
15 menit lebih papi Gema menunggu anak menantunya itu turun.
Papi Gema menatap Bhumi dengan tajam, Bhumi menelan salivanya. Belum juga Bhumi dan Geva menyapa dan duduk.
"Apa maksud kamu buang-buang uang untuk sewa jet pribadi dan meninggalkan pekerjaan kamu juga Satria di Jepang sendiri?" Tanya Papi Gema tajam.
"Sabar Gem.. anak kamu pulang hanya mau ambil charger ponsel yang tertinggal. soalnya dia tidak enak dari kemarin pinjem Satria terus." Sahut Papa Arsa menahan tawa.
" Iya loh kak.. anakmu ini memang menantu terbaikku hanya demi charger ponsel aja dia bela-belain balik dari Jepang buat sewa jet pribadi. Apalagi demi cinta coba? ." Ucap Mama Rachel dengan bangga. Mama Rachel memang dari dulu memanggil Gema, Genta, Nauval dan Mesya dengan kakak karena usia mereka lebih tua .
"Ha? ambil charger? katanya kakak... emmmmp..." Bhumi langsung membekap mulut sang istri.
"Emmmppt.." Geva menepuk-tepuk lengan sang suami supaya suaminya menyingkirkan tangannya yang digunakan untuk menutupi mulut Geva.
"Apa-apaan kamu Bhumi? Lepaskan tangan kamu!" Bentak Papi Gema. Bhumi pun langsung menyingkirkan tangannya dari mulut Geva.
"Jangan banyak bertanya dan bicara jika kamu gak mau aku telanjaangi nanti." Ancam Bhumi dengan berbisik membuat Geva melotot.
"Ngapain kamu bisik-bisikin Geva?" Tanya Papi Gema.
"Eh.. i.. itu Pi.." Bhumi nampak gugup sedangkan Geva masih mencerna ucapan sang suami.
"Kenapa kamu kembali ke sini?" Tanya Papi Gema lagi.
"Karena nomor nya semalam Geva Block Pi, jadi sebagai suami yang baik dia mencemaskan istrinya pi.." Bukan Bhumi yang menjawab melainkan Gevania Azkia Bramantya. Bhumi langsung menyenggol kaki sang istri.
"Apa sih kak senggol-senggol?" Tanya Geva dengan polosnya yang tidak paham kode sang suami.
Bukan apa-apa, Bhumi hanya malas mendengar ledekan banyak orang apalagi jika cerita ini sampai terdengar ke telinga bang Kee, Kaisar juga Bhima, habis sudah dia habis menjadi bulan-bulanan ketiga saudaranya itu karena melakukan hal se-konyol ini semalam.
Tapi entah mengapa jika berbicara dengan Gevania , bawaannya Bhumi selalu jujur. Apa yang dia rasakan pasti dia ucapkan.
Sepertinya halnya alasannya pulang. Meskipun didepan Papa Arsa dan Mama Rachel Bhumi mengatakan untuk mengambil Charger ponsel tapi di depan Geva Bhumi berkata jujur karena kepikiran Geva yang memblokir nomornya dan khawatir keadaan Geva setelah kejadian semalam di kelab.
Namun Bhumi tidak mau menyebutkan itu adalah cinta. Bhumi tidak mau terburu-buru yang akhirnya nanti justru menyakiti Geva sendiri.
__ADS_1
Maklum Bhumi orang yang penuh pertimbangan, kecuali semalam yang langsung meminta disewakan jet dia tanpa pertimbangan dan tanpa mikir.
"Kamu udah cinta sama Geva Bhum? Sampai kamu sekhawatir itu sama Geva, padahal Geva juga di rumah papa dan mamanya." Tanya nama Rachel to the point setelah tahu alasan sebenarnya menantunya pulang mendadak. Sekarang tahu kan Geva ucapannya yang ceplas-ceplos itu nurun dari siapa.
Mama Rachel berharap Bhumi sudah melupakan Flower dan belajar mencintai Geva lalu keduanya hidupnya bahagia selamanya.
Bukan cuma Bhumi yang terkejut dengan pertanyaan mama Rachel, Geva pun demikian. Geva menatap Mamanya dengan penuh tanya. Mengapa mamanya bisa sesantai itu menanyakan perasaan sang menantu padahal Mama Rachel juga tahu bagaimana kisah Bhumi dan Flower yang teramat tragis.
Geva melirik suaminya yang kini sudah duduk disampingnya. Sebenarnya Geva cukup penasaran dengan perasaan Bhumi padanya melihat bagaimanapun sikap Bhumi belakangan ini yang berubah lebih baik hanya Geva masih sangat ragu mengingat bagaimana Bhumi mencintai Flower, dulu.
Jantung Geva pun berdegup kencang menanti jawaban Bhumi. Apakah dari sini hubungan mereka akan membaik seperti suami istri pada umumnya? Hati kecil Geva ternyata berharap demikian. Tidak bisa di pungkiri dia sangat suka dengan segala sentuhan Bhumi.
"Geva istri aku ma.. jadi dia tanggung jawab aku sebagai lelaki. Aku gak mau dia kenapa-kenapa saat aku gak ada. Kalau soal cinta.. sepertinya belum ma." Jawaban Bhumi membuat Geva meremas ujung roknya. Bukan Jawaban itu yang Geva mau.
Geva memalingkan wajahnya dan tersenyum kecut,
Tanggung jawab? hanya sebatas tanggung jawab. Ck. Geva ingin menertawakan dirinya sendiri saat ini yang tadi terlalu senang dan berbunga-bunga terkait kepulangan Bhumi.
"Elu ternyata sudah berharap dengan besi karatan itu Gep, sadar Gep sadar! bangun benteng elu lagi Gep yang kuat kokoh, kalau perlu pakai semen merk tiga beton." Batin Geva.
"Bu..."
Papi Gema langsung memotong ucapan Bhumi, " Sore ini kamu harus kembali ke Jepang! dan Papi minta jangan pulang sebelum semuanya beres!" ucap papi Gema tegas.
"Tapi Pi.."
" Lakukan apa yang papi minta. Selama disana, jangan ganggu Geva.. biarkan Geva fokus pada sekolah ujiannya sebentar lagi!" Ucap Papi Gema.
Geva menatap sang mertua yang masih terlihat tampan itu penuh tanya, hanya saja Geva malas membuka mulutnya untuk bertanya.
"Maksud papi apa?" Tanya Bhumi. Tidak ada yang berbicara selain ayah dan anak itu. Papa Arsa dan Mama Rachel langsung paham apa maksud Papi Gema, maklum udah berteman puluhan tahun.
"Kamu belum cinta kan sama Geva? Jadi tidak masalah kan tidak komunikasi dengan Geva. Biarkan Geva menikmati waktunya semasa sekolah dan fokus pada pelajarannya. Papi setuju Geva memblokir nomor kamu." Papi Gema tersenyum menyeringai dia cukup tahu siapa anaknya dan bagaimana anaknya.
"Gak bisa begitu dong Pi!" Ucap Bhumi dengan nada sedikit tinggi. Namun Papi Gema tidak menggubrisnya.
__ADS_1
"Bagaimana Geva.. kamu setuju kan? kamu fokus sekolah dan ujian. Biarkan Bhumi juga fokus pada pekerjaannya."
"Aku setuju Pi.. sangat setuju." Ucap Geva spontan tanpa mikir. Padahal tanpa kabar dari Bhumi saja Geva udah galau.. tapi bukankah ini bagus untuk mengetahui perasaan Bhumi sesungguhnya.
"Ge.. rumah tangga macam apa yang kamu inginkan?" Tanya Bhumi menatap istrinya.
"Bhum.." Papi Gema memanggil sang putera mahkota.
"Papi gak perlu ikut campur urusan rumah tangga aku. Aku udah dewasa dan aku tahu mana yang terbaik untuk aku dan Geva." Kata Bhumi tegas.
"Papi kamu berhak ikut campur Bhumi! Karena Papi kamu yang meminta putri satu-satunya Papa untuk dijadikan istri kamu.. selama kamu belum bisa mencintai Geva, papi kamu berhak ikut campur! karena papi kamu berjanji jika kamu bisa membuat Geva bahagia." Kata Papa Arsa tegas.
"Kalian ngomongin apa sih?" Tanya Geva tersenyum sinis pada Bhumi.
"Aku setuju dengan papi.. kita gak usah komunikasi dulu! aku mau fokus sekolah.. besok aku udah mulai les privat sama Pak FABIAN! Kakak fokus sama kerjaan kakak." Kata Geva membuat Bhumi melotot mendengar nama Fabian.
"Ganti guru les kamu Gevania!" Kata Bhumi.
"Kenapa kakak Protes?" Tanya Geva dengan wajah polosnya.
"Karena aku gak suka!"
"Kakak tidak sedang menjilat ludah kakak sendiri kan? jika sikap kakak seperti ini justru aku merasa kakak suami pencemburu yang sangat mencintai istrinya padahal apa yang kakak lakukan hanyalah sebuah tanggung jawab tidak lebih." Ucap Geva .
Bhumi ingin menimpali Geva namun keburu Geva berucap kembali,
"Kakak tenang saja.. aku sadar status aku dan aku tahu batasan dengan lawan jenis!" Kata Geva. Papi Gema tersenyum mendengar ketegasan sang menantu yang membuat putranya super kaku dan tidak peka itu kicep.
"Pi... aku pamit ke kamar dulu ya." Pamit Geva langsung berdiri.
"Ge.."
"Ck. tanggung jawab.." Kata Papa Arsa.
"Ck.. belum cinta." Sahut Papi Gema ikut meledek Bhumi.
__ADS_1
BERSAMBUNG..