
YANG MASIH ADA SISA-SISA VOTE BAGI DONG AH...
🍁🍁
Malam ini terasa sangat hangat untuk dua anak manusia yang tengah di mabuk cinta, siapa lagi jika bukan Geva dan Bhumi yang tengah asyik menonton layar televisi yang sangat lebar dengan posisi Bhumi berbaring di paha mulus sang istri setelah pulang terapi dan konsultasi dengan dokter yang menangani Bhumi.
Geva sangat bersyukur karena kata dokter, perkembangan kondisi psikis Bhumi sangat luar biasa, diluar dugaannya. Berbeda jauh dengan beberapa tahun setelah Flower menyiram Bhumi dengan darah.
Kehadiran Geva dalam hidup Bhumi memang berdampak besar, itu juga yang dokter Andreas rasakan.
Dan dokter Andreas juga sangat salut dengan Geva, gadis cantik yang masih terbilang remaja itu sangat totalitas menemani dan mensupport sang suami hingga Bhumi sudah berani menyentuh darah segar meskipun dengan tangan yang gemetar.
Jika Bhumi rajin terapi dan perkembangannya stabil, maka tidak butuh waktu lama Bhumi bisa sembuh total. Sungguh, Geva tidak sabar menantikan hari itu tiba karena hatinya terasa sangat sakit melihat bagaimana kemarin Bhumi diam mematung karena ucapan dan teror dari lelaki bernama Afka.
Geva sudah sedikit tenang mengingat tentang Afka, dimana dia sudah dilaporkan Keenan ke polisi karena sudah mengusik Bhumi dengan barang bukti pisau berlumuran darah yang berupa ancaman. Namun semuanya masih proses, paling beberapa hari lagi Afka akan dipanggil kepolisian.
Geva mengusap lembut rambut lelakinya dengan mata yang tertuju pada layar Televisi yang menayangkan sebuah drama Korea lama yang tidak masuk akal menurut Bhumi karena Bhumi selalu berpikir dengan menggunakan logika.
Sebetulnya Bhumi sangat malas menonton drama ini, tapi bagaimana lagi.. istrinya minta ditemani.
"Gak masuk akal banget.. masa malaikat maut kalau pakai topi jadi gak kelihatan, terus kalau topinya di copot jadi kayak manusia." Komentar Bhumi yang kesekian kalinya hingga membuat sang istri yang tengah fokus nonton itu kesal sendiri.
"Udah deh bee.. diam aja.. pura-pura seneng Napa, nyenengin istri dapat pahala loh." Ucap Geva mengambil minuman kaleng yang berada disebelahnya lalu meminumnya.
"Aku tuh gak bisa bohongin kamu ya bee! itu tuh gak masuk akal!" Ucap Bhumi.
"Huh! komentar kamu persis seperti netizen gak berakhlak di aplikasi pernovelan gratis."
"Kenapa emang?" Tanya Bhumi.
" Ini itu namanya juga sebuah karya, suka-suka yang buat dan yang menghalu dong.. hargai karya seseorang karena kamu juga belum tentu bisa jika disuruh buat skenario drama kayak gitu. Kalau suka tonton kalau nggak, ya merem aja, tapi tetap disini." Omel Geva.
"Tapi kan aku hanya mengutarakan pendapat aku bee." Ucap Bhumi berbalik dan memeluk perut Geva yang rata lalu menyembunyikan wajahnya disana.
"Udah diam ah.. lagi seru tuh." Kata Geva.
Bhumi benar-benar memejamkan matanya, nyaman. Satu kata yang selalu Bhumi rasakan jika disamping Geva. Kadang Bhumi berpikir jika mengingat beberapa bulan lalu dimana Geva benar-benar kekeh Untuk tetap disampingnya dan menjadi istri yang sesungguhnya meskipun Bhumi terus menolak dengan kata-kata pedas nan kasar.
Apalagi jika mengingat kejadian di ruang bioskop dimana Bhumi memeluk Flower dan mengucapkan cinta pada Flower berselang beberapa jam saja dia meminta haknya pada Geva sebagai suami. Rasanya dada Bhumi masih nyeri, namun semua sudah terlanjur terjadi, dia akan menebus semuanya dengan membahagiakan Geva seumur hidupnya.
"Bee.." Panggil Bhumi.
__ADS_1
"HM.." Jawab Geva.
"Acara kelulusan kamu kapan sih?"
"Masih dua pekan lagi, kenapa?" Geva berbalik nanya.
"Udah pesan baju belum? aku gak mau ya baju yang terbuka, bakal aku sobek-sobek lagi itu baju."
"Belum.. besok rencananya mau cari baju sama Naomi bee. Gak lagi-lagi deh pakai baju haram depan umum.. syerem." Jawab Geva sambil memasukkan kripik kentang ke mulutnya.
"Oh iya kamu sebut Naomi aku jadi teringat kan, tadi papa mampir ke kantor ku, katanya Minggu depan Deon mau nikahin Naomi. Nikah secara agama dulu katanya." Ucap Bhumi.
prang!
"bohong ih! kok Nom Nom gak bilang apa-apa sama aku?" Tanya Geva terkejut dan hendak berdiri mengambil ponselnya di kamar.
"Mau kemana, sini aja sih!" Ucap Bhumi enggan melepaskan pelukannya. Mau tidak mau Geva kembali duduk diam tapi dengan wajah kecewa.
"Kok gak ada yang cerita sih sama aku. Kenapa menikah secara agama coba? gak langsung sah secara hukum?" Kata Geva nampak kecewa. Bagaimana tidak, kakak kandung satu-satunya akan menikah dengan sahabatnya sendiri eh kok gak dikasih tahu. Emang selama ini nganggep Geva apa coba?
"Kamu tenang dulu.. ini makanya aku ceritakan sama kamu sayang.."
"Cepat ceritakan!"
"Siapa?" Tanya Geva.
" Deon juga belum cerita sama papa siapa orang tua Naomi." Jawab Bhumi santai.
"Terus kenapa nikahnya gak langsung SAH secara hukum?"
"masalahnya adalah berkas-berkas Naomi untuk daftar nikah juga belum lengkap sayang, sebab semua data Naomi dibawa orang tua angkatnya. Naomi bisa sekolah saja karena campur tangan papa kan." Jelas Bhumi mengenai perbincangannya tadi siang dengan sang mertua.
Geva mengangguk mengerti.
"Mungkin Naomi bingung kali gimana ceritanya sama kamu, kan dari kemarin kalian gak ketemu gara-gara kamu sibuk temani aku terapi." Senyum mengembang di bibir Geva, saat dia emosi, Bhumi sudah bisa menenangkan nya dan mengajarinya berpikir dari sisi yang berbeda.
"Iya juga sih.. makasih ya udah nurunin emosi aku."
" Sama-sama sayang, besok kalau ketemu naomi jangan langsung nerocos, tunggu dia cerita aja." Geva mengangguk.
"Tapi aneh loh sayang... Deon kekeh banget ingin nikahin Naomi, padahal papa dan mama inginnya mereka nikah langsung SAH semuanya meskipun belum ada resepsi."
__ADS_1
"Udah ngebet kali kak Deon buat buka segel." Jawab Geva
"Iya juga sih, nikmat nya buka segel." Ucap Bhumi tertawa bangga pernah membuka segel yang masih benar-benar bersih dan suci tanpa tersentuh apapun.
"Sakit tau!" Ucap Geva.
"Sayang, kamu jadi ambil kedokteran?" Tanya Bhumi tiba-tiba teringat dengan masa depan Geva.
"Kalau menurut kamu gimana?" Tanya Geva.
"Kalau menurut aku, mending ambil Bisnis management. Bagaimana pun keluarga kita adalah keluarga pebisnis. Jika suatu hari pala dan Deon butuh bantuan kamu bisa bantu, dan suatu saat aku kenapa-kenapa gak bisa ngurus perusahaan kamu bisa handle."
"Eh kok ngomongnya gitu. Aku gak mau ya kamu kenapa-kenapa!" Omel Geva langsung nada bicaranya naik satu oktaf.
"Namanya umur dan kesehatan juga tidak ada yang tahu sayang.."
"Gak boleh bilang gitu! lalu kalau dokter emang kenapa?"
Bhumi menghela nafasnya,
"Kalau dokter ada namanya sumpah dokter, dan ketika kamu sudah praktek, kamu gak bisa seenaknya. Kapan pun kamu diminta datang ke rumah sakit jika darurat kamu harus datang, aku hanya berpikir dan takut kamu terlalu sibuk sehingga aku dan anak-anak kita nanti kesepian. Tapi aku gak masalah kalau kamu bisa bagi waktu, aku gak mau mengekang kamu." Ucap Bhumi.
Geva nampak berpikir,
"Aku adalah wanita beristri, jadi sudah seharusnya aku menuruti ucapan suami jika itu tidak melanggar norma-norma."
"Jadi?" Tanya Bhumi.
"Aku ambil bisnis tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Suami aku yang ganteng dan cerdas ini harus bantuin aku buat ngerjain tugas kuliah, apalagi nanti kalau aku udah hamil dan ngurus anak."
"Siap laksanakan tuan putri!" Kata Bhumi penuh semangat.
"Makasih suamiku!"
BERSAMBUNG...
PLEASE LAH.. JANGAN PELIT-PELIT..
__ADS_1
KEBANYAKAN READERS DI APLIKASI BIRU, JANGANKAN KASIH KOMENTAR UNTUK MENYEMANGATI AUTHOR, LIKE AJA NGGAK APALAGI KASIH HADIAH DAN VOTE... KEBANYAKAN YA.. KEBANYAKAN LOH...
SO BUDAYAKAN LIKE LAH KALAU GAK MAU KOMEN, MINIMAL KASIH SEMANGAT AUTHOR YANG TULISANNYA SEDANG KALIAN BACA.