
MALAM..
MAAFKEUN TELAT UPDATE...
KALAU MAU BESOK AGAK SIANGAN AUTHOR UPDATE LAGI...
JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR YA HEHEHE...TINGGALKAN BUNGA ATAU KOPI JUGA MAKASIH...
Bhumi benar-benar terpuruk, Keenan bahkan sampe beberapa kali menampar pipi Bhumi supaya Bhumi sadar bahwa Geva lebih membutuhkan dirinya saat ini.
Kondisi fisik Geva sangat lemah, dan Geva masih dalam penanganan dokter belum sadarkan diri.
Pernah hampir membuat Geva meregang nyawa karena keju saat kecil, lalu Geva menghilang seperti di telan Bhumi ternyata menancap begitu dalam pada alam bawah sadar Bhumi Bramantya di usianya yang menginjak remaja.
Membunuh orang dengan tangannya sendiri, juga menjadi pemicu Bhumi hidup dalam penyesalan dan selalu menyalahkan dirinya sendiri. Meskipun Bhumi terpaksa membunuh orang jahat tersebut demi menyelamatkan adik perempuannya, Bianca tetap saja, Bhumi mengalami trauma yang mendalam. Ditambah baru beberapa bulan lalu kejadian terulang kembali disaat dia membuat Geva lagi-lagi hampir meregang nyawa karena keju.
"Kalau kamu lemah seperti ini, bagaimana dengan Geva?" Bentak Keenan tidak tahan dengan kebodohan sang adik yang masih diposisi semula.
duduk dilantai, bersandar di tembok, dan tangan yang dia gunakan untuk menopang kepala dengan di taruh disalah satu lututnya.
"Elu menyesal percuma Bhum... jangan bodoh.. Geva sedang bertaruh nyawa disana." Kata Keenan lagi.
Beberapa menit lalu Keenan sudah menghubungi Mama Rachel dan Papa Arsa juga Deon, mereka terlihat berlari menuju depan ruang UGD melihat keberadaan Bhumi dan Keenan. Sedangkan dua guru disana sudah Keenan minta pulang, dan Deon tengah menjaga Noami yang masih pingsan.
"Keen.. ada apa?" Tanya papa Arsa, lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan itupun terlihat sangat cemas jika menyangkut anak perempuan nya satu-satunya.
"Keen.. katakan, ada apa.. bagaimana Geva bisa masuk rumah sakit?" Tanya Mama Rachel yang sudah menangis. Mereka memilih bertanya pada Keenan karena dirasa Keenan lebih waras. Melihat kondisi Bhumi saat ini dia benar-benar terlihat hancur.
"Geva terserempet motor saat praktikum olahraga dan dia keguguran." Kata Keenan.
Tangis mama Rachel semakin pecah.. mengapa putrinya mengalami hal yang sama dengan dirinya? dimana dulu dia juga kehilangan calon anak pertama mereka diusia kandungan yang menginjak 7 bulan.
"Semua salah aku pa.. ma.. maafkan aku gak bisa jaga putri Kalian dan calon cucu kalian." Gumam Bhumi dengan pandangan kosong dan air mata yang menangis.
"Seandainya aku melarang keras Geva untuk sekolah dan ikut praktikum olahraga semua tidak akan terjadi.. seandainya semalam kita tidak berhubungan intim, mungkin kandungan Geva masih kuat." Ucap Bhumi.
Papa Arsa sangat mengerti kondisi Bhumi saat ini, dia memberikan waktu untuk Bhumi meluapkan segala emosinya terlebih dahulu. Jika nanti Bhumi sudah sedikit tenang, maka dia akan ngobrol dengan menantunya itu sebagai seorang lelaki.
Mama Rachel menangis dalam pelukan suaminya, dokter sudah memberi tahu jika kondisi Geva masih sangat lemah tetapi sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.
Mama Rachel bersyukur anaknya masih selamat, meskipun sangat sedih kehilangan calon cucu pertama mereka, mau bagaimana lagi.
🍁
Dua jam sudah berlalu,
__ADS_1
Wajah Geva terlihat sangat pucat berbaring di brankar dengan selang infus yang menancap di tangan kirinya. Bhumi memandang istrinya dari jarak cukup jauh dimana dia duduk di sofa di ujung ruangan Geva. Sejak tadi Bhumi tidak mendekat ke arah sang istri, entah apa yang lelaki itu pikirkan.
Naomi yang sudah sadar dari pingsannya itupun duduk disamping Geva dengan air mata yang enggan mengering. Berkali-kali Naomi meminta maaf pada Bhumi, Mama Rachel juga Papa Arsa, karena ini semua terjadi karena dirinya yang tidak hati-hati sehingga hampir terserempet motor dan Geva menyelamatkan dirinya.
Sepertinya Bhumi masih belum bisa menerima kenyataan dimana dia kehilangan calon buah hati yang memang sudah dia tunggu-tunggu. Aura Bhumi benar-benar menakutkan dan tidak ada satu orang pun yang berani mendekat atau sekedar mengajaknya berbicara kecuali Keenan. Namun sayang, Keenan harus pamit kembali ke perusahaan lebih dulu karena dia harus memimpin rapat mewakili Bhumi.
Waktu terus berjalan, semua hanya diam tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Hingga akhirnya Geva mulai mengerjapkan matanya hingga terbuka sempurna.
Kepingan kepingan puzzle sebelum dia tidak sadarkan diri mulai kembali.
"Ma..." Panggil Geva lirih pada Mama Rachel yang duduk disamping ranjang bersama Naomi.
"Sayang.. akhirnya kamu siuman." Kata Mama Rachel tersenyum bahagia meskipun Geva dapat melihat dengan jelas bahwa mata mama Rachel sudah membengkak menandakan wanita itu selesai menangis. Papa Arsa pun mendekat ke arah sang putri.
"Gep. .. syukurlah elu buka mata.. maafin gue Gep .. maaf." Ucap Naomi mengambilkan air minum untuk Geva. Namun Geva menggeleng. Meskipun tenggorokan nya terasa kering, dia tidak berselera untuk minum.
"Apa yang terjadi ma?" Tanya Geva dengan suara sangat pelan. Mata Geva menangkap sosok lelaki yang selalu mengisi hari-harinya masih duduk di sofa memandang Geva namun enggan mendekat hingga mata mereka saling bertemu dan mengunci.
Geva merasa ada yang tidak beres dengan tatapan Bhumi.
"Ma.. apa yang terjadi?" Tanya Geva lagi.
"Sayang... kamu tenang ya.. kamu harus istirahat.. mana yang sakit?" Tanya Mama Rachel.
"Kamu keguguran sayang... tapi gak apa-apa.. yang penting kondisi kamu sekarang udah jauh lebih baik dari tadi. Jangan banyak pikiran dulu ya... gak apa-apa" Kata Mama Rachel lembut mengusap rambut sang putri tercinta. Mama Rachel sebisa mungkin menahan gemuruh hatinya juga menahan air mata yang hampir menetes.
Dunia Geva rasanya berhenti sejenak..
Dia masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Keguguran? Berarti dia hamil dong? ba.. bagaimana bisa?
Geva tersenyum sambil menggeleng,
"Mama bohong.. aku gak mungkin hamil ma.. aku belum pengen hamil dan belum pengen punya anak dalam waktu dekat ini. Bagaimana bisa aku keguguran." Kata Geva sedikit terkekeh namun masih lemas.
"Aku gak mungkin hamil ma.. perut aku sakit karena terserempet motor." Kata Geva lagi.
"Sayang .. mama..." Mama Rachel belum menyelesaikan ucapannya tapi sudah dipotong sang menantu.
"Kamu belum pengen hamil dan belum pengen punya anak? udah puas kamu sekarang? bahagia kamu sekarang membuat calon anak kita tiada? ha?" Bentak Bhumi yang sedari tadi diam.
Bhumi mendadak langsung emosi mendengar ucapan sang istri yang belum pengen hamil dan belum pengen punya anak.
"Kak.." Panggil Geva lirih.
"Bhumi! jaga ucapan kamu!" Bentak Papa Arsa.
__ADS_1
"Aku gak nyangka kalau kamu bisa mengucapkan hal itu setelah kita kehilangan calon buah hati kita.. Upss..
bukan kita.. tapi aku yang kehilangan! hanya aku!" Kata Bhumi tersenyum sinis dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Setelah mengucapkan itu, Bhumi langsung berdiri dan meninggalkan Geva dengan membanting pintu ruang rawat inap Geva.
Geva masih mematung, semuanya seperti mimpi..
Bagaimana dia mengetahui dia hamil dan disaat yang bersamaan juga dia mengetahui bahwa dia keguguran.
"Sayang jangan dengarkan ucapan suami kamu.. dia masih shock, Dia butuh waktu untuk menerima semua ini.." Kata Papa Arsa lembut.
Tangan Geva berlahan menyentuh perutnya yang rata, air matanya menetes begitu saja.
"Ma.. benarkah aku hamil ma?" Tanya Geva.
"Pa.. benarkah .?" Geva menatap kedua orang tuanya berganti dengan tatapan yang sangat-sangat menyedihkan.
"Gep.. tenang.." Kata Noami.
Nafas Geva naik turun... dia masih tidak percaya semua ini, tapi tadi saat kejadian kecelakaan itu, Geva sempat melihat darah mengalir di kakinya. Dan perutnya terasa sangat sakit sekali.
"Ke.. kenapa dia pergi? kenapa ma..? kenapa pa?"
Tanya Geva lirih.
BERSAMBUNG...
ADA YANG KANGEN MANIS-MANISNYA GEVA DAN BHUMI GAK?
KASIH HADIAH DULU DONG...
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR
TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR
TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR
KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI
MAKASIH 🥰
__ADS_1