
Disela-sela real life, author usahakan update tiap hari..
mohon kesediaannya yang masih memiliki vote untuk memberikan vote pada novel ini 🙏
yang udah kasih vote, bisa dukung author dengan memberikan like, hadiah ataupun komentar supaya algoritma MGM tetap stabil dan bagus.
terima kasih...
HAPPY READING 🍁
Kenyataan yang cukup membingungkan bagi seorang Gedeon, berniat mencari mertuanya di Bandung justru takdir mempertemukan dengan wanita yang merupakan cinta pertamanya dan wanita yang sangat ia hindari saat ini.
Bohong jika Deon bilang sudah melupakan wanita bernama Renata itu sepenuhnya, meski Deon juga bisa merasakan dengan sadar bahwa saat ini hatinya juga sudah diisi oleh Naomi.
Namanya move on tidak semudah komentar netizen dan ucapan para motivator, semua butuh proses dan waktu. Setidaknya Deon sudah berusaha menghindari Renata dan fokus pada Noami, gadis cantik yang sudah resmi menjadi istrinya itu.
Renata, wanita yang menghilang setelah di pecat Bhumi dari Bramantya Corp dan menampakkan batang hidungnya saat acara resepsi Bhumi dan setelah itu tidak ada kabarnya lagi ternyata sedang tidak baik-baik saja.
Deon begitu terpukul atas semua yang menimpa Renata saat ini karena semua itu terjadi akibat kesalahannya. Iya kesalahannya, dan Deon sangat menyesali hal itu. Apalagi Renata sudah banyak berubah, wanita itu tidak banyak ambisi lagi seperti dulu.
Dan...
Parahnya lagi, Mirna ibu kandung Naomi ternyata selama 10 tahun terakhir bekerja sebagai ART alias asisten rumah tangga di kediaman Wirahman, keluarga Renata. Dan saat ini menemani Renata yang memilih tinggal di Bandung untuk mencari ketenangan.
Oh dunia terasa sempit sekali.
Deon belum bertemu Mirna secara langsung, namun dari informasi yang Deon dapat dari Renata, Mirna adalah wanita yang baik, sabar juga lembut. Renata ternyata cukup dekat dengan Mirna karena merasa senasib, Renata ditinggal ibu kandungnya dan hidup dengan ibu tiri yang baik namun sangat sibuk, sedangkan Mirna dia kehilangan anak perempuan nya saat usai bayinya baru beberapa hari.
Deon lega, karena ternyata mertuanya bukan pelakor seperti yang Ayumi katakan karena ternyata Mirna banyak bercerita hidupnya pada Renata.
Setidaknya fakta itu tidak membuat Naomi pikiran yang terlalu jauh lagi. Karena beberapa kali Naomi mencemaskan nama baik keluarga Wijaya jika ternyata dia anak pelakor atau anak haram dan publik tahu akan hal itu. Padahal keluarga Wijaya tidak mempermasalahkan latar belakangnya.
Malam ini, sepanjang perjalanan Bandung- Jakarta Deon memutar otaknya untuk membicarakan banyak hal pada Noami, masalah kakek nenek Ayumi juga ayah dan ibu Naomi juga masalah Renata.
Namun, apa yang sudah Deon rencanakan sepertinya semua menguap begitu saja. Melihat wanita muda yang cantik termenung di teras panti asuhan dengan angin yang cukup dingin membuatnya merasa bersalah telah meninggalkan wanita itu hingga empat hari.
Malam ini, Deon ingin menghabiskan malam bersama Naomi, menikmati momen bersama setelah 4 hari berpisah karena sejujurnya Deon sangat merindukan wanita itu. Wanita yang membuatnya merasa sangat tenang apalagi setelah pertemuannya dengan Renata yang membuat hatinya kembali goyah meskipun Deon tidak pernah sedikitpun ada niat meninggalkan Naomi.
🍁
Hari sudah berganti... dan malam ini,
__ADS_1
Keluarga Wijaya mengundang Bhumi dan Geva untuk makan malam bersama setelah sore tadi papa Arsa dan Mama Rachel pulang dari luar negeri. Dan hari ini Deon memilih meliburkan diri menikmati waktu berdua dengan Naomi seharian tanpa gangguan siapapun sebelum orang tuanya kembali.
Suasana bahagia terus menyelimuti keluarga Wijaya, apalagi setelah pernikahan Deon dan Naomi. Lega rasanya memiliki menantu cantik baik dan sangat tulus hatinya, padahal mama Rachel selama ini sangat mengkhawatirkan Deon yang suka sama Rachel anak dari Sisil. Amit-amit lah punya mantu Sisil.
Mama Rachel hanya bisa tertawa dan geleng-geleng kepala. Anak perempuannya dan menantunya ternyata tidak bisa memasak. Masih mending sih Naomi bisa ceplok telur dan masak mie instan juga masak nasi di magic com dengan ruas jari sebagai takaran airnya.
Namun Geva?
Sama sekali tidak bisa. Menghidupkan kompor aja, bilangnya takut meledak. Emang dikira hidupin petasan.
Untung Bhumi mau menerima Geva apa adanya ya.. Untung Bhumi sabar ya...
Namun sudah mending sih, karena bantuan Flower, Geva sudah mengenal beberapa nama-nama bumbu dapur dan belajar mengupas bawang putih. Kalau bawang merah dia tidak sanggup, matanya perih.
Bukan tanpa alasan Geva tidak bisa masak, sebab memang dari kecil papa Arsa melarang Geva melakukan apapun. Anafilaktik yang Geva derita hingga keluar masuk rumah sakit dan beberapa kali hampir kehilangan nyawa, membuat Papa Arsa sangat memanjakan Geva.
"Ge kamu harus belajar masak deh.. kasian entar anak kamu nanti mau kamu kasih makan apa." Kata Mama Rachel perihatin. Dia merasa gagal menjadi ibu yang tidak mengajari anaknya dengan baik sebagai wanita yang menjadi istri dan calon ibu.
"Mama tenang aja, aku akan cari koki yang akan masak di rumah." Bukan Geva yang menjawab, melainkan Bhumi.
"Tapi Bhumm."
"Sudahlah ma... Bhumi benar, passion Geva bukan di masak memasak, jangan dipaksakan." Sahut Papa Arsa, selalu saja seperti itu.
"Enak aja! gue gak sebegok itu kali.. gue juga bisa bedain mana garam mana gula kak. Tanya aja Naomi, iya kan Nom..." Sambung Geva tidak terima.
"Iya,.." Naomi tersenyum. Entah kenapa mama Rachel yang menyuruh Geva belajar memasak cukup menyentil hatinya, sebab sebagai menantu dia juga gak bisa memasak.
"Ma.. mama kalau gak sibuk mau gak ajarin Naomi memasak?" Tanya Naomi memberanikan diri dengan hati-hati.
"Kamu mah gak usah belajar masak dulu, pengantin baru cukup puas-puasin aja masak diatas kasur biar mama segera punya cucu. Lagi pula kamu tinggal disini sama mama, jadi Mama bisa bantuin kamu.. lah, anak itu..." Mama Rachel menunjuk Geva dengan ujung garpu.
"Milih hidup mandiri gak bisa masak, terus nikahnya juga udah berbulan-bulan tapi gak ada kemajuan!"
"Enak aja! ada tau ma!" Kata Geva tidak terima ditunjuk-tunjuk sang mama.
"Apa?" Tanya Deon penasaran.
"Kemajuan udah bisa ngupas bawang putih, dan bikin adonan anak kembar yang sebentar lagi tumbuh disini." Kata Geva penuh optimisme mengusap perutnya yang rata padahal belum ada tanda-tanda hamil.
Padahal Geva dulu benar-benar ingin menunda kehamilan, tapi setelah dia tahu bahwa dia keguguran tanpa sadar akan kehamilannya, rasanya Geva menyesal. Sangat menyesal dan ingin segera hamil lagi untuk menebus kesalahannya pada calon janin yang tiada itu.
__ADS_1
"Cepat tumbuh disini ya anak-anak Daddy.." Kata Bhumi ikut mengusap perut rata Geva dengan wajah bahagia dan penuh cinta.
Mama Rachel saling pandang dengan papa Arsa, begitu juga Deon dan Naomi.
Oh sungguh rasanya seperti mimpi, Bhumi sahabatnya yang super kaku seperti besi karatan itu bisa berwajah semanis itu?
Iya sih Bhumi memang banyak bicara setelah menikah dengan Geva dan juga lebih banyak tersenyum jika bersama keluarga dan sahabat.
Tapi gak sealay itu juga kali...
"Ngapain elu lihatin gue dari tadi?" Tanya Bhumi pada Deon dengan tatapan tajam. Auranya berubah 180 derajat.
"Elu sehat kan Bhum?" Tanya Deon.
"Kenapa emang?"
"Kok elu jadi alay sih?"
"Siyalan!" Umpat Bhumi.
"Eh jaga itu mulut ya.. gue kakak ipar elu.. tjatet! noh tjatet!" Kata Deon.
"Iya mas Deon.." Kata Bhumi dengan nada manja meniru Naomi membuat semuanya tertawa terbahak-bahak termasuk Geva dan Naomi. Namun yang dipanggil Bhumi justru bergedik ngeri..
"Anjay su ranjay! ketularan adik gue ini pasti nih.. pasti, karena hanya adik gue yang punya aliran sesat macam begitu." Kata Deon.
"Kamu itu ada-ada saja sih bee." Kata Geva terkekeh menepuk lengan suaminya. Geva tidak menyangka suaminya bisa se absurd itu.
"Bee.. beaaa cukai?" Nyinyir Deon.
"Nyinyir aja sih elu.. manis-manisin tuh bini sebelum negara api menyerang dan ujian datang melintang." Kata Geva mengingat kan sang kakak bahwa sebentar lagi pasti ada ujian dalam pernikahan seperti yang Geva alami dengan Bhumi diawal-awal Pernikahan, tidak mudah dan banyak memakan waktu, energi juga hati.
Geva berharap, Naomi dan Deon bisa saling menguatkan dan bertahan, sekuat Geva mempertahankan Bhumi hingga Bhumi benar-benar mencintainya.
"Hidup kita mah akan selalu bahagia, iya kan mas " Sambung Naomi optimis.
"i.. iya.." Kata Deon ragu bahkan sampai memejamkan matanya namun tidak disadari Naomi yang duduk disampingnya. Sedangkan Geva yang ada didepannya menangkap ekspresi sang kakak.
...BERSAMBUNG......
ALURNYA TERLALU LAMBAT YA..
__ADS_1
SABAR DULU YAA..HABIS SHOCK TERAPHY AKU CEPETIN DEH YA.. SABAR DULU. HABIS INI.