Menikahi Gadis Menyebalkan!

Menikahi Gadis Menyebalkan!
Menunggu Deon~


__ADS_3

Nunggu 100 komentar buat update,


akhirnya tembus 100 komentar juga.. makasih ya.. spesial untuk pembaca setia...


HAPPY READING 🍁


Kadang hidup yang kita jalani memang tidak sesuai dengan ekspektasi. Seperti hal nya Noami, dia berpikir setelah dinikahi seorang Gedeon Aiden Wijaya, lelaki yang teramat dia cintai hidupnya akan bahagia terus. Dia akan memiliki banyak waktu berdua dengan sang suami, bisa romantis-romantisan dengan sang suami seperti Geva dan Bhumi ataupun Bhima dan Flower. Namun nyatanya tidak.


Setelah pulang dari Bandung tengah malam beberapa hari lalu, Deon pergi lagi ke Bandung pada siang hari hingga detik ini, sudah 4 hari berlalu. Naomi sangat merindukan sosok Deon.


Iya memang, Deon selalu menghubungi dirinya dan memberikan perhatian penuh padanya meskipun lewat telfon tapi tidak membuat rasa kecewa Naomi berkurang.


Rasanya Naomi ingin menjadi wanita egois dengan menahan Deon tetap berada disampingnya atau minimal Deon mengajaknya ke Bandung lah, Noami juga tahu dia tidak akan mengganggu pekerjaan suaminya kok.


Memang, masalah di mall baru yang akan Deon buka akhir bulan ini di kota kembang tersebut cukup besar, dan Deon harus turun tangan langsung mengawasi perkembangan masalah tersebut supaya saat pembukaan nanti segalanya sudah selesai. Tapi apa harus sesibuk itu?


Terakhir kali mereka melakukan hubungan suami istri saat malam pertama setelah SAH menjadi sepasang pengantin baru hingga pagi. Bukankah biasanya pengantin baru selalu ingin berduaan? tapi mengapa tidak dengan Deon?


Naomi jadi berpikir ulang, sebenarnya mengapa Deon ingin segera menikahinya sih? ada apa? Apa mungkin Deon beneran cinta dengannya? Kalau iya, mengapa Deon membiarkan Naomi kesepian beberapa hari ini? Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar di kepala Naomi, namun Naomi belum memiliki keberanian mengungkapkan isi hatinya pada Deon.


Naomi pasrah.


Naomi hanya bisa menunggu kepulangan sang suami, rumah mewah keluarga Wijaya terasa sangat sepi dan asing untuk Naomi, sehingga Naomi memilih menginap di panti Asuhan. Papa Arsa dan Mama Rachel juga belum pulang dari luar negeri sedangkan Geva baru sore ini pulang dari Korea dengan Bhumi dan langsung ke rumah pribadinya.


Naomi menghela nafasnya,


"Kenapa masih diluar Omi?" Tanya Bu Asih menyusul Naomi yang duduk di teras panti. Beberapa hari ini Bu Asih melihat Noami nampak murung dan sedih.


"Kenapa aku merasa kak Deon masih jauh dari jangkauan aku ya Bu, padahal status kita udah suami istri?" Tanya Naomi menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang.


"Nak, tidak ada rumah tangga yang berjalan mulus. Memang begitu, harus ada banyak kerikil bahkan juga tidak sedikit krikil tajam yang bisa membuat kalian terluka atau saling melukai, tapi nikmati prosesnya. Selalu percaya dan ingat komitmen awal kalian, juga dewasa. Karena berumah tangga adalah ibadah yang dijalani seumur hidup. Jadi... gak mungkin kan ibadah tanpa ujian?" Kata Bu Asih mengusap lembut rambut Naomi.


"Entahlah Bu, aku merasa ada yang kak Deon tutup-tutupi dari aku. Ada yang aneh dengan sikapnya setelah pulang dari Bandung kemarin meskipun dia setiap saat mengirim pesan dan menelfon aku."


"Jangan suka berprasangka, tidak baik! tanyakan langsung sama yang bersangkutan. Ayo masuk udah malam.. udara sangat dingin loh, mau hujan.. nanti kamu masuk angin."


"Ibu masuk dulu.. nanti Omi menyusul." Ucapnya.


30 menit kemudian,

__ADS_1


Naomi memejamkan matanya dibarengi dengan air mata yang sudah terjun bebas di pipinya. Dia begitu menghayati musik yang dia dengar dari handset nya. Menikmati hembusan angin yang begitu dingin karena cuaca mendung, namun tetap saja tidak sedingin hubungannya dengan Deon.


Tiba-tiba dia merasakan sebuah pelukan dari belakang. Naomi terkejut, namun dia memilih diam setelah menghirup aroma parfum seseorang yang memeluknya, Aroma yang sangat menenangkan hatinya.


"Kenapa masih diluar? nanti kamu sakit." Tanya seseorang yang memeluk Naomi tersebut.


"Kangen ya sama aku?" Tanyanya lagi melepas pelukannya pada Naomi dan duduk disamping Naomi.


"Katanya cuma sehari kenapa sampai selama ini?" Tanya Noami mengalihkan pandangannya Karena matanya sudah berkaca-kaca mendengar suara dari orang yang sangat dia rindukan.


"Maaf ya istriku, pekerjaanku sangat banyak. dan aku ingin segera menyelesaikan nya karena setelah ini kita punya banyak waktu berdua." Ucap Deon.


"Tapi..."


CUP!


Deon mengecup bibir Naomi secara sekilas dan tersenyum.


"Kamu gak mau mengajak suami kamu masuk?" Tanya Deon pada sang istri yang cemberut.


"Yaudah ayo masuk!"


"Kamu gak mau juga tanya, suami kamu ini udah makan apa belum? ini udah hampir jam 10 malam loh.. suami kamu belum makan." Kata Deon menampilkan wajah sedihnya.


"Sekalian kamu pamit sama Bu Asih ya. Kita pulang ke rumah, aku ingin berduaan sama kamu, dan aku ingin memberikan kamu kabar bahagia."


"Ka kabar bahagia? Apa itu?" Tanya Naomi.


"Soal ibu kandung kamu.."


"Aku..."


"Dia adalah wanita yang sangat baik dan sabar, aku sudah menemukannya, tidak percuma kan suami kamu ini bekerja lembur mengurus perusahaan dan mencari mertuanya." Ucap Deon.


"Kak.." Mata Naomi berkaca-kaca merasa bersalah pada suaminya karena sudah berprasangka buruk.


"Udah jangan cengeng! ayo kita pamit dan cari makan.. "


"Makasih ya kak." Naomi memeluk Deon.

__ADS_1


"Aku itu lebih suka kamu panggil mas loh dari pada kakak, huh! dan aku akan melakukan apa saja untuk segera mengesahkan pernikahan kita termasuk mencari orang tua kandung kamu." Kata Deon tersenyum sambil mengusap pipi sang istri dengan lembut.


🍁


Kediaman Bhumi Bramantya,


Geva tampak sangat cemberut setelah sampai rumah. Bagaimana bisa seorang Keenan yang dia pancing habis-habisan ternyata tidak menunjukkan kecemburuannya sama sekali dengan Bianca, padahal jelas-jelas segala perhatian Keenan itu berlebihan pada Bianca.


Bhumi saja sebagai kakak kandung Bianca tidak sedetail itu mengurusi hidup Bianca.


"Kamu kenapa sih bee, dari tadi bibir manyun terus? capek? sini aku pijitin.," Kata Bhumi menepuk ranjang.


"Kamu kalau mijit mah bukan mijit kaki atau tangan yang capek, tapi mijitin dada!" Kata Geva membuat Bhumi terkekeh.


"Kenapa-kenapa?"


"Cariin calon buat kak Caca deh, aku pengen lihat kak Keenan nangis kejer!"


"Kamu masih menganggap kak Keen sayang sama Caca dengan sayang tanda kutip." Geva mengangguk.


"Jangan ngaco deh bee.. dari Caca kecil emang kak Keen paling protektif sama Caca, dulu pas Caca baru lahir aja kata Mama Bela, kak Keen selalu mengawasi siapa saja yang mencium Caca pagi hari, udah sikat gigi belum? Ah pokoknya kak Keen memang overprotektif sama Caca dari bayi, jadi wajar jika kebawa sampai sekarang." Jelas Bhumi.


Oh baiklah, Geva bisa mengerti. Mungkin memang Keenan tidak memiliki perasaan 'cinta' pada Bianca melebihi Kakak pada adiknya.


"Tapi apa kak Bhumi gak mikir, bagaimana perasaan Kakak Caca. Gimana kalau kaka Caca baper?" Tanya Geva memancing sang suami.


"Nggaklah! mana mungkin! Caca juga tahu jika Kak Keen dan dia adalah saudara jadi gak mungkin. Udah jangan ngaco deh mikirnya, sekarang kita bobok sambil pelukan yuk! karena besok aku udah kerja bee." Kata Bhumi.


"Kamu salah bee.. salah besar! ah kenapa kebanyakan lelaki itu gak peka sih!" Teriak Geva dalam hati.


"Udah sini deh sayangku.. cintaku..." Kata Bhumi lagi memecah lamunan Geva. Geva hanya menurut.


Ah Geva membayangkan diposisi Bianca kenapa sangat sakit sih, mencintai lelaki tidak peka dan memberikan perhatian lebih,


Rasanya kayak makan buah simalakama, mau menjauh juga gak bisa dan malah menimbulkan masalah baru, tidak menjauh hati makin hancur!


Mengapa bisa gadis sesempurna Bianca mencintai lelaki seperti Keenan? padahal di luar sana banyak lelaki yang pasti mengantri untuk Bianca.


Bersambung...

__ADS_1


SEGINI DULU YA.. SEMOGA MALAM INI BISA LANJUT LAGI...


TARIK SIST... 💃


__ADS_2