Menikahi Gadis Menyebalkan!

Menikahi Gadis Menyebalkan!
Maafkan aku~


__ADS_3

WARNING!!


JANGAN DIBACA SAAT PUASA.. KARENA TAKUTNYA MEMBUAT AMAL IBADAH PUASA KALIAN RUSAK KARENA MEMBACA NOVEL INI YANG TIDAK ADA MANFAATNYA SAMA SEKALI.


BACANYA MALAM AJA YA... HEHEHE...


Pagi menjelang, Geva mengeluh panjang mencoba menetralkan dirinya karena tidur nyenyak semalaman. Tubuh Geva rasanya terasa jauh lebih enakan dari kemarin. Mungkin karena istirahat nya sangat cukup.


Geva menghela nafasnya mengingat kejadian kemarin yang benar-benar membuatnya shock dan ketakutan. Matanya kembali terpejam, keinginan Geva semua itu hanya mimpi buruk, tapi nyatanya semuanya benar-benar nyata. Sangat nyata.


"Tenang Ge.. tenang.. anggap saja itu tidak pernah terjadi. Tenang!" Kata Geva mengatur nafasnya dan mencoba menahan air mata yang siap menetes dari pelupuk matanya yang terpejam. Perlahan dia beranikan diri untuk membuka matanya,


"Ck. ini si Nom Nom kebiasaan kalau tidur peluk-peluk orang." Desah Geva kesal mencoba menyingkirkan tangan yang memeluknya dengan sangat posesif.


Geva menggenggam tangan tersebut.


Deg!


"Astaga.. baru beberapa hari tidak bertemu kak Bhumi aku sudah sangat merindukannya bahkan aroma tubuhnya benar-benar seperti nyata, tangan Naomi saja aku pikir tangannya." Gumam Geva lagi sambil memejamkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mengingat Bhumi, air mata Geva kembali menetes. Bagaimana jika Bhumi tahu bahwa dirinya kemarin sudah dicium dan dadanya di remass oleh Fabian? Geva merasa jijik pada bibirnya sendiri juga dadanya.. rasa nyeri di dadanya masih terasa sampai pagi ini, sepertinya Fabian mereemass dengan sangat-sangat kuat.


Geva merasa bersalah pada sang suami.. harusnya kemarin dia bisa menolak dan menendang Fabian, tapi semuanya terlalu mendadak, apalagi aroma alkohol benar-benar membuatnya pusing dan mual hingga tidak bisa berpikir cepat untuk meloloskan diri.


"Nom.. bangun!" Kata Geva sambil menghapus air matanya.


"Naomi gak ada disini." Jawab orang disebelah Geva yang membuat Geva benar-benar terperanjat.


Suara parau yang terdengar begitu Geva kenal membuat Geva shock.


"Aku mimpi.." Kata Geva menepuk-tepuk pipinya sendiri tanpa berani menoleh ke samping.


"Kamu gak bermimpi Bee." Kata Seseorang di samping Geva lalu mengeratkan pelukannya pada tubuh Geva yang berbalut selimut tebal.


"Aku sangat mengkhawatirkan kondisi kamu." Kata seseorang itu yang tidak lain adalah Bhumi.


"Kakak..." Lirih Geva menengok kesamping ya dan seorang lelaki yang sangat Geva cintai telah memberikan senyuman yang begitu tulus dengan muka bantalnya yang tidak mampu mengurangi kadar ketampanan nya.


Geva mendadak mundur, bayangan Fabian kemarin seolah datang lagi. Geva mencoba menjauhkan tubuhnya dari sang suami. Jadi Bhumi sudah mengetahui semuanya? bagaimana jika Bhumi murka padanya? kan kata Deon, Bhumi tidak akan pernah terima miliknya disentuh lelaki lain. Wajah Geva mendadak pucat pasi.


"Kenapa?" Tanya Bhumi mengernyit. Geva menggeleng dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.


"Jangan mendekat kak... A.. aku gak pantas untuk kakak." Kata Geva. Bhumi semakin dibuat bingung dengan sikap Geva apa kesadaran Geva belum sepenuhnya kembali setelah meminum obat tidur yang diberikan Theo semalam.


"Sayang..." Panggil Bhumi menangkup pipi Gevania.

__ADS_1


"Jangan kak.. jangan."


CUP


Bhumi mengecup bibir Geva hingga membuat sang empu mematung. Bhumi bahkan meluumat bibir Geva dengan sangat lembut dan hati-hati memberikan kenyamanan pada sang istri.


Setelah Geva tenang, Bhumi melepas tautan bibirnya.


"Jangan menangis lagi sayang.. aku sudah menghapus bekas si bajinggan itu?.. nggak apa-apa.. aku gak akan marah sama kamu sayang.. jangan menangis lagi aku mohon." Kata Bhumi sangat lembut menatap sendu pada Geva.


Geva mengerjap-ngerjapkan matanya, Bhumi tidak memarahinya?


Bhumi seolah tahu apa yang ada dibenak sang istri. Ditariknya Geva dalam pelukannya,


"Jangan pernah berpikir macamnya ya.. aku sangat mencintai kamu.. dan aku akan memberikan pelajaran setimpal untuk orang yang telah berani menyakiti kamu apalagi berani membuatmu sampai kacau seperti kemarin." Kata Bhumi mengusap punggung Geva terisak.


"Di.. dia.. dia meremas dada ku kak.. hiks.. hiks.. hiks.. rasanya sakit.." Kata Geva lirih mengadu pada sang suami. Bhumi mengepalkan tangannya juga rahang nya mengeras, namun sebisa mungkin didepan Geva, Bhumi mencoba mengontrol emosinya. Dia akan benar-benar menghancurkan Fabian.


"Apa masih sakit?" Tanya Bhumi, Geva mengangguk lemah.


"Maafkan aku yang tidak bisa menjaga kamu sayang.." Kata Bhumi lirih. Mata mereka saling bertemu, bahkan Geva melihat mata Bhumi yang sudah berkaca-kaca dipenuhi rasa bersalah.


"Kak.. maafkan aku yang gak bisa menjaga diri." Kata Geva menghapus air mata Bhumi Bhumi.


"Maafkan aku kak.. hiks.. hiks. gara-gara aku kakak harus pulang cepat juga hiks.. hiks..." Geva kembali menerjang tubuh lelaki yang sangat ia cintai.


Cukup lama mereka berpelukan di atas ranjang. Bhumi benar-benar memberikan kenyamanan untuk Gevania sehingga Gevania bisa terlihat jauh lebih baik dan sudah tenang.


"Kakak kenapa bisa tiba-tiba ada disini? kapan kakak sampai?" Tanya Geva dengan mata yang sudah membengkak.


FLASHBACK ON


Tepat pukul 12 malam, Theo baru saja terpejam di sofa depan TV untuk menjaga dua gadis yang dia anggap sudah sebagai sahabatnya yang harus dia lindungi. Namun keinginan Theo untuk segera bermimpi indah musnah kala ada orang yang membangunkannya secara tiba-tiba.


"Yo! bangun!" Theo pun mengerjap-ngerjapkan matanya. Theo tahu itu suara siapa. Dia segera bangun dan membuka matanya meskipun gelap.


"Kak." Kata Theo.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Kata orang itu dengan wajah penuh dengan amarah dan emosi bercampur dengan rasa lelah. Auranya benar-benar menakutkan. Theo sempat menelan salivanya melihat sorot mata tajam lelaki dihadapannya itu.


Dan Theo pun menceritakan semuanya yang terjadi dengan Gevania siang tadi. Orang yang sedang diajak Theo berbicara itu pun mengepalkan tangannya juga rahangnya yang mengeras. Dia siap memberi kan pelajaran pada lelaki bernama Fabian itu.


"Kakak sabar dulu, kondisi Geva jauh lebih penting saat ini, dia benar-benar shock dan aku terpaksa memberikannya obat tidur semalam biar dia gak nangis terus. Kakak bisa membalas Fabian dengan cara elegan, jangan sekarang." Kata Theo setengah mengantuk.


"Terima kasih banyak." Ucap lelaki itu yang tidak lain adalah Bhumi Bramantya yang baru saja datang setelah siang tadi membaca pesan Theo mengenai apa yang menimpa Geva.

__ADS_1


Bhumi langsung memesan tiket untuk penerbangan terdekat. Dan untungnya Bhumi dapat penerbangan satu jam setelah dia mendapatkan pesan dari Theo meskipun dengan harga yang berkali-kali lipat.


Mungkin kalau tidak ada jadwal penerbangan, Bhumi pasti akan pakai jet pribadi lagi


"Its oke.. semua gak gratis." Kata Theo dan Bhumi hanya mengangguk seakan tahu apa yang diinginkan mantan kekasih istrinya itu.


"Kak.. ada Naomi di dalam." Kata Theo.


"Elu sama Naomi tidur di apartemen adik gue.. disana ada dua kamar, tapi kalian harus tidur terpisah, karena CCTV disana masih tersambung dengan ponselku." Kata Bhumi yang memang tidak mau diganggu waktunya dengan Geva.


"Baiklah.." Kata Theo yang sebenarnya malas pindah tempat. Tapi gimana lagi, dia juga tidak sanggup melihat kemesraan sang mantan kekasih dengan suaminya.


Bhumi pun memasuki kamar dan diikuti Theo, Theo diminta Bhumi untuk membangunkan Naomi, jangan harap Bhumi meminta Theo dengan ucapan. Nggak! Hanya dengan kode lirikan mata karena Bhumi sudah malas ngomong, moodnya benar-benar buruk saat ini. Tapi dia mencoba meredamnya. Untung Theo paham kodenya.


Setelah Naomi dan Theo pergi, Bhumi segera membersihkan dirinya dulu karena jika langsung mendekat pada Geva yang terlelap, Bhumi pastikan dia gak akan jadi mandi sampai besok pagi. Karena bagi Bhumi, tubuh Geva memiliki magnet tersendiri.


Tubuh Bhumi sudah terlihat lebih segar, pikirannya pun sedikit lebih jernih meskipun ada bom besar dalam hatinya yang bisa meledek kapanpun.


Bhumi mendekat pada Geva, ditatapnya wajah Geva dengan sendu.


Bhumi mengepalkan tangannya melihat bibir Geva yang bengkak.


"Aku akan membunuhmu Fabian." Gumam Bhumi.


Dengan lembut Bhumi mengusap bibir Geva lalu memberikan kecupan disana.


"Maaf kan aku bee.. semua salahku yang tidak bisa melindungi kamu.. seandainya aku tidak mengatakan status kita yang sebenarnya, mungkin kamu tidak akan menemuinya dan semuanya tidak akan terjadi padamu.. maafkan aku." Air mata Bhumi menetes.


Bhumi memejamkan matanya merasakan sakit yang luar biasa.


Bhumi memandangi wajah yang terlelap dengan damai itu meskipun terlihat sekali mata bengkaknya karena kebayangkan menangis.


Dan Fabian harus membayar semuanya.


Harus!


Setelah mengirimkan pesan pada seseorang, Bhumi akhirnya terlelap juga dengan posisi memeluk wanita halalnya yang selalu ia rindukan.


BERSAMBUNG...


LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE


KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR

__ADS_1


__ADS_2