Menikahi Gadis Menyebalkan!

Menikahi Gadis Menyebalkan!
Ruang Bioskop~


__ADS_3

"Permisi Nyonya tuan.. makan malamnya sudah siap." Kata Si Mbok dengan sopan.


"Oh iya mbok.. makasih ya." Jawab Mami Naya tak kalah sopan.


"Eh.. kak Caca mana?" Tanya Geva.


Semua keluarga terdiam karena mereka melupakan sosok Bianca yang sedang ngambek di dalam kamar dan mengunci kamarnya dari dalam karena perdebatan tadi yang semua meminta Bianca putus dengan Reno hingga kakak Keenan menyita ponsel Bianca.


"Mi.. coba susul Caca deh.." Perintah Papi Gema.


"Nggak dibuka pi.. tadi sebelum turun udah mami ketok-ketok."


"Emang Kak Caca kenapa mi?" Tanya Geva.


"Jangan ikut campur urusan orang lain!" Suara Bhumi menginterupsi sang istri membuat istrinya langsung diam namun dengan bibir komat Kamit mengumpat sang suami.


"Kalian emang pasangan yang cocok banget yaa... lucu." Ucap Flower memberikan dua jempolnya pada Geva dan Bhumi.


"Cocok dari Hongkong!" Sahut Geva tidak terima.


"Harusnya lebih cocok pada sang mantan yang berkhianat." Ucap Bhumi menatap Flower dengan tajam.


Deg!


Ucapan Bhumi benar-benar menghantam hati Geva. Geva tersenyum masam, untung dia gak pakai perasaan kalau sama Bhumi jika pakai perasaan mungkin dia udah nangis-nangis dibuatnya.


Ucapan Bhumi justru mengusik hati Flower yang sangat sensitif semenjak kehamilannya.


"Cih.. belum move on juga Bhum.. padahal mantan udah bahagia dengan yang baru." Ucap Flower sedikit tertawa mengejek Bhumi.


"Bahagia? pura-pura bahagia dan bahagia beneran itu hanya beda tipis! dan mantanku termasuk orang yang munafik!" Jawab Bhumi tak kalah sengitnya. Ucapan Bhumi membuat rahang Bhima mengeras, Bhumi sudah mengatai istrinya munafik.


"Sudah-sudah.. ayo ke ruang makan." Kata Papi Gema yang membaca situasi akan semakin runyam.


"Gev.. tolong panggilkan Caca ya untuk segera turun. Naik lift aja.. sepertinya jalan kamu masih susah." Perintah Papi Gema sedikit mencairkan suasana.


"Iya Pi. " Jawab Geva. Hanya itu jawaban Geva. tidak ada yang lain. Geva yang bawel mendadak hilang begitu saja.


Geva langsung beranjak dari duduknya lalu memasuki lift yang hanya beberapa langkah dari tempat duduknya.


Ting!


Lift sudah berjalan ke atas.


Di dalam Lift Geva berpikir keras, bagaimana dia bisa tahu sosok mantan seorang Bhumi Bramantya yang mampu membuat seorang Bhumi susah move on.


Kenapa tidak ada orang yang memberi tahu hal itu padanya? Semua itu justru membuat Geva kepo dan ingin mencari tahu. Namun nanti tidak sekarang karena sekarang tugasnya adalah memanggil Bianca, makan lalu tidur. Tubuhnya masih terasa sangat remuk redam.


Sementara di ruang keluarga terjadi keributan antara Keenan yang menganggap Bhumi begitu Ogeb sebab tidak bisa menjaga perasaan istrinya.


Ditambah Mami Naya dan Papi Gema yang sangat kecewa dengan apa yang Bhumi katakan barusan.


Tok.. Tok.. Tok..


"Kak Caca.. buka dong kak.. ini aku Geva.." Teriak Geva untuk kesekian kalinya namun tidak ada jawaban sama sekali.


"Ah bodoh ah.. aku ngantuk banget.. pengen bobo lagi." Gumam Geva sang menantu tidak ada akhlaq itu.

__ADS_1


Geva kembali menaiki lift untuk turun, bukan ke lantai satu yang ada di ruang keluarga. Melainkan lantai dua tujuannya kali ini adalah kamar sang suami, Bhumi. Namun sayang kamar Bhumi terkunci. Geva semakin dibuat gabut, dia malas kembali ke ruang keluarga jika pembahasannya masih seputar mantan. Minta kunci ke si mbok. Males juga karena harus melewati ruang keluarga yang ada ditengah-tengah.


Memang begitu peraturan di kediaman Bramantya, kamar yang tidak ada penghuninya akan di kunci si mbok. Jika memerlukan sesuatu tinggal meminta kunci pada si mbok.


Huh! mantan, mantan dan mantan lagi... Emang gak ada yang mengerti perasaan Geva ya...emang mereka pikir cuma Bhumi yang punya mantan. Geva juga punya bahkan Geva juga rindu sama ketengilan sang mantannya bernama Theo. Sikap Theo yang selalu baik pada Geva padahal diluar Theo termasuk cowok breengsek itupun berbanding terbalik dengan Bhumi yang selalu melemparkan kalimat-kalimat pedasnya.


"Oh ya kan di lantai dua ada bioskop, mending tidur di sono aja deh dari pada minta-minta kunci kamar." Gumam Geva langsung membuka pintu ruang bioskop yang terdapat sofa ukuran besar beserta bantal-bantal empuknya.


"Ahh nyaman banget... tidur ah. bodo amat dengan dunia luar yang banyak drama." Gumamnya dengan mata terpejam.


🍁


Brugh!


Keenan melempar buah jeruk yang ada di meja tepat di kening Bhumi. Papi Gema dan Mami Naya hanya diam, dia ingin melihat apa yang akan anak-anak mereka bahas setelah Geva meninggalkan ruang keluarga tersebut.


"Lu mikir gak gimana perasaan istri elu setelah elu sebut soal mantan elu!" Ucap Keenan.


"Otak elu jangan elu taruh dengkul Bhumi Bramantya!! Geva rela malam-malam selamatin elu hingga demam bahkan baru tadi pagi dia memberikan kehormatannya pada elu.. elu? dasar sampah!" Ucap Keenan.


Bhumi tidak menjawab, dia beranjak dari duduknya hendak meninggalkan ruang keluarga.


"Bhumi Bramantya!" Panggil Bhima membuat Bhumi menghentikan langkahnya.


"Harus elu garis bawahi dan ingat.. Flower adalah istri gue..dan gue gak akan biarkan satu orang pun menghina istri gue! elu dan Flower adalah masa lalu! " Ucap Bhima.


Bhumi tersenyum dan berbelok menatap saudara kembarnya,


"Dan perlu elu ingat Bhima Bramantya, hari ini ada itu karena masa lalu. Kita ada disini juga karena ada masa lalu." Ucap Bhumi.


Tamparan mendarat di pipi Bhumi membuat Bhumi terkejut. Sejak kapan ada orang mendekat ke arahnya? Siapa yang berani menamparnya?


"Mami gak pernah melahirkan anak seorang pengecut! seorang yang tidak berperasaan. Jika kamu mau sakiti Geva dan meninggalkan Geva.. tunggu Bhumm... tunggu mami mati dulu!"


"Mami..." Lirih Bhumi menatap punggung maminya yang sudah semakin menjauh.


"Papi hanya peringatkan sama kamu, jangan menyesal pada hari esok jika semua yang kamu inginkan sudah pergi maka semuanya sudah terlambat. Tidak semua orang memiliki kesempatan ke dua." Kata Papi Gema menyusul sang istri.


Si mbok bingung, bukankah malam ini rencananya makan malam keluarga yang harmonis dan semua makanan istimewa sudah tersedia diatas meja.


Tapi mengapa jadi begini.


Bhumi meninggalkan ruang keluarga yang menyisakan Keenan, Bhima dan Flower. Ucapan maminya sungguh menyakitkan untuknya, apa-apaan mami Naya berkata soal kematian.


Hati kecil Bhumi menyesal sudah berkata seperti tadi tanpa berpikir Geva ada disampingnya. Begitu juga Flower...


Tidak ada sedikitpun niatan buat Bhumi atau Flower untuk menyakiti orang lain, mungkin semua itu terjadi karena masalah hati mereka belum terselesaikan. Mereka belum berbicara empat mata dengan kepala dingin.


Bhumi meminta si mbok membukakan kamarnya, dia butuh istirahat untuk menenangkan diri.


🍁


30 menit telah berlalu..


Bhumi baru teringat pada istri menyebalkannya, Sejak tadi Geva tidak terlihat. Kemungkinan besar Geva berada di kamar Bianca sedang curhat. Otak Bhumi berpikir, bagaimana jika Bianca mengatakan bahwa mantan Bhumi adalah Flower?


Bhumi segera bangun dari rebahan nya untuk mencari keberadaan sang istri.

__ADS_1


Baru saja Bhumi keluar kamar, mata Bhumi langsung bertemu dengan mata Flower yang sama-sama keluar dari kamar Bhima.


Deg!


Deg!


Deg!


Lagi-lagi Flower memutuskan kontak mata dengan Bhumi yang terjadi secara tidak sengaja itu. Tekat Flower untuk move on sudah benar-benar bulat.


"Flo aku mau bicara berdua sama kamu." Ucap Bhumi mrmbuat langkah Flower yang hendak menuju lift pun terhenti.


"Gak ada yang perlu kita bicarakan lagi Bhum.. kalau mau mau berbicara, silahkan. cuma aku harus ditemani mas Bhima aku gak bisa jika hanya berdua. Aku gak mau ada kesalahpahaman diantara kita." Tegas Flower.


Bhumi tidak berkata apa-apa, dia langsung menarik tubuh mantan kekasihnya itu memasuki sebuah ruangan.


"Bhum lepasin! aku mau turun! mas Bhima menungguku dibawah!" Teriak Flower. Bhumi tidak berkata apapun.


Ceklek ceklek


Pintu ruangan tersebut di kunci Bhumi dari dalam. Ruangan yang serba gelap dan minim pencahayaan. Karena ruangan itu adalah ruangan bioskop keluarga.


"Lepasin aku!" Teriak Flower. Bhumi memang melepas cengkramannya dari pergelangan Flower namun langsung mengapit pundak Flower dengan kedua tangan kokohnya.


"Teriak saja! disini kedap suara Flo. jadi tidak ada yang bisa mendengar teriakan kamu."


"Apa mau kamu Bhumi Bramantya!"


"Jangan pura-pura bahagia! aku yakin kamu masih mencintaiku! Jangan jadi orang munafik Flo!" Kata Bhumi dengan penuh percaya diri.


"Cih! aku gak pernah pura-pura bahagia, tapi kalau disamping mas Bhima memang aku merasa nyaman... aku merasa bahagia sekaligus bersyukur punya suami seperti mas Bhima. Dengan mas Bhima aku bisa jadi diri aku sendiri Bhum.." Kata Flower. Bhumi menatap Flower membuktikan ucapan Flower dari sorot matanya.


"Aku mohon lupakan aku.. lupakan kenangan kita.. aku mohon Bhum... masa depan kamu sama Geva.. dan masa depan aku sama mas Bhumi.. aku mohon Bhum.. bersikaplah layaknya kakak dan adik ipar pada umumnya!" Pinta Flower tulus. Bhumi tidak terima itu, delapan tahun dia menderita dengan mudahnya Flower melupakannya.


"Aku gak nyangka aja Flo.. semudah itu kamu melupakan semua kenangan tentang kita.. bagaimana jika aku kasih tahu Bhima dengan kita yang sering making out dulu." Ucap Bhumi membuat Flower tersenyum hambar.


"Sebenarnya apa tujuan kamu Bhum? mau hancurin hubungan aku sama mas Bhima? lalu kalau itu tercapai elu mau apa lagi? ha?


Sampai matipun aku gak akan pernah kembali sama kamu! Berpikir untuk itu saja sudah tidak ada diotakku! " Tegas Flower.


"Aku masih mencintai kamu Flo, hatiku sakit Flo.. hatiku sangat hancur melihat kamu bersama Bhima." Ucap Bhumi lirih.


"Jangan seperti ini Bhum.. aku mohon.. hubungan kita tidak akan lebih dari kakak dan adik ipar. Ayo kita sama-sama saling melepaskan..


Jika terus seperti ini, maka kita tidak akan pernah merasa bahagia sampai kapan pun dan kita tidak akan pernah merasa bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Dan akhirnya hanya penyesalan yang datang Bhum." Ucap Flower.


Geva yang tadi sudah terlelap mendadak terusik dengan suara keributan di ruangan yang tenang dan hening sebelumnya.


Hati Geva bergemuruh dalam diam mendengar perdebatan antara kakak iparnya dengan suaminya.


"Ternyata..." Gumam Geva dalam hati.


BERSAMBUNG...


APA YANG AKAN DILAKUKAN OLEH NENG GEPA?


HUWOOWOWOWOWO

__ADS_1


__ADS_2