My Angel Baby

My Angel Baby
Keputusan Untuk Sebuah Hubungan


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|35. Keputusan Untuk Sebuah Hubungan|...


...Selamat membaca...


...Silahkan berikan Like, komentar, dan juga Vote dan hadiah jika berkenan...


...Terima kasih....


...[•]...


Ciuman itu berlangsung lama. Angel dan Louis tidak ingin menyudahi tautan bibir mereka karena merasa begitu nyaman. Hingga tanpa sadar, tubuh Angel terdorong kebelakang hingga jatuh diatas sofa dengan bibir yang masih saling tertaut.


Sadar salah, Louis segera menarik diri dan kembali duduk dengan wajah memerah dan nafas memburu. Dia tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Dia bahkan mengutuk dirinya mengapa bisa menginginkan Angel setelah perempuan itu menerima masa lalunya yang menjijikkan itu. Setidaknya, dia harus mengikat Angel dengan janji suci terlebih dahulu jika menginginkan gadis cantik itu menjadi miliknya seutuhnya.


Angel adalah wanita istimewa untuknya. Dia tidak ingin merusak hidup gadis itu dengan mengacungkan ego dan naf-su belaka. Ia ingin menjadikan Angel sebagai satu, selamanya.


“Maaf.” kata Louis, menjilat bibirnya kemudian menoleh ke arah Angel yang juga terlihat kalang kabut dan gugup.


“Ti-tidak perlu minta maaf.” jawab Angel sekenanya yang juga sibuk membenarkan posisi duduknya. Tubuhnya gemetar dengan bibir memerah akibat sesapan dan gigitan yang sempat dilakukan Louis beberapa saat yang lalu.


“Emmm, mau jalan keluar sebentar?” tawar Louis untuk mengurangi tensi panas dalam ruangan yang sempat tercipta hanya karena sebuah ciuman. Diam-diam, Louis mengucapkan syukur bisa mengendalikan diri dan kembali sadar ketika hampir menjerumuskan dirinya sendiri dan sang kekasih ke lubang dosa yang sulit untuk ditebus meski beribadah setengah mati.


“Boleh. Tapi, aku mau cuci muka dan ganti baju sebentar.”


Louis mengangguk setuju dan membiarkan Angel berlalu dari pandangan, kemudian menghilang di balik pintu kamar.


Seperginya Angel, Louis membanting punggungnya pada sandaran sofa. Matanya menerawang angan, menatap langit-langit ruangan dengan jantung yang kembali bergemuruh. Ia bersumpah tidak akan sudi menginjakkan kakinya di rumah utama jika sampai kehadiran Gita ada ikut campur tangan sang mama di dalam nya.


Louis merogoh saku celananya, kemudian menghubungi salah satu restoran milik kenalannya untuk memesan tempat.


Tak berselang lama, Angel sudah keluar dari kamar dengan baju santai namun tak melunturkan kecantikannya hingga membuat Louis terperangah. Angel benar-benar seorang ‘Angel’. Louis tidak akan pernah melepas nya, ia bersumpah akan mempertahankannya meskipun pasti akan ada badai besar yang sudah menantinya didepan mata.


“Sudah siap?”


Angel mengangguk dan meraih sepasang High-Hop Sneaker dan memakainya.


“Mau kemana kita, sayang?” tanya Angel, mencoba membiasakan diri memanggil Louis dengan sebutan tersebut ketika sedang berdua. Yang dipanggil, justru merona. Telinganya terlihat merah menahan malu.


“Ekhm-Ekhm.” Louis berdehem. “Enaknya kemana ya?” tanya nya balik, pura-pura bodoh.


Angel mengedikkan bahu. Efek kissing tadi masih membuatnya malu-malu kucing ketika menatap Louis.


“Makan dulu, bagaimana?” tanya Louis memastikan sebelum keluar dari rumah Angel. Lalu, matanya tanpa sengaja menangkap sesuatu yang terpasang di surai Angel. Sebuah jepit berkelip pemberiannya beberapa waktu lalu, sekarang sedang di pakai oleh Angel untuk kencan mereka kali ini.


Lengan kanannya terulur membelai Surai lembut Angel, lantas tersenyum dan berkata. “Cantik.”


“Terima kasih. Aku sudah tau itu.”


Tak bisa membendung rasa bahagianya, Louis menarik Angel kedalam pelukan. Ia mengecup puncak kepala Angel beberapa kali, lalu mengusapnya lembut. “Terima kasih sudah mau menerima aku yang seperti ini, sayang.” tuturnya pelan. “Aku tidak tau lagi bagaimana hidupku jika kamu ninggalin aku setelah tau semuanya dari orang lain. Maafkan aku.”

__ADS_1


Angel membalas pelukan Louis, membenamkan wajahnya di ceruk leher pria tersebut. “Kamu pantas mendapatkan apa yang seharusnya kamu dapatkan.”


Ya, seharusnya seperti itu. Seharusnya Louis berhak bahagia dan berhak di percaya paling tidak oleh satu orang yang mau menerima dia apa adanya.


“Kamu benar-benar wanita baik, Angel. Kamu tidak mengambil keputusan sepihak dan memilih percaya padaku. Terima kasih sekali lagi. Kamu memang seorang malaikat, sama seperti namamu.”


Angel memejamkan mata. Ada beban yang seperti terangkat dari pundak keduanya karena sudah saling jujur dan menerima kekurangan satu sama lain, alih-alih berlari menjauh.


“Dua hari yang lalu, aku menghubungi salah satu pengurus tempat ibadah. Aku juga meminta tolong pada salah seorang pastor untuk menikahkan kita, minggu depan.”


Kalimat Louis berhasil membuat Angel menarik diri menjauh. Ia terkejut dengan keputusan Louis mempercepat pernikahan, dari rencana semula yang mereka buat. Angel bahkan belum memberitahu Daddy dan Mommy nya. Ya, sebagai seorang anak, meskipun mereka mungkin tidak bisa datang, setidaknya Angel sudah memberitahu dan meminta izin pada keduanya.


“Minggu depan?” tanya Angel dengan nada meruncing hingga Louis ikut terkejut.


“Memangnya kenapa? Kamu, keberatan?”


Tidak ada kata keberatan. Tapi Angel hanya ingin diberi kesempatan untuk berbicara langsung dengan ayah dan ibunya yang hidup jauh darinya. Selama beberapa tahun tidak hidup bersama mereka, Angel hanya tidak ingin dianggap anak tidak tau diri hanya karena menikah tanpa memberi kabar. Khususnya untuk keluarga sang mama yang sedikit sulit menerima keberadaannya, sejak dulu.


“Tidak. Aku hanya butuh waktu untuk memberitahu kedua orang tua ku didepan mereka. Meminta restu mereka karena menikah, hanya satu kali seumur hidup, untukku.”


Louis tau, berat memang mengambil keputusan untuk sebuah langkah baru dalam hidup. Tak terkecuali sebuah pernikahan yang sakral akan dibawa sampai mati. Setia sehidup semati.


“Kalau begitu, ayo kita lakukan bersama. Aku akan menemanimu menemui mereka berdua. Daddy, dan mommy mu.” putus Louis, berusaha menyudahi kegundahan hati Angel yang begitu terlihat tanpa harus ditanya.


Bukannya senang, Angel semakin merasa bersalah. Takut jika Louis melakukan itu hanya semata karena tidak enak padanya.


“A-aku akan bicara dengan mereka sendiri. Kamu—”


Angel menunduk. Jika Louis pergi bersamanya menemui sang papa di luar negri sana, berapa waktu yang terbuang? Tidak pantas memang membandingkan sebuah waktu demi keuntungan, dengan masa depan. Tapi mau bagaimana lagi, ini akan menjadi bagian dari mereka berdua. Mau tidak mau, Angel harus mengalah dan membiarkan Louis ikut bersamanya, jika memang memungkinkan.


“Aku, akan bicara dengan papa melalui telepon saja. Sedangkan mama, aku akan mengajukan cuti akhir tahun yang aku ambil dua sampai tiga hari untuk pulang ke Surabaya dan bertemu mommy.”


Louis mengangguk setuju. Dia juga akan melakukan hal yang sama untuk menemani Angel bertemu kedua orang tuanya dan meminta restu kepada mereka.


“Lalu, bagaimana dengan ... mama dan papa kamu?” tanya Angel ragu. Pasalnya Jenita memang begitu menentang hubungan mereka berdua.


Tatapan Louis jatuh pada kedua mata abu-abu Angel yang indah. Ia meraih satu sisi wajah perempuannya itu kemudian mengusapnya lembut.


“Kita akan tetap menikah dengan atau tanpa restu dari mereka.”


“Tapi—”


“Mama orang yang sangat keras kepala, sayang. Mama tidak akan mengubah keputusan yang sudah dia buat. Mama akan tetap memaksakan keinginannya agar kita berpisah.”


“Lalu bagaimana jika mama kamu tau kita menikah dan tetap pada keinginannya dimasa depan? Apa mama kamu akan menerima status baru kita?” tanya Angel ingin tau pendapat Louis. Jika memang keras kepala, tidak menutup kemungkinan hal seperti bayangannya terjadi 'kan?


Louis tidak berfikir sejauh itu. Binar matanya berubah redup. Kepalanya tertunduk dan kedua bahunya merosot turun.


“Setidaknya, ayo kita datang dan meminta pengertian dan restunya sekali lagi. Mereka adalah ibu dan ayah yang berhak tau untuk sesuatu yang sakral tentang sebuah pernikahan. Aku tidak mau,” kedua bahu Angel ikut merosot turun. Sebenarnya, dia sempat berfikir pesimis kalau pernikahan mereka tidak akan berjalan sesuai rencana. “Aku tidak ingin nanti, anak kita juga akan menjadi korban kebencian mereka karena ulah kita.”


Sumpah demi apapun. Louis merasa bersyukur menemukan Angel setelah kehilangan seseorang yang sangat ia cintai dulu.


“Baiklah. Ayo kita datang kesana, besok.”

__ADS_1


***


Robert mendengus kesal karena kedatangan tamu tak diundang yang tiba-tiba muncul tengah malam. Siapa lagi kalau bukan adiknya yang tidak punya sopan santun itu. Stefany sudah merajuk dikamar dan menolak keluar karena kegiatan mesra-mesraan keduanya harus terhenti lantaran Louis menggedor pintu rumah seperti depkolektor nagih hutang.


“Kamu ini sebenernya mau ngapain sih dateng tengah malam gini.”


“Adikmu ini sedang kesulitan, Rob. Masa kamu nggak mau iba?”


Robert merebahkan diri dan telentang di atas sofa dengan gairah yang sudah mulai turun, padahal tadi sedang panas-panasnya bermain sama Stefany. Dasar adik kurang ajar memang si Louis ini.


“Terus aku mesti gimana?”


Louis menoleh pada Robert. “Besok aku sama Angel mau minta restu mama papa.”


“Restu?”


“Ya. Kami akan menikah.”


Robert bangkit dari tidur santainya dan menatap nyalang pada sang adik. “Restu? Kalian mau nekat nikah?”


Lagi-lagi Louis memberikan diamnya sebagai jawaban.


“Jangan nekat Lou. Think about what could happen. Mama bisa murka kalau kamu dateng-dateng bilang mau nikah. Papa sedang ngga ada dirumah.”


“Mesti gimana lagi, Rob. Makanya, bantuin aku dong. Mama akan tetap keras kepala jika aku tidak mengambil keputusan sekarang. Mama bahkan melibatkan Gi—” Louis menjeda kalimatnya, ingat jika Robert tidak mengetahui masa lalu nya bersama Gita yang sengaja ia simpan dan sembunyikan. “Mama mendatangi Angel di apartemennya.”


Robert melihat dejavu pada hubungan adiknya. Dulu, Jenita juga melakukan hal ini pada Clarita.


“Oke. Besok aku kesana. Memangnya, jam berapa kamu ngajak Angel kerumah mama?”


“Setelah makan siang.”


Robert mendekat pada Louis, kemudian menepuk bahunya memberikan dorongan semangat. “Berjuanglah lebih keras untuk mempertahankan hubunganmu kali ini. Angel perempuan baik—”


Terdengar teriakan lantang Stefany dari dalam kamar, memanggil namanya. Mungkin wanita itu kesal dan juga kedinginan dibalik selimut tanpa pakaian karena sudah terlalu lama menunggu Robert.


“Baiklah. Sekarang pulanglah.” titah Robert lembut, berharap sang adik paham dan meninggalkan kediamannya dengan damai. Tapi, realita tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.


Louis menengok jam tangannya. “Aku tidur disini saja. Besok pagi-pagi balik apartemen. Ngantuk.”


Robert sudah hampir mengumpat. Telapak tangannya mengepal. Mana bisa dia berteriak lantang menyebut nama Stefany saat mencapainya nanti?


Benar-benar adik tidak tau diri.


“Terserah kamu. Tapi jangan protes kalau kamu denger kami teriak-teriak tengah malem.”


Louis mendelik lebar.


“Bang-sat!!” []


###


Lou, kamu harus pergi dari rumah kakak mu, secepatnya! Gangguin orang aja

__ADS_1


__ADS_2