yang selapang-lapangnya.
"Ma.. gak mungkin kan aku hamil?" Tanya Geva dengan pandangan kosong.
"Sayang... kamu sabar ya nak.."
"Ma.. kenapa dia pergi bahkan sebelum aku mengetahui keadaannya?" Tanya Geva dengan air mata yang mengalir.
Mama Rachel kini paham, anaknya bukan belum menginginkan hadirnya anak ditengah-tengah dirinya dengan Bhumi nyatanya Geva langsung sedih setelah sadar apa yang terjadi padanya.
Mungkin mental dan emosi Geva yang masih labil membuatnya dia bingung antara ingin segera punya anak atau menundanya. Tapi melihat bagaimana rapuhnya Bhumi tadi saat masih di ruang UGD, mama Rachel tahu bahwa menantunya itu sudah sangat mencintai putrinya dan ingin memiliki anak dari rahim sang putri.
"Sayang tenang sayang..." Kata Mama Rachel untuk kesekian kalinya.
Bukannya berhenti dan tenang seperti perintah sang mama, justru Geva semakin menangis histeris. Geva nekat sampai memukul-mukul perutnya sendiri dan menyalahkan perutnya yang tidak bisa melindungi janin di dalamnya.
Entah mengapa bayangan bayi perempuan yang lucu hadir dalam benak Geva semakin membuatnya histeris, merasa bersalah sudah tidak hati-hati hingga menyebabkan sebuah nyawa yang harusnya berhak menghirup udara di dunia menjadi tidak memiliki kesempatan.
Sorot mata Bhumi yang penuh luka dan kekecewaan terekam jelas. Geva bingung harus bagaimana, dia bingung harus apa. Dia tidak bisa tidak menyalahkan dirinya.
Hingga Mama Rachel dan Naomi yang menjaga Geva sampai kuwalahan menghalau Geva untuk tidak memukuli perutnya yang sebenarnya masih sakit bahkan terdapat luka lebam yang cukup besar disana.
Akhirnya atas perintah Mama Rachel, Naomi memanggil pihak medis untuk datang. Dan dokter wanita terpaksa menyuntikkan obat penenang untuk Geva. Dengan begini, Geva akan beristirahat sejenak.
Ibu mana yang tidak hancur melihat buah hatinya serapuh itu?
Mama Rachel juga bingung dan merasa bersalah, semenjak Geva menikah dia memang kurang memperhatikan putrinya dan mengajak ngobrol Putrinya mengenai hal-hal semacam itu dalam rumah tangga.
Dia lupa mengarahkan anaknya yang masih labil itu, jadi sekarang wajar saja anaknya yang labil itu mengikuti apa yang dia mau sendiri.
🍁
__ADS_1
Papa Arsa mengejar sang menantu yang menuju keluar dari rumah sakit,
"Bhum.. tunggu kita harus bicara!" Kata Papa Arsa.
Bhumi mengentikan langkahnya dan menengok kebelakang disertai dengan hembusan nafas berat.
"Aku lagi pengen sendiri pa.. maaf." Kata Bhumi.
Papa Arsa tidak lupa, bagaimana Bhumi jika tengah emosi dan pikirannya kalut. Dia akan memilih sendiri menghindari banyak orang. Ingatkan bagaimana Bhumi pergi dari kediaman Bramantya setelah mengetahui Flower menikah dengan Bhima, dan dari sanalah perjalanan Bhumi dan Geva terukir kembali.
"Baiklah.. jangan melakukan hal-hal bodoh!" Kata Papa Arsa.
"Iya pa.. aku hanya butuh waktu. titip Geva ya." Ucapnya lalu menuju parkiran mobil karena Keenan tadi meninggalkan mobil Bhumi disana dan Keenan pulang dijemput orang suruhannya.
Saat papa Arsa hendak kembali ke ruangan sang putri, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dimana seseorang ingin menemui papa Arsa untuk membicarakan suatu hal yang penting. Papa Arsa mengurungkan niatnya untuk kembali ke ruangan Gevania.
🍁
Bukan Club malam tempat Bhumi menenangkan pikirannya disaat kalut, karena Bhumi memang tidak menyukai tempat tersebut. Selain ramai dan bising, Bhumi mengingat nasihat mami Naya jika alkohol hanya akan menambah masalah. Dan itu bukan cara yang bijak untuk mencari ketenangan dan melupakan masalah.
Hanya seorang pengecut yang mau melupakan masalah meskipun sejenak, karena sejatinya masalah ada untuk dihadapi dan diselesaikan dengan kepala dingin. Cukup sekali Bhumi mabuk dan hampir saja Renata juga Reno menjebaknya jika Geva tidak bertindak cepat waktu itu. Itu sudah cukup menjadi pelajaran berharga untuk Bhumi.
Disinilah Bhumi, di apartemen yang ia Tinggali dengan istri tercintanya belum lama ini. Dengan lampu yang belum menyala, Bhumi duduk di lantai kamar bersandarkan ranjang ukuran besar yang sebagai saksi bisu kegiatan-kegiatan panas mereka.
Tangan Bhumi terulur membuka laci nakas, sebuah obat dia ambil. Obat itu masih utuh, sama seperti waktu pertama kali dia temukan beberapa waktu lalu sebelum berangkat ke Jepang.
Obat yang Geva beli secara diam-diam, dan setelah Bhumi mencari tahu, obat itu adalah obat pencegah kehamilan.
Bhumi memilih diam dan tidak bertanya pada Geva, hanya saja dia mengganti obat Geva itu dengan vitamin yang warna dan bentuknya sama dengan obat pencegah kehamilan tersebut. Bhumi baru akan bertanya pada Geva jika Geva meminum obat tersebut. Namun nyatanya, sampai sekarang obat itu masih utuh dan Geva sembunyikan di laci nakas didalam dompet kecil untuk menaruh uang koin.
Hampir setiap hari Bhumi mengecek obat itu tanpa sepengetahuan Geva, namun tidak juga berkurang.
Sebenarnya apa yang ada dibenak Geva...
Bukankah resiko selalu melakukan hubungan intim itu adalah hamil?
Bhumi terus larut dalam pikirannya sendiri hingga matahari diluar berubah menjadi sinar bulan juga lampu-lampu kota. Bhumi masih setia dalam kesendiriannya, menenangkan emosinya.
Bhumi ingin sekali bertemu Geva dan memeluk wanita labil yang sangat ia cintai itu, tapi..
Bhumi takut, kalimat-kalimat yang tidak dia inginkan keluar lagi dari bibir Geva hingga membuatnya emosi kembali dan membentak Geva kembali. Bhumi tidak ingin menyakiti Geva.
__ADS_1
Sementara di rumah sakit,
Geva kembali mengerjapkan matanya, dan tangisnya pecah lagi. Di rumah sakit sudah ada Bianca dan Keenan juga Bhima yang datang. Flower sendiri memang tidak ikut suaminya meskipun Bhima tadi sudah mengajak Flower. Karena Flower tahu, perutnya sudah sedikit membuncit dan itu akan membuat Geva sedih mengingat janin dalam kandungannya tiada.
Flower sangat paham, pasti hal-hal sepele seperti itu akan menjadi sangat sensitif mengingat kondisi psikis Gevania.
Namun, Tidak ada Bhumi disana.
Naomi pun enggan pulang, dia mau menunggu sahabatnya sampai sembuh. Naomi merasa bersalah atas apa yang menimpa Geva. Berkali-kali Deon membujuk Naomi untuk pulang, gadis itu terus menolak.
Melihat Geva yang menangis histeris, Bianca langsung mendekat dan memeluk kakak ipar yang usianya lebih muda darinya itu. Gadis itu sangat menyayangi Gevania.. baginya dari dulu, Geva adalah adik kecilnya yang menemani masa kecilnya.
"Ge tenang ya.. gak apa-apa, semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan, dan Tuhan pasti akan memberikan gantinya. Yakin aja, ini adalah yang terbaik menurut Tuhan." Kata Bianca lembut. Keenan melihat kedewasaan Bianca yang dadakan itu pun tidak bisa menahan senyum di bibirnya. Gadis manja itu sekarang sok-sokan menjadi kakak yang bijak.
Bukan berhenti, Tangis Geva semakin menjadi-jadi mengingat Bhumi tidak ada disana untuk memeluknya.
Bianca paham itu, dan setelah ini dia pastikan akan membuat kakaknya itu menyesal sudah meninggal kan Gevania bahkan semenjak Gevania sadar belum ada satu pelukan atau kecupan pun yang Bhumi berikan untuk menguatkan istrinya.
Kakaknya satu itu memang benar-benar keterlaluan, mau bagaimana pun kepekaan Bhumi itu memang dibawah rata-rata.
Dokter lagi-lagi terpaksa memberikan obat penenang lagi untuk Geva supaya gadis itu istirahat dan tidak terus menyalahkan dirinya.
BERSAMBUNG..
BERSAMBUNG...
NIKMATI ALURNYA YA....
SEMUA AKAN ADA HIKMAHNYA,
PLEASE JANGAN DI HUJAT.. HEHEHE...
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR
TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR
TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR
__ADS_1
KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI
MAKASIH 🥰