My Angel Baby

My Angel Baby
Rencana Weekend Selanjutnya


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|09. Rencana Weekend Selanjutnya|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Tiba-tiba Angel ingin membenamkan dirinya sendiri ketika Louis meng-iyakan ajakan minum teh dirumahnya. Semula, ajakan itu hanya iseng sebagai pemanis bibir karena merasa nggak etis membiarkan atasan terlunta di halaman apartemen.


Tapi, setelah Louis setuju dan mereka duduk berhadapan seperti sekarang, ingin sekali Angel melarikan diri dan bersembunyi dimanapun tempat yang bisa ia jangkau, tapi mustahil.


Dua cangkir teh hitam panas, satu kotak kastengel, satu kotak nastar, dan satu piring sponge cake buatan Angel menjadi peneman kesunyian diantara keduanya. Angel sibuk dengan isi kepalanya sendiri, sedangkan Louis lebih dari itu. Selain sibuk dengan isi otaknya yang mencari topik, Louis juga sibuk memeta isi apartemen Angel yang terkesan simple dan bersih. Tipikal wanita rapi dan suka kebersihan.


“Eumm, bagaimana persiapan acara dan panggungnya, pak?” tanya Angel memulai pembicaraan. Tidak mungkin mereka akan terus saling diam seperti patung tanpa obrolan. Angel berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan mengulangi ajakannya itu pada Louis. Semuanya terasa ambigu.


“Oke, nggak ada kendala.” sahut Louis seadanya. Ia hanya gugup ketika benar-benar duduk didalam apartemen seorang wanita setelah putus dari Caca. Ia masih tidak menduga dirinya melakukan hal ini.


“Ah, semoga sukses tanpa kendala sampai acara itu selesai ya, pak.” Do'a Angel tulus dari dalam hati.


“Amin.” jawab Louis meng-amini do'a yang memang ia butuhkan itu. Ia tidak ingin acara itu gagal dan membuat nama stasiun televisinya mendapat feedback yang buruk dan rating rendah. Reputasi dan nama baik perusahaan selalu menjadi taruhan ketika ada acara besar dan mendatangkan bintang tamu dari luar negri seperti sekarang.


“Maaf ya, pak. Suguhannya cuma ini.” kata Angel sambil menatap makanan buatan tangannya yang berjejer rapi diatas meja ruang tamu.


“Eh, nggak apa-apa kok, Ngel. Saya yang harus berterima kasih karena kamu mau mengundang saya minum teh di rumah kamu. Tempat privasi kamu.”


Angel tersenyum sempit. Ia lantas menatap sedetik wajah Louis. “Bapak mau saya bawakan kue, nanti?”


Sebenarnya mau, tapi Louis harus menjaga image didepan Angel. Tidak ingin sekretaris nya itu menilainya serakah pada makanan. “Ngerepotin kamu nanti, nggak perlu Ngel.”


“Tidak, pak. Saya tidak akan bisa menghabiskan sendiri kue sponge yang masih ada satu lingkaran penuh, dan beberapa potong di lemari es. Nanti bisa bapak makan dirumah sambil lihat televisi.”


“Oh, baiklah.”


Rupanya, image bossy nya harus gugur oleh rasa sukanya pada kue sponge buatan Angel yang terasa begitu lembut dan enak di lidah.


“Kamu pernah ikut kursus membuat kue?” tanya Louis, jadi penasaran karena kemahiran Angel membuat makanan-makanan manis itu terasa bukan seorang pemula.


“Ti-tidak. Saya hanya belajar dari salah satu Chanel favorit saya di yutub.”


“Oh . . . Soalnya saya penasaran bagaimana bisa kamu membuat kue seenak ini. Padahal mama yang ikut kursus saja, selalu membuat kue dan rasanya pahit karena gosong. Gagal total.”


“Benarkah?” tanya Angel menahan tawa. Akan tetapi pertahanannya runtuh ketika melihat Louis tertawa sampai terbahak mengingat rasa kue buatan mama sendiri.

__ADS_1


“Eum, saya nggak bohong.” kata Louis, memasukkan sepotong kue sponge kedalam mulut. “Nanti deh, kalau ada waktu kamu ikut kerumah saya buat ajarin mama bikin kue biar bisa enak kayak buatan kamu begini.”


Bagi Angel ini terlalu cepat. Bertemu dengan nyonya Hutama tidak pernah ada dalam list hidupnya. Ia bisa mempermalukan diri sendiri jika sampai gagal didepan wanita yang melahirkan Louis itu. Mau ditaruh mana mukanya nanti?


“Hahaha, itu terlalu berlebihan, pak. Saya masih amatir. Nanti kalau resep saya gagal, saya malu.”


“Nih, buktinya enak kok. Kamu jangan pesimis begitu dong.” kata Louis mencoba menyalurkan energi positif untuk Angel. “Kalau gagal, ya mama pasti maklum. Orang dia saja nggak pernah berhasil kok.”


Louis mengambil lagi satu potong kue dan melahapnya tanpa ragu hingga kedua pipinya mengembung dan terlihat begitu menggemaskan dimata Angel.


Sialan! Kenapa dia tampan sekali sih?


Tanpa terasa jam sudah menunjuk angka sembilan. Louis pamit pulang dengan tangan menenteng satu bulatan utuh kue Sponge cake yang sejak tadi tidak bisa membuatnya berhenti mengunyah. Masalah diet yang di perintahkan oleh Personal Trainer nya di gym, tidak lagi berlaku. Dia terhipnotis oleh enaknya kue buatan sang sekretaris, Angel.


“Terima kasih buah tangannya, ya. Maaf kehadiran saya jadi merepotkan kamu.”


“Tidak, tidak.” tukas Angel cepat karena tidak ingin membuat Louis meminta maaf padanya lagi. “Bapak tidak merepotkan kok. Sama sekali tidak. Dan kue itu, maaf hanya bisa memberi bapak sisa pesanan pelanggan yang terlalu banyak. Lain kali, akan saya buatkan khusus untuk bapak.”


Louis tertawa. Dimanja dengan makanan enak-enak oleh Angel, ia makin betah dan doyan makan makanan manis—padahal sedang diet gula.


“Ough, terima kasih.” ucap Louis tersentuh dengan wajah seperti ingin menangis dan meletakkan telapak tangan yang terbuka di depan dada. “Kalau begitu, saya pamit.”


“Eum. Hati-hati di jalan, pak.”


Angel menahan senyuman. Sudah seperti wanita yang baru di apeli kekasihnya saja, Ngel, Ngel. Harusnya kamu tau diri itu atasanmu. Jangan macam-macam sama dia.


***


“Mama belum tidur?” tanya Louis sambil meletakkan tas kain berwarna pink bergambar strawberry didepannya diatas meja. Ia melihat mamanya yang masih terjaga di ruang tengah sendirian sambil melihat televisi.


“Kamu itu yang dari mana? Kenapa baru pulang.” kata Jenita balik bertanya.


“Dari rumah temen, mam.”


“Temen apa temen? Mana ada main kerumah temen dari pulang ngantor sampai jam sembilan malam begini?” cerocos sang mama ingin tau. Lalu pandangannya tertumbuk pada tas yang baru saja di letakkan Louis. Tatapannya berubah curiga. “Apa itu?”


Louis mengikuti arah pandang Jenita.


“Oh, ini. Kue dari temen Lou.”


Jenita mengerutkan kening. Kue dari temannya, berarti teman Louis seorang perempuan?


“Mama coba deh. Rasanya enak banget. Mama harus belajar sama temennya Lou. Dia pinter bikin kue dan makanan kering.”


Setau Jenita, teman Louis adalah relasi kerja pria itu, bukan orang yang pandai membuat kue seperti ini.

__ADS_1


“Memangnya, sejak kapan kamu punya teman tukang bikin kue?”


Louis baru sadar jika dia salah bicara. OMG. Berhubung sudah keceplosan, lanjut saja sekalian.


“Nanti kalau ada waktu, Lou ajak main sini biar mama bisa bikin kue sama-sama dengan dia.”


“Dia itu, cewek atau cowok”


Pertanyaan ambigu dari sang mama membuat wajah Louis berubah datar dan horor. “Cewek lah, mam.”


“Ya siapa tau temen mu itu cowok tapi pinter bikin kue kayak chef-chef yang pernah mama kenal.”


Louis mendengus kasar. “Mama mau icip apa enggak. Mau Lou bawa ke kamar.” ucap Louis berhasil menarik minat dan rasa penasaran mamanya untuk melongok isi didalam tas dan mengambilnya sepotong.


“Udah. Mama cicipi satu aja? Nggak kurang? Nagih lho mam?” goda Louis pada sang ibu. Tau peringai ibunya yang selalu saja jaga image meskipun didepan anaknya sendiri.


“Sudah ini aja cukup.” kata Jenita lalu menggigit potongan kue itu.


Ia terkejut. Manik matanya berbinar seketika setelah potongan kecil itu berhasil menyapa indra pengecap nya. Kue itu benar-benar enak dan lembut didalam mulut. Jenita jadi penasaran kepada teman wanita putranya itu.


“Siapa namanya, Lou?” tanya Jenita penasaran. Menghentikan langkah Louis hendak menuju kamar untuk mandi dan beristirahat.


“Angel. Dia sekretaris Louis dikantor, selain mbak Rita.” kata Louis percaya diri jika mamanya sekarang sedang tertarik dengan kue buatan Angel.


“Dia sendiri yang bikin kue ini?” tanya Jenita masih belum bisa percaya jika seorang sekretaris yang biasanya lebih suka memperhatikan kuku-kuku di jari lentik mereka agar tetap bersih, dia malah bisa membuat kue seenak ini. Jenita jadi penasaran dan ingin menyapa gadis bernama Angel itu.


“Baiklah. Kapan-kapan ajak dia kesini. Biar bisa ajarin mama bikin kue enak kayak gini.”


Sudut bibir Louis tertarik sempurna. Ia tersenyum mendengar permintaan mamanya.


“Iya, nanti kalau Louis ada waktu, Louis ajak dia main kesini dan ajarin mama bikin kue.”


“Eum.”


Setelah mendengar jawaban mamanya, Louis kembali mengambil langkah. Namun belum sampai ujung sepatunya menyentuh anak tangga untuk naik ke lantai atas, suara Jenita kembali menggema padanya.


“Katakan sama dia, untuk meluangkan waktu weekend nya. Mama pingin belajar kue sama dia.”


Louis mengangguk.


“Itu, mama mau lagi kuenya.” kata Jenita sambil menunjuk tas yang ditentang Louis di tangannya. []


###


__ADS_1


Silahkan, mau pilih lampu warna apa? 🤭


__ADS_2