Menikahi Gadis Menyebalkan!

Menikahi Gadis Menyebalkan!
Anak Kecil buat Anak Kecil


__ADS_3

"Guru? ck! bualan yang tidak bermutu! saya bukan orang bodoh yang gampang kamu bohongi. Dia menatap kamu dengan tatapan lelaki yang mendamba wanitanya. Jangan pikir saya buta!"


"Tapi kali ini kamu bener-bener terlihat bodoh kak!" Ucap Geva tajam.


Baru kali ini ada gadis yang berani menghina Bhumi, berkata bahwa Bhumi terlihat bodoh dengan lantangnya. Meskipun Bhumi sudah memberikan tatapan tajamnya pada Geva, tidak membuat Geva takut sedikitpun. Karena Geva yakin, seorang Bhumi Bramantya tidak akan melakukan kekerasan fisik pada wanita.


"Ayo cepet!" Ucap Bhumi kembali menarik tangan Geva dengan kuat.


"Kakak sakit!" Pekik Geva mencoba menyeimbangkan langkahnya dengan langkah Bhumi.


Dari sini Geva bersyukur karena dia tidak suka memakai high heels, bayangkan kalau saat seperti ini pakai high heels? auto keseleo.


Bhumi membuka pintu apartemen di lantai 30, lantai tertinggi dengan nomor pintu 3.07.


Pintu 3.01 adalah apartemen milik Bhumi, nomor 03 milik Bhima, nomor 05 milik Keenan. nomor 07 milik Bianca dan nomor 09 milik Kaisar.


Semuanya dalam satu lantai dan menggunakan nomor ganjil.


"masuk!" Perintah Bhumi menghempaskan tubuh Geva ke sofa dengan kasar.


Geva benar-benar tidak menyangka Bhumi bisa sekasar itu padanya.


Geva yang selalu tidak mau terlihat lemah di depan Bhumi pun enggan untuk sekedar memekik atau mengadu kesakitan meskipun tangannya cukup sakit terbentur meja samping sofa.


"Saya peringatkan sama kamu Geva, status kamu adalah istri saya itu artinya kamu adalah milik saya! Dan perlu kamu ingat, saya tidak suka apa yang menjadi milik saya disentuh orang lain!".


"Kenapa gak suka? cemburu?" Geva kembali berdiri menatap tajam pada Bhumi dengan senyum mengejek.


Geva yang memiliki tinggi proposional bak model itupun tidak perlu terlalu mendongak untuk melihat wajah Bhumi dalam jarak sangat dekat.


"Ck. Cemburu? jangan harap saya cemburu sama kamu! bagi saya kamu adalah anak kecil, dan saya ditugaskan Papa kamu untuk menjaga dan mengawasi gadis pembuat onar seperti kamu!" Emosi Bhumi makin meluap.


Memang Geva benar-benar berbeda dengan Flower, Flower dulu saat tatapan Bhumi sudah tajam aja langsung menurut, tidak membatah apalagi menantang Bhumi seperti yang Geva lakukan saat ini.


Dan beruntungnya Mami Naya tahu karakter Flower yang sebenarnya sehingga memang Flower cocoknya sama Bhima.


"Oh kakak hanya menganggap aku sebagai anak kecil. Oke akan aku buktikan anak kecil juga bisa membuat anak kecil, dan itu bukan bersama kakak!" Kata Geva tajam langsung berlari menuju lantai dua.


"Maksud kamu apa Geva!" Bentak Bhumi.


"Arghhh! Bangssad!" Bhumi duduk di sofa sambil menjambak rambutnya.


"Semoga bener kamarnya ada dilantai dua. Malu banget kalau salah ruangan." Gumam Geva yang menepuk-nepuk sendiri kepalanya.


Dia baru masuk apartemen ini untuk pertama kali, tidak tahu ada fasilitas apa saja, tidak tahu ada ruangan apa saja. Geva hanya mengandalkan Feeling-nya.


Dan untung bener, dia masuk ke dalam kamar yang ukurannya sangat luas.


"Bodo amat sama di Bhumi datar itu! aku percayanya Bhumi bulat.. mending mandi.. terus bobo.. gerah banget!" Ucap Geva yang sama sekali tidak terbebani oleh sikap dan ucapan Bhumi tadi.


Geva mah bawaannya lempeng aja!


"Waoow gila... ternyata bajuku sudah di tata rapi disini.. buku-buku sekolah aku... emang Gev, Feeling elu itu patut diacungi jempol!" Ucap Geva tersenyum dengan mata yang mengabsen setiap sudut ruangan kamarnya.


Geva sangat kagum dengan segala perabotan yang ada, semua sesuai seleranya. Geva yakin dia pasti akan betah tinggal di sini, bodoh amat dengan Bhumi Bramantya. Ngapain juga dipikiran, mending happy-happy. Kan untuk happy ada 1001 cara.


"Ponsel?" Mata Geva berbinar menatap dosbox berlogo apel yang digigit tikus keluaran terbaru diatas nakas.

__ADS_1


Bahagia Geva kian bertambah itu benar-benar ponsel barunya. Bahkan didalamnya sudah tersimpan nomor telfon seluruh anggota keluarga dan Naomi. Hanya Naomi doang temannya Geva yang ada kontaknya.


Jangan pikir Bhumi yang beli ya.. Bhumi mah kasih duit doang, selebihnya kerjaan Satria.


"Mandi dulu ah.. terus main ponsel...," Geva loncat-loncat kegirangan. Main sosial media adalah seperti udara baginya.


Meskipun dia bukan artis, tapi wajah cantik, tubuh indah dan gaya fashionable nya membuatnya dia menjadi selebgram, terbukti dengan aplikasi itu sudah memberikan dia tanda centang biru.


🍂


Dilantai satu, Bhumi tampak kacau. Dia memasuki ruang kerjanya dan melempar vas bunga kesembarang arah.


PYAR!


Vas Bunga harga jutaan itupun pecah tercecer di lantai.


Bukan karena cemburu, bukan karena telfon dari Papi Gema, tapi karena sebuah pesan singkat Bianca yang mengatakan bahwa Flower hamil cukup membuatnya ingin menghancurkan apa saja yang ada disekitarnya.


📩 CACA BRAMANTYA


"kak, ada kabar gembira...kak Flower udah hamil anak kak Bhima.. bentar lagi kita punya ponakan kak.. aku harap kaka bisa segera buka hati kakak untuk Geva dan buatin aku keponakan juga ya.. request kembar hehe."


Bhumi tidak membalas pesan itu,


Ditambah lagi, melihat tangan Geva di genggam oleh lelaki lain yang mengaku sebagai guru matematika Geva.


Kalau guru kenapa masih sangat muda, dan Bhumi bisa menebak jika umur lelaki itu masih dibawahnya.


Bukan masalah muda juga, tapi wajah lelaki bernama Fabian itu cukup tampan dengan gaya pakaian yang ala-ala oppa oppa Korea gitu.


"Nggak mungkin Flower hamil itu gak boleh terjadi.. Flower gak boleh hamil anak Bhima." Gumam Bhumi menjambak rambutnya sendiri akibat setan-setan kecil selalu berbisik seperti itu ditelinganya.


Drt.. Drt... Drt...


"Kak Keen?" Gumam Bhumi.


Bhumi segera mengangkat panggilan Keenan mengingat tadi Papi Gema berpesan pada Bhumi untuk percaya dan membatu Keenan melakukan penyelidikan tentang sebuah misi besar demi kebahagiaan dan ketentraman seluruh anggota keluarga.


"Ada apa?" Tanya Bhumi to the point.


"Elu kenapa elu, ditelpon orang baik-baik gayanya begitu?" Tanya Keen terkekeh padahal biasanya telfon Bhumi juga jawabnya seperti itu.


"Penting atau tidak, jika tidak saya matikan!"


"ngambek.. ngambek.. anak perawan ngambek.." Ledek Keenan lagi.


Tit!


Bhumi benar-benar memutus sambungan telfon Keenan lalu beranjak keluar ruang kerjanya meninggalkan ponselnya. Bodoh amat Keenan mau telfon lagi. Terserah~


Keenan yang berada diserang hanya bisa mengumpat pada adiknya itu.


Bhumi menaiki tangga dan membuka kamarnya,


Ceklek...


"Aaaaa" teriak Geva yang tengah mengeringkan rambut dengan berbalut handuk pendek.

__ADS_1


Bhumi tidak menanggapi teriakan Geva kali ini wajahnya benar-benar terlihat datar.


Melihat Geva, membuat Bhumi ingat akan pertanyaan yang belum Geva jawab.


Dengan langkah cepat, Bhumi hendak menghampiri Geva. Geva yang paham langkah Bhumi mengarah ke mana. Secara spontan hendak kabur dan


BUGH!


Geva terpeleset karena lantai basah akibat dirinya sendiri yang keluar dengan rambut yang masih sangat basah..


"Aduuh...." Keluh Geva mempertahankan handuknya yang hampir memperlihatkan puncak dadanya. Hampir banget puncaknya nongol..


"Oh Shit!" Umpat Bhumi dalam hati dada Geva benar-benar menggairahkan.


Namun Bhumi kembali fokus, dia berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Geva.


"Maksud kamu apa membuat anak kecil tadi? Ha?" Bentak Bhumi membuat Geva terperanjat.


"Kan kakak bilang aku anak kecil, Kakak gak mau nyentuh aku kan.. ya sudah biar aku buat anak kecilnya sama yang mau nyentuh aku aja!" Jawab Geva dengan nada santai meski saat ini dia sangat gugup akibat handuk mini yang menutupi sebagian saja area sensitifnya.


"Menyentuh kamu kan.. oke! akan saya lakukan!" Kata Bhumi tajam.


Geva beringsut mundur dengan posisi masih duduk, namun naas jarak Geva duduk cukup dekat dengan tembok.


Deg!


Jantung Geva seakan berhenti kala dirinya sudah mentok sama tembok.


"Kakak mau apa?" Tanya Geva gugup.


"Mau menyentuhmu, apa lagi?"


"Aku gak Sudi karena kakak udah....." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya,


Bhumi langsung menarik kedua tangan Geva keatas kepala Geva dan melahap bibir sexy Geva.


Otomatis, handuk yang Geva kenakan melorot begitu saja dan tinggal menutupi area sensitif bawahnya.


Geva mencoba menolak perlakuan Bhumi kali ini, padahal dia berkali-kali yang minta di sentuh. Hanya saja Geva tidak mau melakukannya dengan emosi.


Mencoba berontak tapi gagal,


Geva benar-benar tersudut, hanya butuh satu tangan untuk Bhumi melumpuhkan dua tangan Geva hingga membuat payudara berukuran besar itu terlihat cukup menarik.


"Cukup menarik." Bisik Bhumi setelah melepas tautan bibirnya.


namun sedetik kemudian dia kembali melahap bibir Geva dan tangan Bhumi satunya lagi mulai nakal dengan bermain di gunung indah milik Geva.


Tubuh Geva lemas seketika merasakan apa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


BERSAMBUNG....


KIPAS.. KIPAS.. KIPAS...


HABIS BACA, PLEASE MINIMAL TINGGALKAN LIKE KALAU GAK MAU KASIH KOMENTAR YA...SETIDAKNYA SATU LIKE DARI KALIAN SAJA SANGAT BERARTI UNTUKKU... APALAGI KOMENTARNYA...


SEHINGGA MEMBUAT ANGKA POPULARITAS NOVEL INI CEPET NAIK.

__ADS_1


MAKASIH YA DUKUNGANNYA...


YANG MAU MASUK GC CUSS MERAPAT 🥰


__ADS_2