Menikahi Gadis Menyebalkan!

Menikahi Gadis Menyebalkan!
Pelukan~


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam,


Mama Rachel masih setia menjaga putrinya yang terlelap akibat obat penenang yang dokter berikan sejak sore tadi ditemani oleh Deon, sedangkan papa Arsa pamit tidak bisa kembali ke rumah sakit sejak sore.


"Ma.. mama jangan sedih ya.. Geva pasti kuat." Kata Deon mengusap pundak mamanya dengan lembut.


"Mama gak sanggup lihat adik kamu serapuh tadi De." Helaan nafas Mama Rachel terdengar berat. Mama Rachel tidak pernah melihat Gevania menangis sampai sehisteris tadi. Apapun yang terjadi, seorang Gevania pasti akan selalu tersenyum dan tegar, dia memiliki seribu satu alasan untuk bahagia, tapi tadi... Geva sepertinya sangat frustasi.


"Terus dimana itu sahabat kamu... dia ngilang aja, udah tahu istrinya pasti membutuhkan dirinya."Omel Mama Rachel.


"Bhumi butuh waktu ma... pasti sebentar lagi dia akan datang.. percayalah ma.. aku udah tahu bagaimana sahabatku satu itu." Kata Deon.


"De.. apa Bhumi udah benar-benar melupakan Flower?" Tanya Mama Rachel, ada kecemasan dan rasa bersalah di dalam lubuk hati ibu paruh baya dua anak tersebut.


"Mama gak lihat bagaimana seorang Bhumi Bramantya menatap Gevania Azkia Wijaya?" Tanya Deon tersenyum. Lagi-lagi helaan nafas Mama Rachel dapat Deon dengar dengan jelas.


"Mama jangan khawatir ya, Bhumi tidak akan berpaling dari adik aku." Kata Deon menenangkan mamanya.


Ceklek.


Pintu rawat inap Geva terbuka,


Seorang lelaki tampan menampakkan dirinya setelah Berjam-jam meninggalkan sang istri yang terpuruk sendiri.


Penampilannya sangat-sangat berantakan. Kemeja yang ia kenakan sedari pagi dengan dua kancing atas yang terlepas, lengan yang digulung hingga siku dan rambut yang acak-acakan.


"Ma.. Yon.." Sapanya masih berdiri diambang pintu.


"Akhirnya kamu datang Bhum." Kata Mama Rachel tersenyum menatap sang menantu. Mama Rachel tidak akan memarahi Bhumi yang meninggalkan putrinya tadi, karena mama Rachel paham.. baik Bhumi maupun Geva butuh waktu untuk menenangkan hati mereka setelah guncangan hebat menerpa. Mereka masih sama-sama perlu banyak belajar tentang saling memahami, mengerti dan melengkapi satu sama lain.


"Mama sama Deon pulang aja.. biar aku yang menjaga istriku." Kata Bhumi melangkahkan kakinya mendekat ke arah ranjang Geva. Bhumi menatap makanan Geva di nakas masih utuh.. bahkan ada dua porsi belum tersentuh sama sekali.


"Tapi Bhum.."


"Kita butuh waktu berdua ma." Ucap Bhumi terdengar tegas dan tidak ingin dibantah. Mama Rachel sadar, Geva sekarang adalah tanggung jawab Bhumi.


"Kita pulang aja ma.. mama harus percaya sama menantu mama kalau dia bisa menjaga anak mama dengan baik." Kata Deon tersenyum pada sahabatnya.


"Baiklah.. mama titip Geva ya.. kamu yang sabar ya Bhum.. menghadapi Geva.. Dia berucap seperti tadi hingga membuat kamu emosi karena dia sendiri tidak percaya jika sebelumnya dia hamil. Setelah dia sadar dia hamil dan keguguran, dia langsung histeris menyalahkan dirinya sendiri karena tidak dapat menjaga janinnya dengan baik, bahkan dia juga menyakiti dirinya sendiri, sampe dokter terpaksa memberikan obat penenang untuknya lagi." Kata Mama Rachel masih ragu meninggalkan sang putri.


"Aku akan jaga dia dengan sangat baik ma. Percayalah ma.. aku sangat mencintai nya. Aku gak mungkin menyakitinya." Ucap Bhumi. Mama Rachel mengangguk.

__ADS_1


"Kalau begitu mama pulang dulu ya." Kata Mama Rachel.


"Gue balik ya." Pamit Deon menepuk punggung adik iparnya.


🍁


30 menit sudah Deon dan Mama Rachel meninggalkan rumah sakit.


Bhumi masih setia duduk termenung menatap wajah sang istri, sesekali ia mengusap lembut pipi sang istri dan menyingkirkan anak rambut yang menghalangi penglihatannya menatap wajah cantik yang terlelap itu. Jemarinya yang satu enggan melepas tautannya pada jemari-jemari lentik Gevania.


"Sayang.. maafkan aku yang tidak bisa mengontrol emosiku tadi.. maaf sudah membentak kamu." Kata Bhumi lembut. Air mata lelaki itu mengalir dengan sendirinya tanpa mampu ia tahan lagi.


Bhumi merasa sangat bersalah, karena Bhumi sudah mendapat kan tausiyah cinta panjang lebar dari Bhima, Bianca dan Keenan setelah mereka pulang dari rumah sakit. Bahkan Bhima sengaja merekam video Geva saat histeris tanpa sepengetahuan seorang pun.


Dan Video tersebut Bhima berikan pada Bhumi, Bhumi yang melihat istrinya juga terpukul karena kehilangan janin mereka itupun langsung menangis dihadapan kakak dan adiknya. Hatinya sangat sakit mendengar tangis Gevania.


Bagaimana dia bisa setega itu meninggalkan wanita yang dia cintai. Apalagi melihat tatapan Geva tadi, benar-benar membuat hati Bhumi terasa nyeri, tatapan Geva seolah mengharapkan pelukan Bhumi meskipun Bhumi sudah membentak nya tadi.


Bhumi merebahkan dirinya disamping brankar rumah sakit yang ukurannya cukup besar, dipeluknya Geva dari belakang, lalu Bhumi menyembunyikan wajahnya di cengkuk leher sang istri. Tangan Bhumi mengusap lembut perut Geva yang masih rata, perut yang beberapa jam lalu masih terdapat nyawa calon manusia lain didalamnya.


Bhumi menangis dalam diam, merutuki ketidakpecusan dirinya menjaga istri dan calon buah hatinya.


Geva merasa pundaknya basah dan sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya. Tubuh Geva masih sangat lemas karena seharian belum kemasukan apapun dan Geva tidak perlu bertanya siapa yang tengah memeluknya itu.


Ada rasa lega dihati Geva karena lelaki yang dicintainya tengah kembali dan memeluknya tapi sedetik kemudian Geva sadar, lelaki yang memeluknya masih terisak. Perlahan Geva menggenggam tangan kokoh yang memeluknya tersebut.


"Kak..." lirih Geva.


Bukan menjawab, justru sang suami semakin mengeratkan pelukannya. Geva dapat merasakan isakan Bhumi semakin kerasa dan terdengar jelas. Bahkan lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri.


"Kakak jangan menangis.." Kata Geva. Geva melarang Bhumi menangis tapi air matanya sendiri tengah jatuh membasahi pipinya.


Perlahan Geva merenggangkan pelukan Bhumi lalu mengubah posisinya menghadap Bhumi. Meski sedikit kesusahan dan badan yang terasa tidak bertenaga, akhirnya Geva dapat memandang wajah tampan seorang Bhumi Bramantya.


"Jangan nangis.. maafkan aku yang tidak bisa menjaga dia." Kata Geva mengusap pipi sang suami.


"Maafkan aku sayang..." Kata Bhumi terlihat sangat rapuh.


"Aku gak bisa menjaga kalian... aku yang salah.. aku tidak bisa menjadi suami yang peka dan pengertian." Kata Bhumi.


Geva menggeleng..

__ADS_1


"Kamu suami terbaik yang Papa Mama aku pilihkan. Kamu sudah banyak berusaha untuk mengerti aku.. jangan menangis. Hati aku sakit melihat kakak menangis... maafkan aku, aku udah menghancurkan impian kakak, aku udah jadi penyebab calon anak kita tiada." Kata Geva.


Bhumi merengkuh tubuh sang istri, keduanya menangis dalam pelukan yang hangat untuk saling menguatkan, saling memaafkan dan saling belajar menerima kenyataan.


Keduanya sama-sama memiliki luka yang cukup lebar dan keduanya sama-sama ingin saling menutup luka tersebut.


Cukup lama mereka menangis tanpa sepatah katapun, hingga Bhumi mengingat istrinya belum kemasukan makanan sama sekali.


"Sayang..." Bhumi menangkup kedua pipi Geva yang memang sedikit tembem dari sebelumnya.


Dikecupnya mata sang istri yang membengkak lalu dihapusnya air mata yang membasahi wajah cantik sang istri.


"Makan ya... aku suapi." Kata Bhumi.


Geva menggeleng lemah, dia tidak nafsu untuk makan, kesedihan benar-benar memenuhi dadanya.


"Kamu mau aku makin sedih jika kamu gak makan?" Tanya Bhumi lembut dan bangun dari brankar rumah sakit.


"Jangan pergi.." lirih Geva.


"Tidak akan, tapi kamu makan dulu!" Bhumi mengambil mangkuk yang berisi sup lalu dia mengarah ke pantry untuk menghangatkan sup tersebut karena ruangan rawat inap Geva adalah ruangan yang didesain khusus untuk keluarga Bramantya.


Setelah segala bujuk rayu Bhumi, Geva pun mau memakan sup dan Bhumi dengan telaten menyuapi sang istri.


"Sayang... kenapa kamu menyimpan obat penunda kehamilan?" Tanya Bhumi tiba-tiba. Geva langsung tersedak.


BERSAMBUNG...


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE


LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE


TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR


TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR


TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR


KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI


MAKASIH 🥰

__ADS_1


__ADS_2