Menikahi Gadis Menyebalkan!

Menikahi Gadis Menyebalkan!
Keputusan Geva~


__ADS_3

"Happy birthday... Happy birthday... Happy birthday to you.... "


"Ge.. Geva..." Gumam Bhumi berkaca-kaca menatap gadis cantik yang berjalan begitu anggun mendekat ke arahnya.


Bhumi tidak melepas pandangannya hingga Geva kini sudah berdiri di depannya membawakan kue ulang tahun.


"Selamat ulang tahun... Selamat ulang tahun... Selamat ulang tahun Bhumi... selamat ulang tahun..."


"Ge...Geva..." Gumam Bhumi yang sudah meneteskan air mata tidak percaya.


"Tiup lilinnya kak." Kata Geva.


Rasanya Geva ingin tertawa melihat bagaimana bodohnya wajah Bhumi saat ini, dan Geva bersumpah akan membuat Bhumi terus seperti ini didepannya jika Bhumi tidak segera move on dari yang namanya mantan.


Bhumi masih termenung seakan tidak percaya Geva memberikan kejutan padanya setelah apa yang sudah dia lakukan pada Geva.


Namun tiba-tiba ucapan mami Naya beberapa menit lalu membayangi ingatannya,


"Mi dimana Geva sekarang mi? aku akan buktikan mi jika aku akan mempertahankan rumah tanggaku dengannya dan aku akan belajar mencintai Geva."


" Mami gak akan kasih tahu.. jika memang nanti Misal Geva datang kesini, jangan berharap dia udah memaafkan kamu.. karena apa yang dia lakukan nanti di depan umum hanya demi menjaga nama baik kamu sebagai suami."


Lamunan Bhumi buyar ketika suara Geva memenuhi gendang telinganya


"Kak.. cepat tiup lilinnya.." Gerutu Geva karena tangannya sudah lelah memegang kue ulang tahun.


Bhumi memejamkan matanya dan berdoa,


"Tuhan.. aku mohon condongkanlah hatiku pada Gevania Azkia Bramantya, Buatlah hatiku sangat mencintai Geva..." Ucap Bhumi dalam hati.


Bhumi lupa gak berdoa supaya hati Geva juga untuknya~


Wuuufft...


Bhumi meniup lilin itu dan membuat semuanya bertepuk tangan dibarengi dengan lampu yang kembali menyala.


Wajah cantik Geva dengan senyum yang mengembang membuat banyak orang kagum dan memuji Geva dengan tampilan seperti wanita dewasa yang pantas bersanding dengan seorang Bhumi, apalagi penampilan Geva malam ini senada dengan kemeja yang Bhumi pakai, berwana navy yang mengekspose pundaknya dan kaki jenjangnya. Geva terlihat sangat sexy.


Geva tidak butuh make up artis untuk tampil paripurna seperti itu...


Dia hanya butuh tangan terampil Naomi yang pandai membuatnya anggun dan juga menutup bekas-bekas Kissmark dengan sempurna.


"Ciiee nangis... seorang Bhumi Bramantya meleleh karena gadis SMA bernama Gevania Azkia Wijaya..." Ucap Keenan membuat semua tertawa hingga Bhumi memilih memasang wajah datarnya dan membuat semuanya semakin meledek Bhumi.


"Santai.. gue udah abadikan momen si kulkas itu menitihkan air mata karena terharu sama gadis SMA!" Kata Bhima.


"Ntar kirim ke gue ya!" Kata Alex.


"Santai.. nanti gue buat viral."


"Berani lu?" Bhumi menatap tajam pada Bhima membuat Bhima tertawa.


"Happy birthday ya kak.. wish you all the best." Ucap Geva tersenyum. Namun tatapan Geva pada Bhumi tidak bisa berbohong, Bhumi tahu tatapan itu, tatapan penuh kekecewaan yang Geva berikan padanya bukan tatapan cinta seperti yang orang-orang lihat saat ini.


"Terima kasih sayang.." Ucap Bhumi langsung mencium kening Geva membuat semua bersorak ria dan dua wartawan yang diizinkan meliput makan malam keluarga ini langsung mengabadikan momen tersebut.


"ih ngapain sih cium-cium!" Decak Geva sebel dengan Bhumi yang langsung mencuri kesempatan.


"Makasih ya.." Lirih Bhumi.


"Jangan GR! kalau bukan menjaga perasaan keluarga kita, baik keluarga aku dan keluarga Bramantya, aku juga ogah kesini." Ketus Geva lirih yang hanya didengar oleh Bhumi seorang.


Bhumi tersenyum, dia tidak mau menanggapi ucapan Geva karena dia sadar semuanya salahnya dan semua berawal dari kebodohannya yang terus terpaku pada masa lalu.


"Apa masih sakit? Maaf ya.." Tanya Bhumi dengan tatapan yang sulit diartikan. Geva yang paham arah ucapan Bhumi auto melotot, bisa-bisanya lelaki didepannya ini dengan situasi seperti ini bertanya seperti itu?


"Maaf ya.. jika semalam aku gak izinin kamu istirahat dan mainnya kasar." Lanjut Bhumi membelai rambut Geva dengan lembut. Lagi-lagi ucapan Bhumi membuat Geva semakin melotot. Keenan yang tidak jauh dari mereka pun langsung tersedak air liurnya sendiri.


"Auwwww sakitt sayang..." Teriak Bhumi karena Geva telah mencubit perutnya. Dan rasanya perut Bhumi memang benar-benar terasa sakit.


"Kamu itu titisan kepiting ya? sumpah sakit banget."


"Bodoh! nih kuenya.. makan dan habisin." Kesal Geva menjauh dari Bhumi dan langsung mendekat ke arah Mama dan Papanya.


Bhumi memandang Geva dengan tersenyum,


"Terima kasih..." Lirihnya.


"Dasar bibit-bibit bucin!" Ucap Keenan melihat dan mendengar bagaimana interaksi Bhumi dan Geva.


"Sirik aja elu tukang jajan!" Jawab Bhumi.


"Perlakukan dia dengan baik Bhum.. istimewa kan dia jika gak mau kehilangan dia." Bisik Keenan.


"Caranya?" Tanya Bhumi dengan polosnya hingga membuat Keenan membisikkan sesuatu di telinga sang adik yang kaku tersebut.


Geva memang pandai sekali berakting, dia malam ini benar-benar sebagai pemeran utama yang pandai mengenyampingkan egonya dan perasannya supaya keluarganya tidak tahu permasalahan rumah tangganya.

__ADS_1


Dia benar-benar mencoba biasa saja meskipun hatinya sangat sakit melihat Bhumi. Apalagi bertemu Flower, Geva bukan gadis munafik. Melihat Flower membuat hatinya begitu nyeri mengingat kejadian kemarin. Sanggupkah Geva tinggal satu atap dengan Flower? Bagaimana jika nanti itu semakin menyulitkan Bhumi untuk move on?


"Lihat saja setelah acara ini apa yang akan terjadi Bhumi Bramantya..." Gumam Geva tersenyum sinis sambil melirik ke arah Bhumi yang berjalan mendekatinya.


"Ge.. aku mau bicara berdua sama kamu." Bhumi berhasil menyusul Geva dan meraih pergelangan tangan Geva.


"Ada apa lagi sih?" Tanya Geva malas.


"Ikut aku!"


"Nggak.. aku laper mau makan! makan malamnya bentar lagi dimulai!" Kata Geva bohong. Padahal perutnya terasa sangat kenyang.


"Geva.. Bhumi.. jangan ngobrol aja.. ayo cepat menuju meja makan.. semua udah berkumpul." Kata Oma Intan.


"Iya Oma.. tungguin aku Oma." Rengek Geva.


Meja makan yang berukuran lebar dan panjang itu dipenuhi oleh makanan-makanan lezat yang di masak oleh chef yang bersertifikat internasional. Jadi tidak perlu lagi dipertanyakan kualitasnya sebab sebelum makanan itu disajikan sudah melewati proses quality control.


Kumpulnya keluarga Bramantya, Wijaya dan Wirahardja beserta sahabat-sahabat Bhumi dan Bhima benar-benar memenuhi meja makan tersebut, canda gurau terus terdengar. Hanya Reno dan Bianca yang tidak banyak omong malam ini karena disana tidak ada yang menganggap kehadiran Reno kecuali Alex, Renata dan Deon juga Bhima.


Geva duduk disamping Bhumi setelah Bhumi mempersilahkannya lebih dulu. Ck. Berlagak romantis, gak mempan Bhumi..


Yaps .. untuk kali pertama nya Bhumi mengikuti apa kata Keenan sang kakak yang suka sekali jajan~


jajan cewe buat diajak ke atas ranjang maksudnya.


Gak mungkin kan Bhumi yang datar bagaikan besi berkarat itu punya inisiatif mengistimewakan wanita? Dulu pacaran sama Flo aja datar banget hingga 1,5 tahun pertama yang balesin chat Flo di ponsel Bhumi adalah Bhima. Makanya sebenarnya Bhima lebih tahu soal Flo ketimbang Bhumi.


Seluruh keluarga sudah mulai menyantap makanan mereka, sebenarnya Geva masih cukup kenyang sih karena tadi bangun tidur makan lagi setelah puas curhat dengan mami Naya, sehingga selera makannya berkurang padahal ada beef steak kesukaannya. Apalagi berhadapan dengan Flower, meskipun Flower sangat baik tapi rasanya hati Geva tidak terima jika Flower adalah mantan Bhumi dan mereka dulu sering making out.


"Please biasa aja Ge.. biasa aja." Batin Geva menetralkan hatinya yang sangat-sangat labil.


"Sini kita tukeran, mana punya kamu.." Kata Bhumi menukar beef steak nya. Geva terbengong. Ternyata Bhumi sudah memotongkan steak nya tersebut.


"Makanlah.." Kata Bhumi pada Geva lagi.


"Makasih." Ucap Geva dalam hati. Geva masih malas ngomong sama Bhumi.


"Ciie so sweet banget sih kak Bhumi." Ledek Bianca.


"Kenapa? kamu pengen seperti itu?" Tanya Keenan dingin yang duduk diantara Bianca dan Alona.


"Nggak!" Ketus Bianca.


"Nih tukeran!" Keenan menukar makanannya yang tinggal separo pada Bianca yang masih utuh.


"Tunangan kamu itu aku apa Bianca sih?" Protes Alona yang harusnya nomor satu tapi di duakan jika ada Bianca. Suara Alona terdengar sangat pelan namun Keenan masih sangat jelas mendengarnya.


"Maaf." Ucap Keenan lirih.


"Ge.. kenapa ponsel kamu tidak aktif?" Tanya Papa Arsa pada putrinya.


"Dan kenapa juga kamu baru datang Ge?Kenapa gak bareng sama Bhumi?" Giliran Papi Gema yang bertanya. Papi Gema curiga ada masalah antara Geva dan Bhumi setelah melihat gelagat mami Naya tadi yang katanya habis menemui Geva sebelum acara.


"Ehm.."


"Geva kan buat kejutan untuk Bhumi.. kalian gak lihat apa sedari tadi wajah Bhumi badmood karena gak ada Geva... " Sambung Mami Naya menyelamatkan anak dan menantunya dari cecaran jawaban. Papi Gema mengernyit dan melirik istrinya.


Mami Naya sangat sadar akan lirikan sang suami.. tapi dia berusaha biasa saja, nanti saja ceritanya setelah makan malam ini, begitulah pikir mami Naya.


Tamatlah kau Bhumi... tamatlah~


"Mi.. sudahlah.." Kata Bhumi.


"Iya.. iya.. pas Geva Dateng bawain kue langsung meleleh deh si Bhumi Bramantya hingga menitihkan air mata." Sambung Mama Rachel membuat semua tersenyum.


"Bangsaaddt se-bego itu tadi tampang gue?" Batin Bhumi.


"Ck. ternyata elu dari tadi badmood. Tapi pasti badmood elu gara-gara melihat kak Flo dan kak Bhima romantis-romantisan. Ck... drama telenovela gak bermutu.. lihat saja Bhumi Bramantya, ini baru di mulai." Batin Geva.


Ternyata semua pada hobby meledek Bhumi habis-habisan yang merupakan keturunan Papi Gema yang bucin. Potensi-potensi kebucinan Bhumi sepertinya perlahan sudah mulai nampak membuat seluruh keluarga bahagia, tapi tidak dengan Mami Naya.


Wanita paruh baya itu cukup khawatir, dia tidak menyalahkan Geva yang marah dan pergi... dia juga tidak bisa mencegah jika nanti akhirnya Geva benar-benar memilih berpisah dengan Bhumi karena sikap Bhumi sudah benar-benar keterlaluan.


Namun, Mami Naya takut jika Geva pergi dari Bhumi disaat Bhumi sudah mencintai Geva, sedangkan hati Geva sudah terlalu beku karena usahanya bertahan selama ini tidak dihargai bahkan di lecehkan. Lalu bagaimana dengan Bhumi?


Haruskah Bhumi terpuruk lagi karena perasaan bernama cinta?


Bhumi hanya pasrah malam ini jadi bahan olok-olok an untuk pertama kalinya. Yang penting Geva ada disini, sudah menyelamatkan dirinya dari banyak hal. Dan setelah ini Bhumi akan mengajak berbicara Geva.


Mendengar semua orang meledek Bhumi hingga soal tembak dalam pertama kali yang dilakukan di sofa membuat dada Renata kian panas.. secepat itukah Bhumi mencintai Geva? padahal dia berjuang bertahun-tahun tidak pernah terlihat di mata Bhumi.


"Tenang ya.. ada aku disamping kamu." Bisik Deon dengan lembut pada Renata.


"Makasih Yon.." Ucap Renata tersenyum.


semua makanan sudah dilahap oleh keluarga, kerabat dan sahabat, beberapa sudah pamit pulang terlebih dahulu, dan ada juga yang masih asik mengobrol.

__ADS_1


"Ge.. aku mau bicara sama kamu." Ucap Bhumi saat Geva ngobrol bersama Naomi.


"Males." Ucap Geva.


"Please Ge.."


"Gep.. selesaikan masalah elu." Kata Naomi.


"Tapi elu?"


"Gue tunggu disini.. santai aja gak ada yang doyan culik gue sebab mau gue banyak." Jawab Naomi.


"Gue kesana dulu ya." Pamit Geva.


Bhumi mengajak Geva keluar dari ruangan dan menaiki lift menuju kamar presidential suite yang sudah disiapkan pihak hotel jika ada yang ingin menginap disana.


Jantung Geva berdegup, ada dikamar berdua dengan Bhumi tetap saja membuatnya agak bergidik ngeri.


"Ge.. maaf.." Kata Bhumi memegang kedua pundak Geva.


"Gue maafin tapi gue gak bisa lupain!" Jawab Geva.


"Gue?" Ucap Bhumi begitu terkejut saat Geva memberikan jarak padanya melalui sebutan aku kamu menjadi gue.


"Sudahlah.. gue males ngobrol panjang lebar, gue capek dan udah bosen sama kata maaf elu.. "


"Yang sopan sama suami Ge!" Bentak Bhumi.


"Ngapain gue sopan sama suami? suami gue aja gak ada sopan-sopannya sampe merkosa istri sendiri setelah minum alkohol lagi." Ucap Geva sinis.


"Ge.. aku minta maaf, aku akan berubah.." Ucap Bhumi.


"Dengar Bhumi Bramantya yang terhormat, sejuta kali kata maaf elu gak pernah berarti apa-apa lagi buat gue..


Mulai sekarang gue udah gak peduli lagi dengan urusan elu.. silahkan kalau mengejar kak Flower kembali, wanita yang elu CINTAI!!" mata Geva sudah berkaca-kaca mengingat lagi dia yang merasa hanya sebagai pemuas nafsu Bhumi.


"Ge.. aku gak akan.."


"Gue gak butuh janji bulshiit elu!" Kata Geva dengan air mata yang udah menetes.


"dan gue batalkan untuk tinggal di kediaman Bramantya, karena hati gue sakit tiap lihat muka elu dan muka kak Flower! Gue mau tinggal di apartemen kak Caca, dan kita bersikap baik dan romantis sebagai pasangan pada umumnya saat di depan keluarga!" Ucap Geva menghempaskan tangan Bhumi begitu saja lalu berlari keluar dari kamar.


Bhumi memejamkan matanya, Apakah Geva benar-benar serius dengan ucapannya?


Kembali ke private room tempat makan malam di adakan,


Setelah Geva pergi dengan Bhumi, Naomi sedari tadi duduk diam sambil menikmati cake strawberry kesukaannya. Mama Rachel dan Papa Arsa juga sudah menyapanya namun kedua orang tua sahabatnya sekaligus yang dia klaim sebagai mertuanya di masa depan itu sibuk ngobrol dengan dua wanita tua yang disebut Oma oleh Geva.


"Heii temen Geva ya?" Tanya Kaisar duduk disamping Naomi.


"HM." Jawab Naomi singkat.


"Kenalkan aku Kaisar... adiknya kak Bhumi, kak Keenan dan kak Bhima."


"Gak nanya!" Jawab Naomi ketus saat matanya melihat Deon tengah ngobrol berdua dengan Renata sambil tertawa.


"Galak banget sih jadi cewe!" Ucap Kaisar.


"Tuhan.. kenapa sesakit ini sih mencintai bertepuk sebelah tangan.. dada aku sesak banget Tuhan." Gumam Naomi dalam hatinya.


Tanpa Naomi sadari air matanya menetes juga saat Deon menarik Renata dalam pelukannya. Ikut Geva dalam acara seperti ini yang tujuan awalnya mendekati Deon justru membuatnya sesak dan ingin segera keluar dari ruangan ini.


"Heii kamu kenapa menangis?" Tanya Kaisar.


"Eh.. eng.. enggak apa-apa kok!" Ucap Naomi menghapus air matanya.


"Kamu yakin gak apa-apa? apa kamu sakit? mau aku antar pulang?" Tanya Kaisar.


"Tidak usah.. terima kasih.. saya menginap disini kok.. " Jawab Naomi.


"Saya permisi dulu ya." Pamit Naomi sopan meninggalkan ruangan makan malam itu dengan hati yang terasa sangat hancur.


Naomi sadar statusnya yang hanya anak panti asuhan dan pastinya akan sulit di terima masuk ke dalam golongan keluarga konglomerat seperti mereka. Ya meskipun kedua orang tua Geva sangat baik dan terlihat sayang padanya, tapi Naomi yakin.. orang tua Geva pasti ingin wanita terbaik dan dari keluarga terhormat untuk anak lelaki satu-satunya.


Akankah Naomi dan Deon akan saling mendekat atau justru saling menjaga jarak?


BERSAMBUNG...


HAPPY MONDAY!


MAAF YA KEMARIN GAK UPDATE HEHE AUTHOR KEMARIN ISTIRAHAT TOTAL 🤧


SEMANGAT MENJALANI AKTIVITAS YA... 🖤


TERIMA KASIH LIKE DAN KOMENTAR NYA JUGA VOTE NYA...


TERIMA KASIH DUKUNGANNYA...

__ADS_1


__ADS_2