Menikahi Gadis Menyebalkan!

Menikahi Gadis Menyebalkan!
Bhumi Ngambek~


__ADS_3

HAPPY READING GAES 🍁


Hari kini tengah berganti bulan dan sampai saat ini belum ada sedikitpun kabar mengenai keberadaan Naomi. Geva terus murung karena memikirkan nasib Naomi sehingga kadang jika diajak Bhumi ngobrol Geva menjadi tidak fokus.


Bhumi mencoba sabar dan berusaha memaklumi Geva yang terus merasa bersalah karena dari dulu Geva lah yang paling gencar menjodoh-jodohkan Noami dengan Deon dan dengan harapan Deon bisa segera move on dari Renata. Tapi nyatanya justru Naomi disini yang paling tersakiti oleh kelakuan Deon dan Renata.


Ah jodoh memang tiada yang tahu,


Manusia hanya bisa mengusahakan, selebihnya Tuhan yang menentukan.


"Bee.." Panggil Bhumi saat memasuki kamarnya dengan Geva yang ada di kediaman keluarga Wijaya. Wajah Bhumi terlihat sangat lelah karena harus lembur hingga jam 10 malam. Bhumi juga belum sempat makan malam tadi.


Semenjak kejadian Deon beberapa waktu lalu Bhumi memutuskan tinggal di kediaman mertuanya sampai kondisi kesehatan mereka baik. Karena, mama Rachel jika sendiri masih suka melamun dan menangis mengingat menantunya yang pergi entah kemana. Dan Geva pun selalu murung, Setidaknya jika ada Geva keduanya bisa saling mengobrol dan menguatkan.


Pernikahan Deon dan Renata ternyata mampu membuat saham Wijaya Group kembali stabil setelah sebelumnya anjlok karena berita Deon yang menghamili Renata.


"Bee.." Panggil Bhumi lagi namun belum ada jawaban.


"Bee kamu dimana?" Mata Bhumi kemudian menangkap pintu balkon yang terbuka, lagi-lagi pasti istrinya ada di balkon untuk melamun. Bhumi menghela nafasnya lalu menuju ke arah balkon.


Benar kan,


"Mau sampai kapan kamu terus seperti ini?" Tanya Bhumi dengan suara yang cukup keras karena setiap dia pulang kantor sedikit telat pasti Geva melamun di balkon.


"Kak.. kapan pulang? Maaf aku gak denger." Jawab Geva terperanjat mendengar suara Bhumi namun tetap tersenyum menyambut kedatangan suaminya.


"Pantas saja kalau kamu gak dengar, orang kamu sibuk dengan kesedihan kamu sendiri dan sudah tidak mempedulikan suami kamu lagi." Ucap Bhumi dengan nada ketus kembali memasuki kamarnya meninggalkan Geva yang masih berdiri di balkon.


"Kok kamu ngomongnya gitu." Ucap Geva mengikuti suaminya.

__ADS_1


"Lalu aku harus ngomong apa lagi?" Bhumi menghentikan langkahnya dan menatap tajam pada istrinya. Emosi Bhumi sepertinya sedang tidak stabil efek kecapean dan lapar.


"Ya harusnya kamu ngertiin aku dong! aku itu lagi sedih, sahabat aku menghilang, kakak aku nikah sama wanita berbisa itu! Mama dan papa aku sakit!" Geva tidak terima, dia pun mulai meninggikan suaranya.


"Sampai kapan aku harus ngertiin kamu sedangkan kamu gak pernah ngertiin aku? apa kurang aku memberikan waktu kamu satu bulan untuk terus seperti ini ha? Bahkan aku mengalah untuk tinggal disini demi mama dan papa padahal jarak kantor cukup jauh dari sini, belum lagi aku juga udah berusaha membantu kamu untuk mencari Noami. Tapi kamu?" Bhumi semakin menggunakan nada tingginya dalam berbicara.


Geva terdiam, benar yang dikatakan suaminya. Namun, egonya masih tinggi.


"Gara-gara aku gak dengar kamu pulang aja kamu marahnya begini sama aku, sampe bentak-bentak! Kan aku udah minta maaf sama kamu!" Protes Geva.


"Sekarang aku tanya sama kamu, kapan terakhir kamu memanjakan suami kamu? kapan terakhir kamu bertanya pada suami kamu, apa suami kamu sudah makan atau belum setiap pulang kantor? kapan juga kamu terakhir menyiapkan baju ganti buat suami kamu? dan kapan terakhir kali kamu melayani suami kamu diatas ranjang? Kapan? ha? bahkan aku meminta pun, kamu menolak dengan alasan nggak mood!" Tanya Bhumi dengan sedikit membentak.


Geva terdiam menatap Bhumi dengan segala rasa bersalahnya. Ada rasa sakit yang tiba-tiba Geva rasakan sampai ke ulu hatinya.


Benar memang, akhir-akhir ini dia tidak memperhatikan suaminya dengan baik. Entah kenapa moodnya sangat buruk selama hampir sebulan terakhir. Geva pun gampang nangis jika mengingat kejadian-kejadian yang tidak ia sukai. Geva lebih suka menyendiri tidak bertemu banyak orang dan enggan ngobrol, Geva menjadi lebih pendiam.


"A.. a.. aku.." Air mata Geva mulai menetes, membayangkan berada di posisi Bhumi yang sudah sangat sabar menghadapinya.


"Jangan tinggalin aku! Maafkan aku!" Kata Geva langsung memeluk Bhumi dari belakang.


Bhumi menghentikan langkahnya, mengatur nafasnya yang naik turun demi menstabilkan emosinya yang memuncak.


"Lepasin aku!" Perintah Bhumi mencoba melepaskan tautan tangan Geva yang begitu erat melingkar diperutnya.


"Enggak! jangan tinggalin aku, maafin aku... hiks.. hiks.. hiks.."


"Sudahlah Ge.. aku sangat capek dan aku sedang malas berdebat. Malam ini aku akan tidur di apartemen, Aku berikan waktu kamu untuk sendiri dari pada kehadiran aku gak pernah kamu hargai."


"Tapi kak."

__ADS_1


"Aku pergi! Makan teratur dan pikirkan apa kesalahan kamu!" Kata Bhumi pergi meninggalkan kamarnya.


Geva hanya bisa menangis menatap punggung Bhumi yang kini tengah hilang di balik pintu kamarnya. Jika sedang emosi seperti ini, Bhumi pasti memilih menyendiri dan mau tidak mau Geva pun membiarkan Bhumi pergi untuk sementara waktu.


🍁


Dua hari telah berlalu,


Selama dua hari itu pula Bhumi tidak ada menghubungi Geva sekalipun. Bahkan Geva yang datang ke kantor Bhumi pun, Bhumi tidak bisa ditemui karena sedang rapat dengan para petinggi perusahaan.


Parahnya lagi, password pintu apartemen pun Bhumi ganti. Apa maksud dari semua ini?


Ada apa dengan Bhumi? Se-marah itukah Bhumi dengan dirinya sampai puluhan panggilan darinya pun tidak Bhumi jawab.


Rasanya Geva ingin sekali menangis sejadi-jadinya di depan pintu apartemen Bhumi.


"Gege... kamu ngapain berdiri disitu? kenapa gak masuk?" Tanya Bianca yang baru keluar dari pintu apartemen milik Keenan


"eh . A.. aku gak apa-apa Ca." Ucap Geva mencoba tersenyum. Bagi Geva masalah rumah tangganya tidak untuk dikonsumsi orang lain. Cukup dia dan Bhumi aja yang tahu.


"ikut aku yuk.. aku mau ke kantor kak Bhumi, mau nganterin makan siang untuk kak Keen." Ucap Bianca.


"Baiklah." Ucap Geva.


Saat Geva dan Bianca mengobrol depan pintu apartemen Keenan, tiba-tiba pintu apartemen Bhumi terbuka dari dalam dan keluar lah sosok wanita cantik dari sana.


"Ka.. kamu siapa?" Tanya Geva dengan mata berkaca-kaca.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Eh kira-kira ada yang mau kasih Vote gak nih?


__ADS_2