
"Makan ya... aku suapi." Kata Bhumi.
Geva menggeleng lemah, dia tidak nafsu untuk makan, kesedihan benar-benar memenuhi dadanya.
"Kamu mau aku makin sedih jika kamu gak makan?" Tanya Bhumi lembut dan bangun dari brankar rumah sakit.
"Jangan pergi.." lirih Geva.
"Tidak akan, tapi kamu makan dulu!" Bhumi mengambil mangkuk yang berisi sup lalu dia mengarah ke pantry untuk menghangatkan sup tersebut karena ruangan rawat inap Geva adalah ruangan yang didesain khusus untuk keluarga Bramantya.
Setelah segala bujuk rayu Bhumi, Geva pun mau memakan sup dan Bhumi dengan telaten menyuapi sang istri.
"Sayang... kenapa kamu menyimpan obat penunda kehamilan?" Tanya Bhumi tiba-tiba. Geva langsung tersedak.
Bhumi langsung menyodorkan gelas berisi air putih pada sang istri dan Geva langsung meminumnya hingga tandas. Bhumi pun merutuki kebodohannya yang tidak bisa mengontrol emosinya hingga menanyakan hal itu di situasi dan kondisi yang kurang tepat seperti ini.
"Pelan-pelan sayang ." Ucap Bhumi lembut. Geva mengerjapkan matanya menatap sang suami, tidak ada sedikitpun emosi yang terpancar dari sorot mata yang biasanya selalu tajam dan mengintimidasi tersebut. Bukankah Bhumi sangat menginginkan hadirnya anak? bukankah harusnya Bhumi marah?
Melihat Geva yang hanya diam saja, Bhumi menghalau rasa penasarannya. Dia tidak mau memaksa Geva untuk menjawab pertanyaannya. Sudah cukup kejadian kemarin membuat mereka terpukul.
"Sayang.. makan lagi ya.. ayo buka mulut kamu." Ucap Bhumi menyodorkan makanan pada gadis cantik yang masih terlihat sangat pucat itu.
"Kak... " Geva menggenggam tangan Bhumi hingga akhirnya Bhumi memilih untuk menaruh lagi sendoknya pada mangkuk bubur yang ada di tangan kirinya.
"Maaf..." Lirih Geva merasa bersalah. Bhumi tersenyum, dia menaruh mangkuk bubur itu diatas nakas.
"Heii jangan sedih.. aku gak marah, hanya saja aku ingin tahu apa alasan kamu Gevania... dan aku ingin kamu terbuka sama aku, jangan memikirkan semuanya sendiri." Ucap Bhumi mengusap lembut pipi Geva.
"Aku bingung.." Satu kalimat yang mewakili segala apa yang Geva rasakan selama ini. Dan Bhumi sangat paham itu, kelabilan Geva selama ini adalah bentuk kebingungan apa yang ada di benak dan hati Gevania.
"Bingung kenapa?" Tanya Bhumi.
"Kakak naik dulu sini... peluk lagi." Perintah Geva dengan manja. Bhumi hingga terkekeh melihat wajah menggemaskannya Geva.
"Makanannya?" Bhumi melirik mangkuk bubur yang ada di atas nakas yang baru berkurang beberapa sendok saja.
"Udahan aja makannya.. aku udah gak nafsu, pengen peluk..." Kata Geva.
"Baiklah..." Bhumi segera naik kembali ke brankar rumah sakit duduk disamping Geva.
"Peluk sini.." Lagi-lagi Bhumi tersenyum, tangannya langsung merengkuh tubuh yang tanpa tenaga itu dan Bhumi berikan kecupan bertubi-tubi di kening Geva.
"Bingung kenapa? sekarang cerita ya." Pinta Bhumi.
"Oke.. aku akan cerita..aku gak peduli kakak nanti marah apa nggak . aku gak peduli." Kata Geva.
"HM.." Jawab Bhumi. Sepertinya gadis ini mulai Menyebalkan lagi,
"Aku belum yakin sama perasaan aku sendiri, bahkan sampai detik ini aku belum yakin sama perasaan kakak, perasaan kita. Yang aku tahu hanya satu..." Geva memberikan jeda pada ucapannya.
__ADS_1
"Apa?" Tanya Bhumi penasaran.
"Aku gak mau kehilangan kakak, karena apa yang sudah menjadi milikku, haram hukumnya untuk dimiliki orang lain dan aku gak akan biarkan itu terjadi hingga titik darah penghabisan.. apalagi selain kakak kaya raya bisa membelikan apa aja yang aku mau.. kakak juga tampan, lumayan lah untuk menghasilkan keturunan-keturunan yang diatas rata-rata. Dan sekarang aku matre bukan untuk aku aja, tapi untuk anak-anak aku kelak biar kehidupannya sangat terjamin." Ucap Geva dengan santainya.
"Jadi kamu mempertahankan aku karena aku kaya dan tampan?" Bhumi mengernyitkan keningnya. Dia cukup pusing dengan jalan pikir istrinya itu.
Geva mengangguk.
"Dan aku sadar, dalam hati kecil aku... aku udah mulai sayang sama kakak ." Lanjut Geva.
"Bukannya kamu udah cinta juga sama aku? buktinya kalau kita habis bercinta, kamu juga selalu mengucapkan, "I love you too.." Ucap Bhumi tak terima.
"Itu sih karena terbawa suasana aja... aku gak mau menghancurkan suasana romantis kita yang habis main panas-panasan.. masak kakak bilang ke aku I love you, aku tolak.. nanti kakak tengsin." Ucap Geva tanpa filter. Oh sungguh Bhumi ingin menggigit pipi Geva saat ini juga namun Geva ingin tertawa melihat wajah Bhumi yang mendadak kusut.
"Oh kamu gak cinta sama aku... jadi itu alasannya kamu mau membeli obat penunda kehamilan?" Tanya Bhumi tiba-tiba berubah serius.
"Entahlah.. aku bingung.. kita bobok aja yuk kak. Otakku lagi gak bisa berpikir jernih." Kata Geva mengeratkan pelukannya. Geva berharap Bhumi akan terus mendesaknya untuk membahas perihal perasaan, tapi nyatanya Bhumi memilih diam.
Bhumi masih diam mematung, dia takut jika ucapan yang keluar dari bibirnya akan menyakiti istrinya. Bhumi berusaha mencerna apa yang dikatakan istrinya namun tidak bisa dicerna juga oleh otak cerdasnya. Apa otak Geva ikut cidera karena terserempet motor?
Bhumi hanya diam sibuk dengan pikirannya sendiri. Geva sudah memejamkan matanya, Namun Geva juga tidak bisa tidur. Cukup lama mereka dalam diam.
Tiba-tiba Geva mengusap lembut perutnya yang rata, beberapa jam lalu masih ada kehidupan didalam sana... air matanya menetes lagi... Rasanya lebih menyakitkan dari sekedar ditinggalin pacar pas lagi sayang-sayangnya.
Geva sadar, dalam hati kecilnya juga dia sangat menginginkan hadirnya keturunan Bramantya dari rahimnya supaya dia bisa mengikat Bhumi seumur hidupnya. Dia gak mau kehilangan lagi sosok pangeran kecilnya.
"Kakak .. kenapa kakak belum tidur?" Geva mendongakkan wajahnya menatap Bhumi. Bukan menjawab si Eneng Gepa.. malah balik nanya.
"Tidurlah.. kalau kamu merasa terganggu aku tidur di kasur sempit ini, aku akan tidur di sofa " Bhumi hendak beranjak.
"Kak.. disini saja." Ucap Geva sambil mengusap air matanya.
"Kamu kan gak cinta sama aku, jadi pasti kamu gak mau lama-lama dekat denganku!" Ucap Bhumi dengan nada sedikit ketus. Geva paham sekarang kenapa suaminya belum tidur. Kegalauan Geva akan kejadian kemarin kita sedikit tergeser karena wajah kesal Bhumi.
Geva terkekeh.
"Kenapa seorang pebisnis muda yang terkenal dengan kecerdasannya dan wajah tampannya terpampang di layar kaca juga majalah bisnis mendadak bodoh soal cinta?" Tanya Geva.
"Maksud kamu?"
"kakak kenapa menelan mentah-mentah sih ucapanku? Apa kurang cukup sikapku selama ini menunjukkan betapa berartinya seorang Bhumi Bramantya di hidupku sampai aku menyusulnya ke jepang? Bahkan sampai aku masih menyimpan foto kecilnya, foto kita kecil yang absurd banget.. padahal jelas-jelas dia melupakan aku... bahkan aku juga rela merendahkan harga diriku sendiri untuk menggodanya, meskipun dia selalu berkata aku anak kecil yang dia anggap sebagai adiknya dan tidak akan pernah tergoda oleh tubuhku." Kata Geva lagi.
Bhumi diam, baginya ucapan Geva terlalu berbelit-belit..
" Ih ngeselin deh!" Decak Geva cemberut langsung membelakangi Bhumi karena Bhumi diam aja.
"Maksud kamu apa Ge?" Tanya Bhumi membalikkan tubuh istrinya supaya saling berhadapan.
"Aku itu cinta sama kakak!"
__ADS_1
"Kenapa tadi kamu bilang hanya sayang sama aku?" Tanya Bhumi.
Geva menghela nafasnya, ngomong sama Bhumi soal perasaan itu benar-benar menguji kesabaran.
"Belajar peka kak! gak semua harus terucap.. hanya perlu dirasakan!" Kata Geva malas. Niatnya mengerjai Bhumi malah dia yang kesel.
"Gimana sih Ge.. gimana?" Bhumi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku... cinta sama kamu! titik no debat!" Kata Geva.
"Be.. benarkah? ini bukan prank kan?"
"Tau ah gelap!"
"Lalu kenapa kamu membeli obat penunda kehamilan?" Tanya Bhumi lagi. Geva langsung diam termenung.
"Maaf..." Cicit Geva.
"Jawab dengan jujur Ge.. aku gak mau kamu bohong atau menjawabnya dengan berbelit-belit."
"Aku ragu dengan perasaan kakak."
"Bagaimana bisa?"
"Kakak masih ingat kan.. bagaimana kakak bilang cinta sama kak Flower di ruang studio? bagaimana kakak menatap kak Flower dan bahkan sampai detik ini kakak sering mengirim makanan ke kak Flower." Ucap Geva membuat Bhumi sedikit kaget. Bagaimana bisa Geva tahu dia mengirim makanan untuk Flower.
"Ba.. bagaimana kamu tahu?" Tanya Geva.
"Ya tahu lah... dan menurut kakak, wajar gak aku ragu sama kakak?" Bhumi pun mengangguk lemah tanpa sadar.
"Tapi untung otak aku masih sehat, aku mencari tahu lebih dulu sebelum meminumnya, dan ternyata efeknya bisa mengakibatkan sulitnya mendapatkan keturunan di masa depan. So, aku memutuskan tidak meminumnya karena aku gak mau mandul, terus kakak nanti di paksa nikah atau Menikahi wanita lain untuk dapat keturunan, terus nanti istri ke dua kakak semena-mena sama aku hingga menyingkirkan aku... terus nanti harta kakak di kuasai wanita itu. Aku hanya bisa menangis melihat kebahagiaan kalian dari jauh seperti sinetron-sinetron kadal terbang." Ucap Geva membuat Bhumi melongo.
Kini Bhumi sadar, julukan alien dari planet Pluto memang sangat cocok untuk Geva mengingat tingkah Geva pola pikir Geva yang super absurd,
BERSAMBUNG...
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR
TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR
TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR
KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI BUNGA KOPI
MAKASIH 🥰
__ADS_1