Menikahi Gadis Menyebalkan!

Menikahi Gadis Menyebalkan!
Mimpi-Mimpiku~


__ADS_3

WARNING!!


JANGAN DIBACA SAAT PUASA.. KARENA TAKUTNYA MEMBUAT AMAL IBADAH PUASA KALIAN RUSAK KARENA MEMBACA NOVEL INI YANG TIDAK ADA MANFAATNYA SAMA SEKALI.


BACANYA MALAM AJA YA... HEHEHE...


Tidak ada adegan adegan panas setelah ciuman panas yang memabukkan keduanya diatas sofa kamar apartemen beberapa menit lalu. Alasannya sangat sederhana. Dua manusia yang tengah dimabuk cinta juga dipenuhi hasrat itu tertawa terbahak-bahak karena perut Geva yang keroncongan menghancurkan suasana romantis nan panas.


Mendengar perut sang istri sudah tidak bisa diajak kompromi lagi membuat Bhumi tertawa lepas menatap wajah cantik yang memerah karena malu hingga sang empu wajah cantik itu menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. Dan tawa Bhumi yang begitu lepas membuat sang istri juga ikut tertawa karena ini adalah kejadian langka.


Gak apa-apa malu dikit toh sama suami sendiri kan. Telaanjang depan suami aja gak malu, ngapain juga kentut malu?


secantik-cantiknya wanita dan se sexy sexy nya wanita dia juga pasti buang air besar dan kentut juga kan? bodoh ah~


Entah angin dari mana, Bhumi si lelaki kaku mendadak menjadi lelaki yang peka dan pengertian. Mungkin kuliah online yang Bhima berikan mudah di pahami Bhumi sehingga Bhumi bisa mempraktekkannya dengan baik pada Gevania.


Dan disinilah Bhumi dan Geva saat ini, duduk di sebuah restoran yang berada di depan apartemen yang mereka tempati sambil menyantap semangkuk udon yang masih mengepul kan asapnya.


"Makannya pelan-pelan bee." Kata Bhumi menatap sang istri yang begitu bersemangat menyantap semangkuk udon.


"Enak banget kak.. beda ternyata rasanya kalau kita makan di negara aslinya." Kata Geva dengan mulut penuh makanan. Ini anak gak ada jaim-jaimnya di depan lelaki ya?


"Pelan-pelan makannya nanti kamu tersedak bee." Kata Bhumi lembut, Geva hanya nyengir menatap sang suami.


Entah kenapa tiap Bhumi memanggilnya dengan 'bee' hati Geva berdegup lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu yang tidak bisa Geva ungkapkan dengan kata-kata.


"Bee.." Panggil Bhumi.


"Iya kak?" Tanya Geva bingung.. kan dia udah makan pelan-pelan sesuai perintah sang suami.


"Setelah ini ada yang ingin aku omongin berdua sama kamu." Kata Bhumi.


"Apa?"


"Setelah makan saja ya." Ucap Bhumi.


"Ngomong sekarang aja deh kak.. jangan buat penasaran deh please.." Ucap Geva cemberut.


"Gak bisa bee.. ini serius dan penting." Kata Bhumi tersenyum namun tatapan matanya sangat sulit ditebak membuat Geva bergidik ngeri.


Lalu Geva semangat menghabiskan makannya supaya Bhumi segera ngomong sesuatu yang membuatnya sangat penasaran.


🍁


Bhumi tidak membawa Geva kembali ke apartemennya, tapi Bhumi mengajak Geva berjalan di trotoar dengan tangan Geva yang ia genggam lalu ia masukkan ke dalam saku jaketnya supaya tidak dingin.


Jepang baru musim gugur, tapi suhu udara malam hari disini sudah sangat-sangat dingin.


"Dingin ya?" Tanya Bhumi.


"Sedikit.. kita mau kemana sih kak?" Tanya Geva penasaran.


"Jalan aja.. nanti kamu juga tahu.. kalau kamu capek, aku gendong di belakang ya?" Tanya Bhumi.


"Ck. aku berasa lagi shooting Drakor jadi pemeran utamanya deh.. " Deva justru cekikikan menanggapi sikap romantis sang suami.


"Apalagi suasananya seperti ini.. persis seperti yang ada di Drakor." Kata Geva menikmati setiap senti kota Tokyo yang bersih dan tertata rapi semuanya.


"Papa barusan menghubungi aku Bee." Kata Bhumi tiba-tiba. Geva menghentikan langkahnya membuat Bhumi juga ikut menghentikan langkahnya dan menatap sang istri diam mematung.

__ADS_1


"Papa marah ya?" Tanya Geva yang baru memberi tahu orang tuanya jika dia pergi ke Jepang dan tidak ikut camping saat sudah berada di bandara sebelum masuk pesawat.


Bhumi tersenyum lalu menarik tangan sang istri supaya kembali berjalan karena tempat yang dituju Bhumi sudah terlihat dan sangat dekat.


"Bukan.. Papa hanya mengingatkan aku supaya kamu fokus sama sekolah kan sekolah sebentar lagi selesai. Jadi Papa ingin kamu lulus dengan membanggakan kedua orang tua meskipun status kamu sudah menjadi istri seorang Bhumi Bramantya, papa memintaku untuk menjaga kamu juga mendidik kamu supaya kamu tidak seenaknya sendiri." Kata Bhumi. Geva tidak menimpali itu, karena memang benar, selama ini dia selalu melakukan apa yang dia sukai.


"Yuk masuk.." Ajak Bhumi mengajak Geva melangkahkan kakinya


"Hotel? ngapain?"


"Selama tiga hari ke depan, kita mengungsi disini. aku gak mau di apartemen dan diganggu oleh Satria yang menyodorkan banyak pekerjaan, aku mau quality time bersama kamu." Ucap Bhumi tersenyum.


Oh demi Mimi peri, hati Geva saat ini dipenuhi kupu-kupu yang bertebaran sambil menari-nari bahagia.


Geva hanya mengikuti suaminya memasuki hotel bintang lima yang berada di Tokyo dan jaraknya hanya sekitar 300meter dari apartemen Bhumi.


"Kak.. kita gak Kamehame lagi kan malam ini?" Tanya Geva dengan polosnya saat Bhumi meminta kunci di meja resepsionis.


"Tergantung nanti.. malam ini aku ingin ngobrol berdua sama kamu." Jawab Bhumi lembut. Geva bernafas lega..


Pasalnya, tubuhnya saat ini berasa sangat-sangat remuk sekali, namun imannya terlalu lemah jika Bhumi sudah melancarkan aksinya.


Meskipun tadi sudah sangat di liputi oleh Nafsu, namun Geva sangat sangat berterima kasih pada perutnya yang memberikan suara lucknat hingga membuat suasana romantis nan panas jadi tertawa.


Bhumi dan Geva pun masuk ke dalam lift menuju lantai 30 tempat kamar yang Bhumi sewa. Dan tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di kamar tersebut.


Ceklek.


Geva dibuat menganga kala Bhumi meminta Geva membuka kamar lebih dulu sedangkan Bhumi pura-pura menghubungi seseorang.


Kamar hotel bintang lima yang dihias dengan sangat indah juga romantis.



"Kejutan spesial untuk wanita terspesial di hidup aku." Jawab Bhumi memeluk tubuh sang istri dari belakang dengan kaki Bhumi yang menutup pintu kamar hotel dan otomatis pintu itupun terkunci.


"Bagaimana, kamu suka bee?" Tanya Bhumi.


Geva hanya mengangguk dengan mata berkaca-kaca tidak percaya mendapatkan kejutan romantis seperti ini dari lelaki yang selalu dia sebut sebagai besi karatan karena saking dingin dan kakunya.


Geva langsung membalikkan tubuhnya menghadap Bhumi, Bhumi mengernyit..


oh mungkin Geva akan mencium bibirnya sebagai tanda terima kasih, begitulah pikir Bhumi Bramantya.


Tapi Bhumi salah.


"Kakak masih waras kan? kakak sehat kan?" Tanya Geva dengan wajah polosnya menaruh punggung tangannya ke kening Bhumi sambil berjinjit karena Bhumi lebih tinggi darinya.


"Ha?" Bhumi bengong karena semua di laur ekspektasi nya. romantis? ngarep~


"Padahal kakak gak panas loh? kok kakak bisa bersikap dan menyiapkan semuanya seromantis ini. Aku jadi curiga." Kata Geva membuat Bhumi semakin melotot.


Sudahlah Ge.. harusnya jangan curiga-curuga... nikmati aja kejutan suami kamu.


"Memangnya tidak boleh aku belajar menjadi pria romantis untuk istriku sendiri?" Tanya Bhumi dengan wajah sudah sedikit jengkel.


"Boleh sih boleh.. tapi... pasti ada maunya ini."


"Tapi apa? kamu gak bisa ya Ge, diajak romantis-romantisan dikit." Kata Bhumi jengkel langsung berjalan menuju balkon kamar hotel yang terlapisi kaca tebal.

__ADS_1


Geva dibuat melongo, pemandangan dari balkon benar-benar indah.


Tokyo sky tree ada disana... di depan matanya dan terlihat sangat-sangat indah. Namun Geva belum menyadari pemandangan di depannya itu karena dia langsung memeluk Bhumi dari belakang setelah sadar lelaki yang berusaha bersikap romantis padanya itu merasa kurang di hargai usahanya.


"Maaf jika aku salah ngomong.. aku suka sana kejutan yang kakak berikan. aku sangat suka. makasih ya suamiku.. aku cinta kamu." Kata Geva.


"Ini semua gak gratis Bee." Ucap Bhumi dan berbalik menatap Geva. Mata mereka saling bertemu.


"Jadi aku harus bayar?" Tanya Geva dengan polosnya.


"Iya, kamu harus membayarnya dengan memberikan aku satu anak yang lucu.. gak masalah perempuan atau lelaki, satu aja dulu meskipun aku ingin punya banyak anak dari kamu." Ucap Bhumi lalu mengecup bibir Geva sekilas.


Deg!


anak?


Geva diam mematung, dia sudah cukup lama tidak memikirkan masalah bagaimana jika dia hamil. Tiba-tiba ucapan Fabian terngiang di telinga nya.


"Kamu masih muda Gevania.. jangan buru-buru nikah.. kejar impian kamu.. kamu harus menjadi wanita yang hebat untuk lelaki yang hebat ada disamping kamu.. .kamu harus tunjukkan pada dunia bahwa kamu bukan wanita lemah yang gampang diatur oleh lelaki...


jangan buru-buru nikah Gevania.. karena kalau kamu sudah menikah maka impian-impian kamu akan mati.. apalagi kamu udah punya anak.. ya sudah.. kamu akan sibuk ngurus suami dan anak. Mau kuliah? udah gak sempet apalagi mengerjakan tugas dan suatu saat dunia akan merendahkan kamu karena status pendidikan kamu!"


"Bagaimana, apa kamu mau memproses pembayarannya sekarang?" Tanya Bhumi memegang pundak sang istri.


Geva menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.


"Kak... A.. aku belum siap punya anak kak..." Kata Geva tanpa berani menatap pada Bhumi.


"Kamu tidak mau mengandung anakku? darah daging ku?" Tanya Bhumi.


"Bu.. bukan begitu kak.. a.. aku hanya belum siap." Kata Geva.


"Kenapa?"


"Aku masih ingin mengejar mimpi-mimpi ku kak. Biarkan aku mengejar impianku lebih dulu." Kata Geva.


Mimpi-mimpi?


Mimpi kuliah di luar negeri?


Mimpi jadi dokter ?


Lalu bagaimana dengan dirinya?


Bhumi tersenyum kecut.


"Jadi kamu lebih pilih mimpi-mimpi kamu yang gak penting itu dari apa aku?" Tanya Bhumi.


Gak penting?


"Mimpi aku itu penting kak! Mimpi aku itu hidup aku!" Bentak Geva tidak terima. Bhumi seperti sedang menyepelekannya dengan berkata mimpinya tidak penting.


Ck.


"Lalu bagaimana dengan aku?" Tanya Bhumi.


BERSAMBUNG...


LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE

__ADS_1


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE


KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR


__ADS_2