
Nulis naskahnya jadi terduakan gara-gara kepo yang lagi rame di Instagram soal author-author yang katanya nyomot2 adegan author lain..
jiwa kepoku meronta-ronta sehingga asik baca novel ini sama onoh buat perbandingan, beneran nyomot gak sih?
Tapi kesel juga sih kalau hasil pemikiran kita di comot. Soalnya satu episode aja yang 1000an kata mikirnya bisa berjam-jam kalau otak waras. Kalau lagi gak waras ya gak update hahaha.. Apalagi yang nyomot berpenghasilan sampe puluhan juti dari aplikasi. Nyesek rek~
duh jadi lieur sendiri euy 😂
udah ah balik lagi, mending mikirin adegan apalagi antara aa Bhumi dan neng Gepa 😂
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Keringat Geva sudah bercucuran, namun gadis itu sangatlah masih aktif membagikan box pizza pada pemulung dan orang-orang yang kiranya kurang mampu yang dia temui di pinggir jalan layang.
Mungkin untuk Geva, Pizza adalah makanan yang sangat mudah dia dapatkan. Namun bagi anak-anak jalanan, anak panti asuhan, atau bahkan pemulung. Rasanya untuk membeli Pizza uang nya terlalu sayang. Bisa makan untuk mengganjal perutnya hari itu saja sudah bersyukur.
Tapi inilah hidup, setiap orang punya perannya masing-masing. Jika ada dibawah, jangan pernah menyerah dan terus belajar juga berusaha untuk bisa sampai atas. Dan yang diatas harus membantu yang dibawahnya.
Bukankah jika kita membantu orang lain, maka Tuhan juga membantu dan mempermudah segala urusan kita?
Dan...
Sudah satu jam Bhumi mengamati Geva dari dalam mobil dari jarak yang cukup jauh. Dia tidak ingin sampai ketahuan sang istri. Jika ketahuan sebelum saatnya, duh mau ditaruh dimana harga dirinya.
Beberapa kali Bhumi menarik bibirnya untuk tersenyum menatap tingkah Geva dari kejauhan. Namun Bhumi masih belum menyadari bahwa dia sedang tersenyum. Berkali-kali Bhumi melirik jam tangannya, dia sungguh tidak sabar kejutan untuk Geva datang.
Matahari sudah sedikit sembunyi di ufuk barat, menampilkan warna kemerahan yang cantik di langit layaknya hati yang tengah terpesona pada sosok ciptaan Sang Kuasa.
Dan Geva bersama teman-temannya itu sedang istirahat dibawah jembatan layang. Geva mengipas-ngipaskan kardus bekas pizza supaya bisa mengurangi rasa gerahnya.
Nampak dua orang lelaki seperti pegawai indoFebruari yang sedang masa training karena atasan putih dan bawahan hitam beserta sepatu hitam yang membuat penampilan makin oke.
Dua lelaki itu ternyata mendatangi Geva. Hal itu tentu membuat mata seorang Bhumi semakin fokus pada target dan senyumnya semakin mengembang. Ah rasanya dia gak sabar mengabadikan diotaknya sebuah moment dimana Geva kebingungan.
"Selamat sore, apa benar dengan mba Geva?" Tanya salah seorang lelaki.
"Iya ada apa?" Tanya Geva bengong karena tidak mengenali dua orang itu.
"Pesanan mba Geva saya taruh mana ya?" Tanya lelaki itu.
"Pesanan? Pesanan apa?" Geva nampak semakin bingung.
"kamu pesan apa Ge? Tanya Naomi, sahabat satu-satunya Geva yang tinggal di panti asuhan dan juga teman sebangku Geva dari kelas 1 hingga kini kelas 3.
"Aku gak pesan apa-apa kok." Ucap Geva.
" Kami dari mekdi, Mba Geva pesan paket SEJUK yang berisi Ayam, Nasi juga teh kemasan sebanyak 1000porsi. Pesanannya saya taruh mana?"
"Apa?" Teriak Geva.
"Elu serius mau bagiin 1000 nasi Ge? sumpah gue udah capek banget Ge!" Keluh Naomi yang memang sudah tercium parfum alami dengan aroma Matahari.
Pizza seratus box aja baru habis dibagiin, ini datang 1000 porsi paket mekdi.
"Masnya jangan bercanda deh... jangan ngaco deh!" Geva mulai ngegas. Maklum Geva sedang kecapean jadi bawaannya pengen ngegas mulu meskipun di tikungan tajam.
"Lah kok mba nya bentak saya?" Salah satu lelaki itu melotot. Geva memilih mengalah.
"Ya udah ya udah bawa sini semuanya biar diambilin orang-orang yang lewat. Kelar kan?" Geva malas berpikir. Dia sudah membayangkan berendam di bathtub terus rebahan di ranjang yang super empuk tapi kini malah ada dua orang datang yang membuatnya shock.
Dua pegawai mekdi itu menghela nafasnya menghadapi gadis labil bernama Geva tersebut. Namun mereka karyawan yang masih dalam masa training, sehingga harus tetap bersikap baik pada pelanggan apalagi pesanannya seribu porsi.
"Baik mba... ini tagihannya mba." Salah satu pegawai mekdi itupun menyodorkan struk yang harus Geva lunasi.
Mata Geva terbelalak, satu paketnya sudah termasuk pajak 35rb.
__ADS_1
1000 paket, 35 juta?
Oh no... Oh no... Oh no.. no..no..no...
Oh no.. Oh no.. Oh no.. no.. no.. no..
"Mas aku gak persen ini ya!" Kata Geva berdiri dari duduknya.
"Gak persen gimana? mbaknya persen.. orang jelas kok disuruh kirim kesini.. ayo cepetan bayar mba.. saya harus kembali ke restoran."
"Saya gak mau, saya gak merasa pesan."
"Mbaknya yang telfon!"
"Saya aja belum punya ponsel kok!"
"Mbak jangan bercanda. Kami kerja bener-bener cari duit. Kalau mba gak ada duit, mba jangan pesan makanan sebanyak ini dong! Mba tadi juga udah bilang makannya suruh naroh sini biar diambilin orang lewat, kok mbaknya malah mengelak sih?" Sang pegawai restoran tersebut pun ikut ngegas.
"aku gak merasa pesan! jadi aku gak mau bayar!" Ucap Geva dengan mode keras kepala.
"Ge.. elu serius gak persen itu makanan satu truck box itu?" Bisik Naomi.
"Nggak lah! gila aja!"
"Cepet bayar!"
"Mas aku beneran gak pesen. Bukan aku yang persen, masnya pasti salah! lagi pula aku gak bawa duit dan gak bawa Debit Card maupun Credit Card."
Namun salah satu pegawai restoran itu terus memaksa dan memojokkan Geva,.
"Nanti deh aku bayar. tulis aja restoran kalian dimana nanti aku borong semuanya." Geva malas menanggapinya.
"Enak saja! kalau gak ada duit, jangan ngerjain kita mba!"
"mba.. tolong lah mba kerjasamanya.. saya baru kerja dengan gaji kecil tapi udah berurusan dengan tagihan 35 juta." Ucap karyawan satunya yang terlihat lebih mengontrol emosi dan bijaksana. Matanya berkaca-kaca menatap Geva.
Geva terasa terenyuh,
"Lah gimana mas.. aku gak merasa pesan. Ponsel aku aja hilang, gimana caranya pesan? dari tadi aku sama sahabatku Naomi mas." Ucap Geva yang sebenarnya tidak tega.
Mereka berdebat cukup lama hingga menarik perhatian banyak orang disana. Karyawan tersebut benar-benar memohon pada Geva untuk membayar secara baik-baik. Namun gimana? Geva bukan tidak ingin membayar dia tidak bawa uang sebanyak itu saat ini.
Hingga di satu titik dimana semua orang memojokkan Geva, Geva tidak tinggal diam, dia terus membela dirinya.
Namun justru hal itu membuat orang semakin berkerumun. Dan hendak membawanya ke kantor polisi karena tindakan penipuan yang mengakibatkan kerugian 35 juta.
Dengan santainya Bhumi melajukan kendaraannya, sesuai perhitungannya tadi. Mobil Bhumi berhenti saat lampu merah dan tepat disisi Geva.
Dengan santainya Bhumi membuka kaca mobilnya, namun pura-pura tidak melihat Geva.
"Kak Bhumi." Gumam Geva.
"Kak.. Kak Bhumi.. tolongin aku kak.. tolongin aku!" teriak Geva. andai dia memiliki ponsel pasti ogah dia meminta tolong Bhumi, mending telfon Deon untuk menyelesaikan semuanya.
Bhumi pura-pura mengernyit mencari sumber suara yang memanggilnya.
"Bentar pak.. itu kakak aku." Kata Geva.
"Itu siapa Ge.."
"Sahabatnya kak Deon."
Geva lari menghampiri mobil Bhumi untung lampu merah disini sangatlah lama, yaitu dua menit.
"Ada apa?" Tanya Bhumi.
__ADS_1
"Kak tolongin aku.. pinjem 35 juta!"
"Ha? buat apa?" Bhumi pura-pura terkejut.
"Ceritanya panjang kak.. kakak parkirin mobil kakak dulu. aku ceritain." Kata Geva.
"Tanpa aku ceritain aku yakin kamu tau.. aku yakin 1000% pasti kamu membalas aku soal tadi. Tapi aku gak ada pilihan lain saat ini. Oke mengalah sebentar Geva, tapi pembalasan akan lebih bertubi-tubi." Batin Geva.
Geva menunggu Bhumi yang tengah memarkirkan kendaraannya. Tentunya Geva masih diawasi oleh beberapa orang supaya tidak kabur.
Bhumi berjalan dengan wajah datarnya menghampiri Geva.
"Ada apa?" Tanyanya dengan aura dingin.
"Apa ini, adik anda?" seseorang menunjuk Geva.
"HM.,"
Salah seorang karyawan makanan cepat saji itupun menceritakan kronologi kejadian yang intinya Geva diminta bayar 35 juta untuk 1000 paket makanan.
"kak tolongin aku. aku beneran gak pesen. tolong..." Rengek Geva.
"gak bisa. udah cukup tadi 100 loyang pizza!"
"maaf.." cicit Geva.
"Nggak."
"please.. suamiku sayang.. " Bisik Geva membuat bulu kuduk Bhumi berdiri seketika bersamaan son Gohan nya yang akan mewarisi jurus kamehame son Gokunya Papi Gema.
"Shit" Umpat Bhumi.
"Please."
Udah begini, kalau Geva gak di turutin justru akan membuat kekacauan baru yang lebih parah.
"Baiklah aku bayarin." Ucap Bhumi.
"Serius." Mata Geva berbinar.
"Iya, tapi gak gratis gimana?" Bhumi melirik Geva dengan tajam.
"Astaga.. tega bener sama aku." Kata Geva.
"Gak mau ya udah.. aku balik apartemen!"
Bhumi hendak melangkah pergi.
"Iya.. iya deh iya.. mau... tapi aku bayarnya nyicil ya uang jajan aku kan gak sebanyak itu."
"Aku gak butuh uang kamu!"
"Lalu?"
"Turuti semua apa yang aku mau selama sebulan tanpa bantahan. Gimana?" Bhumi menaik turunkan alisnya.
Sungguh Geva ingin mencabik-cabik Bhumi saat ini juga!
Bersambung...
naskahnya kelas jam 22:49.
ah selamat istirahat gaess....
selalu jaga kesehatan dan taatin protokol kesehatan. Jangan lupa kasih dukungan author .
__ADS_1
Eh btw, ada yang belum paham sistem vote sekarang ini ?