My Angel Baby

My Angel Baby
Apartemen Angel


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|26. Apartemen Angel|...


...Selamat membaca...


...Jangan lupa dukungan kalian untuk Louis dan Angel ya 😘...


...[•]...


Belum rampung sarapan pagi, Angel sudah dikejutkan oleh bunyi bel rumahnya. Entah siapa yang datang. Yang jelas, tidak biasanya ada tamu di pagi hari, dia juga tidak memesan makanan dari situs online, dan tidak mungkin lagi jika yang datang adalah tetangga yang sudah menjadi temannya selama tinggal disini, meskipun tidak terlalu dekat.


Angel mencuci tangan, kemudian berlari menuju pintu dan membuka tanpa melihat terlebih dahulu pada interkom. Kebiasaan.


Tidak ada kata-kata yang mampu meluncur dari bibirnya ketika tau siapa yang datang kerumahnya pagi ini. Disini, didepan ia berdiri saat ini, Angel melihat Jenita dan seorang perempuan muda yang sangat cantik dengan make-up tebal yang tidak asing di matanya. Angel pernah melihat wajah itu, tapi entah dimana.


“Ny-nyonya Hutama.”


Jenita diam dengan tatapan lurus penuh intimidasi kepada sosok Angel. Rasa tidak suka terlihat jelas pada mimik wajah Jenita, yang ditujukan kepadanya.


“S-silahkan masuk.”


Jenita tidak menggubris dan hanya melongokkan kepala melihat keadaan dibalik punggung perempuan yang dibawa pulang oleh Louis sehari yang lalu.


“Tidak. Aku cuma mau bicara sebentar lalu pergi. Tidak ada waktu berbasa-basi dengan orang seperti dirimu.”


Angel meneguk salivanya susah payah. Kalimat itu seperti sebuah petir yang menyambar dan meruntuhkan pertahanan dirinya yang berusaha ia bangun kokoh. Jenita selalu punya aura yang menakutkan saat marah.


Kepala Angel menunduk dalam, menatap sandal rumah yang ia kenakan.


“Kamu tau siapa yang datang bersamaku ini?”


Angel tebak, dia adalah gadis yang dijodohkan Jenita pada Louis. Seperti yang dikatakan Louis beberapa hari yang lalu.


Tak ingin menambah runyam suasana, Angel memilih menggelengkan kepala tanpa berani mengangkat wajah untuk menatap Jenita.


“Dia adalah wanita yang sesuai dan layak berdiri di samping Louis.”


Apa ini sebuah peringatan? Angel menebaknya seperti itu. Jenita ingin mengingatkan strata sosial mereka. Wanita itu ingin memberitahu jika kehidupan mereka berbeda. Angel masih memilih diam.


“Kalau kamu? Apa kamu merasa pantas berdiri disamping Louis dengan lebel broken home yang menempel di keningmu itu?”


Angel melebarkan mata. Dia tau, tidak sulit bagi seorang Jenita mengorek informasi tentang dirinya. Tapi, apa pantas seorang wanita menyakiti hati sesama kaumnya dengan kalimat yang begitu mencolok saat menyebut sebuah kehancuran yang pernah dirasakan olehnya? Angel mendadak bergetar. Tubuhnya serasa seperti tak lagi memiliki tulang dan ingin jatuh di atas lantai dengan mengenaskan.


“Jawab aku!” kata Jenita dengan nada suara dingin dan penuh intimidasi. Angel menggeleng dengan manik sendu.

__ADS_1


“Tidak.”


“Baguslah kalau kamu tau diri.” lanjut Jenita tak berperasaan. “Jadi kamu tau kan, apa yang harus kamu lakukan?”


Bahu angel merosot turun, dia tidak lagi baik-baik saja sekarang. Ia begitu terluka dengan kata-kata dan kalimat hinaan yang ia dengar dari wanita yang melahirkan Louis itu.


“Louis adalah orang yang seharusnya kamu hormati, bukan kamu jadikan pasangan hidup. Dia tidak pantas untuk kamu.” tekan Jenita membuat Angel sedikit banyak menahan ngilu dalam hatinya.


“Seperti inikah menjadi seorang Clarita? Dia wanita hebat. Dia wanita kuat.”


Tiba-tiba sosok Caca muncul dalam benak Angel. Dia yang bukan siapa-siapa Louis saja, merasa sakit ketika dicerca dengan kata-kata tak masuk akal tentang strata sosial. Apalagi Caca yang saat itu terikat dengan sosok Louis? Pasti sangat menyakitkan.


“Kamu wanita terpelajar. Aku yakin kamu mengerti maksudku.”


***


Entah sudah keberapa kali Louis melirik paper bag yang duduk di kursi samping kemudi mobilnya. Ia bahkan senyum-senyum sendiri melihat benda tersebut lantaran membayangkan ekspresi wajah Angel ketika menerima benda tersebut, nanti.


Jalanan ibu kota memang selalu padat setiap waktu, tapi hal itu sama sekali tidak menyurutkan niat Louis untuk menepati janjinya datang ke tempat Angel dan ingin membalas semua kebaikan perempuan itu padanya, selama ini.


Louis melirik jam pada monitor yang terpasang pada dashboard mobil. Pukul 7.15 PM, dan semoga saja pertemuannya dengan Angel berjalan lancar.


Tangannya memutar stir ke kiri saat ada pertigaan, dan diujung sanalah gedung apartemen Angel berada. Di kawasan yang strategis dan dekat dengan sebuah taman yang ramai pengunjung dan kedai-kedai penjual makanan.


Sesampainya didepan pintu masuk berpalang yang dijaga tiga petugas keamanan, Louis mendapat izin dengan mudah karena sudah beberapa kali datang kesini. Disamping itu, siapa sih yang tidak mengenalnya? Tentu saja itu sebuah keberuntungan karena banyak orang yang mengenalnya dan mudah mendapatkan akses dimanapun ia berada.


Masih dengan senyuman yang menghiasi bibir seksihnya, Louis mematikan mesin mobil, kemudian menarik tuas rem tangan dan melepas seatbelt. Ia meraih paper bag yang ada disampingnya, lantas keluar dari dalam mobil.


Ia berjalan melewati jalan setapak yang akan membawanya ke lobby bawah apartemen. Disana, dia akan naik menggunakan lift untuk sampai di lantai empat. Dia tau, karena tadi sempat bertanya kepada Angel.


Kemeja yang sudah sedikit berantakan dengan lengan dilipat sebatas siku, tanpa dasi, dan celana bahan yang mencetak jelas paha sekalnya, membuat Louis sempat menjadi perhatian beberapa penghuni yang lalu lalang di lobby. Beberapa bahkan berbisik mengagumi fisik dan wajah Louis, dan ada yang tak tanggung-tanggung menyapanya lalu tertawa bangga. Louis menggelengkan kepala tidak percaya. Sudah macam artis saja dia.


Lift sedang kosong, dia bebas berekspresi disana. Pada dinding lift yang menampilkan pantulan dirinya, Louis menyempatkan diri memperbaiki penampilan. Ia tidak enak jika datang ke rumah seseorang dengan wajah lusuh akibat lelah, apalagi yang hendak ia temui adalah seorang wanita, dalam tanda kutip seperti Angel.


Ting!


Pintu lift terbuka dan dua orang berdiri diluar menunggu. Mereka menatap lekat dan mengagumi sosok Louis yang acuh. Mau tidak mau dia harus rela ketampanannya dinikmati secara gratis oleh orang-orang.


“Kamar nomor ... ” Louis menunjuk satu persatu nomor yang menempel di dinding samping pintu. Ia berhenti ketika telunjuknya menemukan angka 4009. Unit milik Angel.


Ia berdehem kecil, lantas menekan bel pertama. Tak mendapat respon, Louis menekan bel kedua, dan sampai ia bingung karena Angel tidak kunjung membuka pintu, Louis merogoh ponselnya di saku celana. Ia berniat menghubungi Angel dan menanyakan keberadaan nya saat ini. Dan alasan Kenapa dia tidak membuka pintu untuknya.


Nada hubung mulai terdengar. Dengan sabar Louis menunggu. Ia mencoba berfikir positif jika angel tidak melupakan janji yang sudah mereka sepakati tadi pagi dan pergi keluar.


“Dia kemana sih?” gerutu Louis ketika panggilannya tidak mendapatkan jawaban dari Angel. Tak mau menyerah, ia mengulanginya sekali lagi, dan pintu mendadak dibuka. Sosok Angel dengan wajah tanpa ekspresi muncul dari balik pintu aluminium kokoh itu.


“Oh hai, Ngel. Saya kira kamu pergi dan lupa kalau ada janji sama saya.”

__ADS_1


Angel menatap Louis datar. Bibirnya sama sekali tidak menjawab suara penjelasan Louis.


“Maaf, pak. Saya tidak bisa mempersilahkan bapak masuk ke dalam rumah saya.” kata Angel dengan airmuka yang sulit sekali ditebak. Louis bisa merasakan perbedaan sikap Angel padanya.


“Ah, nggak apa-apa. Saya cuma mau memberikan ini.” katanya sambil menyodorkan paper bag di tangannya untuk Angel.


Sorot mata Angel turun memperhatikan tas coklat tebal bertulis nama sebuah brand yang terlihat tidak asing. Angel hanya diam mematung tanpa berniat mematut paper bag itu dari tangan Louis.


Gemas sendiri, Louis memajukan tubuh guna meraih satu telapak tangan Angel dan meletakkan paper bag itu begitu saja.


“Ini, sebagai ucapan terima kasih saya karena kamu sudah baik hati memberikan kue-kue buatan kamu pada saya. Maaf jika kurang berkenan dengan hadiahnya.” lanjut Louis hampir tersedak salivanya sendiri karena gugup. Kedatangannya kesini nyatanya bukan hanya untuk itu. Dia juga ingin menanyakan bagaimana keputusan Angel tentang tawarannya beberapa hari lalu.


“Eumm ... Saya juga ingin menanyakan keputusan kamu untuk kesepakatan yang kita buat—”


“Apa bapak akan sakit hati kalau saya menolaknya?” tanya Angel membuat dahi Louis mengerut tajam. Apa maksudnya?


“Sepertinya, saya tidak bisa melakukan itu. Saya bukan orang yang bisa bersandiwara didepan orang lain.”


“Kamu ... serius?”


Angel mengangguk, kemudian berjalan melewati perbatasan pintu, dan meletakkan paper bag itu kembali kepada Louis.


“Maafkan saya, pak.” kata Angel, tersenyum getir karena merasa kalah sebelum berperang. Ia terpaksa menyimpan lagi perasaannya dalam-dalam dan hanya dirinya lah yang tau.


Merasa tidak puas, Louis menahan Angel yang hampir membalik tubuhnya untuk kembali masuk kedalam apartment.


“Kenapa?” tekan Louis agar Angel berhenti. “Jawaban kamu itu tidak bisa memuaskan saya, dan membuat saya semakin penasaran. Tolong beri saya jawaban yang lebih spesifik, jawaban yang bisa diterima oleh otak serta akal sehat saya.”


Sebuah rasa sakit yang pernah Louis rasakan dan hampir sembuh itu, kembali ngilu. Penolakan Angel membuatnya terpukul dan kecewa dalam waktu bersamaan.


“Sa-saya hanya tidak ingin melakukan itu. Saya tidak bisa.” Jawab Angel terbata dengan suara sedikit bergetar. Efek bertemu Jenita tidak seindah pertama kali mereka dipertemukan. Angel berjanji, sebisa mungkin akan mundur. Ia akan melupakan niatnya membantu Louis, dan akan memendam perasaan yang semakin hari semakin membuncah itu agar tidak mencuat kepermukaan dan membuat kacau hidupnya.


Angel membungkuk singkat lantas berbalik. Dan Louis tidak bisa berbuat apapun selain membiarkan perempuan itu menjauh darinya.


“Kamu boleh menolak kerja sama yang sudah kita rencanakan karena saya tau, itu memang terlalu beresiko buat kamu.”


Angel berhenti dan mematung di tempat. Ada sembilu di ulu hatinya.


“Tapi, tolong terima pemberian saya ini.” kata Louis lembut berharap Angel akan berbalik dan menerimanya. “Saya hanya ingin berterima kasih karena kamu sudah baik sama saya.”


Hati Louis sedikit lega saat Angel membalik badan dan menatap paper bag yang ia sodorkan. “Ini, saya beli beberapa waktu lalu tapi tidak pernah sempat memberikannya pada kamu karena saya selalu sibuk. Maaf.”


Angel mengulurkan lengannya ragu. Telapaknya terbuka dan menerima tali tas kertas coklat itu dari tangan Louis.


“Terima kasih ya, sudah baik kepada saya.” kata Louis penuh senyuman, lantas ia pun pamit undur diri. Ia hanya tidak ingin membuat Angel merasa tidak nyaman atas kehadirannya.


Tapi, terlepas dari penolakan Angel, Louis akan mencari tau penyebabnya. Ya, dia akan mencari tau, karena tatapan mata Angel terlihat begitu takut saat melihatnya. Ada sesuatu yang tidak diketahui olehnya, terjadi pada Angel. Dan jika tebakannya kali ini benar, Louis akan benar-benar berbuat nekat dan tak peduli lagi pada nama baik yang selama bertahun-tahun ini ia jaga. []

__ADS_1


__ADS_2