Menikahi Gadis Menyebalkan!

Menikahi Gadis Menyebalkan!
Akal Akalan Bhumi~


__ADS_3

Geva yang di tatap Bhumi pun salah tingkah dan langsung ngacir ke kamar mandi hingga lupa membawa baju ganti. Bhumi tersenyum jahat, ide gila muncul di otaknya. Sepertinya Bhumi sudah tertular virus gesrek Geva deh...


Bhumi dengan sangat cepat melancarkan aksinya, dan dia segera duduk di ranjang sambil bersandar dan memainkan ponsel. Tinggal tunggu target datang.


Hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang kokohnya, Bhumi lalu menutupinya dengan selimut tebalnya.


Bhumi dengan santainya menghitung menit demi menit istrinya keluar dari kamar mandi sambil chatting dengan Satria dan Renata dalam group mengenai pekerjaan.


Rasanya sungguh tidak sabar melihat Gevania keluar.. pasti menggemaskan.. Ah membayangkan nya saja membuat Gohan di tongkat baseball menegang dan minta tembak dalam.


Eh sejak kapan tongkat baseball bisa tembak menembak di dalam? emang udah menjelma jadi pistol ya?


Au ah.. gelap.. suka-suka si neng Gepa sama aa Bhumi aja dah! serah!


Di dalam kamar mandi,


Geva nampak kebingungan. Oh sungguh bodohnya dia kenapa gak bawa baju dulu sebelum ke kamar mandi?sedangkan di kamar mandi udah tidak ada bathrobes. Sebab dari kemarin belum ada yang bersihkan apartemen setelah bathrobes nya dipakai Renata juga kemarin.


Semua gara-gara tubuh pelukable Bhumi yang tidak ada akhlak. Membuat Geva yang hanya wanita normal minim iman itu pengen sekali memeluk Bhumi tanpa melepaskannya.


Daripada Geva gak bisa mengontrol dirinya untuk tidak memeluk Bhumi mending Geva kabur ke kamar mandi mendinginkan otaknya yang terus mesum sejak kenal Bhumi. Padahal sebelumnya di rayu dan digoda Theo untuk sekedar mengecup pipi hingga ciuman bibir saja tidak membuat iman Geva goyah.


Geva menatap satu-satunya handuk bersih yang ada disana. Ukurannya tidak terlalu besar, karena satu ukuran dengan yang Bhumi kenakan tadi. Mata Geva terpejam.


"Masak gue keluar pakai handuk ini doang? gak bisa nutupin dada gue sepenuhnya, gak bisa nutupin paha atas gue lagi.. astaga bodoh banget sih elu Gep Gep...." Decak Geva merutuki dirinya sendiri.


"ini cuma sampe vantat doang.. astaga dada gue.. kenapa sih Gep Gep dada elu gede banget kayak model model.. ini juga vantat kenapa gede juga.. jadinya begini kan.." Geva menatap tubuhnya dari pantulan cermin setelah melilitkan handuk tersebut.


"Gimana ini nih.. nekat aja keluar ya.. dingin banget lagi disini.. semoga aja kak Bhumi sudah tidur." gumam Geva pelan pelan membuka pintu kamar mandi.


Kepala Geva nongol lebih dulu mencari keberadaan Bhumi, dan ternyata Bhumi asik main ponsel terlihat dari pantulan cermin. Geva sedikit lega karena Bhumi tidak memperhatikan dirinya dan fokus dengan ponselnya.


Geva salah... Bhumi yang dari tadi menunggu Geva keluar juga telinganya sangat peka mendengar pintu terbuka.


Namun Bhumi pura-pura tidak melihat, Bhumi menatap Geva dari pantulan kaca yang lain.


"Astaga Ge.. gimana gue bisa tahan gak menerkam elu sih.." Gumam Bhumi dalam hati membayangkan sesuatu dibalik handuk mini itu.


"Aman.. " Gumam Geva dengan otaknya yang sudah dipenuhi strategi demi strategi supaya Bhumi tidak melihatnya yang berpenampilan begini. Sekali di lorot kebawah aja, udah tanpa sehelai benang pun kan.


Dengan pelan dan sangat hati-hati Geva melangkahkan kakinya seperti maling menuju walk in closet. Dan saat hendak membuka pintu walk in closet.


Ceklek..


Ceklek..


"Ha? kok gak bisa di buka?" Ucapnya udah mulai panik dengan satu tangan menahan handuknya supaya tidak melorot ke bawah.


"Gimana ini?" Ucapnya lagi kebingungan dan pucat. Padahal dia mau ambil baju tidur yang cukup terbuka bagian paha terus tidur di sofa supaya Bhumi semalaman tidak bisa tidur karena si tongkat baseball aktif sedangkan dirinya tidak mau disentuh. Geva yakin Bhumi tidak akan memaksa.


Ceklek Ceklek..


Geva masih berjuang.. dan perjuangannya membuka pintu walk ini closed itu pun gagal.


"Oh Tuhan tolongin gue.. janji deh gak bandel lagi dan gak ngerjain suami lagi.. tobat gue tobat.. " Gumam Geva.


"Kenapa Ge? Tobat kenapa?" Tanya Bhumi tiba-tiba dibelakang Geva membuat Geva terperanjat dan jantungnya hampir loncat keluar. Selain kehadiran Bhumi yang tiba-tiba tapi juga penampilan Geva saat ini yang membuat Geva gugup dan salah tingkah.


"Kak bukain pintu ini." Cicit Geva menunduk malu tanpa mau melihat ke arah suaminya.


"Gak bisa dibuka Gevania... aku juga gak bisa ganti baju nih. gak tahu dimana kuncinya.. terakhir ganti baju kan kamu tadi siang sebelum ke rumah mami dan papi..." Jawab Bhumi nada sedih.


"APA?" pekik Geva melotot ke Bhumi tapi matanya menuju ke tongkat baseball Bhumi yang sudah berdiri, mungkin karena melihat penampilan Geva.


Blush...


Wajah Geva merona..


"Kenapa wajah kamu merona Ge?" Tanya Bhumi mengernyit.


"Eh.. i.. ini ka.. karena badan aku kurang enak kak.. tolong bukain dong.. dingin ini." Ucap Geva memohon.


Bhumi memajukan langkahnya dengan tatapan yang tidak lepas dari dada Geva. Geva auto mundur menghindari Bhumi. Namun baru saja dua langkah ke belakang, Geva sudah menabrak dinding.


"Ka.. kakak.. menjauh." Pintu Geva.

__ADS_1


"Kenapa Ge?" Tanya Bhumi pura-pura ogeb padahal jantung keduanya sudah sama-sama ingin meledak.


"Jantung gue senam Poco-Poco kak.. ini gak bagus buat kesehatan gue." Gumam Geva dalam hati.


Geva terlihat sangat gugup, dan Bhumi sudah mengungkung Geva ditembok menatap Geva dengan tajam.


"Kakak jangan deket-deket! aku gak mau kakak sentuh.." Ucap Geva tegas.


"Aku cuma mau mengusap ini..bekas shampoo di rambut kamu." Ucap Bhumi mengusap rambut Geva yang sebenarnya tidak ada apa-apanya. Sontak Geva langsung ikut memegang rambutnya yang basah dan dengan cepat tangan Bhumi yang satu menarik dengan halus ujung handuk Geva tanpa Geva sadari.


dan...


stttt...


Handuk Geva langsung terjun bebas ke lantai membuat Geva auto panik dan menutup dadanya juga area sensitifnya dengan kedua tangannya.


"Kakak.." Geva langsung memeluk tubuh Bhumi supaya Bhumi tidak melihat. Apa yang Geva lakukan itu secara spontan tanpa pikir panjang.


Bhumi menelan salivanya merasakan dada Geva yang tanpa penghalang menempel dengan sangat erat di perut bagian atasnya yang juga tanpa penghalang.


"Ge.. kamu mau goda aku ya?" Ucap Bhumi.


"Ngg.. nggak.. kak. nggak.. kakak pejamkan mata please.." Pinta Geva dengan suara yang hampir menangis.


Bhumi tidak tega. Akhirnya dia menuruti permintaan Geva. Perlahan Geva mengambil handuknya sambil menatap dan memastikan Bhumi yang masih terpejam.


"Sudah kak." Ucap Geva membenarkan handuknya.


Bugh..


Bhumi langsung menarik Geva dalam pelukannya,


"Kak..."


"Aku menginginkanmu Gevania.." Bisik Bhumi yang sudah di liputi nafsu.


"A.. aku gak mau!" Padahal sebenarnya juga mau hehehe..


"Ge.. aku mohon.." Pinta Bhumi lirih. Geva bisa merasakan tegangan tinggi tiang listrik Bhumi.. eh tongkat baseball Bhumi.


"Kak . aku.. mohon.. aku belum siap. Aku mau ambil baju dulu." Ucap Geva.


"Tenang Bhum.. jangan maksa.. masih ada planning lainnya." Batin Bhumi.


"Pintunya gak bisa di buka Ge. kuncinya gak ada."


"Terus kita gimana?"


"Ya kita tidur pakai handuk doang." Jawab Bhumi enteng.


"Kakak gak lagi kerjain aku kan?" Tanya Geva penuh selidik.


"Ngg.. nggak kok.."


"Nggak salah maksudnya." Batin Bhumi.


"Kalalu begitu, kakak tolong dong.. ambilin baju aku di apartemennya kak Caca." Rengek Geva.


"Nggak.. kamu gak lihat? tongkat baseball ku ini udah tegang? kamu mau mempermalukan aku? ha? Aku mau tidur!" Ucap Bhumi.


"Kak.. please.." Rengek Geva.


"Bodoh amat."


"Aku mau telfon Naomi buat kirim baju ah." Gumam Geva.


"Jangan gila kamu Ge.. ini udah hampir jam 12 malam." Ucap Bhumi.. Geva melihat jam yang ada di dinding ternyata memang sudah 23.45. Sebentar lagi berganti hari.


"Gue harus tembak dalam sampai puas sebagai hadiah ulang tahun gue..." Batin Bhumi yang sudah berbaring di ranjang sambil menatap Geva.


Geva mengurungkan niatnya untuk menghubungi Naomi, gak mungkin juga dia meminta tolong pada teman lelaki karena ini menyangkut hal yang sangat penting. Sebab baru Naomi yang mengetahui status Geva dan Bhumi.


Geva mendekat ke arah ranjang.


Eh tapi bukan untuk berbaring.. melainkan mengambil bantal.

__ADS_1


"Mau kemana kamu Ge?" Tanya Bhumi.


"Tidur di sofa! aku gak mau kakak sentuh."


"Terserah" Ucap Bhumi cuek.


"Kenapa gue dapat karma karena kemarin ngerjain Renata ya?" Batin Geva merebahkan tubuhnya di sofa dengan handuk mini.


Untung masih ada Hoodie yang Geva kenakan tadi, jadi Geva bisa menutupi pahanya dan tidur membelakangi Bhumi.


Melihat punggung Geva saja membuat pandangan Bhumi meremang. Bekas-bekas merah percintaannya tadi pagi masih terlihat disana.


Ah Geva memang paling bisa membuat Bhumi menggila.


Tidak habis akal, Bhumi menurunkan suhu ACnya menjadi suhu paling dingin dan menyembunyikan remotnya di balik bantalnya.


"Kita lihat siapa yang paling kuat diantara kita Gevania." Ucap Bhumi dalam hati lalu mematikan lampu kamarnya mengganti dengan lampu tidur. Bhumi enggan terpejam.. dia masih asik memandang punggung sang istri yang terlihat sangat sexy terkena pantulan cahaya.


Baru saja 5 menit,


Geva sudah merasa menggigil kedinginan. DAN Bhumi pura-pura sudah terlelap dalam damai. Geva beranjak mencari selimut. Namun dia teringat semuanya disimpan di walk in closet.


"ini kenapa ACnya dingin banget sih.." Gumam Geva yang sudah tidak tahan.


Geva tidak memiliki pilihan lain selain menyusul suaminya di atas ranjang. Pelan dan sangat pelan.. Geva masuk ke dalam selimut tanpa mengganggu Bhumi. Geva gak ingin Bhumi terbangun.


Ingat ya.. mereka berdua hanya memakai handuk.. hanya handuk..


"Ah sedikit hangat lumayan.." Gumam Geva tersenyum dan hendak menutup matanya.


Namun gagal sangat telapak tangan Bhumi mendarat di dada Geva dengan sempurna. Geva memejamkan matanya dan berpikir bagaimana caranya lolos dari situasi ini.


Tidur diluar. iya Geva akan tidur diluar namun lagi-lagi Bhumi sudah meremas dada Geva dengan sensual.


Geva memejamkan matanya sambil melirik Bhumi yang masih terlelap.


"Gila.. tidur aja mesum banget.." Gumam Geva.


Bhumi semakin liar dan tanpa Geva sadari tautan handuknya sudah terlepas dan tangan Bhumi sudah main disana.


"Kakak... kakak ngerjain aku kan!" Pekik Geva baru tersadar.


Bhumi dengan cepat berada di atas tubuh istrinya.


"Aku menginginkanmu Ge.."


"Aku gak mau.." Ucap Geva menikmati sentuhan tangan suaminya di dadanya.


"Oke.. kasih aku waktu 1 menit jika aku tidak bisa membuat kamu mendesah.. maka aku tidak akan menyentuhmu."


"Aku..."


"Aku anggap setuju." Ucap Bhumi tidak menerima penolakan. Dan bibir Bhumi langsung melahap puncak gunung Semeru Geva.


"Ahhhh.... " Desah Geva padahal Bhumi baru sekali hisap.


"Kak..." Ucap Geva lirih sudah tidak tahan menahan gejolak. Tapi otaknya masih sangat sadar mengingat bagaimana Bhumi dan Flower tadi. Hati kecil Geva ternyata belum bisa menerima semua itu meskipun di luar terlihat sok kuat.


Bhumi tidak peduli dengan panggilan Geva..


Tangan Bhumi sudah menjalar kemana-mana dan dengan tidak sabarnya tangan Bhumi sudah mengoyak bagian sensitif bawah milik Geva.


"emmppp.." Sekuat tenaga Geva menahan desahannya, air matanya menetes.


Geva menangis pilu.. hingga Bhumi tersadar dan menghentikan aktivitasnya menatap Geva.


"Ge.."


"Lakukan kak.. lakukan! kenapa berhenti? bukankah aku hanya sebagai alat pemuas nafsu kamu saja!" Ucap Geva yang di kepalanya di penuhi oleh kalimat cinta Bhumi pada Flower tadi.


BERSAMBUNG...


LIKE LIKE LIKE..


KEMARIN YANG SEBELAH SEHARI DUA.. INI GANTIAN INI YA.. HEHE

__ADS_1


MAKASIH LIKENYA..


__ADS_2