
WARNING!!
JANGAN DIBACA SAAT PUASA.. KARENA TAKUTNYA MEMBUAT AMAL IBADAH PUASA KALIAN RUSAK KARENA MEMBACA NOVEL INI YANG TIDAK ADA MANFAATNYA SAMA SEKALI.
BACANYA MALAM AJA YA... HEHEHE...
Bhumi menatap wajah cantik yang kelelahan dengan mata terpejam itu dengan lekat dan penuh damba. Sudah hampir satu jam pergulatan panas diatas ranjang itu telah usai hingga keduanya dipenuhi dengan peluh asmara yang tersalurkan dengan penuh cinta.
Segala rindu yang selama ini tersimpan hingga membuat hari-hari porak-poranda itu pun terlampiaskan dengan sempurna.
Dalam kegiatan panas Bhumi dan Geva tadi, keduanya sama-sama saling mendamba dan memuji juga mengucapkan kata-kata cinta yang membuat bunga-bunga bertebaran di kamar apartemen yang memiliki ukuran tidak terlalu besar namun masih tetap mewah juga elegan dengan warna-warna kesukaan Bhumi tentunya.
Delapan jam duduk di pesawat Meskipun di bangku first class pasti Geva cukup capek.. apalagi mereka telah melakukan hingga 3 ronde dalam durasi waktu yang cukup lama.
Bhumi mengusap lembut rambut Geva karena Geva tidur berbantal kan lengan kokoh Bhumi.
Dihirupnya rambut halus dan wangi milik sang istri,
Sepertinya Geva juga baru dari salon untuk perawatan diri sebelum bertemu dengannya.
Bhumi mengecup kening Geva dengan lembut sambil terus berpikir sebenarnya ada apa? apa yang membawa Geva hingga kesini, Renata kah?
Bhumi masih bingung dengan apa yang terjadi dengan istrinya, mengapa Geva bisa menyusulnya? bukankah harusnya Geva malam ini sedang menikmati waktu bersama teman-teman nya di tempat camping?
Lalu Bagaimana bisa Geva tahu apartemen nya juga kamarnya. Untung kan tadi Bhumi lupa mengunci kamarnya. Pasti Geva punya orang dalam ini, apa Satria? rasanya tidak mungkin.
Sungguh, Bhumi sangat sangat penasaran.
Namun,
Melihat Geva yang sangat damai dalam pelukannya itu membuat Bhumi menyimpan sementara rentetan pertanyaan yang siap ia ajukan pada Gevania.
Meredam dulu segala rasa penasarannya karena Bhumi tidak ingin melewatkan momen langka yang sudah hampir sebulan tidak ia lakukan, tidur sambil memeluk Geva yang kelelahan setelah Bhumi mengeluarkan jurus Kamehame nya.
"Semoga kamu segera hadir disini ya.." Gumam Bhumi pelan mengusap perut rata Gevania dengan hati yang penuh harap pada Sang Kuasa yang memberikan segala keajaiban dan kehidupan.
Bhumi sudah sangat ingin memiliki keturunan dari Gevania, bukan karena Flower sudah hamil anak Bhima, bukan. Bhumi gak peduli orang menyuruhnya segala menyusul sang mantan yang akan memberikannya keponakan.
Bhumi sudah benar-benar tidak memikirkan Flower lagi sebagai mantan. Bagi Bhumi, Flower adalah kakak iparnya yang baik, kenangannya dengan Flower saat SMA sudah benar-benar tertutup rapat dengan kesepakan keduanya dan disaksikan oleh Bhima.
Siang tadi, seseorang mengirimkan pesan pada Bhumi. Awalnya Bhumi merasa itu tidak penting dan enggan membuka nya karena nomor baru tapi entah mengapa Bhumi mendadak penasaran dan meminta Satria mencari tahu siapa pemilik nomor tersebut. Ternyata adalah Theo.
Theo mengirimkan pesan pada Bhumi? untuk apa?
Bhumi yang penasaran itu pun langsung membuka dan membaca pesan dari Theo tersebut. Bhumi mah beda... harus tahu dulu siapa pemilik nomor baru itu, baru deh buka pesannya.
Pesan yang berisi tentang pemberitahuan untuk Bhumi agar waspada dan hati-hati jika ada seorang lelaki yang sedang berjuang mendekati Gevania. Lelaki yang memakai cara-cara cantik hingga Geva tidak menyadari.
Theo menjelaskan, bahwa Lelaki itu menggunakan impian Geva sebagai senjata pamungkasnya. Iya, impian Geva untuk kuliah di luar negeri dan menjadi dokter. Lelaki itu terus mendoktrin Geva untuk mengejar impiannya dan dia siap mendukung disamping Geva hingga Geva mewujudkan segala mimpi-mimpi nya. Lelaki yang dimaksud itu adalah Fabian. Sang guru matematika yang memang sudah jatuh hati pada Geva sejak lama.
Sedangkan Bhumi,
Bhumi bersebrangan...
__ADS_1
Bhumi tidak ingin Geva meninggalkan dirinya ke luar negeri meskipun hanya sementara. Bhumi ingin Geva tetap melanjutkan pendidikan nya sesuai kemampuannya tapi tetap di dekatnya.
Dokter? menurut hati kecil Bhumi itu bukan pilihan yang bagus mengingat tanggung jawab dokter sangat besar apalagi setelah sumpah dokter. Kapan pun di butuhkan seorang dokter harus siap. Sedangkan Bhumi tidak ingin nanti ujungnya dirinya dan anak-anaknya di nomor duakan oleh Geva.
Apalagi jika nanti Bhumi sudah diangkat menjadi presiden direktur, pasti akan ada banyak acara yang harus ia hadiri dan mengharuskan mengajak pasangannya yaitu Gevania.
Namun Bhumi tidak memiliki nyali untuk mengutarakan isi hatinya, karena semakin kesini justru Bhumi semakin insecure pada dirinya sendiri. Padahal soal bisnis Bhumi tidak pernah insecure,
Bhumi sadar Geva adalah sosok yang sangat cantik, perhatian dan pengertian. Segala tingkah absurd dan nyeleneh nya itulah yang membuat banyak lelaki tertarik pada Geva. Bhumi tidak suka itu.
Lalu,
Bagaimana jika Geva terpengaruh dengan Fabian dan tetap kekeuh untuk kuliah di luar negeri?
Bhumi menghela nafasnya,
Membayangkan hal itu saja sudah sangat mengerikan, tapi seorang Bhumi Bramantya tidak akan membiarkan itu terjadi. Geva sangat keras kepala, Bhumi tahu itu.
Sehingga jalan satu - satunya yang mampu membuat Gevania stay adalah hamil.
Bhumi menahan gemuruh dihatinya, Bhumi tidak boleh kalah soal percintaan. Bhumi pernah ditinggalkan dulu pas sayang-sayangan..
Bhumi tidak mau kejadian itu terulang kembali.
"Kak. saakit...." Geva menggeliat merasakan Bhumi menggenggam dadanya dengan cukup kuat hingga membuat Geva terbangun karena merasa sangat nyeri dan susah dijelaskan dnegan kata-kata.
astaga Bhumi lupa jika tadi tangannya bergerak nakal di atas gunung yang empuk saat membayangkan wajah Fabian. Lalu Bhumi mereemas gunung itu untuk menyalurkan emosinya pada Fabian.
"Kak.. sakiit." Kata Geva lagi. Bhumi sontak langsung menyingkirkan tangannya secara spontan.
Geva spontan menutup dadanya dengan kedua tangannya dengan wajah memerah.
"Sayang maaf aku gak sengaja. Coba aku periksa dulu." Kata Bhumi cemas. Tangan Bhumi adalah tangan yang cukup besar dan tenaga yang kuat, so.. pasti gunung Geva yang seperti squishy itu tidak baik-baik saja.
"Aku malu kak." cicit Geva dengan wajah memerah. Oh sungguh menggemaskan sekali ciptaan Tuhan satu ini.
"Sayang.. aku udah menikmatinya beberapa kali." Kata Bhumi menyingkirkan tangan Geva.
"Astaga.. sedikit bengkak tooketnya sayang.. aku ambilkan air es ya buat kompres."
"Ngg.. nggak usah kak." Kata Geva.
"Udah diam.. maafkan aku.." Bhumi segera beranjak dan mecari boxernya yang entah mendarat dimana lalu memakainya setelah boxer itu ketemu.
"Ini bengkak bukan karena kakak reemass tadi, tapi kakak gigit tadi.. kan yang kakak reemass tadi sebelah kanan bukan kiri." Gerutu Geva cemberut.
"Maaf sayang.. maaf banget.. habisnya aku gemas deh.. bentar ya aku ambilkan air es diluar sama makanan.. pasti kamu lapar deh" Kata Bhumi mengecup kening Geva sebelum berlalu.
Geva pun tersenyum mendapat perlakuan manis dari sang suami.
🍁
Ceklek.
__ADS_1
Bhumi terkejut saat membuka pintu kamar apartemennya karena ada tiga pasang mata yang menatapnya penuh tanya.
"Kalian kenapa masih disini?" Tanya Bhumi dengan polosnya.
"Gara-gara boss gak ada akhlaq yang enak-enakan indehoyy di kamar sedangkan pekerjaannya di pasrahkan semua sama asisten dan sekretarisnya." Jawab Satria menatap Bhumi mengejek.
"Siapa yang indehoyy?" Tanya Bhumi dengan wajah datar dan stay cool.
"Elu pikir kita ini buta Bhum? noh dada sama leher elu penuh dengan ****** hasil karya Geva. Pamer nih ceritanya di samperin pacar?" Goda Ayumi sambil melirik Renata yang hanya menunduk menatap berkas tanpa berani melihat ke arah Bhumi yang telanjang dada dan penuh Kissmark.
Bhumi yang mendengar ucapan Ayumi itupun langsung menunduk dan menatap tubuhnya sendiri. Dan benar-benar hasil mahakarya seorang gadis SMA.
"Elu gak mau terima kasih sama gue gitu Bhumm... karena gue.. elu udah berhasil bobol gawang kan? gak cuma making out making out aja." Kata Ayumi yang tahu bagaimana gaya pacaran Bhumi dan Flower dulu..
Karena dulu Flower curhatnya sama Ayumi, namun meskipun Ayumi tidak mau berteman lagi dengan Flower segala aib Flower masih tersimpan dengan rapi.
"Jadi elu yang kasih obat ke bini gue?" Tanya Bhumi melotot pada Ayumi.
"Bini?" Ayumi ikut melotot.
"Sejak kapan?" Tanya Ayumi lagi dengan wajah berbinar.
Belum juga Bhumi menjawab,
"Astaga Renata.. kasihan banget ya kamu.. nasib percintaan kamu benar-benar tragis.. astaga Renata... bertahun-tahun elu berjuang, tapi ternyata sia-sia..
makanya punya kaca buat ngaca.. gak pernah di lihat Bhumi masih saja ngarep dan berjuang.. wkwkwk.." Tawa Ayumi memenuhi ruang apartemen Bhumi.
Bhumi yang cuek itupun berlalu menuju dapur mini untuk mendapatkan apa yang ia cari,
"Jaga mulut elu ya Yum! bedanya apa gue sama elu.. elu sama aja ngarep sama Deon padahal Deon cuma cinta sama gue!" Renata mulai tersulut karena moodnya sedang tidak baik setelah melihat bukti adegan panas Bhumi dan Geva.
"Gue sama kayak elu? mimpi! gue emang dari dulu cinta sama Deon. Tapi gue gak semudah elu.. gue gak pernah ngejar-ngejar Deon ya.. dan gue akan dapatkan Deon dengan cara yang baik!" Kata Ayumi.
"Yakin elu bisa dapatkan Deon?" Kata Renata tersenyum mengejek pada Ayumi.
Tidak mau kalah,
"Jodoh ada ditangan Tuhan, setidaknya gue gak semurahan elu. kalau gue gak berjodoh sama Deon, gue akan pastikan Deon juga gak akan berjodoh sama elu..
Lagi pula gue juga bisa sama Satria, iya kan sat?" Kata Ayumi santai supaya tidak semakin dihina oleh Renata.
"Loh kok Gue?" Satria nampak bingung.
BERSAMBUNG.
LIKE
DAN
KOMENTARIN
TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA.. MOHON MAAF BELUM BISA UPDATE ICPA KARENA MEMANG BELUM BISA BENAR-BENAR FOKUS, MASIH KARANTINA HEHEHE...
__ADS_1
JADI TERPAKSA HARUS MILIH FOKUS SALAH SATU DULU.. DAN AUTHOR MILIH FOKUS NOVEL INI DULU.
SEMOGA IBADAH PUASA KALIAN LANCAR YA...